Permainan Surakarta dan Permainan Masa Kecilku

PERMAINAN SURAKARTA DAN PERMAINAN MASA KECILKU

Tahun 2013 saat aku berjalan-jalan di Schlossplatz, Stuttgart, Jerman, langkahku terhenti di salah satu toko mainan kecil yang ada di sepanjang jalan. Di toko itu dijual bermacam-macam permainan, termasuk yang berasal dari Asia. Mataku mulai menjelajahi kelompok Asia dan mencari yang berasal dari Indonesia. Akhirnya, penjelajahan mata terhenti pada kotak cantik yang bertuliskan Surakarta. Aku bertanya-tanya, permainan apa ini? Pelan kubuka kotak tersebut dan kulihat ada 24 pion dalam dua warna seperti pion otelo (berbentuk bundar dan berwarna hitam semuanya 12 buah dan putih semuanya 12 buah) dalam pastik, dua buku petunjuk berbahasa Jerman, dan satu papan permainan yang dilipat empat. Saat kubuka papan tersebut tampak arena permainan berbentuk seperti semanggi berdaun empat dengan lingkaran-lingkaran pada setiap ujungnya. Dengan bekal pemahaman gambar dan pemaknaan global kulihat bahwa permainan ini mirip catur karena memerlukan dua pemain. Jalan pemain sama seperti jalan raja dalam catur, maju satu langkah, bisa lurus dan bisa ke samping, tapi bisa juga satu langkah itu menembus batas dan melingkar jika akan membunuh (memakan musuh). Menurut penjualnya, permainan itu cukup laris dan saat itu memang tinggal satu. Tanpa ragu, kubeli permainan itu dengan harga yang cukup mahal untuk ukuran Indonesia, seingatku dengan uang Euro sekitar 20—25 Euro. Malamnya kuminta keponakanku, Isti Hidayati, yang mengambil S-2 di Stuttgart University untuk melihat-lihat isi permainan itu, kuhubungi beberapa teman dan Saudara untuk menanyakan permainan itu dengan mengirimkan gambar, tapi belum ada satu pun yang mengenalnya. Ironis memang, permainan tradisional kita laku keras di Jerman, tapi kurang dikenal di tempat asalnya. Permaian ini melatih strategi, kehati-hatian, dan kesabaran dalam bertindak. Menurut sumber yang kubaca, permainan ini sejenis permainan Mul-mulan, Dham-dhaman, atau Macanan. Di Jogja disebut juga “Bas-basan Sepur”. Permainan ini bahkan telah diunggah di you tube dengan menampilkan dua pria asing yang memainkannya di https://youtu.be/Q7p5faImfqI . Permainan mulai awal sampai akhir bisa dilihat juga di https://youtu.be/0HcJ3XSh03k (permainan ini masuk dalam buku permainan klasik). Aku hanya berpikir, alangkah baiknya jika beberapa tugas akhir atau PKM mahasiswa dapat mengemas permainan tradisional menjadi bentuk yang layak jual, layak diproduksi masal, dan layak dimainkan. Selain itu, alangkah indahnya jika Unesa dapat menyusun agenda tahunan untuk permainan tradisional atau hal-hal yang terkait dengan folklore dalam bentuk seminar, konferensi dan lomba permainan tradisional. Mungkin ada pusat studi yang mengurusi hal ini.

Permainan tradisional Surakarta sebenarnya tidak jauh dengan permainan kegemaranku saat SD dan SMP, yakni halma yang melibatkan tiga pemain. Halma mungkin bukan termasuk permainan tradisional Indonesia karena tampaknya beberapa negara juga mengenalnya. Selain halma, saat masih kecil, aku paling suka bermain Andul dengan Ibu. Waktu bermain, ibu mengatur dudukku dengan bersila di kasur, tangan bersedekap. Kemudian ibu dari depan akan menggoyang-goyangkan badanku ke depan dan ke belakang sambil bernyanyi Andul, andul, susune Mbok Roro Kidul, kebluwek jenange katul… otek, otek, unine, unine…horog-horog-horog, horog-horog-hotor (yang terakhir dengan menggoyangkan badanku semakin keras dan kemudian menghentakkanku ke belakang sampai aku terlentang dan tertawa-tawa riuh dengan kakak-kakakku yang juga mengantri untuk bermain Andul). Permainan Andul dan cerita Gondhil dari Ibu kuteruskan ke anak cucu. Ara sangat suka dengan permaian Andul, tawanya berderai dan matanya berkejap-kejap jika kulantunkan lagu Andul untuknya. Aku tidak pernah tahu makna lagu itu dan tidak ingin tahu, tapi rima dari lagu itu, gerakan-gerakan, dan sensasi jatuh di kasur atau bantal empuk itu kukira yang membuat anak kecil suka. Selain Andul dan Halma, ada juga permainan Jari (ibu menyanyi sambil memainkan jari), Jelungan, Cublak-cublak Suweng, Soyang, Njuk Tali Njuk Emping, Gobak Sodor, Kasti, Ganjilan, Bekelan, Nekeren, Umbul, Dakon, Uding, Lompat Tali, Cekcu, Remi, Otelo, Jamuran, Pasaran, Wayang-wayangan (Menari dan berlagak seperti Gatotkaca yang melintasi asap. Asap ada saat Bapak membakar sampah), Dokter-dokteran (tidak ada guru-guruan, ya?), dll. Alhamdulillah, indahnya masa kecil. Ada baiknya permainan tradisional dapat dikembangkan sehingga menginspirasi berbagai hal secara akademis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: