Arfen… Dua Bulan

HEZARFEN AUFAA ANURAGA (Arfen), kau lahir pukul 18.30, 22 September 2014 di rumah sakit Husada Utama Surabaya, Selasa Wage, 27 Dulkangidah 1947, atau Dzul Qa’adah 1435 Hijriah, atau Peh Gwee 2565, Kauw Gwee 2565, Jia Wu, Shio Kuda.

Luthfi Rizqi Noormasfufah (Kiky), Bundamu, diantarkan Ayah Arya Anuraga (Arya) masuk rumah sakit Husada Utama sejak Minggu pagi, 21 September 2014 karena ketubannya telah merembes. Ayah bekerja di Pelindo III dan rumah sakit Husada Utama merupakan salah satu mitra (Bunda sebelumnya juga bekerja di tempat yang sama, tapi akhirnya berhenti karena aturan administrasi dan memilih merawatmu).

Kami menunggui Bunda dengan doa. Perjuangannya untuk menghadirkanmu sungguh luar biasa. Sampai sore bukaan hanya satu. Malamnya kami lalui dengan doa dalam mendampinginya. Ayahmu mendampingi Bunda terus sambil sesekali mengelus-elus dan menguatkannya. Pagi hari karena kondisi masih sama, disarankan untuk dilakukan induksi dan kami pun menerimanya (persis seperti Budhemu, Raras Tyasnurita, yang dulu juga menerima induksi saat melahirkan Arawinda Neura Zahira atau Ara, kakak sepupumu). Desahan-desahan halus Bunda dan doa-doanya serta doa kami semua selalu menyertai perjuangan Bunda untuk menghadirkanmu. Induksi pertama habis, tapi masih belum ada perkembangan nyata. Induksi kedua pun dimulai. Bunda sempat muntah karena lambungnya terkena tendangan kaki mungilmu …Alhamdulillah, semua hal harus disyukuri. Tampaknya setelah itu, proses induksi pun mulai menampakkan hasilnya. Bunda pun masuk lagi ke kamar bersalin dan Dokter Didi Darmahadi Dewanto, SpOG segera dihubungi.

Saat dokter datang, aku pun minta izin untuk ikut menunggui Bunda guna mengambil video kelahiranmu. Ayahmu pastilah juga ikut menemani. Di dalam kamar bersalin, dokter mulai menghidupkan TV siaran sepak bola, aku tersenyum melihatnya. Menurutnya siaran sepak bola akan menghilangkan ketegangan yang ada. Tapi, mungkin dia lupa bahwa yang dihadapinya adalah wanita yang bukan penggemar sepal bola…tampaknya Bunda tidak banyak terpengaruh (mungkin untuk menghilangkan ketegangan dokternya? he he he).

Ayah berbisik di telinga Bunda dan menggenggam tangannya. Aku pun siap dengan kamera untuk mengabadikan kelahiranmu. Dalam hentakan pertama, sedikit kepalamu telah terlihat. Salah satu suster memangku kepala Bunda untuk membantunya mendorong perut (mendorongmu). Hentakan kedua, kepalamu sudah mulai menyembul sedikit dan Bunda perlu menata nafas lagi sambil menunggu kontraksi berikutnya. Pada hentakan ketiga, Alhamdulillah… Subhanallah….kepalamu demikian cepat meluncur dan berbalik, diikuti tubuh sampai kaki, dalam baluran darah dan cairan ketuban…pekik syukur Ayah dan Bunda berbaur dengan lengking tangismu yang mencairkan ketegangan yang melanda. Wajah-wajah pun tersenyum… Alhamdulillah, rambutmu lebat sekali dan dokter Didi dengan senyum tampannya memotong tali pusarmu. Suster dengan cekatan membungkusmu, membersihakan, dan menaruhmu dalam boks mungil. Ari-ari pun keluar dan dokter melanjutkan merawat Bunda.

Ekspresi Ayahmu sungguh luar biasa…takjub dengan kelahiranmu, Bunda diciuminya, tangannya digenggam erat dan Ayah serta Bunda tampak sangat bahagia (Oma pun sungguh bahagia).

Menatapmu dalam boks kecil dan melihatmu berupaya membuka mata merupakan pemandangan luar biasa. Kubisikkan doa untuk Opa Tri Budi Laksono di sana, semoga Allah SWT mengizinkannya untuk ikut melihat dan menyambutmu. Oma ingat hal yang sama saat Ara, kakak sepupumu lahir, matanya juga berkejap-kejap menatap dunia.

Ayah pun kemudian menggendongmu dan membisikkan doa-doa. Kemudian tubuh mungilmu didekatkan ke Bunda untuk “inisisasi menyusui dini” (IMD). Mulutmu pun terbuka mencari muara, tapi tampaknya mulutmu masih belum mau mencobanya dan air susu bunda juga belum keluar. Suster membawamu ke suatu ruang untuk dimandikan dan Bunda mendapatkan asupan oksigen karena dia merasakan sesak di dada.

Eyang putri, Anik Musyafak, yang ada di luar segera menemuimu saat kau dibawa ke ruang khusus bayi untuk pengukuran dan pemeriksaan. Saat semua sudah selesai, kau masuk dalam boks dan diletakkan di ruang berkaca supaya kami dapat melihatnya. Alhamdulilah, berat badanmu 3,75 kg dan panjangmu 48 cm. Kami pun bergantian melihatmu dan mengagumimu serta berucap syukur ke hadirat-Nya. Kau tampak terlelap dalam buaian. Bundamu sungguh luar biasa, melahirkanmu dengan kelahiran normal, padahal beratmu 3,75 kg. Malam itu, Oma pulang dengan lega dan rasa syukur.

Selasa, 23 September Bunda sudah dilepas selang oksigennya. Kau menerima Vaksin HB O. Rabu, 24 September kau pulang ke rumah di jalan Belibis bersama Bunda.

Jumat, 26 September sore seharusnya ayahmu berangkat ke Rotterdam untuk mengambil S-2 di Erasmus University. Alhamdulillah ayah sudah menunggui kelahiranmu dan mengendongmu. Akan tetapi, pagi harinya ternyata kau harus masuk rumah sakit Husada Utama karena sakit kuning. Dalam hitungan 4 hari, beratmu turun menjadi 3450 gr, panjangmu bertambah 2cm menjadi 50 cm, lingkar kepala (lk) 34,5. Golongan darahmu A+. Bunda sudah dapat memberikan ASI, tapi tampaknya kau lebih sennag tidur daripada minum ASI sehingga berat badanmu turun dan terkena sakit kuning.

Ayahmu mengantar dan menungguimu dan Bunda sampai siang. Akan tetapi, bagaimana pun dia harus mempersiapkan kepergiannya. Jadi, siang akhirnya Ayah pulang karena dia belum sempat berkemas. Alhamdulillah ada Eyang Anik Musyafak yang menemanimu dan Bunda (Bunda ikut ngamar di rumah sakit). Sore, Oma membantu Ayah berkemas dan membelikan beberapa keperluan kecilnya. Ayahmu tidak sempat mandi dan akhirnya bergegas pergi bersama Oma dan kakak Ara (Oma dan kakak Ara juga akan ke Jakarta karena keponakan Oma, Keke, menikah. Itu pengalaman pertama kakak Ara naik pesawat terbang). Oma berupaya menghibur Ayahmu karena bagaimana pun sebenarnya dia tidak sampai hati meninggalkanmu dan Bundamu di rumah sakit. Sakit kuning yang diserita bayi setelah lahir tampaknya kini menjadi hal yang biasa, jadi Ayahmu tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya.

Sampai di Jakarta, Oma ke rumah Omu Kisyana dan Ayahmu ke hotel di dekat bandara karena dini hari akan berangkat ke Rotterdam dengan beberapa temannya.

Kau masuk rumah sakit dan disinari sampai dua hari. Setelah membaik, kau pun bisa pulang. Alhamdulillah.

Tanggal 30 September (8 hari) beratmu agak naik menjadi 3600 gr (belum mencapai beratmu saat lahir), panjang 51 cm, lk 34 cm. Dokter yang merawatmu adalah dr. Laksmi Suci Handini, SpA. (spesialis anak RS Husada Utama)

Rabu, 1 Oktober kau mendapatkan vaksin Polio I

Senin, 6 Oktober (14 hr, Alhamdulillah beratmu 3900 gr, panjang 51,5 cm, lk 35,5. Saat itu kau puput puser. Tubuhmu semakin berisi dan rambutmu semakin memesona.

Kamis, 23 Okober (1 bulan) Alhamdulillah beratmu naik menjadi 4600 gr, panjang bertambah menjadi 54 cm, lk 35, saat itu kau mendapatkan vaksin hep b II.

Aqiqahmu terselenggara pada hari Minggu, 26 Oktober 20014. Saat itu eyang Musyafak memimpin doa dan Bunda memesankan menu aqiqah dari Nurul Hayat (Bunda sempat komplain karena dianggap isinya terlalu sedikit dan buah pisangnya juga kurang bagus). Oma membuatkan puisi untukmu dan ditempel di kardus aqiqahmu.

ARFEN
21.09.2014 pagi … Ayah membawa Bunda ke RS Husada Utama Surabaya
karena ketuban mulai merembes tanda kelahiranmu segera
Ayah Bunda riang membayangkanmu hadir ke dunia
Keluarga pun menunggu dengan debar dada dan suka cita

Sore hari bukaan baru satu bahkan Subuh masih sama
Dokter menawarkan induksi sebagai langkah pertama
Bunda pun menerima induksi hingga yang kedua
Semua menunggu dengan penuh harap dalam baluran doa

Pukul 18.10…
Bunda mendesah lirih dan bertasbih menyebut asma-Nya
Ayah menggenggam erat tangannya dan membisikkan doa
Dokter pun hadir menyetel siaran sepak bola dan siaga
untuk meredakan ketegangan yang ada

Dokter pun mulai memberikan aba-aba
Hentakan pertama ujung kepalamu mulai mengintip dunia
Kali kedua, sudah semakin tampak nyata
Hentakan ketiga mendorongmu menghirup hawa dunia
Pekik lirih syukur dan tasbih Ayah Bunda menyambut lengking tangismu yang pertama
dokter dan suster pun sigap merawatmu dengan saksama.

Alhamdulillah… engkau lahir dengan wangi yang alami mempesona
22.09.2014 pukul 18:30 dengan berat 3,75 kg dan panjang 48 cm
Hezarfen Aufaa Anuraga itulah nama sekaligus doa dari kami semua
Semoga aqiqah-mu hari ini diterima oleh Allah SWT
dan menjadikanmu sebagai pribadi yang berbakti, berilmu, berakhlak mulia, disayang masyarakat, bahagia dunia akhirat, dan panjang usia
Aamin.

Hezarfen = berilmu; Aufaa= tampan dan berakhlak mulia; Anuraga= disayang masyarakat;
Hezarfen Aufaa Anuraga= Ilmuwan yang tampan, berakhlak mulia dan disayangi oleh masyarakat

Setiap saat Oma berupaya untuk menengokmu. Setiap menengokmu badanmu semakin berisi. Oma senang sekali mencium aroma tubuhmu, melihatmu menatap, mendengarkan ocehanmu, bahkan menatapmu saat kau terlelap tidur. Kadang-kadang Oma membawa kakak Ara menengokmu. Saat Oma agak lama bepergian (di Labuan Bajo lima hari, di China satu minggu, dan di Melbourne satu minggu) rasanya selalu terbayang wajahmu dan wajah kakak Ara. Setiap kali wajahmu melintas, setiap kali itu pula Oma mendoakanmu. Oma juga sayang kepada Budhe Raras, Pakdhe Ghofur, Ayah Arya, dan Bunda Kiky… Oma sayang juga sama Eyang Buyutmu di Solo, saudara-saudara Oma, besan, sahabat, tetangga, dan mahasiswa Oma. Rasanya mereka semua melengkapi kehidupan ini dengan banyak warna.

Kamis, 6 November 2014 (1,5 bulan) kau mendapatkan vaksin BCG. Beratmu bertambah menjadi 5,1 kg dengan panjang 56 cm, lk 37 cm. Tingkahmu semakin menggemaskan, baju pun mulai tidak muat. Beberapa kali Bunda bercerita bahwa kau sering berkomunikasi dengan Ayah lewat internet… Face Time atau Skype atau Google Hangout . Menurut Bunda kau sering tertawa tergelak dan berceloteh saat menatap wajah Ayah di layar HP atau Ipad…Alhamdulillah.

Kamis, 13 November 2014, rambutmu dicukur habis di RSIA Kendangsari. Berat badanmu terus naik dan berisi, wajahmu tampak semakin keren, benar-benar wajah laki-laki, hidungmu tampak semakin mancung, dan mata indahmu semakin memesonaku.

Kamis, 20 November 2014 beratmu bertambah menjadi 5,5 kg dengan panjang 58 cm. Kau mendapatkan vaksin POLIO I, DPT, HIB. Menurut Bunda dan Eyang yang mengantarmu… kau berceloteh terus saat di ruang dokter dan hanya menangis sebentar setelah suntikan itu menembus kulit halusmu.

Sabtu, 22 November 2014…Selamat Arfen, kau akan melampaui usia dua bulanmu. Semoga Arfen tumbuh menjadi pribadi yang berbakti, berakhlak mulia, sehat, cerdas, rajin, mandiri, bahagia dunia akhirat, panjang usia … aamiin. Oma sayang Arfen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: