Ibu Mah

Ibu Mah atau Ibu Muhtaromah adalah guru yang pertama kali terlintas dalam ingatan dan hati saat kumencoba menelusuri jejak para guru dalam ingatan dan hatiku. Ibu Mah merupakan sosok yang cantik, tinggi besar, tidak banyak bicara, sabar, sejuk tutur katanya, dan penyayang. Penampilannya sederhana dengan kain jarik bersetagen, berkebaya kuthu baru, dan berkerudung panjang. Aku lupa apakah saat itu Ibu Mah bersandal atau bersepatu. Yang kuingat, kami tidak boleh bersandal jepit ke sekolah, lebih baik *nyeker* daripada bersandal jepit.

Kesabaran beliau sangat kurasakan saat aku sulit membaca. Selain huruf Latin, di sekolahku, SD Muhammadiyah XI Solo, huruf Hijaiyah sudah diperkenalkan sejak kelas 1. Waktu itu beliau sering mendekatiku dan menunjukkan huruf yang ada dengan tatap mata yang mengharapkan aku dapat membunyikan huruf-huruf Arab yang tertera, tanpa paksaan dan tanpa tekanan perintah yang meninggi, hanya kata-kata dalam bahasa Jawa, “Coba diwaca maneh (sambil tersenyum)”. Beliau akan melafalkan huruf itu dan tatap matanya berharap aku mengulangnya. Biasanya aku tidak berani menatapnya langsung, kuambil lidi kecil dan kuarahkan ke huruf yang kubaca sambil sesekali terdiam, terbata, dan menunduk. Seingatku di kelas awal, kami menggunakan bahasa pengantar Bahasa Jawa. Ibu Mah juga tidak pernah sekali pun menghardik kami atau memukulkan penggaris ke jari kami yang berkuku panjang. Hardikan dan pukulan pada jari tersebut kurasakan saat kelas 3 atau 4 oleh guru laki-laki. Tapi, kurasa ada baiknya juga, setelah peristiwa itu aku sangat berhati-hati dengan kukuku, tidak pernah sekalipun kubiarkan panjang agar tidak menjadi sarang telur cacing (seperti kata guruku saat itu dan sangat kupercaya). Bahkan saat kecil teman-teman juga menakut-nakutiku saat aku makan duku dan bijinya tertelan, dikatakan bahwa akan tumbuh pohon duku di kepalaku…aku sangat takut membayangkan hal itu. Setiap hal itu terjadi, Ibu Mah sering menenangkanku dan membelai rambutku.

Ibu Mah juga mengenalkan sejarah dan cerita para Nabi. Aku paling suka jika beliau bercerita Nabi Yusuf atau Nabi Sulaiman. Ceritanya membuatku sering bermimpi untuk menjadi orang terdekat para nabi🙂. Beberapa ceritanya juga membuatku semakin mengagumi Allah Subhanahuwataala dan ciptaan-Nya (saat itu belum terlintas “takwa” dalam benakku).

Setelah Bapak Ishom (suami Ibu Mah berpulang pada 1998), Ibu Mah berpulang pada tahun 2003, semoga beliau husnul khatimah. Berita itu kudapatkan dari Prof.Dr.M. Baiquni–guru besar di Fakultas Geografi UGM–salah satu putra Ibu Mah dan adik kelasku di SD Muhammadiyah XI Solo. Selain Ibu Mah, sosok guru lain di SD Muhammadiyah XI yg kuingat karena keramahannya adalah Ibu Sri, Bapak Asrori, dan Bapak Mujahit. Semoga Allah Subhanahu Wa Taala menganugerahi mereka dengan pahala yang tak berkeputusan, Amin.

19 Juli 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: