Handout Dialektologi

PERTEMUAN I

PENGERTIAN DIALEKTOLOGI

  • Dialektologi merupakan salah satu cabang Linguistik Historis. Keduanya cenderung menelaah masalah kesejarahan ragam-ragam bahasa.
  • Dialektologi dapat disebut sebagai studi tentang dialek tertentu atau dialek-dialek suatu bahasa. Dalam arti luas penelitian dialektologi berupaya memerikan perbedaan pola linguistik, baik secara horisontal (diatopis) yang mencakup variasi geografis maupun yang vertikal (sintopis) yang mencakup variasi di suatu tempat. Variasi di suatu tempat yang bersifat sin­topis ini dapat pula merambah pada kajian dialek sosial yang melibatkan faktor-faktor sosial.
  • Pada mulanya, pengertian dialek merujuk kepada perbedaan regional yang ada di antara daerah pengamatan yang menghasilkan pemetaan bahasa/dialek/subdialek. Pe­nger­tian ini lama-kelamaan juga mencakup dimensi sosial. Dalam dialektologi, penelitian yang me­ngupas perbedaan-perbedaan yang ada pada beberapa daerah pengamatan (DP) disebut dengan dialek geografis, sedangkan yang terjadi sebagai akibat perbedaan dimensi sosial disebut dialek sosial.
  • Merambahnya dialektologi ke wilayah variasi berdasarkan variabel sosial menyebabkan timbulnya kekaburan batas antara dialek sosial dengan sosiolinguistik.
  • Pendapat Halliday yang membedakan dialek dan register
Dialek:

variasi bahasa berdasarkan pemakai.

Register:

variasi bahasa berdasarkan pemakaiannya.

Jawaban dari What you speak? (habitually) yang ditentukan oleh “Siapa Anda?” Jawaban dari What you are speaking? (at given time) yang ditentukan oleh “Apa yang sedang Anda lakukan?”
Variasi dialektal mencerminkan golongan sosial dalam hal hierarki dari struktur sosial. Variasi registeral mencerminkan golongan sosial dalam   hal proses sosial (interaksi sosial).
Dialek merupakan variasi bahasa yang bersifat dialektal (salah satu objek kajian dialektologi): perbedaan berbahasa   didasarkan pada perbedaan kelompok sosial. Register merupakan variasi registeral atau register (salah satu objek kajian sosiolinguistik): perbedaan berbahasa   disebabkan oleh perbedaan konteks .
  • Dalam dialektologi, tidak ada dialek yang lebih tinggi statusnya dari dialek lainnya. Adapun anggapan bahwa sebuah dialek dianggap lebih tinggi statusnya dari dialek lain merupakan anggapan yang didasari pertimbangan sosiolinguistik. Berikut ini adalah bagan yang berusaha menunjukkan wilayah dialek sosial dan sosiolinguistik (cf. Dhanawaty, 2002).

VARIASI BAHASA

Dialektologi

Dialek

Register

Sosiolinguistik

Daerah

Variabel     Geo

grafis

Dialek

Geo-

Grafis

Dialek

Sosial

Variabel Sosial

Variabel Sosial

Struktur Sosial

Situasi

Sosial

SISTEM SOSIAL

 

 

lingkup kajian dialektologi

TUGAS: mengidentifikasi judul penelitian/makalah tentang dialek sosial dan sosiolinguistik untuk mencermati perbedaannya.

PERTEMUAN II: BAHASA DAN DIALEK

  • Sampai pada saat ini, pembedaan pengertian bahasa dan dialek merupakan persoalan yang dianggap rumit oleh beberapa linguis.
  • Secara awam, dialek sebagai bagian dari fakta bahasa dianggap memper­li­hatkan jenis penyimpangan dari bahasa standar. Bahkan, dialek sering dikaitkan dengan ben­tuk bahasa sub­standar yang ditentukan oleh masyarakat yang ada di kawasan terpencil de­ngan status sosial yang rendah (anggapan yang keliru).
  • Chambers dan Trudgill (1990: 3) menegaskan bahwa penutur suatu bahasa merupakan penutur bagi (sekurang-kurangnya) satu dialek, dan tidak ada dialek yang lebih tinggi nilai­nya daripada dialek lain.
  • Bahasa kemudian di­pandang sebagai sekumpulan dialek yang bersifat “saling dapat dipahami” (mutually in­telligible). Dalam hal ini, istilah “saling dapat dipahami” berada dalam tanda petik dengan maksud se­jauh dialek-dialek itu masih dalam mata rantai yang ber­dekatan. Di sini berlaku apa yang disebut dialect chain (rantai dialek) dalam dialect continum (rangkaian kesatuan dialek).
  • Dalam batasan dialek ini, Meillet (1970: 70) menge­mu­kakan ciri utama dialek ialah perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam per­be­daan. Selain itu, ia juga mengemukakan       ciri lain dari dialek, yakni       dialek ialah seperangkat ben­tuk ujaran setempat yang berbeda-beda, yang memiliki ciri-ciri umum dan masing-masing lebih mirip sesamanya jika di­bandingkan dengan bentuk ujaran lain dari bahasa yang sama.
  • Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapatlah ditarik suatu benang merah atau ke­sejajaran pendapat yang dapat dirumuskan sebagai berikut: dialek merupakan variasi ba­hasa yang memiliki sistem lingual tersendiri, dipakai oleh sekelompok pe­nutur di tem­pat tertentu, tetapi di antara kelompok penutur itu dengan kelompok lainnya (yang masih teri­kat dalam satu bahasa) masih terdapat “pemahaman timbal balik” satu de­ngan yang lain (dengan catatan: sepanjang daerah itu berada dalam mata rantai yang sama dan relatif ber­dekatan).
  • Pada dasarnya, ada dua batasan dalam penguasaan bahasa atau dialek, yakni batasan geografis dan batasan genetis. Selain itu, secara geografis, daerah perbatasan antarbahasa biasanya merupakan daerah yang unik dari sisi kebahasaan karena beberapa unsur kebahasaan cenderung bercampur dan saling mempengaruhi.
  • Pengaruh antara satu bahasa atau dialek terhadap bahasa atau dialek lain dapat terjadi secara searah atau timbal balik. Dalam hal ini, leksikon dianggap memegang peran paling awal.
  • Perbedaan dialek biasanya terjadi pada bidang fonologi dan leksikon, sedangkan bidang morfologi su­dah lebih konservatif dan sintaksis yang paling konservatif. Oleh sebab itu, unsur pinjaman biasanya sangat terbatas pada bidang morfologi dan sintaksis.
  • Pengaruh antardialek atau antarbahasa yang dapat menyebabkan perbedaan isolek antardaerah pengamatan ini dapat terjadi karena faktor ekstralinguis­tik.
  • Pada dasarnya penelitian dialektologi bertujuan mendeskripsikan perbedaan antardialek atau antarbahasa. Oleh sebab itu, penelitian dialektologi akan menghasilkan peta bahasa (termasuk peta dialek).
  • Adapun manfaat peta bahasa, secara umum di antaranya ialah sebagai berikut (Lauder, 1997: 3¾5).

(1) Dari peta bahasa dapat dibuat peta bunyi sehingga dapat dilihat kaidah fonotaktik bahasa/dialek yang diteliti;

(2) Peta bahasa dapat lebih mempermudah rekonstruksi bahasa sehingga dapat membantu bidang linguistik historis komparatif;

(3) Peta bahasa dapat melokalisasi konsep budaya tertentu sejauh konsep itu tecermin dalam kosakata;

(4) Peta bahasa dapat dimanfatkan oleh dinas kesehatan untuk membuat ramalan peta penyebaran wabah penyakit karena batas penyebaran epidemi pada umumnya sejalan dengan batas bahasa/dialek (epidemi mudah berjangkit pada orang-orang yang sering melakukan kontak). WHO bahkan pernah memanfaatkan peta bahasa untuk membuat prediksi peta penyebaran wabah penyakit menular.

 

PERTEMUAN III

DIALEKTOLOGI DAN LINGUISTIK BANDINGAN HISTORIS

  • Pada awal perkembangannya, dialek geografis merupakan salah satu cabang dari linguistik bandingan.
  • Dialek geografis (geografi dialek) merupakan fokus kajian dialektologi yang pada dasarnya mempunyai hubungan erat dengan linguistik bandingan karena keduanya mempelajari hubungan yang terdapat di dalam ragam-ragam bahasa dan menelaah kesejarahan ragam-ragam bahasa tersebut.
  • Dalam perkembangan selanjutnya, dialek geografis cenderung memaparkan hubungan antara ragam bahasa dengan bertumpu pada satuan ruang terwujudnya ragam-ragam itu pada saat penelitian dilakukan sehingga simpulan yang dihasilkan dapat diperiksa kebenarannya. Adapun hasil akhir linguistik bandingan hampir selalu mengacu ke proto bahasa yang berupa asumsi sebagai hasil rekonstruksi
  • Perkembangan dialek geografis itu melatari awal pemetaan bahasa yang lahir serentak di dua tempat yaitu di Jerman dan Perancis (Moulton, 1969 dalam Lauder, 1993) dan keduanya secara umum bersifat historis.
  • Pada akhir abad XIX, para ahli bahasa di Jerman dan Perancis mampu menghasilkan dua buah peta bahasa perdana. Kedua peta bahasa itu tampil pada waktu yang hampir bersamaan merupakan karya awal di bidang dialek geografis walaupun keduanya mempergunakan dasar pemikiran dan pendekatan yang agak berbeda.

MAHZAB JERMAN

  • Dialek geografis mahzab Jerman bermula dari niat seorang ahli filsafat Jerman bernama Wenker untuk membuktikan kebenaran teori kelompok Jung Grammatiker yang mencetuskan Ausnahmslasigkeit de Lautgesetze, yaitu “hukum perubahan bunyi tanpa pengecualian”.
  • Untuk membuktikan teori itu, Wenker mengirimkan angket berisi empat puluh kalimat sederhana dalam bahasa dan sastra Jerman kepada para guru sekolah di daerah Renia. Kalimat-kalimat itu diterjemahkan oleh para guru ke dalam bahasa Jerman dialek setempat sehingga Wenker dapat menjaring variasi fonetis bahasa Jerman dialek Renia. Pada tahun 1876, hasilnya diabstraksikan dalam peta bahasa (Pop, 1950 dalam Lauder, 1993).
  • Dengan metode angket yang sama, Wenker melakukan penelitian lagi pada tahun 1877 di Westphalia, tahun 1879 di sebagian Jerman Utara dan Jerman Tengah, dan tahun 1887 melakukan penelitian ke daerah lainnya yang masih termasuk dalam daerah kekuasaan Jerman.
  • Akhirnya, dengan cara mengirimkan angket secara bertahap, Wenker dengan dibantu Wrede berhasil menghimpun variasi fonetis dari seluruh wilayah Jerman dan menghasilkan sebuah peta bahasa Jerman yang disebut Deutscher Sprachatlas. Peta ini hanya menggunakan empat puluh kalimat sederhana sebagai alat penjaring keragaman fonetis. Akan tetapi, dengan sisitem pengiriman angket berhasil mencakup semua tempat (100%) yaitu sekitar 40.000 daerah pengamatan. Data yang terkumpul melimpah, tentu saja sangat sulit untuk dipetakan sehingga membutuhkan waktu sekitar lima puluh tahunan untuk menggeneralisasikan data-data itu sebelum dipetakan.
  • Setelah peta itu dihasilkan, penelitian dialek geografis yang berikutnya lebih mengarah pada pencarian hubungan yang ada di antara masalah luar bahasa yang dapat menyebabkan timbulnya ragam-ragam bahasa (Moulton, 1969 dalam Lauder, 1993).

 

MAHZAB PERANCIS

  • Dialek geografis mahzab Perancis bermula dengan adanya anjuran dari Gaston Paris pada tahun 1875 agar melakukan penelitian yang terperinci mengenai dialek-dialek di seluruh wilayah Perancis.
  • Paris juga menganjurkan agar membuat peta fonetik untuk seluruh Perancis. Pemikiran Paris ini mendorong dialek geografis bertumpu pada peta-peta bahasa sehingga dialek geografis tidak lagi menempel pada linguistik bandingan.
  • Pada tahun 1880, Gilliéron memenuhi anjuran Gaston Paris dengan melakukan penelitian di daerah Vionnaz, wilayah Swiss. Hasil penelitian di Vionnaz mendorong Gilliéron untuk melakukan penelitian serupa di daerah Rhone wilayah Perancis.
  • Gilliéron dan Edmont, pada tahun 1897 mulai melakukan penelitian dialek geografis di seluruh wilayah Perancis (Pop dalam Lauder, 1993). Pada tahun 1902—1910 penelitian itu sudah selesai dan diterbitkan. Peta bahasa Perancis yang disebut Atlas Linguistique de la France merupakan hasil yang diperoleh dari 639 daerah pengamatan (hanya mencakup sekitar 2% dari semua tempat yang berbahasa Perancis termasuk Belgia, Swiss, dan sebagian Italia). Akan tetapi, tiap daerah pengamatan dibebani 1.920 tanyaan leksikal dan 100 tanyaan kalimat, dan data itu didapat dengan melakukan penelitian lapangan langsung.
  • Kebalikan dengan Deutscher Sprachatlas, peta bahasa Perancis hanya membutuhkan empat tahun untuk menyelesaikan proses pemetaan bahasa tanpa digeneralisasikan terlebih dahulu seperti pada peta bahasa Jerman (Pop dalam Lauder, 1993).
  • Setelah penelitian Gilliéron bersama Edmont itu, Dauzat berpendapat bahwa hal-hal yang khas dari tiap daerah tidak dapat tampil dengan jelas, mengingat hanya sekitar 2% daerah pengamatan yang dijadikan contoh. Oleh karena itu, perlu pemikiran baru, yaitu langkah lanjutan untuk melakukan pemetaan bahasa per daerah supaya daerah pengamatannya bertambah dan dapat menjaring hal-hal yang khusus dan khas mengenai daerah itu (Dauzat dalam Lauder, 1993).
  • Gagasan Dauzat itu terkenal dengan nama Nouvel Atlas Linguistique de France par Regions yang mulai direalisasikan pada tahun 1939. Nouvel Atlas Linguistique de France par Regions dikerjakan oleh para ahli dialektologi di Perancis. Tujuh puluh lima persen telah selesai digarap dan diterbitkan, sedangkan yang 25 persen lagi masih dalam tarap penggarapan yaitu pemetaan di daerah Picardie, Normandie, Lorraine, Romane, Languedoc, Interieur, Languedoc Mediterraneen, dan Basses-Bretagne (Tuaillon dalam Lauder, 1993).
  • Penelitian dialek geografis setelah Gilliéron dan Edmont tampaknya lebih memusatkan perhatian pada hal-hal intern yang menyebabkan perubahan bunyi. Analisisnya bertopang pada sejarah bahasa, tiap kata ditelusur sejarahnya berikut evolusi bunyi yang terjadi di dalamnya. Hal ini secara tak sengaja justru memperhalus dan mempertajam hukum perubahan bunyi kelompok Junggramatiker yang tak mengenal pengecualian (Moulton, 1969 dalam Lauder, 1993).

PEMETAAN BAHASA DI INDONESIA

  • Penelitian dialek geografis di Indonesia dipelopori oleh Teeuw pada tahun 1951. Akan tetapi, penelitian dialek geografis mulai berkembang di Indonesia sekitar tahun tujuh puluhan yang dipelopori oleh Ayatrohaedi dengan Penataran Dialektologi yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
  • Yang digunakan di Indonesia bertumpu pada metode penelitian mahzab Perancis karena dianggap lebih cocok untuk menangani situasi kebahasaan di Indonesia. Metode angket seperti yang dilakukan oleh mahzab Jerman masih sulit untuk dilaksanakan di Indonesia, khususnya untuk melakukan penelitian dialek geografis.
  • Teknik pemetaan yang merupakan sarana dasar untuk menampilkan situasi kebahasaan di wilayah tertentu cenderung memakai sistem lambang, yaitu sistem pemetaan yang diperkenalkan Teeuw pada pemetaan bahasa di Lombok. Sistem pemetaan langsung seperti yang dilakukan mahzab Perancis hampir tidak dipergunakan di Indonesia, kecuali oleh Ayatrohaedi. Dalam penelitiannya mengenai bahasa Sunda di daerah Cirebon, Ayatrohaedi menggunakan sistem pemetaan langsung untuk membuat sebagian dari peta-peta bahasanya (1983: 225—332).
  • Pendataan bahasa di Indonesia sesungguhnya telah mulai dijajagi pada tahun lima puluhan, hanya saja belum ada kesatuan pendapat mengenai hal ini, masih banyak perbedaan dalam hasilnya. Perbedaan yang muncul mungkin lebih banyak disebabkan pada perbedaan metode penelitiannya, teknik, dasar pemilahannya, ketidakseragaman kuesioner, dan teori. Dapat disebut beberapa pendapat di sini, antara lain (Pusat Bahasa, 2008): Esser (1951) dan Alisjahbana (1954) menyebutkan bahwa di Indonesia terdapat 200 bahasa. Sementara itu, Salzner (1960) menyebutkan ada 96 bahasa; sedangkan Grimes (1988) menyebutkan di Indonesia terdapat tidak kurang dari 672 bahasa, tiga di antaranya sudah punah. Selain itu, Lembaga Bahasa Nasional yang melakukan penginventarisasian bahasa-bahasa di Indonesia pada tahun 1969—1971, dalam laporannya (1972), menyebutkan terdapat 418 buah bahasa yang hidup, tumbuh, dan berkembang di Indonesia. Salah satu di antara bahasa itu adalah bahasa Indonesia.
  • Pusat bahasa telah melakukan penelitian lapangan secara nasional mulai tahun 1990. Pada tahun 2008, berdasarkan instrumen yang seragam dan metode penghitungan dialektometri yang sama telah ditemukan 442 bahasa di Indonesia (penelitian dinyatakan belum selesai karena masih ada beberapa daerah yang belum diambil datanya, di antaranya di daerah Papua, Maluku, dan NTT).

PERTEMUAN IV

BAHASA-BAHASA DI INDONESIA DI TINGKAT DUNIA

  • Grimes (2000) menyatakan ada 6.703 bahasa di dunia. Adapun wilayah persebaran terbanyak ada di Asia, yaitu 2.165 (32%). Urutan selanjutnya adalah Afrika: 2.011 (30%), Pasifik: 1.302 (19%), Amerika: 1.000 (15%), dan Eropa: 225 (3%).
  • Indonesia memiliki sekitar 706 bahasa yang tersebar di berbagai wilayahnya Dari sejumlah itu, hampir separuhnya berada di Papua, yaitu sekitar 240–248.
  • Selanjutnya, dari 703 bahasa di dunia, urutan bahasa (Grimes, 2000) yang paling banyak penuturnya (di Indonesia) adalah: bahasa Jawa di urutan ke-11 (75,5 juta), bahasa Sunda di urutan ke-34 (27 juta), bahasa Melayu di urutan ke-54 (17.600.000), bahasa Indonesia di urutan ke-56 (17.050.000), dan bahasa Madura di urutan ke-69 (13.694.000)[1].
  • Dari berbagai bahasa di dunia, jumlah bahasa yang diteliti diberi keterangan sebagai berikut (Purwo, 2000: 10).

 

Pering-kat Jumlah Bhs yang Diteliti Uraian Contoh Bahasa
A 40–50 diteliti secara memadai dan mendalam, hampir segala seluk beluknya Inggris

Jerman

B 600 diteliti secara memadai dan mendalam, baru sebagian ihwalnya Indonesia

Tagalog

C 1000 diteliti kurang mendalam, baru tata bahasa dalam bentuk “sketsa” Jawa
D 2000–3000 diteliti kurang memadai, deskripsi sederhana dan ada daftar kata (belum sampai kamus)
  • Dari 809 bahasa di dunia sekitar 50%-nya ada di sembilan negara, dengan urutan–terkaya dalam jumlah bahasa– sebagai berikut.
No. Urutan Nama Negara Jumlah Bahasa
1 Papua Nugini 867
2 Indonesia 731
3 Nigeria 435
4 India 416
5 Kamerun 280
6 Australia 266
7 Meksiko 248
8 Brazilia 244
9 Zaire 219
No Bahasa Perkiraan Jumlah Penutur
1 Cina (Mandarin) 1.075.000,000
2 Inggris 514.000,000
3 Hindustani1 496.000,000
4 Spanyol 425.000,000
5 Rusia 275.000,000
6 Arab 256.000,000
7 Bengali 215.000,000
8 Portugis 194.000,000
9 Melayu-Indonesia 176.000,000
10 Perancis 129.000,000
  • Peringkat bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia adalah sebagai berikut (Bandingkan dengan data Grimes tahun 2000, ada penurunan peringkat).

(1) Jawa (peringkat ke-12 dunia: 75,6 juta penutur);

(2) Sunda, ke-39: 27 juta;

(3) Indonesia, ke-50: 17,1 juta (140 juta sebagai bahasa kedua);

(4) Madura, ke-61: 13,7 juta;

(5) Minangkabau, ke-95: 6,5 juta;

(6) Batak, ke-99: 6,2 juta;

(7) Bali, ke-124: 3,8 juta;

(8) Bugis, ke-129 (sebagai bahasa kedua: di bawah 4 juta);

(9) Aceh, ke-147: 3 juta;

(10) Betawi/kreol, ke-156: 2,7 juta;

(11) Sasak, ke-175: 2,1 juta;

(12) Makassar, ke-196 (sebagai bahasa kedua: 2 juta);

(13) Lampung, ke-205 (sebagai bahasa kedua: di bawah 1,5 juta);

(14) Rejang, ke-258: kurang dari 1 juta

(SIL dalam Wikipedia, diunduh 25 Juni 2008).

  • Lebih lanjut, menurut Unesco, ada sepuluh bahasa punah/mati setiap tahun. Oleh sebab itu, sejak tahun 1999, tanggal 21 Februari ditetapkan sebagai international mother language day oleh Unesco.
  • Salah satu sebab kepunahan bahasa adalah ditinggalkan penuturnya (karena terpaksa atau karena bahasa lain diasosiasikan lebih maju/modern). Di Indonesia, bahasa daerah terancam punah karena ditinggalkan penuturnya sebagai akibat dari globalisasi dan perkembangan teknologi (Mendiknas dalam acara pembukaan Kongres Bahasa Jawa IV tahun 2006 di Semarang).
  • Kesepakatan para linguis Jerman tahun 2000 menyebutkan ada beberapa tahap yang dialami bahasa yang mengalami kemunduran dan terancam punah, yakni:
  1. sangat kritis

penuturnya sedikit sekali, semuanya berumur 70 tahun ke atas

  1. sangat terancam

semua penuturnya berumur 40 tahun ke atas

  1. terancam

semua penuturnya berusia 20 tahun ke atas

  1. mengalami kemunduran

sebagian penutur adalah anak-anak dan kaum tua

  1. stabil dan mantap, tetapi terancam punah

semua anak-anak dan orang tua menggunakan, tetapi jumlahnya sedikit

  1. aman

tidak terancam punah, bahasa ini dipelajari oleh semua anak dan semua orang dalam etnis itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERTEMUAN V

TRANSKRIPSI FONETIS

  • Seseorang yang akan melaksanakan penelitian dialektologi dengan metode penelitian lapangan (termasuk penyedia data) harus benar-benar mampu melakukan penelitian lapangan. Selain itu, dia juga harus mampu melakukan transktripsi fonetis.
  • Transkripsi fonetis merujuk pada bagaimana glos diucapkan (glos merupakan bentuk yang dikenal dalam bahasa yang digunakan oleh peneliti).
  • Untuk dapat melaksanakan transkripsi fonetis, peneliti perlu mengenal dan menandai semua bunyi itu sesuai dengan pengucapannya. Jadi, peneliti harus berfokus pada ujaran informan karena ujaran itulah yang harus dituliskan persis sama dengan ujarannya. Pengenalan terhadap bunyi-bunyi bahasa dapat ditelusur dengan pembentukan bunyi itu serta penamaannya (Lauder, 2002).

Pembentukan Konsonan

  • Pembentukan konsonan disertai berbagai hambatan atau penyempitan. Sifat dan tempat hambatan atau penyempitan menjadi ciri konsonan tertentu.
  • Cara memberi nama konsonan yaitu dengan menyebutkan secara berurutan cara artikulasi, artikulator aktif dan daerah artikulasi, keadaan glotis. Contoh: [p] adalah bunyi hambat bilabial tak bersuara, atau [d] adalah bunyi hambat apiko-dental/lamino-alveolar bersuara. Berikut ini adalah bagan konsonan dengan bagian kiri sebagai posisi lidah pada bagian depan dan semakin ke kanan merujuk pada posisi lidah yang semakin ke belakang (pangkal ).
Bilabial Labio

dental

Lamino

alveolar

Lamino

palatal

Dorso

velar

Uvu-lar Glotal
Letupan p   b t   d c   j k   g
Sengauan    m          n          
Getaran    r R
Hempasan    L
Geseran/frikatif   f v s z     x    h     H
Paduan/afrikat t   d
Hampiran/semivokal    w    W      y
Sampingan/lateral    L      
  • Di samping itu, terdapat juga pembentukan konsonan dengan cara khusus (diskusi terkait hal ini).
  • Pembentukan vokal tidak disertai dengan berbagai hambatan atau penyempitan.
  • Cara memberi nama vokal yaitu dengan menyebutkan secara berurutan faktor maju-mundurnya lidah, naik-turunnya lidah, bentuk bibir, kegiatan pita suara. Contoh: [i] adalah vokal depan tinggi tak bulat
  • Berikut ini adalah bagan vokal.
   Depan      Tengah Belakang
Tinggi    i                                     u
                 Terbuka          I              U
              e                 ö          O
Sedang              
                 Terbuka                                        
Rendah                            a

PERTEMUAN VI

POPULASI DAN SAMPEL

  • Dari sisi komunitas tutur, populasi penelitian dialektogis adalah seluruh penutur isolek yang diteliti (isolek adalah istilah netral untuk menyebut lek yang belum ditentukan statusnya: sebagai bahasa, dialek, subdialek, atau tanpa beda).
  • Dari sisi geografis, populasi penelitian adalah seluruh wilayah pakai bahasa. Adapun dari sisi data, populasi penelitian dialektologi adalah semua tuturan (berian) isolek yang diteliti.
  • Sampel penelitian dialektologis dari sisi komunitas tutur berwujud keterwakilan   penutur bahasa yang ada di tiap daerah pengamatan atau disingkat DP.
  • Dari sisi geografis, sampel berwujud keterwakilan wilayah pakai bahasa. Dari sisi data, sampel penelitian dialektologis adalah tuturan-tuturan (berian-berian) yang telah ditetapkan glosnya (padanannya dalam bahasa Indonesia).
  • Glos yang dimaksudkan itu dapat diambilkan dari daftar Swadesh yang telah di­modifikasi oleh Blust atau dapat juga dari daftar lain.
  • Selain itu, dapat juga digunakan model pertanyaan tentang “kehidupan se­hari-hari” atau “cara membuat sesuatu”. yang digunakan sebagai penunjang untuk melakukan cek silang antara berian yang terdapat dalam instrumen dan penerapannya dalam berbicara secara bebas.
  • Penetapan daerah pengamatan (DP) menggunakan cara sebagai berikut. Dari be­berapa kecamatan yang ada, dipilih desa yang akan ditentukan sebagai DP yang diduga masih banyak menyim­pan ben­tuk relik. Pemilihan dilakukan sesuai dengan kondisi kebahasaan yang ada dan ke­tersebaran lo­kasi.
  • Secara lebih rinci, dasar yang digunakan dalam penetapan DP sebagai berikut:

(a) lokasi dan jarak DP tidak berdekatan dengan kota besar;

(b) mobilitas DP tergolong rendah;

(c) jumlah penduduk DP maksi­mal 6.000 jiwa;

(d) usia DP minimal 30 tahun;

(e) jarak antar-DP lebih kurang 20 km (jika desa itu bersifat homogen dalam hal bahasanya). Akan tetapi, jika he­terogen, jarak yang kurang dari 20 km masih dimungkinkan;

(f) kondisi DP dan masyarakatnya masih asli dalam arti belum banyak terkena pengaruh luar.

  • Beberapa informasi mengenai kondisi kebahasaan DP bisa didapatkan dari beberapa sumber, misalnya: internet, buku, artikel, peta, pegawai di daerah itu, dll.
  • Beberapa informasi itu diceksilangkan kebenarannya, kemudian disediakan peta dasar yang memuat DP.
  • Langkah selanjutnya adalah melakukan identifikasi (tentatif) tingkat heterogenitas/homogenitas kondisi kebahasaan di DP. Perlu diingat bahwa penentuan sampel penelitian atau DP disertai penjelasan dasar mengenai penentuannya. Setelah itu dapat dilakukan survey awal yang dilanjutkan dengan penyediaan data.
  • Ada beberapa hal yang perlu digali dari DP setelah dilakukan penentuan terhadapnya.

Kegiatan: mengidentifikasi hal-hal yang perlu diungkap dalam DP (dasar penyusunan instrumen DP)

INFORMAN

  • Setelah DP ditetapkan, jumlah informan pun ditetapkan dengan dasar: satu orang seba­gai informan utama dan dua atau satu orang sebagai informan pembanding. Jadi, dipilih tiga atau dua informan dari tiap-tiap DP.
  • Pemilihan informan pada tiap DP didasarkan pada kriteria sbb (cf. Lauder, 1993: 49¾56; Mahsun 1995: 106):

(a) berjenis kelamin laki-laki atau wanita;

(b) berusia 20–60 tahun (tidak pikun);

(c) baik informan maupun suami/istrinya dan orang tuanya lahir dan dibesarkan di DP itu;

(d) pendidikannya relatif rendah;

(e) status sosialnya menengah ke bawah dengan harapan mobilitasnya rendah;

(f) di­utamakan petani/nelayan/buruh;

(g) dapat berbahasa Indonesia;

(h) bangga terhadap isoleknya

(i) sehat rohani dan jasmani da­lam arti tidak cacat organ bicaranya.

  • Selain itu, ada juga berbagai hal lain yang dapat digali dari informan. (kegiatan: diskusi terntang hal-hal yang akan digali dari informan).

PERTEMUAN VII

  • Selain instrumen untuk DP dan informan, penelitian dialektologi juga menggunakan instrumen berwujud kosakata dasar yang dikembangkan.
  • Pada awalnya ada seratus kosakata dasar dari Swadesh, kemudian dikembangkan oleh R. Blust menjadi 200 kosakata dasar.
  • Jumlah itu oleh Pusat Bahasa kemudian dikembangkan menjadi 400 kosakata dasar yang digunakan sebagai dasar untuk mengadakan penelitian bahasa di Indonesia.
  • Beberapa pakar mengembangkan instrumen itu menjadi 900—2000 kosakata.
  • Kosakata dasar dan/atau kalimat dalam instrumen berwujud glos dalam bahasa Indonesia. Tugas penyedia data adalah menggali kata/frasa/kalimat yang terdapat dalam isolek informan sesuai dengan glos dalam daftar tanya yang tersedia.
  • Berikut ini disajikan daftar tanya berwujud 200 kosakata dasar Swadesh (kegiatan: diskusi mengenai kosakata dasar)

Daftar Tanya (R. Blust)

SWADESH 200-WORD BASIC VOCABULARY (MODIFIED)

GLOS BERIAN

(ditulis dalam bentuk transkripsi fonetis)

1. tangan

2. kiri

3. kanan

4. kaki

5. berjalan

6. jalan

7. datang

8. belok

9. berenang

10. kotor

11. debu

12. kulit

13. punggung

14. perut

15. tulang

16. isi perut

17. hati

18. payudara

19. bahu

20. tahu

21. berpikir

22. takut

23. darah

24. kepala

25. leher

26. rambut

27. hidung

28. bernafas

29. mencium

30. mulut

31. gigi

32. lidah

33. tertawa

34. menangis

35. muntah

36. meludah

37. makan

38. mengunyah

39. memasak

40. minum

41. menggigit

42. menghisap

43. telinga

44. mendengar

45. mata

46. melihat

47. menguap

48. tidur

49. berbaring

50. bermimpi

51. duduk

52. berdiri

53. orang

54. laki-laki

55. wanita

56. anak

57. suami

58. istri

59. ibu

60. bapak

61. rumah

62. atap

63. nama

64. berkata

65. tali

66. mengikat

67. menjahit

68. jarum

69. berburu

70. menembak

71. menikam

72. memukul

73. mencuri

74. membunuh

75. mati

76. hidup

77. menggaruk

78. memotong

79. kayu

80. membelah

81. tajam

82. tumpul

83. bekerja

84. menanam

85. memilih

86. tumbuh

87. membengkak

88. memeras

89. memegang

90. mengali

91. membeli

92. membuka

93. menutuk

94. melemparkan

95. jatuh

96. anjing

97. burung

98. telur

99. bulu

100. sayap

101. terbang

102. tikus

103. daging

104. lemak

105. ekor

106. ular

107. cacing

108. kutu

109. nyamuk

110. laba-laba

111. ikan

112. busuk

113. dahan

114. daun

115. akar

116. bunga

117. buah-buahan

118. rumput

119. tanah

120. batu

121. pasir

122. air

123. mengalir

124. laut

125. garam

126. danau

127. hutan

1128. langit

129. bulan

130. bintang

131. awan

132. kabut

133. hujan

134. guntur

135. kilat

136. angin

137. bertiup

138. panas

139. dingin

140. kering

141. basah

142. berat

143. api

144. membakar

145. asap

146. abu

147. hitam

148. putih

149. merah

150. kuning

151. hijau

152. kecil

153. besar

154. pendek

155. panjang

156. tipis

157. tebal

158. sempit

159. lebar

160. sakit

161. malu

162. tua

163. baru

164. baik

165. jahat

166. benar

167. malam

168. hari

169. tahun

170. kapan

171. bersembunyi

172. naik

173. di

174. (di) dalam

175. dsi atas

176. di bawah

177. ini

178. itu

179. dekat

180. jauh

181. di   mana

182. saya

183. kamu

184. (d)ia

185. kita; kami

186. kamu sekalian

187. mereka

188. apa

189. siapa

190. lain

191. semua

192. dan

193. kalau

194. bagaimana

195. tidak

196. menghitung

197. satu

198. dua

199. tiga

200. empat

  • Instrumen dalam dialektologis diharapkan memuat glos yang dapat menjaring data untuk perbedaan semua aspek kebahasaan. Instrumen yang berwujud daftar tanya juga menyangkut makna yang bersifat universal yang diasumsikan dapat dijaring atau ditemukan di DP.
  • Daftar tanya tersebut disusun secara berurutan/berkelompok agar dapat terfokus, sistematis, terarah, serta memudahkan analisis khususnya dalam melihat medan makna mana yang signifikan bagi pengelompokan atau berian yang beragam, yakni:
  • data (berian) hendaknya dapat menunjukkan perbedaan dan persamaan
  • berian hendaknya dapat mengidentifikasi bentuk yang berkerabat, dialek, subdialek (menjaring data yang signifikan bagi pengelompokan bahasa, dialek, dan subdialek)
  • berian dapat mencerminkan kelompok sosial/tingkat bahasa
  • berian itu menarik untuk rekonstruksi dan merupakan contoh yang baik untuk penelusuran refleks sebuah pra/protofonem tertentu
  • berian itu menarik untuk mengetahui sejarah daerahnya
  • berian dapat mengidentifikasi daerah konservatif dan inovatif
  • berian dapat menjaring data yang signifikan bagi rekonstruksi dan penelusuran bentuk inovatif dan relik
  • berian dapat menjaring data yang signifikan bagi pemahaman unsur historis dan budaya.
  • berian dapat digunakan untuk penelitian yang sama pada bahasa lain untuk keperluan perbandingan
  • Sebenarnya, glos dalam instrumen dapat disusun dengan menggunakan bahasa nasional, bahasa daerah, atau bahasa ibu.
  • Ada beberapa kelemahan dalam instrumen yang menggunakan glos dalam bahasa Ibu.
  • Adapun data yang berasal dari dua ratus kosakata dasar Swadesh yang telah disajikan dianggap tidak cukup untuk menunjukkan perbedaan dalam penelitian dialektologi. Data itu dapat digunakan untuk penghitungan leksikostatistik (linguistik historis komparatif), tetapi bukan untuk dialektometri. Oleh sebab itu, instrumen untuk penelitian dialektologi pun dikembangkan menjadi berbagai variasi.

Tugas: mencermati instrumen (Pusat Bahasa dan hasil pengembangan Nothofer).

PERTEMUAN VIII

UTS: Transkripsi Fonetis Instrumen (200 kosakata dasar)

PERTEMUAN IX

Instrumen

  • Instrumen yang dikembangkan oleh Pusat Bahasa terdiri atas
  1. Kosakata dasar sebanyak 200
  2. Kosakata lainnya, selain kosakata dasar, sebanyak 200, mencakup:

(1) Bagian Tubuh                                    52

(2) Sistem Kekerabatan                        25

(3) Gerak dan Kerja                    98

(4) Kata Tugas                            25

Jumlah data yang dianalisis                     400

  • Variasi lain dikembangkan oleh Nothofer dan dimodifikasi oleh Kisyani yang mengembangkan daftar swadesh menjadi 829 glos kata/frasa dan 100 kalimat. Jumlah glos kata/frasa ini meliputi 20 medan makna[2] yang dirinci menjadi:
  • BILANGAN (1—29);
  • UKURAN (30—39);
  • MUSIM DAN WAKTU (40—74);
  • BAGIAN TUBUH MANUSIA (75—172);
  • TUTUR SAPAAN DAN ACUAN (173—188);
  • ISTILAH KEKERABATAN (189—220);
  • PAKAIAN DAN PERHIASAN (221—241);
  • PEKERJAAN (242—271);
  • BINATANG (272—336);
  • BAGIAN TUBUH BINATANG (337—353);
  • TUMBUHAN: BAGIAN-BAGIAN BUAH DAN HASIL OLAHANNYA (354—443);
  • ALAM (444—478);
  • RUMAH DAN BAGIAN-BAGIANNYA (479—500);
  • ALAT (501—555),
  • PENYAKIT DAN OBAT (556—581);
  • ARAH DAN PENUNJUK (582—601);
  • AKTIVITAS (602—726);
  • SIFAT (727—801);
  • WARNA DAN BAU (802—816);
  • RASA (817—829).
  • Yang perlu diperhatikan adalah, para penyedia data di lapangan wajib untuk memahami dahulu instrumen yang akan digunakan. Jika ada glos yang belum jelas atau belum diketahui maknanya oleh penyedia data, hal itu harus disampaikan dan didiskusikan sehingga semua penyedia data mempunyai
  • Selain itu, saat wawancara, perlu pula digali berian-berian yang beragam dari satu glos tertentu. Jika berian tidak beragam, hal itu akan mempengaruhi penghitungan.
  • Berikut ini adalah instrumen yang dikembangkan oleh Nothofer dan dimodifikasi oleh Kisyani yang terdiri atas   829 glos kata/frasa dan 100 kalimat.
  1. BILANGAN
  2. satu
  3. dua
  4. tiga
  5. empat
  6. lima
  7. enam
  8. tujuh
  9. delapan
  10. sembilan
  11. sepuluh
  12. sebelas
  13. dua belas
  14. tiga belas
  15. dua puluh
  16. dua puluh dua
  17. dua puluh lima
  18. lima puluh
  19. enam puluh
  20. seratus
  21. seribu
  22. pertama
  23. kedua
  24. terakhir
  25. banyak
  26. sedikit
  27. semua
  28. bagian, se-
  29. seperempat
  30. satu setengah
  1. UKURAN
  2. sejengkal
  3. sehasta (seperempat depa)
  4. sedepa
  5. kati (617,5 gr)
  6. kuintal
  7. ru (± 14 m
  8. bahu, satu bahu (± 700 m
  9. satu patok (± 200 m)
  10. sesisir pisang
  11. setandan pisang
  1. MUSIM DAN WAKTU
  2. panas
  3. dingin
  4. hangat
  5. sejuk
  6. musim kemarau
  7. hujan, ke-an
  8. musim hujan
  9. hujan panas
  10. pagi, ke-an
  11. pagi buta
  12. tadi pagi
  13. siang, ke-an
  14. tengah hari
  15. sore
  16. senja
  17. malam, ke-an
  18. nanti malam
  19. tengah malam
  20. sebentar
  21. lama
  22. tahun
  23. delapan tahun yang lalu
  24. kemarin dulu
  25. tiga hari yang lalu
  26. besok
  27. lusa
  28. minggu depan
  29. hari, se-
  30. sehari semalam
  31. lima hari
  32. tujuh hari
  33. tiga puluh hari
  34. tiga puluh enam hari
  35. seratus hari
  36. seratus tahun
  1. BAGIAN TUBUH MANUSIA
  2. kepala
  3. ubun-ubun
  4. pelipis
  5. muka
  6. dahi
  7. mata
  8. pelupuk mata
  9. hidung
  10. telinga
  11. lubang telinga wanita
  12. mulut
  13. bibir
  14. lidah
  15. gigi
  16. gigi seri
  17. gigi seri yang maju
  18. gigi taring
  19. gigi tanggal
  20. gigi taring yang tersusun
  21. gigi rusak (hitam)
  22. geraham
  23. tulang rahang
  24. pipi
  25. lesung pipi
  26. daerah kepala yang tidak tumbuh rambut
  27. pusat arah rambut pada kepala
  28. dagu
  29. leher
  30. kerongkongan
  31. jakun
  32. tengkuk
  33. punggung
  34. bahu
  35. belikat
  36. dada
  37. payudara
  38. puting susu
  39. pinggang
  40. pusar
  41. perut
  42. isi perut
  43. ketiak
  44. lengan
  45. siku
  46. pergelangan tangan
  47. tangan
  48. jari
  49. ibu jari
  50. telunjuk
  51. jari tengah
  52. jari manis
  53. kelingking
  54. kuku
  55. telapak tangan/kaki
  56. garis-garis telapak tangan
  57. tinju
  58. kaki
  59. pantat
  60. paha
  61. lutut
  62. betis
  63. tulang betis
  64. tumit
  65. mata kaki
  66. jantung
  67. hati
  68. empedu
  69. usus
  70. tembuni
  71. urat
  72. tulang
  73. isi tulang
  74. darah, ber-
  75. kemaluan laki-laki
  76. puki
  77. tai
  78. dubur
  79. rambut di kepala
  80. alis
  81. bulu mata
  82. jenggot
  83. kumis
  84. jambang
  85. bulu di atas tahi lalat
  86. bulu roma
  87. bulu hidung
  88. bulu kuduk
  89. rambut ketiak
  90. rambut dada
  91. rambut/bulu kemaluan
  92. bulu pada ibu jari kaki
  93. rambut ikal
  94. rambut lurus
  95. rambut putih
  96. tahi lalat
  97. kulit, kulit kering
  98. warna hitam pada kulit sejak lahir
  99. mayat (manusia), bangkai (binatang)
  1. TUTUR SAPAAN DAN ACUAN
  2. saya
  3. kamu
  4. dia, beliau
  5. kami
  6. kita
  7. kamu sekalian
  8. mereka
  9. nama, me-kan, di-i
  10. orang laki-laki
  11. orang perempuan
  12. panggilan untuk gadis kecil (± 5 th)
  13. panggilan untuk gadis remaja (± 17 th)
  14. panggilan untuk wanita tua (± 60 th)
  15. panggilan untuk laki-laki kecil (± 5 th)
  16. panggilan untuk lelaki remaja (± 17 th)
  17. panggilan untuk lelaki tua (± 60 th)
  1. ISTILAH KEKERABATAN
  2. ayah
  3. ibu
  4. istri
  5. suami
  6. anak
  7. anak kandung
  8. anak tertua
  9. anak termuda
  10. kakak
  11. adik
  12. kakak laki-laki/wanita orang tua
  13. suami/istri kakak orang tua
  14. adik laki-laki/wanita orang tua
  15. suami/istri adik orang tua
  16. anaknya saudara orang tua
  17. anaknya saudara
  18. kakek
  19. nenek
  20. ayahnya kakek
  21. ibunya kakek
  22. cucu
  23. cicit
  24. cucu saudara kakek
  25. cucunya cucu
  26. kakeknya kakek
  27. menantu
  28. mertua
  29. ipar
  30. besan
  31. biras
  32. nenek moyang/leleuhur
  33. ibu tiri
  1. PAKAIAN DAN PERHIASAN
  2. subang, anting
  3. kalung
  4. cincin
  5. gelang,gelas
  6. kantong
  7. kebaya, ber-
  8. jarik, ber-
  9. sarung, ber-
  10. sabuk
  11. alas kaki, ber-
  12. bersepatu
  13. sanggul
  14. kopiah
  15. ikat kepala
  16. tudung
  17. caping
  18. celana panjang
  19. celana pendek
  20. celana dalam
  21. kaos oblong
  22. singlet
  1. PEKERJAAN
  2. lurah
  3. sekretaris desa
  4. kaur pengairan
  5. penghulu
  6. kyai (pemimpin agama)
  7. dukun
  8. dukun sunat
  9. dukun bayi
  10. pegawai (pemerintah)
  11. pamong
  12. guru
  13. pedagang, penjual
  14. juragan
  15. mandor
  16. tukang kayu
  17. tukang batu
  18. pandai besi
  19. petani
  20. buruh (tani)
  21. penggembala itik, kerbau
  22. petani tambak
  23. nelayan
  24. dalang, pelawak
  25. pesinden
  26. nayaga
  27. tukang ojek, sopir
  28. sopir
  29. sopir becak
  30. sopir andong
  31. makelar (rumah/kendaraan)
  1. BINATANG
  2. binatang
  3. lalat
  4. nyamuk
  5. lebah
  6. kunang-kunang
  7. belalang
  8. kupu-kupu
  9. kelelawar
  10. kalong
  11. burung
  12. kuntul
  13. gagak
  14. elang ayam
  15. burung dara
  16. anak dara
  17. ayam
  18. anak ayam
  19. angsa
  20. anak angsa
  21. itik
  22. anak itik
  23. kura-kura
  24. udang
  25. ikan, -asin
  26. cumi-cumi
  27. ikan mas
  28. yuyu, kepiting
  29. katak besar
  30. katak kecil
  31. anak katak
  32. lintah
  33. cacing
  34. senggulung
  35. tenggiling
  36. ulat
  37. kecoak
  38. rayap
  39. ratu rayap
  40. cecak
  41. kadal
  42. kutu
  43. tupai
  44. ular
  45. tikus
  46. laba-laba
  47. sapi
  48. anak sapi
  49. kambing
  50. anak kambing
  51. anjing
  52. anak anjing
  53. kucing
  54. anak kucing
  55. kerbau
  56. anak kerbau
  57. babi
  58. anak babi
  59. babi hutan
  60. anak babi hutan
  61. buaya
  62. anak buaya
  63. harimau
  64. anak harimau
  65. bunglon
  66. monyet, kera
  1. BAGIAN TUBUH BINATANG
  2. telur, ber-
  3. cakar
  4. jalu
  5. sayap
  6. bulu sayap
  7. cengger
  8. ekor
  9. taring
  10. ingsang
  11. sisik
  12. sirip ikan
  13. belulang
  14. tanduk
  15. punuk
  16. pantat (sapi)
  17. daging
  18. lemak, ber-
  1. TUMBUHAN, BAGIAN-BAGIAN BUAH, DAN HASIL OLAHANNYA
  2. santan
  3. minyak kelapa
  4. padi
  5. beras
  6. beras kecil
  7. nasi, – kering
  8. ketan
  9. jerami
  10. gabah
  11. peria
  12. halia, serai
  13. kunyit
  14. lengkuas
  15. bawang putih
  16. bawang merah
  17. terong
  18. lada
  19. kemiri
  20. ketumbar
  21. pala
  22. kluwak
  23. kluwih
  24. jagung
  25. jelai
  26. petai
  27. petai cina
  28. jering, jengkol
  29. turi
  30. ketimun
  31. daun kacang panjang
  32. daun ketela rambat
  33. ketela rambat
  34. ketela pohon
  35. daun keladi
  36. daun sawi
  37. tepung
  38. tapai
  39. dedak
  40. dedak halus
  41. dedak kasar
  42. cabe
  43. cabe merah
  44. cabe hijau
  45. cabe kecil
  46. rumput
  47. pohon
  48. dahan
  49. ranting
  50. kayu
  51. kayu manis
  52. kulit kayu
  53. getah
  54. daun
  55. bunga
  56. buah, buah-buahan
  57. akar
  58. akar gantung
  59. air sayur
  60. sayur
  61. durian
  62. pinang
  63. buluh
  64. ruas
  65. rebung
  66. pisang
  67. aren
  68. umbut
  69. ijuk
  70. pohon kelapa
  71. buah kelapa
  72. sabut
  73. tempurung
  74. rotan
  75. tebu
  76. beringin
  77. pandan
  78. pohon kapuk
  79. pohon asam
  80. buah asam
  81. biji asam
  82. asam muda
  83. pepaya
  84. tuba
  85. alang-alang
  86. mangga, – muda
  87. jambu batu, -mete
  88. jambu air
  89. melinjo
  90. belimbing, sarikaya
  91. sirsat
  1. ALAM
  2. air tawar
  3. laut
  4. air laut
  5. angin
  6. angin ribut
  7. meletus (gunung)
  8. bara
  9. batu
  10. batu api
  11. tanah
  12. pasir
  13. garam, me-i
  14. abu
  15. debu, ber-
  16. api
  17. asap
  18. kabut
  19. mega
  20. jalan
  21. jalan lebar
  22. jalan sempit
  23. sungai
  24. sungai besar
  25. sungai kecil
  26. sawah
  27. gunung
  28. bukit
  29. lahar
  30. hutan
  31. langit
  32. bulan
  33. matahari
  34. bintang
  35. guntur
  36. kilat
  1. RUMAH DAN BAGIAN-BAGIANNYA
  2. rumah
  3. lantai
  4. bubungan
  5. genting
  6. lubang angin
  7. tangga
  8. dinding tembok
  9. dinding papan
  10. dinding bambu
  11. pintu
  12. jendela
  13. tiang
  14. ruang depan
  15. kamar
  16. kamar mandi
  17. bak mandi
  18. wc
  19. dapur
  20. serambi
  21. halaman
  22. pagar
  23. kandang
  1. ALAT
  2. jarum
  3. benang
  4. tongkat, ber-
  5. obor
  6. besi
  7. karat
  8. tali, me-kan, di-kan
  9. keranjang
  10. pikulan
  11. keset
  12. tikar
  13. pedupaan
  14. cangkir
  15. piring
  16. sendok
  17. parut
  18. periuk
  19. wajan
  20. tempayan
  21. gayung
  22. buyung
  23. centong
  24. bakul besar
  25. bakul kecil
  26. nyiru besar
  27. nyiru kecil
  28. dingklik
  29. kursi
  30. penggerus
  31. cobek
  32. tempat beras
  33. bajak
  34. mata bajak
  35. garu
  36. lalandak
  37. kapak
  38. beliung
  39. patik
  40. gergaji
  41. arit
  42. sabit
  43. pisau
  44. golok
  45. cangkul
  46. kipas
  47. galah
  48. lesung
  49. alu
  50. kunci
  51. gembok
  52. perahu, ber-; sepeda, ber-
  53. kail
  54. tempat ikan
  55. bubu
  56. jala, kail
  1. PENYAKIT DAN OBAT
  2. sakit, -nya, me-i
  3. demam
  4. pusing
  5. batuk
  6. rasa mau muntah
  7. muntah
  8. mabok (karena minum);

mabok (karena kendaraan)

  1. encok
  2. panu
  3. bisul
  4. kudis
  5. sembuh, selesai
  6. luka, bekas-
  7. pedih
  8. hamil
  9. meninggal karena melahirkan
  10. bengkak
  11. bungkuk
  12. seriawan
  13. letih
  14. parau
  15. gila
  16. buta
  17. tuli
  18. bisu
  19. obat, ber-
  1. ARAH DAN PENUNJUK
  2. kanan
  3. kiri
  4. utara
  5. timur
  6. selatan
  7. barat
  8. begini
  9. begitu
  10. di sini, ke-, dari-
  11. di sana
  12. di situ
  13. di samping
  14. di atas
  15. di bawah
  16. di depan
  17. di belakang
  18. di dalam
  19. di luar, di mana
  20. ini
  21. itu
  1. AKTIVITAS
  2. bertanya
  3. berkata, berbicara
  4. berbisik
  5. bersendawa
  6. bersiul
  7. bernyanyi
  8. berdahak
  9. makan
  10. minum
  11. mengisap
  12. menyusu
  13. menggigit
  14. mengunyah
  15. meludah
  16. menguap
  17. meniup
  18. menyembur
  19. menyuruh
  20. mencium
  21. mengangis, pe- (cengeng)
  22. tersedu-sedu
  23. tersenyum
  24. tertawa
  25. berkelahi (kata)
  26. berkelahi (tangan)
  27. membawa
  28. membersihkan
  29. mengotori
  30. mendorong
  31. menarik
  32. mengikat, di-
  33. memegang
  34. memutar
  35. membalas
  36. mencuri
  37. membakar
  38. menikam
  39. membunuh
  40. menembak
  41. memukul,

di-, ter-, saya-, kau-, -kanlah, -ilah

  1. melempar, -kan
  2. menabur
  3. merumput
  4. menanam
  5. memetik
  6. menumbuk
  7. memotong
  8. membelah
  9. mengelupas kulit
  10. menebang pohon
  11. menggali
  12. mengubur
  13. memberi, pemberian
  14. mengambil
  15. membeli
  16. membuka
  17. menggaruk (kepala)
  18. menggosok
  19. menggosok gigi
  20. mengusap
  21. memasak
  22. merebus
  23. menyeduh
  24. mencuci pakaian
  25. mencuci tangan/kaki
  26. membanting cucian
  27. memeras
  28. menjemur
  29. menghidupkan api
  30. membongkar
  31. menyepuh
  32. menjahit, di-
  33. menganyam
  34. bekerja
  35. berubah
  36. berbaring
  37. bermain
  38. bergerak
  39. berenang
  40. bertemu
  41. bersembunyi
  42. berdiang
  43. berpikir
  44. bermimpi
  45. tahu, ke-an, me-i, di-i
  46. ingat
  47. kencing
  48. berak
  49. kentut
  50. tumbuh
  51. tambah
  52. pulang
  53. pergi
  54. datang
  55. kembali
  56. ikut
  57. terbang
  58. belok
  59. ganti, tukar
  60. bangun
  61. tidur
  62. jatuh (orang), jatuh (buah)
  63. naik
  64. turun
  65. mengalir
  66. mengapung
  67. memburu, berburu
  68. memilih
  69. mengulangi
  70. merintangi
  71. meniru
  72. mencari
  73. meminjam
  74. menyumbang orang berhajat
  75. memperoleh
  76. menghitung
  77. memejamkan mata
  78. melihat
  79. mendengar, di-, di-kan
  80. menginjak
  81. berjalan
  82. berjongkok
  83. berdiri
  84. duduk, me-i, di-kan
  85. bernafas
  1. SIFAT
  2. baru
  3. lama
  4. utuh
  5. tidak utuh
  6. bersih
  7. kotor
  8. busuk, lusuh
  9. tinggi
  10. rendah
  11. besar
  12. kecil
  13. terlalu kecil
  14. luas, lebar
  15. terlalu luas
  16. sempit
  17. panjang
  18. pendek
  19. tebal
  20. tipis
  21. jauh
  22. dekat
  23. keras
  24. lembek
  25. cepat, secepat-cepatnya
  26. lambat
  27. kosong, isi
  28. bagus, baik
  29. jelek
  30. benar
  31. salah
  32. jernih
  33. keruh
  34. basah
  35. kering
  36. gampang
  37. sulit
  38. hidup, me-i, di-kan
  39. mati, me-kan
  40. ada
  41. tidak ada
  42. ya
  43. tidak
  44. ramai
  45. sepi
  46. tajam, me-i, di-kan
  47. tumpul, me-kan
  48. licin
  49. kasar
  50. lurus
  51. bengkok
  52. berat
  53. ringan
  54. bulat
  55. lain
  56. penuh
  57. masak, sudah masak
  58. mentah
  59. gelap
  60. terang
  61. kencang
  62. kendor
  63. tua
  64. muda
  65. kurus
  66. gemuk
  67. cantik
  68. tampan
  69. gagah
  70. telanjang
  71. berani
  72. takut, pe-, me-i, di-i, me-kan
  73. malu, pe-
  74. terkenal, ramah
  75. angkuh
  76. jahat
  1. WARNA DAN BAU
  2. putih
  3. merah
  4. hijau
  5. biru
  6. kuning
  7. hitam
  8. bau
  9. apek
  10. anyir (darah)
  11. bau ikan/daging, bau daging kambing
  12. bau keringat
  13. bau ular
  14. bau kencing
  15. bau cabe digoreng
  16. harum
  1. RASA
  2. rasa
  3. manis
  4. pahit
  5. asam
  6. getir
  7. asin
  8. hambar
  9. pedas
  10. enak
  11. gurih
  12. haus
  13. lapar
  14. kenyang
  1. KALIMAT
  2. Saya ditawari bandeng.
  3. Pohon pisang saya pikul.
  4. Pohon pisang kau pikul.
  5. Pisau itu akan saya pinjam.
  6. Rumah Kak Basuki terbakar.
  7. Kapalanya kejatuhan kelapa.
  8. Maling itu tertangkap.
  9. Obor saya terbawa anak itu.
  10. Saya tertidur.
  11. Saya terjatuh dari pohon kelapa.
  12. Saya tertipu teman saya.
  13. Ini desa kedua yang saya kunjungi.
  14. Anak saya kepanasan.
  15. Biar saja anak itu bermain di luar.
  16. Saya kehujanan.
  17. Dia kedinginan.
  18. Kakinya kesemutan.
  19. Rumahnya kehujanan abu.
  20. Saya kekenyangan.
  21. Besi itu berkarat.
  22. Kami harus menidurkan anak ini karena sakit.
  23. Kita harus menghormati orang tua kita.
  24. Kami akan mendirikan rumah baru.
  25. Saya memberikan rokok kepadamu.
  26. Saya melihat tiga wanita.
  27. Dia merokok sambil makan.
  28. Buah itu akan saya petik.
  29. Agar lulus ujian, kamu harus belajar.
  30. Ibu baru saja pulang.
  31. Mula-mula dia marah.
  32. Lain kali saya ikut.
  33. Kelakuan orang itu aneh.
  34. Siang ini panasnya seperti api (panas sekali).
  35. Saya mulai minum.
  36. Saya sudah datang tiga kali ke sini.
  37. Ayamnya hampir bertelur.
  38. Di rumah tidak ada orang.
  39. Di gubuk ada hantu.
  40. Mereka tidak pernah berkelahi.
  41. Sesudah makan saya istirahat dulu.
  42. Barangkali dia kembali tahun yang akan datang.
  43. Tanpa berkata sesuatu dia pergi.
  44. Bagaimana mau sembuh kalau tidak berobat.
  45. Aku tidak malu lagi.
  46. Saya belum pernah ke Pantai Kenjeran.
  47. Saya tidak tahu sama sekali.
  48. Laut tidak terlihat dari sini.
  49. Suaranya tidak terdengar.
  50. Hujan-lebat turun hingga sore.
  51. Dia sudah besar, tetapi belum dewasa.
  52. Ali lebih pintar daripada Budi.
  53. Kamu membeli minyak tanah atau minyak kelapa?
  54. Saya masih lapar, dia sudah kenyang.
  55. Kamu boleh masuk, tetapi adikmu belum.
  56. Kalau saya ke pasar, saya akan membeli gula.
  57. Saya harus berangkat sekarang meskipun hujannya deras.
  58. Kalau kamu datang ke rumah, kamu saya pinjami pisau saya.
  59. Biar dia lebih besar, saya tidak ketakutan.
  60. Kamu harus menunggu di sini sampai saya menyusul ke sini.
  61. Badannya kurus tetapi sehat.
  62. Bagaimana cara membuat sayur lodeh?
  63. Mengapa kamu memarahi ibumu?
  64. Walaupun diundang, ia tidak datang.
  65. Siapa namamu?
  66. Mau ke mana?
  67. Dengan siapa kamu pergi?
  68. Dari mana dia datang?
  69. Kapan kamu tiba?
  70. Di mana rumahnya?
  71. Apa makanan sudah tersedia?
  72. Kamu mau apa?
  73. Boleh saya minum?
  74. Boleh saya tambah singkong lagi?
  75. Berapa harga telur itu?
  76. Jangan pukul anjing itu!
  77. Jika tidak tahu harap bertanya!
  78. Jangan lupa membeli garam di pasar!
  79. Tempe yang sedang digoreng jangan diambil!
  80. Panasilah air itu!
  81. Masaklah daging sapi itu!
  82. Bakarlah singkong itu!
  83. Tidurkanlah bayimu!
  84. Mandikanlah bayinya!
  85. Dandanilah anakmu!
  86. Kembalikanlah tikar ini!
  87. Duduklah di kursi itu!
  88. Makanlah!, Duduklah!
  89. Makanlah kue itu!
  90. Burulah ayam itu!
  91. Jemurkan baju saya!
  92. Susuilah bayimu!
  93. Garamilah sayur itu!
  94. Bunuhlah burung itu!
  95. Besarkanlah celana saya!
  96. Saya tidur dulu.
  97. Saya akan makan.
  98. Saya mandi dulu.
  1. UNGKAPAN
  2. Lebih baik mati daripada bohong
  3. Pelan-pelan asal selamat
  4. Makan tidak makan asal kumpul

PERTEMUAN X

  • Persiapan Penyediaan Data
  • Selain keterampilan dalam penelitian lapangan dan transkripsi fonetis, penyedia data (atau pemupu data, ayatrohaedi, 1983) atau peneliti sebaiknya menyiapkan berbagai hal sebelum ke lokasi DP. Berbagai hal yang dipersiapkan di antaranya adalah mengecek kesiapan perangkat perekam data; mencari informasi awal tentang karakteristik penutur; menyiapkan dana sebagai pengganti jam kerja informan yang telah disita untuk wawancara (ada pula informan yang tidak mau menerima—disesuaikan dengan karakteristik penutur).
  • Selain itu, perlu disiapkan juga perangkat penjelas instrumen: gambar, benda, atau bagan/sketsa yang menunjukkan konsep yang ditanyakan serta dilakukan peniruan gerak atau bunyi ten­tang konsep yang ditanyakan. Misalnya: sketsa manusia untuk menjaring data bagian tubuh manusia, bagan pohon keluarga untuk menjaring data mengenai tutur sapaan dan acuan, tiruan bunyi cicak untuk menjaring data mengenai binatang yang mengeluarkan bunyi itu.
  • Dalam hal ini, tidak semua pertanyaan menggunakan bentuk lugu seperti dalam daftar tanyaan.

Kegiatan: berlatih mewawancarai informan

  1. Metode dan Teknik Penyediaan Data
  • Pelaksanaan penelitian dialektologi diawali dengan penyediaan data yang dilakukan dengan metode cakap dan metode si­mak (Sudaryanto, 1990: 131¾143). Dalam metode cakap, peneliti langsung mewawancarai informan (teknik cakap semuka) dan menyimak berian mereka dengan mencatat dan merekam (teknik rekam dan catat) berian mereka tentang daftar tanya ataupun cerita-cerita spontan mereka yang ber­hasil dipancing oleh peneliti. Rekaman ini akan digunakan se­bagai pengecek data pada saat dijumpai kebimbangan mengenai data yang ada (yang telah di­catat).
  • Dalam penelitian bahasa di Indonesia, wawancara menggunakan bahasa Indonesia. Akan tetapi, pada tahap sebe­lumnya (tahap perkenalan) dapat digunakan bahasa daerah (bahasa mereka) dengan mak­sud supaya mereka merasa akrab dan tidak merasa asing. Para penyedia data yang tidak menguasai bahasa informan sebaiknya disertai dengan penerjemah.
  • Catatan mengenai berian dilakukan dengan transkripsi fonetis. Transkripsi fonetis yang digunakan dapat mengacu pada berbagai sumber, di antaranya Kantner, Claude E. dan Robert West (1960: xviii¾xix), Tiffany, William R. dan James Carell (1987: 119¾120);   IPA (1981: 8¾10).
  • Wawancara terhadap para informan dalam satu DP dilakukan secara serentak di rumah informan (Satu DP terdiri atas satu informan utama dan satu atau dua informan pembanding). Pemilihan salah satu rumah informan dimaksudkan untuk membuat informan merasa santai dan bebas menyatakan pendapat mereka. Adapun cara yang serentak dimaksudkan untuk memperkuat berian yang ada karena informan pendamping dapat mengiyakan atau mempemasalahkan berian yang dikemukakan oleh informan utama.
  • Pada saat wawancara ini pula digunakan jawaban atau pancingan dari peneliti yang diharapkan dapat menimbulkan gairah dan semangat para informan, misalnya: “Oooo, Lalu ?, Wah, bagus sekali, dst”. Selain itu, digunakan juga model pertanyaan ulang untuk memperjelas lafal mereka, misalnya: “Apa Pak/Bu?” atau “Bisa diulangi lagi Pak/Bu?” .
  • Selain menggunakan pertanyaan pancingan, dapat digunakan gerakan-gerakan yang dapat memancing jawaban informan. Tertawa, duduk, berjalan, menangis, tersenyum, bersiul, merupakan contoh gerakan yang dapat memancing jawaban informan.

 

PERTEMUAN XII

TABULASI DATA

  • Pada saat melakukan tabulasi, perlu ditentukan apakah perbedaan yang ada itu merupakan perbedaan leksikal, atau perbedaan fonologis, atau tanpa beda.
  • Perbedaan leksikal mengacu kepada bentuk proto yang berbeda sehingga menghasilkan berian yang berbeda (untuk bahasa Austronesia, penentuan sama atau tidaknya bentuk proto dapat ditelusur dari daftar/list yang disusun oleh Wurm dan Wilson dalam Pacific Linguistics series C No 33 tahun 1978, berjudul ”English Finedrlist of Reconstruction in Austronesian Language” yang diterbitkan oleh Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University). .Adapun perbedaan fonologis mengacu pada bentuk proto yang sama. Secara kasat mata, proto yang sama akan menurunkan bentuk yang mirip yang masih dapat ditelusur persamaannya.
  • Berikut ini adalah contoh tabulasi untuk lima DP (BL = beda leksikal, BF = beda fonologis, Ø = tidak ada perbedaan).
No GLOS DP 1 DP 2 DP 3 DP 4 DP 5 BL/BF/

Ø

AYAM pitö pitö

petö

petö petö pitö BF
IBU Ibu, mama Ibu

bey¬÷

bey¬÷ biy¬÷ biy¬÷ BL
DUA loro loro loro loro loro Ø
TIGA tlu tlu tlu tlu tlu Ø
  • Berdasarkan contoh itu, kemudian pada bagian akhir dihitung berapa jumlah beda leksikalnya, berapa jumlah beda fonologisnya, dan berapa jumlah yang tanpa beda. Jumlah itulah yang nanti dijadikan penentu sebagai pembagi dalam penghitungan dialektometri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERTEMUAN XII

PENOMORAN DP DALAM PETA DASAR

  • Setelah DP ditetapkan, dilakukan pembuatan peta dasar. Penomoran DP disesuaikan dengan penomoran kecamatan. Model penomoran yang digunakan dapat bervariasi: dari bawah ke atas, atas ke bawah, kiri ke kanan, kanan ke kiri, dll.
  • Model penomoran itu kemudian diterapkan dalam peta dasar yang telah dibuat.

 

SEGITIGA DAN SEGIBANYAK DIALEKTOMETRI

  • Pemetaan berbagai perbedaan antara DP akan menunjukkan perbedaan (dan per­samaan) pemakaian bahasa secara sinkronis, sesuai dengan keadaan geografis dan kenyataan yang ada. Se­lan­jutnya, berdasarkan peta itu diharapkan akan diperoleh gambaran pemakaian bahasa/isolek yang lebih mudah dipahami, termasuk adanya kemungkinan pengelompokan isolek di DP tertentu.
  • Untuk melakukan hal itu, pada tahap awal dilakukan pemetaan berdasarkan segitiga dialektometri. Dalam penetapan segitiga dialektometri, ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan. Ketentuan itu sebagai berikut.

(a) DP yang diperbandingkan hanya DP yang berdasarkan letaknya masing-masing mungkin melakukan komunikasi.

(b) Setiap DP yang mungkin berkomunikasi secara langsung dihubungkan dengan sebuah garis sehingga diperoleh segitiga yang beragam bentuknya.

(c) Garis-garis pada segitiga dialektometri tidak boleh saling berpotongan. Sebaiknya dipilih satu kemungkinan saja yang letaknya lebih dekat daripada yang lain

dibandingkan, yaitu daerah yang dihubungkan oleh garis segitiga dialektometri.

Kegiatan: mahasiswa berlatih menorehkan peta segitiga dialektometri

PERTEMUAN XIII

  • Penghitungan jarak kosakata dilakukan dengan berpedoman pada peta segitiga dialektometri dan dapat juga dengan cara penghitungan permutasi. Selain itu, digunakan juga beberapa pedoman untuk menentukan ada atau tidaknya perbedaan dan jenis perbedaan. Berikut ini ialah pedoman yang digunakan (cf. Lauder, 1993: 143).

(a) Jika di suatu DP dikenal lebih dari satu berian dan salah satu di antaranya dikenal di DP lain yang dibandingkan, perbedaan itu dianggap tidak ada.

(b) Jika di DP-DP yang dibandingkan itu salah satu di antaranya tidak ada beriannya, perbedaan itu dianggap ada.

(c) Jika di DP-DP yang dibandingkan itu semua tidak ada beriannya, DP-DP itu dianggap sama.

(d) Dalam penghitungan dialektometri pada tataran leksikal, perbedaan fonologis dan morfologis yang muncul dianggap tidak ada.

(e) Hasil penghitungan itu dipetakan dengan sistem konstruksi “polygones de Thiessen” (peta segibanyak dialektometri)[3] pada   peta segitiga dialektometri. Peta segibanyak-dialektometri lebih “nyata” memvisualisasikan batas-batas antar-DP atau memisahkan DP-DP daripada peta segitiga dialektometri karena peta segitiga dialektometri lebih bersifat menghubungkan DP, sedangkan peta segibanyak dialektometri bersifat memisahkan DP (Kisyani-Laksono, 2000b: 14).

  • Selain segitiga dialektometri, penentuan daerah yang dibandingkan juga dapat dilakukan dengan teknik permutasi. Perbedaannya adalah, pada teknik permutasi, perbandingan dilakukan pada semua DP sedangkan pada segitiga dialektometri, perbandingan dilakukan pada DP yang dihubungkan garis segitiga.
  • Penghitungan perbedaan pada peta permutasi sama dengan segitiga dialektometri. Perbedaannya adalah pada teknik permutasi tidak perlu membuat peta segibanyak. Oleh sebab itu, batas subdialek/dialek/bahasa pada satu DP tidak dapat terdeskripsikan secara jelas seperti pada segitiga dialektometri.

 

PENGHITUNGAN DIALEKTOMETRI

  • Berdasarkan segitiga dan segibanyak dialektometri, ditentukan pasangan-pasangan DP untuk menentukan perbedaan leksikal dan fonologis yang ada. Kemudian dibuat tanda tertentu, misal (√) untuk menunjukkan adanya perbedaan dan tanda (-) untuk menunjukkan persamaan. Tabel semacam ini dibuat dalam dua varian. Varian pertama untuk perbedaan leksikal, dan varian kedua untuk perbedaan fonologis. Penghitungan perbedaan leksikal pada masing-masing glos dapat juga dihitung per medan makna sehingga dapat dilihat hasil keseluruhannya, medan makna mana yang paling dekat. Adapun perbedaan fonologis dihitung secara keseluruhan. Perbedaan       fonologis tidak dimungkinkan       dihitung per medan makna karena adanya korespondensi.
  • Selanjutnya, rumus yang digunakan dalam dialektometri ialah sebagai berikut (Guiter dalam Mahsun, 1995: 118).

S = jumlah beda dengan DP lain

n = jumlah peta yang dibandingkan

d = jarak kosakata dalam persentase

 

  • Hasil yang diperoleh dari perhitungan dialektometri ini (d: jarak kosakata dalam persentase) akan digunakan untuk menentukan hubungan antar-DP dengan kriteria sebagai berikut.

1) Perbedaan dalam tataran leksikal

81% ke atas : perbedaan bahasa
51%—80% : perbedaan dialek
31%—50% : perbedaan subdialek
21%—30% : perbedaan wicara
di bawah 20% : tidak ada perbedaan
  • Guiter berasumsi bahwa perbandingan antara perbedaan fonologis dengan leksikon adalah 1:5, artinya satu perbedaan fonologis sama dengan lima perbedaan (bandingkan dengan hukum perubahan bunyi tanpa kecuali (Ausnahmelösigkeit der Lautgesetzt) yang dikemukakan Kaum Neogrammarian). Berangkat dari asumsi bahwa perubahan bahasa itu berlangsung secara teratur, Guiter (1973) membuat pembedaan kategori penghitungan dialektometri untuk bidang fonologi berikut ini.
  • Perbedaan dalam tataran fonologis
17% ke atas : perbedaan bahasa
12%–16% : perbedaan dialek
8%–11% : perbedaan subdialek
4%–7% : perbedaan wicara
0%–3% : tidak ada perbedan
  • Jika disatukan dalam tabel, pembedaan kategori penghitungan dialektometri untuk bidang fonologis dan leksikal adalah sebagai berikut.
Dialektometri
% Fonologis % Leksikal Kategori
17—100 81—100 beda bahasa
12—16 51—80 beda dialek
8—11 31—50 beda subdialek
4—7 21—30 beda wicara
0—3 20 ke bawah tidak ada perbedaan
  • Hasil perbedaan dalam tataran leksikal digunakan juga untuk membuat peta permutasi. Peta permutasi ini berguna untuk semakin mengukuhkan hasil yang didapatkan dari penghitungan perbedaan leksikal karena peta permutasi tidak hanya akan berurusan dengan DP yang berdekatan, tetapi juga berurusan dengan DP yang berjauhan letaknya.
  • Selain itu, filosofi penentuan titik krusial yang menjadi batas pemilahan isolek-isolek itu sebagai bahasa yang sama atau bahasa yang berbeda, baik dalam leksikostatistik maupun dialektometri adalah 80%. Sesungguhnya angka itu diperoleh dari kajian terhadap perubahan berbagai bahasa di dunia barat yang memiliki dokumen naskah kuno yang berusia lebih dari 1000 tahun. Dari kajian itu, diperoleh gambaran bahwa untuk kosakata dasar, perubahan terjadi tidak lebih dari 20%. Jadi, angka 80% itu diperoleh melalui pengurangan angka persentase maksimal untuk suatu perubahan (100%) dikurang 20%.
  • Lauder (2002) mengusulkan revisi kategori persentase dialektometri yang diajukan Guiter tersebut untuk bahasa-bahasa daerah di Indonesia sehingga diperoleh kategori persentase perbedaan bidang leksikon berikut ini:

70% ke atas    : beda bahasa

51—69%          : beda dialek

41—50%          : beda subdialek

31—40%          : beda wicara

30% ke bawah         : tak berbeda

  • Lauder menjelaskan bahwa modifikasi itu berdasarkan hasil penghitungan dialektometri pada wilayah Tangerang yang multilingual dan beberapa penelitian bahasa daerah lainnya berdasarkan penghitungan yang dilakukannya maksimal tidak lebih dari 70%. Akan tetapi, penelitian yang dilakukan oleh Pusat Bahasa (dari 2.185 DP) ditemukan persentase perbedaan di atas 80%, bahkan ada yang mencapai perbedaan 100% seperti ditemukan di NTB, NTT, Bali, Maluku, Sulawesi, Sumatra, dan Papua. Oleh sebab itu, perbedaan di atas 80% dianjurkan untuk tetap digunakan.
  • Selain analisis berdasarkan penghitungan dialektometri, metode yang digunakan dalam penentuan status isolek sebagai bahasa dan dialek adalah metode yang bersifat kualitatif, yaitu metode kesamaan ciri-ciri linguistik (exclusively shared linguistc features). Metode ini tidak hanya digunakan sebagai cara pengelompokan bahasa turunan ke dalam suatu kelompok yang lebih dekat hubungannya, tetapi dapat juga digunakan sebagai pengelompokan beberapa daerah pakai isolek tertentu sebagai penutur bahasa/dialek yang sama/berbeda atau penentuan kekerabatan antardialek dalam satu bahasa.
  • Metode kualitatif ini, pada prinsipnya selain dapat digunakan untuk kajian pengelompokan bahasa-bahasa berkerabat dalam kajian linguistik historis komparatif, juga dapat digunakan untuk pengelompokkan beberapa daerah pakai isolek ke dalam daerah pemakai bahasa atau dialek yang sama/berbeda, serta penentuan kekerabatan antardialek/subdialek dalam kajian dialektologi diakronis (Mahsun, 2005a).
  • Kesamaan ciri-ciri linguistik dapat berupa kesamaan dalam memelihara unsur bahasa purba (relik), maupun kesamaan dalam melakukan pembaharuan dari unsur bahasa purba yang sama (inovasi bersama). Kesamaan ciri-ciri linguistik dapat mencakupi semua tataran kebahasaan, mulai dari tataran fonologi, morfologi, sintaksis, leksikon, dan semantik.
  • Sejauh ini, secara konseptual, penentuan status suatu isolek sebagai bahasa atau dialek dalam banyak literatur penelitian dialektologi di Indonesia belum secara tegas terpilah. Bila dicermati, kedua pendekatan kuantitatif tersebut secara filosofi-metodologis melihat dari sudut pandang yang berlawanan. Apabila dialektologi mendasarkan diri pada penelusuran perbedaan antarisolek yang diperbandingkan dan mengidentifikasi isolek yang berstatus bahasa ke dalam bahasa yang berbeda dan varian dalam satu bahasa sebagai: dialek, subdialek, dan beda wicara; lek-sikostatistik mendasarkan diri pada penelusuran persamaan (historis) antarisolek yang diperbandingkan dan mengidentifikasi apakah isolek tersebut merupakan bahasa yang sama, keluarga bahasa, rumpun bahasa sampai ke level relasi historis yang paling kuno (makrofilum). Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan gambaran perbedaan kategori leksikostatisktik dan dialektometri.

Kegiatan: mencermati dan mendiskusikan perbedaan kategori leksikostatistik dan dialektometri.

Perbedaan Kategori Leksikostatistik

dan Dialektometri

Leksikostatistik Dialektometri
Persentase Kategori Persentase Kategori
81—100% bahasa (language) 81—100% beda bahasa
37—80% keluarga (family) 51—80% beda dialek
12—36% rumpun (stock) 31—50% beda subdialek
4—11% mikrofilum 21—30% beda wicara
1—3% mesofilum ≤ 20 tidak ada

perbedaan

≤ 1% makrofilum
  • Selain parameter kuantitatif, juga terdapat parameter kualitatif yang mendasarkan diri pada ciri-ciri kesamaan linguistik, baik yang berupa inovasi maupun relik.

PERTEMUAN XIV

ISOGLOS

  • Isoglos ialah garis imajiner yang ditorehkan di atas peta bahasa. Pada tahap awal, saat konsep ini diperkenalkan, yang dimaksudkan dengan isoglos ialah garis imajiner yang menghubungkan tiap daerah pengamatan yang menampilkan gejala kebahasaan yang serupa, kemudian konsep itu berkembang menjadi garis imajiner yang menyatukan daerah pengamatan yang menampilkan gejala kebahasaan yang serupa (cf. Keraf, 1984: 159).
  • Selain isoglos, dikenal pula istilah heteroglos yang diperkenalkan oleh Kurath. Heteroglos ialah garis imajiner yang ditorehkan di atas peta bahasa untuk memisahkan munculnya setiap gejala bahasa berdasarkan wujud atau sistem yang berbeda. Jadi, di sini ada kesamaam maksud tetapi dengan sudut pandang dan fungsi yang berbeda. Perbedaannya yaitu, isoglos berfungsi menyatukan DP yang menampilkan gejala kebahasaan yang serupa, sedangkan heteroglos berfungsi memisahkan DP yang menampilkan gejala kebahasaan yang sama (Lauder, 1993: 88). Untuk selanjutnya, istilah isogloslah yang akan digunakan dalam tulisan ini.
  • Beberapa isoglos yang dihimpun dan ditorehkan terus dalam sebuah peta akan membentuk berkas isoglos. Torehan berkas isogloss dapat menunjukkan perbedaan atau persamaan suatu DP dengan DP lainnya.
  • Pemetaan berkas isoglos leksikal dapat dilakukan per medan makna seperti halnya penghitungan dialektometri yang juga dapat dilakukan per medan makna. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pada medan makna apa dan DP mana terjadi penebalan berkas isoglos. Kemudian, peta berkas isoglos leksikal secara keseluruhan dapat dihimpun dari berkas isoglos per medan makna yang telah dilakukan.
  • Selain peta berkas isoglos leksikal, dibuat juga peta berkas isoglos fonologis. Peta berkas isoglos fonologis langsung dibuat secara keseluruhan (tidak per medan makna) karena garis-garis isoglosnya dapat saja berupa korespondensi. Kedua peta berkas isoglos itu dapat dipakai sebagai bahan bandingan penentuan batas dialek dan subdialek.
  • Berikut ini ialah rincian cara menorehkan isoglos dalam peta bahasa.

(1) Dilakukan pemberian simbol-simbol tertentu pada masing-masing berian. Berian yang mempunyai gejala kebahasaan yang serupa menggunakan simbol yang sama.

(2) Penyatuan berian yang mempunyai simbol yang sama dengan garis isoglos. Garis itu dapat melengkung atau lurus dan digambar di antara DP itu. Berbeda dengan penghitungan dialektometri yang memperlakukan dua berian atau lebih pada satu DP sama dengan DP lainnya jika ada salah satu berian yang sama di DP lainnya itu; dalam pembuatan isoglos, satu DP yang mempunyai dua berian atau lebih yang salah satunya sama dengan DP lainnya tetap diakui keberadaannya (dua berian atau lebih) itu dengan cara menggoreskan garis tepat pada nomor DP yang dimaksudkan. Contoh:

1 ◙

2

ÿ

3ÿ

4 ◙

◙ =   nan\m

ÿ = nand¬r

Pada penghitungan dialektometri, DP 2 di atas dianggap sama dengan DP 1, DP 3, DP 4. Adapun dalam pembuatan isoglos, isoglos yang dimaksudkan membelah DP 2 itu menjadi dua bagian.

(3) Isoglos yang daerah sebar beriannya paling luas lebih didahulukan.

(4) Pengupayaan untuk selalu membuat garis yang letaknya selalu sama untuk setiap peta isoglos kecuali pada bagian ujungnya sehingga pada pembuatan peta berkas isoglos garis-garis itu akan menumpuk dalam peta dengan ujung yang berbeda! Contoh: Berdasarkan gambar penjelas no.2, tidak disarankan membuat isoglos lainnya seperti berikut {bertanda silang (X)}.

1▼

X                 2

ÿ

3ÿ

4 ÿ

Disarankan membuat isoglos seperti berikut..

1▼

2

ÿ

3ÿ

4 ÿ

(4) Pengelompokan peta bahasa berdasarkan medan maknanya (isoglos leksikal) atau berdasarkan pola fonologinya (isoglos fonologis).

(5) Penyalinan dan penghimpunan isoglos   dalam sejumlah medan makna yang ada (untuk isoglos leksikal) dan dilakukan penyalinan dan penghimpunan semua isoglos itu dalam satu peta berkas isoglos leksikal.

(6) Penyalinan dan penghimpunan isoglos fonologis dalam peta berkas isoglos fonologis.

  • Peta Peraga
  • Peta peraga adalah peta yang berisi tabulasi data yang diperoleh agar data tersebut terdeskripsikan secara geografis (Mahsun, 1995:59). Peta peraga ini dapat dijadikan dasar dalam pembuatan peta isoglos.
  • Ada tiga teknik pembuatan peraga, yaitu (1) peta yang menggunakan sistem langsung, (2) peta yang menggunakan sistem petak, (3) peta yang menggunakan sistem lambang (Ayatrohaedi, 1983:53). Peta dengan sistem langsung berarti berian-berian pada tiap DP langsung dituliskan dalam peta. Peta dengan sistem petak berarti DP yang memiliki berian yang serupa akan dihubungkan dengan garis sehingga akan tampak petak-petak dalam peta. Peta dengan sistem lambang berarti mengubah berian-berian ke dalam bentuk lambang sehingga yang dituliskan dalam peta adalah lambang.

PENGAYAAN

DESKRIPSI BENTUK-BENTUK LINGUISTIK

  • Dalam penelitian dialektologi, dapat dilakukan deskripsi bentuk-bentuk linguistik yang ada. Deskripsi perbedaan antar-DP itu menggunakan dasar kemiripan bentuk dan makna serta perbedaan/perubahan bentuk dan kesamaan makna.
  • Perbedaan fonologis da­pat dikaji lewat runutan bentuk tuanya atau proto bahasanya. Jadi, jika beberapa bentuk meru­pakan tu­runan dari bentuk proto yang sama (dan dapat dilihat secara sinkronis) berarti ada perbedaan fonologis antarbentuk itu, misalnya: mati ‘meninggal’ dan mat«i ‘meninggal’ merupakan perbedaan fonologis karena kedua-duanya dapat ditelusur berasal dari bentuk tua yang sama, yaitu *matey ‘meninggal’ (Blust, 1981).
  • Dalam perbedaan itu dapat dilihat dan dirunut jenis-jenis perubahan bunyi yang menyertainya. Dalam hal ini, perubahan bunyi yang muncul secara teratur akan disebut korespondensi, sedangkan perubahan bunyi yang munculnya secara sporadis akan disebut dengan variasi (Mahsun, 1995: 28). Adapun jenis-jenis perubahan bunyi yang dimaksudkan dan mungkin terdapat di DP di antaranya ialah (cf. Crowley, 1987: 25¾56; Kridalaksana, 1993; Mahsun, 1995: 34¾38; Mees, 1967: 65; McMahon, 1994: 15¾28 ; Nida, 1963: 21¾36):

(1) asimilasi

Asimilasi merupakan proses perubahan bunyi yang mengakibatkan suatu bunyi menjadi mirip atau sama dengan bunyi di dekatnya. Asimilasi ini dapat bersifat progresif atau regresif. Asimilasi progresif terjadi jika proses perubahan bunyi itu menjadi mirip atau sama dengan bunyi yang mendahuluinya. Adapun asimilasi regresif ialah proses perubahan bunyi yang membuat suatu bunyi menjadi mirip atau sama dengan bunyi yang mengikutinya. Misalnya: siköl > seköl ‘kaki’.

(2) disimilasi

Disimilasi merupakan proses perubahan bunyi yang mengakibatkan suatu bunyi yang sama atau mirip menjadi berbeda dengan bunyi yang ada di dekatnya. Misalnya: s\puluh > s\pul¿h ‘s\puluh’.

(3) metatesis

Metatesis merupakan perubahan letak huruf, bunyi, atau suku kata dalam suatu leksem. Misalnya: rontal > lontar ‘nama sejenis daun yang digunakan untuk menulis’.

(4) kontraksi[4]

Kontraksi merupakan proses pemendekan yang meringkas suatu leksem atau gabungan leksem. Misalnya: tidak > tak.

 

(5) pelesapan bunyi

Pelesapan bunyi terdiri atas aferesis, sinkope, apokope, dan haplologi. Aferesis ialah pelesapan bunyi atau kata pada posisi awal. Misalnya: wudun > udun ‘bisul’. Sinkope merupakan pelesapan bunyi pada posisi tengah kata. Misalnya: w\ruju> wruju ‘anak termuda’. Apokope ialah pelesapan bunyi pada bagian ujung atau akhir kata. Misalnya: g\töh > g\te ‘darah’. Adapun haplologi ialah proses pelesapan satu atau dua bunyi yang bersamaan dan berurutan. Misalnya: nini > ni. ‘panggilan untuk wanita tua’.

(6) penambahan bunyi

Penambahan bunyi terdiri atas protesis, epentesis, dan paragog. Protesis ialah penambahan bunyi pada posisi awal kata. Misalnya: la÷ > \la÷ ‘nama sejenis burung’. Epentesis ialah penambahan bunyi pada posisi tengah kata. Misalnya: aba÷ > abya÷ ‘merah’. Adapun paragog ialah penambahan bunyi pada bagian ujung atau akhir kata. Misalnya: d¿w¿ >d¿w¿Ö ‘panjang’.

(7) lenisi

Lenisi sering disebut juga pelemahan atau pelembutan. Jadi, dalam lenisi terjadi proses perubahan bunyi dari bunyi yang lebih kuat ke bunyi yang lembut. Misalnya : l\mud > l\m¬t ‘nyamuk’. Bunyi yang lembut atau lenis ini biasanya diakronimkan dengan bunyi kuat atau fortis (Kantner dan Robert West, 1960: 60; Tiffany dan James Carell, 1987: 100¾101).

(8) sandhi

Sandhi (dalam bahasa Sansekerta) berarti ‘luluh’. Jadi, jika dalam rangkaian bentuk dasar dan afiks atau dalam rangkaian dua kata ada dua vokal yang berturut-turut, kemudian bunyi itu luluh, hal itu disebut sandhi. Misalnya dalam BJK: a + umah = omah (Zoetmulder dan Poedjawijatna, 1992: 4¾5).

(9) disonansi

Disonansi merupakan perubahan bunyi dengan sengaja supaya tidak ada bunyi yang sama (khususnya kontoid ) dalam sebuah kata. Misalnya: rwa-rwa > roro > loro ‘dua’.

(10) palatalisasi

Palatalisasi merupakan perubahan kualitas bunyi yang dihasilkan karena naiknya lidah ke arah palatum. Bunyi-bunyi palatal yang dimaksudkan ialah [c, j, š,µ,y]. Berikut ini ialah contoh palatalisasi (sebagai bunyi yang ditambahkan): aba÷ > abya÷ ‘merah’.

  • Selain kesepuluh perubahan bunyi tersebut masih ada beberapa perubahan bunyi lain yang masih dapat ditelusur, semuanya bergantung pada data yang tersedia (cf. McMahon, 1994). Yang perlu diperhatikan adalah, istilah “A berubah menjadi B” mengandung makna bahwa A pasti lebih dahulu keberadaannya, dan B lebih kemudian keberadaannya. Dengan kata lain, pada saat berubah itu, A lebih tua daripada B.

PENENTUAN FONEM

  • Dalam penelitian dialektolgi, data yang berlimpah dapat juga digunakan untuk menentukan jumlah fonem yang ada. Dalam hal ini dapat digunakan penentuan fonem dengan pasangan minimal yang dilanjutkan dengan distribusinya (Samsuri, 1987: 131; Hyman, 1975: 60).
  • Ketentuan:
  • Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip digolongkan ke dalam kelas-kelas bunyi atau fonem-fonem yang berbeda, apabila terdapat pertentangan di dalam lingkungan yang sama atau mirip.
  • Bunyi-bunyi yang secara fonetis mirip dan terdapat dalam kontribusi yang komplementer dimasukkan ke dalam fonem yang sama

Contoh Data (dalam Bahasa Indonesia)

[pagi] [cura÷] [adat] [k\ras] [paras]
[bagi] [jura÷] [sara÷] [t\ras] [b\ras]
[tari] [kar¬÷] [s\baÖ] [lima] [tanah]
[dari] [kal¬÷] [agar] [satu] [akal]
[kita] [s¹sal] [akar] [sudu] [timah]
[gita] [atap] [s\ra÷] [t\÷ah] [hati]

 

Langkah 1: mencatat bunyi-bunyi yang secara fonetis mirip:

[p]-[b], [t]-[d], [c]-[j], [k]-[g], [l]-[r], [m]-[n], [n]-[÷], [\]-[¹], [\]-[a]

Langkah 2: mencatat bunyi-bunyi selebihnya

[s], [h], [i], [u]

Langkah 3: Dengan dasar kontras karena lingkungan yang sama/mirip, bunyi-bunyi yang secara fonetis mirip itu dianggap sebagai fonem yang berlainan (konsep pasangan minimal).

[p]-[b] pagi-bagi /p/-/b/
tari-dari
cura÷-jura÷
kita-gita
akal-akar
timah-tanah
tanah-t\÷ah
s\ra÷-sara÷

Langkah 4: Dengan dasar hubungan yang komplementer, bunyi yang secara fonetis mirip dianggap sebagai fonem yang sama. Norma fonem adalah bunyi yang paling sedikit dibatasi (secara distribusi).

[\]-[¹]: [s\baÖ]-[s¹sal]

[s\ra÷]

[t\÷ah]

[b\ras]

[k\ras]

[¹] terdapat di antara bunyi sibilan, [\] di lingkungan lainnya. Jadi, keduanya terdapat dalam lingkungan yang komplementer.

Langkah 5: semua bunyi yang terdapat pada langkah kedua dianggap sebagai fonem tersendiri.

[s], [h], [i], [u].

Jadi, ada 19 fonem (berdasarkan data yang ada)

PENENTUAN MORFEM

  • Dalam penelitian dialektolgi, data yang berlimpah dapat juga digunakan untuk menentukan morfem yang ada. Dalam hal ini dapat digunakan penentuan morfem dengan langkah sebagai berikut (Samsuri, 1987: 131).
  • Bentuk-bentuk berulang yang mempunyai pengertian yang sama, termasuk morfem yang sama.
  • Bentuk-bentuk yang mirip (susunan fonem-fonemnya) yang mempunyai pengertian yaang sama, termasuk morfem yang sama apabila perbedaan-perbedaannya daapat diterangkan secara fonologis.
  • Bentuk-bentuk yang berbeda susunan fonem-fonemnya, yang tidak dapat diterangkan secara fonologis perbedaan-perbedaannya masih dapat dianggap sebagai alomorf-aalomorf daari morfem yang sama atau mirip, asal perbedaan-perbedaan itu dapat diterangkan secara morfologis.
  • Bentuk-bentuk yang sebunyi (homofon) merupakan: (1) morfem yang berbeda apabila berbeda pengertiannya: sedang (cukup, lagi), (2) morfem yang sama apabila pengertiannya yang berhubungan (atau sama)) diikuti oleh distribusi yang berlainan: kaki gunung, kaki meja, (3) morfem yang beerbeda biarpun pengertiannya berhubungan tetapi sama distribusinya: kursi ‘tempat duduk” atau “kedudukan”.
  • Suatu bentuk bisa dinyatakan sebagai morfem apabila: (1) berdiri sendiri, (2) merupakan perbedaan yang formal dalam suatu deretan struktur, (3) terdapat di dalam kombinasi dengan unsur lain yang berdiri sendiri atau di dalam kombinasi yang lain pula: segi-tiga.
  • Jika suatu bentuk terdapat dalam kombinasi satu-satunya dengan morfem lain, dianggap morfem; jika dalam deretan struktur terdapat perbedaan yang bukan merupakan perbedaan bentuk, melainkan kekosongan, maka itu dianggap sebagai: morfem tersendiri (bila deretan struktur berurusan dengan morfem) dan alomorf suatu morfem/morfem tanwujud (bila berurusan dengan alomorf suatu morfem).

Data

1. ko-ma ‘burung’ 7. i÷ko-ya ‘itikmu’
2. iko-ma ‘burungnya’ 8.a÷ko-ya ‘itikku’
3. i÷ko-ma ‘burungku” 9.pey ‘jari’
4. a÷ko-ma ‘burungku’ 10. ipey ‘jarinya’
5. ko-ya ‘itik’ 11.i÷pey ‘jarimu’
6. iko-ya ‘itiknya’ 12. a÷pey ‘jariku’
B C
m\m bantu ber tani
m\n desah angkat
m\µ jadi geser
m\÷ gosok be kerja
m\ lihat ternak
bel ajar
  • Selanjutnya, perbedaan morfologis dalam penelitian dialektologis dapat dipumpunkan (difokuskan) dapat dipumpunkan pada salah satu   proses morfologis, yaitu afiksasi. Misalnya perbedaan yang terjadi sebagai akibat proses morfofone­mis (cf. Bauer, 1988: 116; Ramlan, 1987; Matthews, 1991: 145). Contoh morfofenemis yang terjadi di di DP: /klambi/ ‘baju’ + /-an/ > /klambian/ atau /klamb«n/ ‘berbaju’.
  • Perbedaan yang bersifat zero menunjukkan berian yang sama pada semua DP. Jadi, tidak ada perbedaan di situ.

Perbedaan Sintaktis

  • Adapun perbedaan sintaktis yang dideskripsikan dari tabulasi data kalimat dipumpunkan pada perbedaan urutannya (cf. Ramlan, 1988; Sudaryanto, 1991; Moehnilabib, 1979).
  • Selanjutnya, jika bahasa yang diteliti mengenal tingkat tutur dan menyediakan data mengenai tingkat tutur itu, perbedaan tingkat tutur pada bentuk krama pada masing-masing DP dan deskripsi bentuk krama-nya dapat juga diteliti.

 

PENGARUH BAHASA LAIN SERTA KEBERADAAN DAERAH RELIK DAN DAERAH INOVATIF    

  • Berdasarkan peta yang dibuat dapat diperikan gambaran umum mengenai situasi keba­hasaan yang ada, terutama pada kekhasan situasi kebahasaan yang ada di DP, baik dalam tataran deskripsi perbedaan leksikal, fonologis, morfogis, atau sintaktis
  • Faktor sejarah (ekstralinguistik) diduga juga ikut berperan dalam hal terjadinya per­bedaan antar-DP. Faktor sejarah yang dimaksudkan misalnya: hubungan antar-DP pada masa lalu, ekspansi masa lalu, bahkan hubungan DP sampai saat ini.
  • Dalam hal ini, deskrispi pengaruh bahasa lain bisa jadi merupakan simpulan tidak langsung dari beberapa deskripsi yang telah dilakukan. Pengaruh ini akan menunjukkan daerah sebar bahasa lainnya.
  • Selanjutnya, penentuan daerah relik dan daerah inovatif ditentukan dengan menggunakan penghitungan leksikal dan fonologis. Kedua penghitungan itu dapat menggunakan patokan bentuk-bentuk yang sama/mirip dengan bentuk tua atau bentuk protonya. Berdasarkan kesamaan bentuk dan makna yang ada dalam bahasa yang lebih tua dengan yang ada dalam DP itulah ditentukan daerah relik dan daerah inovatif. Daerah relik ialah daerah yang beriannya mengandung kesamaan paling banyak dengan bentuk tuanya sedangkan daerah inovatif ialah daerah yang tergolong paling sedikit kesamaannya dengan bentuk tua/bentuk protonya
  1. MANFAAT DATA

Berdasarkan apa yang telah dibahas, ternyata data yang disediakan untuk penelitian dialektologi dapat bermanfaat untuk berbagai penelitian, di antaranya untuk:

Peta Bahasa

  • Peta bahasa/dialek berdasarkan penghitungan dialektometri fonologis
  • Peta bahasa/dialek berdasarkan penghitungan dialektometri leksikal
  • Peta permutasi (jarak kosakata)
  • Peta bahasa/dialek berdasarkan berkas isoglos
  • Peta daerah relik dan daerah inovatif
  • Peta pengaruh bahasa lain berdasarkan deskripsi diakronis

Deskripsi

  • Deskripsi perbedaan fonologis
  • Deskripsi perbedaan leksikal
  • Deskripsi perbedaan morfologis
  • Deskripsi perbedaan sintaktis
  • Identifikasi perbedaan …
  • Variasi dialektal …

Selain itu, kemungkinan masih dapat dikembangkan pula berbagai penelitian lain, misalnya: penentuan fonem, penentuan morfem, kaidah sintaksis, dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGAYAAN II

 

A.TUJUAN

Bagian ini menyajikan dua topik, yaitu (1) Torehan Peta Bahasa dan (2) Interpretasi Peta. Kedua topik itu diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang torehan peta bahasa dan cara menginterpretasinya. Oleh sebab itu, setelah mempelajari bahan pelatihan ini diharapkan pembaca dapat:

  • menjelaskan peta bahasa yang mengandung torehan segi banyak dialektometri,
  • menjelaskan peta bahasa yang mengandung torehan berkas isoglos,
  • melakukan interpretasi terhadap peta bahasa

Disarankan untuk mendisuksikan setiap topik yang disajikan supaya lebih memnudahkan pemahaman dan menjalin kebersamaan dalam persatuan.

 

 

 

  1. MATERI
  2. TOREHAN PETA BAHASA

Peta bahasa merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukan posisi bahasa, dialek, atau subdialek dalam dalam suatu wilayah tertentu.         Dari sisi hasil análisis dan tampilan, peta bahasa dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, antara lain:

(1) peta dengan pembeda warna (batas bahasa, dialek, dan subdialek yang berbeda diberi warna yang berbeda);

(2) peta dengan pembeda garis penegas beda bahasa, beda dialek, dan beda subdialek dengan wujud segibanyak dialektometri,

(3) peta dengan pembeda penebalan berkas isoglos.

Peta dengan pembeda warna tidak disajikan di sini karena masalah teknis penampilan. Adapun dua jenis peta lainnya, yaitu peta hasil segibanyak dialektometri dan peta berkas isoglos adalah sebagai berikut.

  • Peta segibanyak dialektometri

Contoh: Pulau X

 

 

                              beda bahasa

                               beda dialek

                               beda subdialek

                               tanpa beda

 

 

  • Peta Berkas Isoglos

Bandingkan dengan peta segibanyak dialektometrinya sebagai berikut.

 

 

 

  1. INTERPRETASI PETA

Contoh pertama, yakni peta Pulau X menggambarkan bahwa di pulau itu ada dua bahasa, yakni bahasa A dan bahasa B. Selain itu ada juga dua dialek, yakni dialek A2,3 dan dialek B2,3. Subdialek ada 6, yakni subdialek (1) A1, (2) A2, (3) A3, (4) B1, (5) B2, (6) B3. Adapun daerah B1 dan B3 tidak ada perbedaan.

Adapun peta berkas isoglos pada contoh (2) menunjukkan adanya penebalan pada bagian ujung kanan. Hal itu ternyata sesuai dengan hasil peta segibanyak dialektometri menunjukkan bahwa daerah 32 dan 33 di ujung kanan merupakan daerah yang berbeda dialek dengan daerah lainnya, sedangkan daerah 30 dan 31 masing-masing merupakan subdialek yang berbeda (penebalan pada daerah tersebut tampak juga pada peta berkas isoglos).

[1] Urutan tiga belas besar untuk bahasa yang paling banyak penuturnya adalah sebagai berikut: (1) Mandarin: 885 juta, (2) Spanyol: 332 juta, (3) Inggris: 322 juta, (4) Bengali: 189 juta, (5) Hindi: 182 juta, (6) Portugis: 170 juta, (7) Rusia: 170 juta, (8) Jepang: 125 juta, (9) Jerman: 98 juta, (10) Wu Cin: 77 juta, (11) Jawa: 75,5 juta, (12) Korea: 75 juta, (13) Perancis: 72 juta.

[2] Medan makna (semantic field) merupakan bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kehidupan atau realitas dalam alam semesta tertentu yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Contoh: nama warna, peristilahan penerbangan, dll (Kridalaksana, 1993: 105). Ini sejalan dengan Palmer (1989) yang menyatakan bahwa kata-kata yang merujuk pada golongan tertentu dapat disenaraikan dalam satu medan semantik. Allan (1986: 99–120) tidak menyebut istilah semantic filed, tetapi membahas masalah yang sama dengan judul “Sense and The Perceived Characteristics of The Denotatum“.

[3] Istilah segibanyak dialektometri digunakan sebagai pengganti polygones de Thiessen. Istilah ini diajukan berdasarkan analogi dari istilah yang telah dikenal, yaitu segitiga dialektometri.

[4] Pendefinisian kontraksi oleh beberapa sumber merujuk pada dua definisi. Yang pertama menyatakan bahwa kontraksi ialah perpaduan dua buah bunyi atau lebih menjadi satu bunyi: daun > don ‘daun’, ni+ ein > nein ‘sembilan’ (Mahsun, 1995: 36¾37). Yang kedua menyatakan bahwa kontraksi ialah (1) proses/hasil pemendekan suatu bentuk kebahasaan: tidak > tak (Moeliono, 1988: 458) ; (2) pelesapan silabe pada posisi tengah atau akhir kata: university > uni , atau dapat juga berwujud singkatan atau akronim (Crowley,1987: 31: Crowley menyebutnya dengan istilah kompresi), (3) proses pemendekan yang meringkas leksem dasar atau gabungan leksem: tidak > tak, peluru kendali > rudal (Kridalaksana, 1993: 121).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: