SUDUT PANDANG: Dari Surel Sampai WhatsApp

Dimuat dalam buku “Seuntai Asa untuk Unesa”, 2016.

Malam itu saya membuka surel (surat elektronik) seperti yang biasa saya lakukan setiap hari. Beberapa surel harus segera dijawab dan saya jumpai ada juga beberapa surel dari mahasiswa yang mengirimkan tugas. Surel yang pertama dari mahasiswa hanya berisi alamat yang tidak jelas, kemudian dalam subjek tertulis “tugas linguistik”, dengan attachment atau lampiran. Surel yang kedua dan ketiga juga sama. Surel yang keempat lumayan ada kata-kata “Assalamualaikum, saya kirimkan tugas lingusitik”, tapi nama lengkap si pengirim tidak ada, alamatnya juga kombinasi huruf dan angka. Tugas linguistik yang saya terima ini memang baru tugas pertama mereka.

Sejenak saya menghela nafas. Untuk mengetahui siapa pengirimnya, saya harus membuka lampiran itu terlebih dahulu. Setelah membuka lampiran dan mengetahui pengirimnya, saya membalas surel itu satu per satu. Saya tuliskan “Assalamualaikum, Saudara …. surat elektronik (surel) pada dasarnya merupakan sebuah surat. Oleh sebab itu, kali lain, minimal tulislah berita tentang apa yang Saudara lampirkan (isi attachment). Selain itu, tulislah nama lengkap Saudara pada bagian akhir. Hal itu akan menjadi penanda karakter Saudara. Semoga sehat selalu, wassalam.” Bahkan saya pernah juga menerima revisi disertasi mahasiswa dari salah satu universitas terkemuka yang hanya berisi kata-kata “Dengan hormat saya kirimkan revisi disertasi saya.”. Alamak, saya sempat tercenung sesaat sebelum mengetukkan jari membalas surel itu dengan kata-kata “Terima kasih, disertasi telah saya terima. Akan tetapi, lebih baik jika Saudara menuliskan daftar yang berisi bagian mana saja yang sudah Saudara revisi dan di halaman berapa. Saya akan mencocokkan dengan catatan saya. Semoga sehat selalu, wassalam.” Jika saya membaca lagi disertasi tersebut secara keseluruhan (sebelumnya sudah saya baca sebelum ujian tertutup), di samping memakan banyak tenaga dan waktu, ada kemungkinan saya akan menemukan lagi hal-hal yang dulu tidak pernah saya permasalahkan. Apakah mahasiswa tidak berpikir sejauh itu, ya?

Dalam komponen literasi dikenal istilah literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Dalam literasi teknologi (termasuk komunikasi lewat surel) diperlukan etika dan etiket dalam mengakses, memahami, dan memanfaatkan teknologi. Seseorang yang sudah dapat mengakses belum tentu memahami dan dapat menggunakan teknologi dengan baik. Yang sudah dapat mengakses dan memahami, belum tentu dapat menggunakan dan memanfaatkan teknologi dengan baik. Yang paling bagus tentulah yang dapat mengakses, memahami, serta menggunakan dan memanfaatkan teknologi dengan baik. Saya jadi teringat beberapa pesan yang saya terima melalui media sosial lain: facebook (terus terang tidak terlalu aktif di sini), instagram, WhatsApp (WA), dll. Sebagai catatan, WA sering kita baca “we a”, bukan “wa”. Padahal WA termasuk akronim yang layak dibaca “wa” biarpun dengan nilai rasa geli karena belum terbiasa🙂.

Saat ini beberapa media sosial tersebut marak dengan berbagai grup. Kita pantas berterima kasih kepada pembuat aplikasinya karena media itu dapat menyatukan teman lama (alumni), menyatukan keluarga, bahkan berguna juga dalam urusan pekerjaan. Model meneruskan pesan (forward) atau berbagi (share) pesan marak dalam media sosial tersebut. Dalam media email dan facebook, misalnya, meneruskan pesan atau berbagi pesan dapat dilacak asalnya. Akan tetapi dalam media WA, hal tersebut tidak tampak sehingga seolah-olah pesan tersebut ditulis langsung oleh yang mengirimkan pesan tersebut. Gambar, foto, atau video dari seseorang bahkan dapat dimuat (di-upload) seolah-olah gambar tersebut dibuat oleh yang memuat, biarpun sebenarnya kita dapat juga menyebutkan sumbernya, yakni “anonim”, “dari teman”, atau “dari grup lain”.

Dari sekian banyak media sosial, saya merasa paling akrab dengan WA karena cepat (akses ringan), biarpun agak rawan dalam hal penyimpanan. Dalam hal ini, WA dapat menjadi sarana dakwah, doa, diskusi, dan silaturahmi di dunia maya. Informasi mengenai produk tertentu, obat tertentu, nasihat, cerita mengharu biru, cerita menginspirasi, cerita lucu dst. hampir selalu menghiasai WA setiap hari. Hal itu sering dimuat dalam bentuk salin-tempel (satem) atau copy-paste (copas) tanpa penyebutan sumber. Tanggapan bahkan bisa juga dengan model satem dari penanggap lain, biarpun ada juga yang jujur menyampaikan “…nyontek si A” atau “… copas dari si B”. Saya sering geli membaca satem yang berjamaah, khususnya pada pagi hari saat seorang teman memuat doa, tanggapan pun menjadi satem berjamaah, mulai dari tanggapan paling singkat “aamiin” sampai pada tanggapan terpanjang. Hampir ragu apakah doa yang sangat panjang itu sempat dibaca semuanya dengan khusuk atau tidak.

Memang pada dasarnya ada orang yang merasa puas dan bangga jika dianggap sebagai penyampai awal, banyak yang senang jika pesan ditanggapi, ada juga yang patah semangat karena diolok atau pesan tidak ditanggapi. Sebenarnya, mengirimkan pesan yang bukan hasil dari tulisan sendiri selayaknya menyebutkan sumber (mirip dengan karya ilmiah yang menyebutkan sumber dalam catatan pustaka). Hanya saja, dalam WA atau pesan sejenis, sumber tidak perlu terlalu formal disebutkan, cukup dengan “Berita dari grup lain” atau “Informasi dari teman”, dll. Paling tidak penyebutan sumber tersebut merupakan bentuk tanggung jawab penulisan dalam media sosial. Penerusan (forward) informasi atau berita dengan cara satem selayaknya juga diakui dan dituliskan secara eksplisit, misalnya “Satem dari grup …” atau “Copas dari teman”. Pesan yang diteruskan sebaiknya juga pesan yang sudah teruji, bahkan jika ada tautan dalam pesan tersebut, tautan sudah dibuka dan dipelajari. Sering saya baca ada seseorang yang mengirimkan tautan tanpa sumber, kemudian ada yang berkomentar “Tautan kok tidak dapat dibuka,ya”. Tahu jawaban pengirim pesan? Jawabannya hanya “Maaf, itu tadi meneruskan dari grup lain.” Loh… wk wk wk, saya garuk kepala-saya yang tidak gatal. Seseorang yang meneruskan pesan selayaknya bertanggung jawab terhadap pesan tersebut, Apakah isinya benar? Apakah tautan dapat dibuka?, dst.

Pikiran saya mulai menerawang teringat saat ujian skripsi. Ada dosen yang khusus menanyakan istilah tertentu yang saya ambil dari sebuah referensi. Beliau meminta saya menceritakan isi satu bab tersebut secara utuh, padahal yang saya ambil hanya satu istilah saja. Saya baru dapat memahami hal tersebut setelah menjadi dosen. Saya menemukan buku yang dalam beberapa halaman menjelaskan metode tertentu secara panjang lebar, akan tetapi pada akhir sajian disebutkan satu kalimat dalam alinea penutup “Penamaan metode tersebut umum dilakukan biarpun pada dasarnya ada kesalahan konsep. Oleh sebab itu, dalam buku ini penamaan metode tersebut tidak akan digunakan.” Nah, jika pembaca melewatkan alinea terakhir dalam bab tersebut, bisa saja dia mengutip nama metode tersebut dengan catatan-pustaka berisi nama penulisnya (Menurut saya ini hal yang aneh karena mengutip nama-metode dari orang yang tidak menyetujui nama-metode tersebut).

Kembali pada masalah penerusan pesan, selayaknya lah penerus pesan “setuju” dengan pesan yang diteruskan atau minimal pernah mencoba (jika isi pesan itu memang perlu untuk dicoba). Masih segar dalam ingatan saya saat ada bencana asap, bertebaran pesan di media sosial supaya kita meletakkan ember atau baskom di halaman rumah dan seterusnya. Tampaknya, yang meneruskan pesan belum tentu telah melaksanakan/mencoba hal itu. Bahkan pesan tersebut kemudian dibantah oleh badan yang berwenang mengatasi masalah tersebut. Pesan-pesan sampah (hoax) yang mendiskreditkan orang/benda juga sering muncul. Oleh sebab itu, kita perlu membaca pesan secara kritis, kreatif, dan mencoba untuk dapat memecahkan persoalan dari apa yang kita baca tersebut. Jika kita secara sadar meneruskan pesan tersebut tanpa sikap kritis, sebenarnya kita juga telah menanam benih penyebaran pesan-sampah yang mungkin dapat berakibat kurang baik pada para pembaca. Meneruskan pesan-pesan tersebut sama saja dengan menciderai sesuatu atau menciderai orang lain. Sebenarnya jika kita masih ragu terhadap kebenaran sebuah berita, padahal kita ingin menyampaikan hal tersebut kepada seseorang karena hal itu kita anggap penting, dapat saja dituliskan “Mohon informasi apakah berita ini benar, ya?”. Langkah lain adalah tidak meneruskan pesan-pesan tersebut, sebesar apa pun godaannya.

Selanjutnya, WA yang saya angap sebagai generasi penerus BBM hanya punya satu “kamar” sehingga penulisan bersambung terus. Hal ini berbeda dengan BBM yang punya keunggulan dengan tersedianya banyak “ruang” yang dapat dibuat sendiri sehingga setiap “ruang” dapat diisi dengan topik tertentu. Penulisan dalam WA yang bersambung terus ini pada dasarnya sama dengan saat kita berdiskusi secara lisan. Jika akan pindah topik atau akan menyisipan topik biasanya kita dapat menyampaikan secara eksplisit dengan kata-kata. Dalam penulisan WA, seseorang yang tiba-tiba masuk dengan topik baru di tengah topik yang masih hangat dibicarakan akan terkesan mengganggu. Yang paling ekstrem dan pernah saya alami adalah pada saat topik ucapan duka sedang mengalir, tiba-tiba ada foto selfi ceria salah satu anggota di suatu tempat wisata. Tentu saja foto itu tidak ada yang menanggapi dan terasa ada yang salah dengan pemuatan foto itu. Seyogyanya seseorang yang akan memuat foto selfi ceria di suatu grup dapat membaca/mengecek dulu situasi dan kondisi saat itu. Jika situasi dan kondisi tidak tepat, sebaiknya keinginan untuk memuat foto itu ditunda dulu dan menanti waktu yang tepat. Saat penulisan topik ringan atau saat banyak canda, pemuatan foto-foto selfi dapat dilakukan. Foto-foto pemandangan cantik di tempat lain juga akan sangat berguna, menghibur, dan membawa suasana akrab ceria. Apalagi jika ada permintaan anggota untuk unggah foto, rasanya menjadi wajib untuk memuat foto yang ada. Adapun berita penting di tengah tulisan yang sedang membahas topik hangat dapat disisipkan dengan kata-kata “Mohon maaf menyela, ada informasi penting yang perlu diketahui…” atau dengan kata-kata lain.

Dengan grup WA lebih dari 20 (sebagian besar aktif, bahkan sangat aktif), lima email, instagram, dan messenger membuat saya akrab dengan peranti elektonik (gadget). Akan tetapi, saya sadar bahwa saya belum mampu memberdayakan semua peranti elektronik tersebut secara maksimal. Saya hanya menggunakan sesuai keperluan saja, berupaya memberdayakan dengan prioritas takwa, keluarga, dan kerja. Alhamdulillah anak-anak sudah berkeluarga sehingga rasa bersalah jika terlalu lama mengunakan peranti elektronik sedikit terkurangi. Biarpun demikian, jika sudah bertemu cucu atau keluarga, peranti elektronik menjadi prioritas yang ke sekian. Dalam tulisan ini, saya yakin bahwa apa yang saya yakini benar mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain yang menurut saya salah mungkin mengandung kebenaran. Bagaimana pendapat Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: