Naik Odong-Odong

Naik odong-odong, 19 nov 2014

Sesaat setelah pulang ke rumah dan akan menjemput Ara di rumah Bu Sis…dia ternyata telah bersiap dibonceng Bp Siswantiono (tetangga yang selama ini membantu merawat dan menjaga Ara). Ara akan diantarkan ke depan toko Bentar untuk naik odong-odong.

Saat kuajak untuk ke Bentar bersamaku, dengan tegas dan dengan gayanya menggoyangkan tangan dia bilang “Tidak usah, oma… Tidak usah…”. Saat aku merajuk “Oma ikut,ya…”. Dia bilang “tidak usah”. Kamai semua tertawa melihat tingkahnya. Lama-kelamaan dengan segala bujuk rayu dia pun mau pergi bersamaku naik mobil.

Di dalam mobil seperti biasanya aku pasangkan sabuk pengaman dan dia pun menunjuk ke sabuknya, “Ara pakai.. Oma juga pakai” (sambil dia menunjuk ke sabuk pengamanku yang sudah kupasang). Kami pun berangkat berdua ke depan toko Bentar… Di sepanjang jakan dia berkomentar “ampu agus”, maksudnya ‘lampu bagus’ karena di sepanjang jalan Rewwin I dia melihat lampu warna-warni seperti lampu penjor yang membentuk aneka binatang, seperti ikan, bunga, katak, dll… .Aku pun menyahutnya dengan bahasa Jawa “lampu apik” dan dia pun bergumam “ampu apik, Oma”. Kami pun bermain tebak-tebakan. Pada suatu saat dia bilang “Ara dak liat”, maksudnya ‘Ara tidak melihat…” Karena memang wajah di lebih pendek dari tepi sehingga hanya dapat melihat yang ada di atasnya saja. Tapi dia tidak mempermasalahkan lebih lanjut. Akh jadi ingat di rumah ada kursi mobil untuk Ara yang membuat tempat duduknya menjadi lebih tinggi sehingga dapat melihat semua sisi… Kusampaikan hal itu bahwa nanti jika pergi lagi pakai kursinya… Dia pun menatapku dengan mata yang berbinar gembira.

Sampai di dekat Bentar mobil kuparkir di Jalan utama Rewwin I dan Ara pun kugendong ke tempat odong-odong, sayangnya sudah penuh sehingga kami harus menunggu dan harus di tempat itu karena Ara tidak mau kuajak agak menjauh. Odong-odongnya berbentuk enam tempat duduk yang berjalan melingkar dengan hiasan dan lampu warna-warni, di bagian depan setiap tempat duduknya ada bentuk-bentuk yang familiar bagi anak-anak; ada bebek, gajah, Doraemon, Marsha, Spongebob, dan kelinci. Di setiap tempat duduk dihias dengan dua lengkungan di bagian depan dan di bagian belakang tempat duduk dengan lampu pijar warna-warni. Bagian atas odong-odong secara keseluruhan juga dihias dengan lampu pijar warna-warni…..di setiap tempat duuduk ada setir melingkar yang dapat diputar-putar. Selain meriah dari sisi fisik, suara yang mengiringi juga meriah karena musik dan lagu anak-anak yang diputar merupakan lagu-lagu ceria dengan tambahan bunyi-bunyi khusus “teng-teng-teng, kluk-kluk-kluk, dst.”

Bapak yang memainkan odong-odong menyapa kami dengan “Loh sing alit pundi?” atau “yang kecil mana?”, maksudnya Khanza…di mana?’, saya jawab “Tulungagung, Pak, acara keluarga” (Khanza adalah putri Ganang dan Meri atau cucu Bu Siswantiono, tetangga dekat rumah yang setiap hari menolong kami mengasuh Ara). Pak Odong-odong pun bilang ke Ara “Sabar sik, ya…nunggu” dan Ara menatapnya serta membalasnya dengan anggukan kepala. Setelah beberapa saat ada beberapa ibu yang minta odong-odong dihentikan dan anaknya digendong turun, saat itulah aku baru tahu bahwa untuk turun tidak perlu menunggu lagu selesai. Anak hanya bilang ingin turun, atau ibunya mendekat dan dengan penanda atau kata-kata bilang bahwa dia ingin menurunkan anaknya, Pak Odong-odong akan menghentikan permainaan itu dan memberi kesempatan si Ibu untuk mengambil anaknya. Ara memilih odong-odong berhiaskan gajah di bagian depan (padahal sebelumnya saat di kebun binatang dia paling takut dengan gajah).

Setelah naik odong-odong matanya berbinar gembira, dia pun menggerak-gerakkan setir yang ada di odong-odongnya berlagak menyopir. Odong-odong pun memutar dengan pelan diiringi lagu anak-anak yang sudah akrab di telinga Ara. Dalam dua putaran dia masih memegangi setirnya. Di putaran ketiga dan seterusnya dia melepas setirnya dan menggerak-gerakkan tangan mengikuti irama lagu. Beberapa kali dia melambai ke arahku saat melintas di depanku. Alhamdulillah, Ara tampak sangat gembira. Sambil menunggu Ara, aku pun pesan nasi mawut putih pada penjual di dekat odong-odong itu. Setelah beberapa lagu, beberapa anak sudah mulai turun, tapi Ara tidak menunjukkan tanda-tanda ingin turun, bahkan tangannya semakin bersemangat berjoget mengikuti lagu…dan wowww, badannya juga ikut bergerak-gerak sekarang mengikuti irama lagu dan ikut bernyanyi…lucunya cucu cantikku, Alhamdulillah.

Setelah teman seangkatan naik odong-odong semua turun dan digantikan anak baru semuanya, aku mulai memberi isyarat pada Ara untuk turun, tapi apa daya, Ara malah tergelak-gelak melihat tanganku yang ingin menggendongnya. Bapak odong-odong tidak keberatan Ara masih naik setelah kubayar ongkos naiknya dan kutanya “Tambah berapa?”, dia bilang tidak perlu tambah karena ongkos satu kali naik itu bukan untuk satu lagu atau satu waktu tertentu, tapi sampai anak minta turun (wah..itulah bedanya permainan di kampung dan di mall atau di tempat permainan umum).

Setelah anak-anak baru putaran berikutnya ganti lagi, baru Ara menunjukkan tanda bahwa dia ingin turun. Aku pun dengan senang hati membawanya turun. Kuajari dia mngucapkan terima kasih kepada Pak Odong-odong dan dia pun berucap “…asih” kepada Pak Odong-odong sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Dibalas Pak Odong-odong “Besok ke sini lagi, ya?”.

Selesai dari naik Odong-odong, Ara menunjukkan jari ingin ke toko Bentar, kami pun masuk dan Ara tampak senang saat kugandeng masuk ke toko. Toko Bentar baru saja direnovasi dan sekarang apotik disatukan dengan toko, bahkan lantai 2 masih dikerjakan. Kami masuk melalui apotik dan Ara melihat-lihat kaca etalase obat. Setelah itu, dia setengah berlari masuk ke toko, aku pun mengikutinya dari belakang. Ternyata dia mengambil susu ultra kotak rasa strawberry, kemudian setengah berlari lagi ke belakang mengambil roti yang dibungkus coklat berbentuk seperti ranting pohon. Saat kutawarkan bantuan untuk membawakan dia tidak mau…bersikeras membawa sendiri. Bahkan coklatnya ingin dibuka saat itu juga. Saat kuterangkan bahwa harus dibayar dulu, barulah dia mau menundanya. Sampai di depan kasir akhirnya barulah dia menyerahkan susu dan coklat tersebut untuk dibayar. Kami pun membayar dan melangkah pulang…ternyata hujan rintik-rintik. Setengah berlari dan melindungi kepala Ara dari hujan rintik-rintik kami menuju mobil dan pulang dengan gembira. Dalam perjalan pulang, Ara bernyanyi lagu-lagu yang dia hapal… aku pun ikut bernyanyi…. serasa jadi sangat muda bahkan serasa jadi anak kecil lagi, he he he. Alhamdulillah.

.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: