KEDISIPLINAN DALAM KEBERSAMAAN

Saat aku SMP, ibuku pengajar di SMPN 9 Solo (kemudian pindah ke SMPN 10 Solo). Bapak adalah pegawai kesehatan di DKR Solo. Mereka berjalan kaki ke kantor karena cukup dekat. Bapak dan Ibu mendidik kami (delapan bersaudara) dengan kedisiplinan dalam kebersamaan. Kami semua punya tugas masing-masing. Setiap pagi Bapak mengeluarkan sepeda dan dibariskan rapi (kami mulai bersepeda sejak SMP, saat SD kami bersekolah dengan berjalan kaki). Kami bertugas membersihkan sepeda masing-masing. Aku melanjutkan dengan menyapu rumah, setelah itu bergantian mandi. Setelah mandi, biasanya aku tidak sarapan dulu, tapi dikuncir atau diklabang dulu oleh ibu karena rambutku paling panjang. Ibu sering memberi minyak cem-ceman pada rambutku biarpun aku tidak begitu suka.

Tugasku saat siang hari sekitar pukul 14.00 adalah memberi makan ayam (bergantian dengan kakakku). Kadang aku terhanyut saat membaca Kho Ping Hoo atau SH Mintardja dan terlena sehingga terlambat memberi makan ayam. Ibu biasanya mengingatkanku dan jawabanku biasanya sama “Ya, sebentar, Bu”, sebentar yang akhirnya lama karena aku sering penasaran dengan jalan ceritanya. Sekarang aku sadar bahwa yang kulakukan itu adalah “membaca tidak pada tempatnya”, mohon maaf, Ibu. Malam hari, Bapak biasanya menyalakan petromaks di ruang tengah dan di ruang tamu. Ibu duduk di meja makan besar yang sudah berubah menjadi meja belajar sambil mengerjakan sesuatu (belakangan aku tahu bahwa selain mengerjakan pekerjaan kantor, ibu selalu meluangkan waktu untuk menulis setiap hari dalam buku catatan hariannya dan hal itu terus berlangsung sampai sekarang). Kami biasanya belajar setelah Magrib sampai pukul 21.00 di meja besar. Jika ada pelajaran yang tidak kami mengerti atau PR yang sulit, kakak atau Ibu akan membantu. Kebersamaan kami dalam berbagai hal yang diterapkan oleh Ibu dan Bapak, khususnya mulai SD sampai SMA membuat kami delapan bersaudara merasa dekat dan saling menjaga. Begitu masuk ke perguruan tinggi, pola belajar kami mulai berubah karena semua kakak berada di luar Solo (tiga di UGM dan satu di IPB). Sebagai anak kelima, aku adalah yang pertama berkuliah di Solo (di UNS) dan tetap tinggal dengan Bapak dan ibu. Ibu sampai sekarang masih mencontohkan kedisiplinan itu. Beliau selalu bergegas wudu saat azan dan salat di awal waktu serta menulis setiap hari di buku hariannya. Bapak telah berpulang pada 26 Januari 2016 dalam usia 88 tahun (setelah mengarungi 62 tahun, 5 bulan, 17 hari usia pernikahan bersama Ibu). Semoga Bapak tenang dan bahagia di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: