DAUD DHIYA ROZAAN: Semoga Segera Sembuh

Daud Dhiya Rozaan atau sering kupanggil Daud adalah anak ketiga adikku, Kistini dan Nyudi Hermanto. Daud lahir di Solo, 31 Agustus 2003. Usianya sekarang hampir tiga belas tahun. Anaknya tinggi dengan muka cakap dan tatapan mata sayu. Daud adalah seorang hafiz (penghapal Al Quran). Aku (dan tentunya Ibu Bapaknya, nenek kakeknya, kami sekeluarga) sungguh bangga padanya. Berkat kemampuannya sebagai seorang anak yang hafiz Al Quran, Daud diterima di sekolah Kafila dua tahun lalu. Berdasarkan sumber yang kubaca di internet, nama lengkap sekolah Kafila adalah Kafila International Islamic School (KIIS), yakni sebuah lembaga pendidikan yang berbasis pesantren putera. KIIS berlokasi di Jakarta Timur, tepatnya di Jalan Raya Bogor KM. 22 No. 22, Rambutan, Ciracas, DKI Jakarta. Program pendidikannya memadukan antara akhlak (asrama), sains (sekolah) dan menghafal Quran (tahfidz). KIIS menyelenggarakan program pendidikan paket enam tahun untuk jenjang MTs (Madrasah Tsanawiyah, setara SMP) dan MA (Madrasah Aliyah, setara SMA). Selama enam tahun mengikuti program pendidikan di KIIS, para santri diberikan beasiswa penuh yang meliputi beasiswa pendidikan, kegiatan akademik, fasilitas asrama lengkap dengan konsumsi, air, dan listrik.

Dalam rasa banggaku kepada Daud, terselip juga ketidaktegaan karena mulai masa SMP dia harus berpisah dengan keluarganya dan bersekolah di tempat yang lumayan jauh karena Ibu, Bapak, dan saudaranya di Solo. Alhamdulillah ada juga sepupu yang tinggal tidak jauh dari KIIS (satu kali naik angkutan kota). Saat libur Daud dapat bertandang ke rumahnya dengan dijemput atau datang sendiri. Selain itu, Daud pada akhirnya juga dapat bertandang ke Bogor (tempat tinggal kakakku, Kiswati). Beberapa kali Mbak Watik (Kiswati) menceritakan kabar Daud dan Alhamdulillah tampaknya seiring dengan perjalanan waktu, Daud mulai kuat dan tegar (semoga sekuat dan setegar Nabi Daud Alaihisalam). Daud juga cukup dekat dengan cucuku, Ara. Sepulang Ara dari Solo saat Idul Fitri, awal Juli 2016, Ara sering bercerita tentang Om Daud, bagaimana dia nyaman berbaring dan tidur dalam pangkuannya (saat sekeluarga pergi dengan bus Solo-Yogya-Solo) dan bagaimana dia senang bermain bersama Daud.

Dini hari tadi, aku mendapat kabar bahwa Daud hari ini menjalani operasi hidung. Sebenarnya agak menyejutkan. Daud berada di Solo dalam rangka libur Idul Fitri, selepas Idul Fitri dia punya keluhan di hidung dan diperiksakan ke dokter. Jika tidak salah, berdasarkan informasi yang kuterima dari Ibu dan Nisa (keponakan yang ada di Solo), ada semacam nanah di hidungnya dan diberi obat. Pada pemeriksaan selanjutnya diajukan dua alternatif oleh dokter yang merawatnya: (1) dioperasi atau (2) obat jalan, tapi memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh. Akhirnya, dipilihlah alternatif pertama supaya Daud dapat segera bersekolah lagi. Operasi ini tentu akan menunda kembalinya Daud ke Jakarta. Tapi, tentu lebih baik Daud ke Jakarta saat dalam keadaan sehat dan bugar lahir batin. Pagi tadi aku hanya dapat berdoa, “Ya Allah, kubebat erat doaku pagi ini untuk keponakanku Daud Dhiya Rozaan, ampunilah dosa kami, hilangkanlah kesusahan Daud dan anugerahilah Daud kesembuhan setelah operasi hidungnya, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggallkan penyakit lain, amin.” Semoga operasi Daud lancar dan berhasil sehingga Daud dapat bermain ceria, meneruskan hafiznya, dan selalu berada di jalan-Nya dalam kesuksesannya, amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: