Bahasa Ciacia

Bahasa Ciacia: Daya Hidup dan
Daya Kembangnya sebagai Bahasa Daerah
Kisyani-Laksono, Unesa

Disajikan dalam Kongres II

BAHASA-BAHASA DAERAH SULAWESI TENGGARA

Grand Clarion Hotel & Convention 
Kendari, 7–-8 Oktober 2014

Abstrak
Beberapa regulasi bahasa daerah dan bahasa Indonesia yang ada saat ini merujuk pada upaya mendesakkan pemakaian bahasa Indonesia yang dapat membawa dampak negatif, yaitu kemunduran bahasa daerah. Secara lebih khusus, terjadi juga pergeseran sikap penutur bahasa daerah terhadap bahasa daerahnya karena dianggap kurang berwibawa. Oleh sebab itu, perlu upaya supaya bahasa daerah dapat bertahan hidup dan/atau terus berkembang. Bahasa Ciacia sebagai salah satu bahasa daerah di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia mengalami hal itu. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya tertentu bagi bahasa Ciacia untuk bertahan hidup dan/atau berkembang. Dengan berbekal wawancara terbatas kepada beberapa narasumber dan pemikiran mendalam, upaya yang dapat dilakukan supaya bahasa Ciacia bertahan hidup dan/atau berkembang adalah dengan pendokumentasian bahasa Ciacia (tulisan dan kamus); pembiasaan dalam keterampilan berbahasa Ciacia termasuk kreativitasnya; pemberdayaan penyerapan kosakata bahasa lain: bahasa Indonesia dan/atau bahasa asing ke dalam bahasa Ciacia (khususnya untuk kosakata yang tidak tersedia dalam bahasa Ciacia); menyumbangkan kosakata bahasa Ciacia ke dalam bahasa Indonesia; penyusunan modul atau buku pelajaran bahasa Ciacia. Dalam hal ini, perlu peran pemerintah/swasta, dunia pendidikan, serta masyarakat khususnya yang mempunyai ruang gerak dan potensi melestarikan dan/atau mengembangkan bahasa Ciacia.

Kata kunci: bahasa Ciacia, bertahan hidup, berkembang, dokumentasi, pembiasaan, kosakata, modul/buku pelajaran .

A. Pendahuluan

Tahun 2000, jumlah bahasa di dunia diidentifikasi ada 6.809 (Grimes, 2000). Jumlah itu dapat saja bertambah karena ada bahasa-bahasa yang belum teridentifikasi atau dapat saja menyusut karena ada bahasa-bahasa yang punah. Tahun 2008, jumlah bahasa di dunia bertambah menjadi 6.912. Dari jumlah itu, Indonesia menduduki peringkat kedua terbanyak dalam hal jumlah bahasa (741 bahasa) setelah Papua New Guinea (820 bahasa). Jumlah 741 itu sebagian besar adalah bahasa daerah di Indonesia (cf. Pusat Bahasa, 2008).
Dalam hal jumlah bahasa di Indonesia, Esser (1951) menyebutkan angka 200 buah bahasa, Salzner (1960) menyatakan ada 96 buah bahasa; Lembaga Bahasa Nasional yang melakukan penginventarisasian bahasa-bahasa di Indonesia mulai 1969 s.d 1971, dalam laporannya (1972) menyebutkan angka 418 buah bahasa; Grimes (2000) menyebutkan ada 672 buah bahasa; Summer Institute of Linguistics/SIL (2006) menyebut angka 741 bahasa; Pusat Bahasa (2008) menyebut angka 442.
Adapun peringkat bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia adalah sebagai berikut:
(1) Jawa (peringkat ke-12 dunia: 82 juta penutur);
(2) Indonesia/Malay, ke-14: 77 juta (tahun 2008, bahasa Indonesia urutan ke-50 dengan 17,1 juta penutur dan 140 jt penutur sebagai bahasa kedua)
(3) Sunda, ke-35: 38 juta;
(4) Madura, ke-69: 15 juta;
(cf. Wikipedia diunduh 24 September 2014: data mengenai penutur bahasa Indonesia perlu untuk lebih dicermati).

Selanjutnya, hasil unduhan 25 Juni 2008) menambahkan urutan selanjutnya sbb.
(5) Minangkabau, ke-95: 6,5 juta;
(6) Batak, ke-99: 6,2 juta;
(7) Bali, ke-124: 3,8 juta;
(8) Bugis, ke-129 (sebagai bahasa kedua: di bawah 4 juta);
(9) Aceh, ke-147: 3 juta;
(10) Betawi/kreol, ke-156: 2,7 juta;
(11) Sasak, ke-175: 2,1 juta;
(12) Makassar, ke-196 (sebagai bahasa kedua: 2 juta);
(13) Lampung, ke-205 (sebagai bahasa kedua: di bawah 1,5 juta);
(14) Rejang, ke-258: kurang dari 1 juta
(cf. Wikipedia, diunduh 25 Juni 2008; http://www.infoplease.com/ipa).

Bahasa daerah memang telah mengalami berbagai perubahan akibat perkembangan teknologi informasi yang mampu menembus batas-batas ruang. Perkembangan tatanan baru kehidupan dunia dan teknologi informasi yang semakin sarat dengan tuntutan dan tantangan globalisasi telah mengondisikan dan menempatkan bahasa asing pada posisi strategis yang memungkinkannya memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa sekaligus mempengaruhi perkembangan bahasa daerah dengan mendesaknya dan memudarkannya. Hal itu pada akhirnya juga membawa perubahan perilaku masyarakat dalam bertindak dan berbahasa.
Selanjutnya, komposisi jumlah penduduk merupakan hal yang menentukan kelestarian bahasa daerah. Jumlah penutur yang banyak akan membuat bahasa daerah mampu bertahan hidup dan berkembang. Adapun bahasa daerah yang berpenutur sedikit dan cenderung menyusut akan tenggelam dan harus diselamatkan, teristimewa oleh daerahnya dan para putra daerahnya.
Kesepakatan para linguis Jerman tahun 2000 menyebutkan ada beberapa tahap yang dialami bahasa yang mengalami kemunduran dan terancam punah (Mahsun, 2005), yakni:
a. sangat kritis
penuturnya sedikit sekali, semuanya berumur 70 tahun ke atas
b. sangat terancam
semua penuturnya berumur 40 tahun ke atas
c. terancam
semua penuturnya berusia 20 tahun ke atas
d. mengalami kemunduran
sebagian penutur adalah anak-anak dan kaum tua
e. stabil dan mantap, tetapi terancam punah
semua anak-anak dan orang tua menggunakan, tetapi jumlahnya sedikit
f. aman
tidak terancam punah, bahasa ini dipelajari oleh semua anak dan semua orang dalam etnis itu.

Yang patut dicermati adalah kategori tersebut didasarkan pada penghitungan kuantitatif (dilihat dari jumlah penutur dan kelompok usianya) dan tidak memperhatikan unsur kualitatif. Akan tetapi kategori itu dapat menjadi salah satu identifikasi kondisi kebahasaan yang ada. Bagi penutur suatu bahasa, kategori itu juga dapat menjadi salah satu kaca brenggala ‘kaca untuk melakukan refleksi diri’ untuk melihat kondisi bahasa daerahnya atau bahasa ibunya.
Salah satu bahasa daerah di Indonesia adalah bahasa Ciacia di Kabupaten Buton Utara, Prov Sulawesi Tenggara. Lalu, bagaimanakah cara mempertahankan keberadaan bahasa-bahasa daerah (termasuk bahasa Ciacia) sekaligus upaya menumbuhkembangannya ke depan? Bahasa Cia-Cia oleh Pusat Bahasa (2008) diidentifikasi terdiri atas lima dialek, yaitu (1) dialek Lapandewa; (2) dialek Kancinaa; (3) dialek Masiri; (4) dialek Gonda Baru; dan (5) dialek Kumbewaha. Selain bahasa Cia-Cia, pada daerah sebaran tersebut terdapat bahasa Muna (di Kabupaten Buton); bahasa Lasalimu-Kamaru (di Kabupaten Buton); bahasa Sasak (di Kabupaten Buton). Berdasarkan penghitungan dialektometri, persentase antardialek tersebut berkisar antara 60–78%.
SIL mengidentifikasi adanya bahasa Cia-Cia yang terdapat di Buton dengan nama lain sebagai bahasa Buton Selatan, Butung Selatan, Buton, dan Butung. Sementara itu, SIL menyebut isolek Kumbewaha sebagai bahasa tersendiri.
Beberapa cara telah ditempuh untuk melestarikan dan/atau mengembangkan bahasa Ciacia yang berpenutur sekitar 70 ribu, termasuk penyelenggaraan kongres bahasa daerah dan upaya menumbuhkan kebanggaan berbahasa Ciacia. Akan tetapi, apakah ini merupakan obat mujarab? Paling tidak, secara umum ada dua cara untuk menjaga kelestarian bahasa Ciacia, yakni dengan melakukan dokumentasi (transkrip ke dalam bentuk tulisan) dan/atau melindungi penggunaannya oleh penutur aslinya (cf. Halim, 1980). Akan tetapi, cara kedua lebih sulit karena memerlukan pemantauan terus-menerus. Oleh sebab itu, cara pertama diangap lebih praktis dan pelestariannya lebih konkret terwujud. Akan tetapi, bahasa pada hakikatnya adalah apa yang diucapkan, bukan apa yang dituliskan. Jadi, berbicara dalam bahasa daerah itu tetap penting. Ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari bahasa daerah dan wawasan kebahasaan serta etika kita dapat dicerahkan oleh bahasa daerah.
B. Peretasan-Jalan Bahasa Ciacia
Dari berbagai pengalaman dan uji coba yang dilakukan ditemukan beberapa peretasan jalan bagi bahasa Ciacia untuk bertahan hidup dan/atau berkembang, yakni dengan
1. melakukan pendokumentasian;
2. melakukan pembiasaan dalam berbicara (sekaligus menyimak), pembiasaan dalam menulis (sekaligus membaca);
3. melakukan (memberdayakan) penyerapan kosakata bahasa lain: bahasa Indonesia dan/atau bahasa asing ke dalam bahasa Ciacia (khususnya untuk kosakata yang tidak tersedia dalam bahasa Ciacia); menyumbangkan kosakata bahasa Ciacia ke dalam bahasa Indonesia;
4. melakukan penyusunan modul bahasa Ciacia supaya dapat dipelajari oleh semua orang

Perlu diingat bahwa cara yang paling baik untuk mematikan sebuah bahasa adalah dengan mengajarkan bahasa lain. Oleh sebab itu, pemerintah daerah (pemprov/pemda) dan perguruan tinggi perlu mengurus dan mengatur pengembangan bahasa daerah, baik yang terdapat dalam masyarakat umum maupun yang berlaku di sekolah-sekolah.

1. Pendokumentasian
Pendokumentasian merupakan upaya untuk menuliskan kembali bahasa daerah. Hal itu dapat berwujud kosakata, kalimat, alinea, atau wacana utuh. Untuk bahasa daerah yang ”aman”, pendokumentasian mudah dilakukan. Akan tetapi, untuk bahasa daerah yang termasuk dalam kategori ”sangat kritis”, pendokumentasian lebih sulit.
Dalam bahasa Ciacia, misalnya, pendokumentasian telah dilakukan dengan penyusunan ”Kamus Istilah Pertanian Bahasa Ciacia” yang dihasilkan oleh Chun Tai Hyun dari Faculty of Interpretation and Translation, Hankuk University of Foreign Studies (15 September 2011). Kamus ini disusun dengan model bahasa Indonesia sebagai lema, disusul dengan penulisan aksara Hangul, kemudian bahasa Inggris, dan aksara Hangul. Karena bahasa Ciacia menggunakan aksara Hangul, hanya orang yang paham aksara Hangul lah yang dapat membaca kamus tersebut. Amirul Tamim (Wali Kota Bau-Bau) menyampaikan bahwa
“Dalam konteks bahasa, salah satu masalah besar yang mesti dihadapi adalah bagaimana melestarikan berbagai bahasa daerah yang bertebaran di seluruh penjuru kota ini. Tanpa upaya pelestarian, bahasa-bahasa tersebut akan menjadi monumen yang hanya bisa dikenang oleh orang-orang. pada zaman global sebagaimana saat ini, bahasa lokal perlahan menjadi nyanyian sunyi yang tidak diperhatikan sehingga ada kekhawatiran akan kepunahan pada masa-masa mendatang. Untuk itu, upaya-upaya pelestarian dan revitalisasi mesti dilakukan demi menyelamatkan khasanah kebudayaan tersebut.”
Pemerintah Kota Bau-Bau telah menjalin kerjasama dengan Korea untuk melestarikan bahasa Cia-Cia melalui adaptasi aksara Hangul ke dalam kurikulum muatan lokal. Kebijakan ini dianggap sebuah langkah strategis untuk menyelamatkan bahasa Cia-Cia sebagai salah satu bahasa daerah yang banyak penggunanya. Pemkot Bau-Bau dan Korea telah membangun kesepahaman untuk pelestarian bahasa Cia-Cia melalui adaptasi huruf Hangul ke dalam kurikulum muatan lokal. Kerja sama itu akan diperluas sehingga tidak hanya menyentuh wilayah kebudayaan, tetapi juga merambah ke berbagai bidang, mulai dari pertanian, peternakan, hingga sektor lainnya.
Melalui kerja sama tersebut bahasa Cia-Cia—yang pada masa silam yang tidak/belum memiliki aksara—akan didokumentasikan melalui aksara Hangul sehingga bisa dilestarikan. Menurut Walikota Baubau, Kerjasama itu sering disalahpahami dengan berbagai macam isu-isu yang negatif. Ada yang mengatakan bahwa kerja sama itu akan menghilangkan identitas Cia-Cia dan kebutonan. Ada pula yang menilai kerja sama itu sebagai bentuk koreanisasi atas kebudayaan di Bau-Bau. Ada yang mengaitkannya dengan isu nasionalisme. Malah, ada pula yang menilai kerjasama itu dengan kacamata politis sehingga terkesan jalan di tempat, tanpa beranjak sedikit pun. Lepas dari itu semua, ternyata pengaksaraan dengan Hangul juga menimbulkan masalah baru karena masyarakat harus belajar lagi untuk membaca bahasanya sendiri.
Selain kamus pertanian, sebenarnya inventarisasi secara umum dapat dilakukan dengan daftar kosakata dasar yang telah dikembangkan, misalnya dengan pengembangan kosakata dalam konsep: “bilangan, ukuran, musim dan waktu, bagian tubuh manusia, tutur sapaan dan acuan, istilah kekerabatan, pakaian dan perhiasan, pekerjaan, binatang, bagian tubuh binatang, tumbuhan: bagian-bagian buah dan hasil olahannya, alam, rumah dan bagian-bagiannya, alat, penyakit dan obat, arah dan penunjuk, aktivitas, sifat, warna dan bau, serta rasa”. Daftar ini digunakan untuk menyusun kamus sederhana Bahasa Ciacia-Indonesia dan Kamus Bahasa Indonesia-Ciacia (hasil tahun pertama dari penelitian Kisyani-Laksono dkk. Tahun 2013 berjudul ”Penyusunan Kamus Dan Tata Aksara dalam Rangka Re-Eksistensi Bahasa Ciacia di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara”.
Beberapa kosakata bahasa Ciacia, di antaranya adalah (urut abjad).

Kosakata Bahasa Ciacia GLOS
alo EMBUN
ama BAPAK
kajawa UBI JALAR
kamba BUNGA
lesa BEBAS
mate MENINGGAL
nipi TIPIS
nono LAMBAT
pilawe ISTIRAHAT

Kamus yang akan memuat sekitar 5000 lema ini dikembangkan dengan memasukkan kata-kata yang didapatkan dari cerita rakyat dan perbincangan dengan masyarakat Ciacia (akan diselesaikan pada akhir 2014).
Selain itu, pendokumentasian juga dapat terwujud dalam bentuk tulisan dalam bahasa tersebut atau tulisan tentang bahasa tersebut. Tulisan dalam bahasa Ciacia tersebar dalam berbagai buku, misalnya: “Teknologi Budi Daya Padi di Kota Baubau” (ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa Ciacia dalam aksara Hangul, dan bahasa Inggris). Buku setebal 275 halaman ini disusun oleh Tyu Hae Yeong dkk dan dipublikasikan oleh Min, Seung-Kyu, Ph.D sebagai Administrator Rural Development Administration, Republic of Korea pada September 2011. Prakatanya ditulis oleh Walikota Baubau Drs. H. MZ. Amiruyl Tamim, M.Si. Selain itu ada juga buku ajar Bahasa Ciacia dalam aksara Hangul untuk anak-anak SD.

Adapun beberapa tulisan yang membahas bahasa Ciacia, di antaranya.
a. Mz Amirul Tamim. 2008. “Dialektika Dan Kebijakan Keberaksaraan Di Kota Bau-Bau.”
b. Abdillah, M. Gunawan. “Menyingkap Rahasia Keunikan Bahasa Ciacia”. Dalam klip21.com/news Sport and Lifestyle. 2009.
c. Abdullah, Mustafa. 1991. Struktur Bahasa Ciacia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
d. Sandra Safitri Hanan. 2013. “Genealogi Bahasa Ciacia”. Disertasi, UGM.
e. Indrawati, Dianita. 2013. “Proses Fonologis dalam Pengadopsian Kata Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Ciacia di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara”. Dalam Seminar Internasional Austronesia, Denpasar.

2. Pembiasaan
Dalam pembiasaan, peran masyarakat dan pemerintah/swasta sangatlah penting. Pemerintah/ swasta dapat memfasilitasi siaran berbahasa daerah atau produksi lagu-lagu berbahasa daerah sehingga media cetak/elektronik serta musik/lagu daerah dapat menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri dan menjadi andalan sehingga budaya daerah tetap terpelihara, tumbuh, berkembang, dan dapat menjadi aset kekayaan bangsa.
Bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari memberi andil cukup besar dalam suksesnya musik dan lagu daerah di pasaran, sesuai segmentasi pemakai bahasa daerah tersebut. Namun demikian, bagi orang yang bukan pemakai bahasa daerah tersebut tidak tertutup kemungkinan dia juga ikut menikmati dan ikut pula menggemarinya. Berbagai siaran berbahasa daerah juga dianggap positif karena dapat (1) memotivasi masyarakat untuk menggunakan bahasa daerah; (2) memopulerkan dan menumbuhkembangkan bahasa daerah; (3) memopulerkan dan menumbuh-kembangkan istilah baru, (4) menunjukkan kesetaraan bahasa daerah dengan bahasa persatuan sehingga membangkitkan semangat kebhinekaan dalam rangka ”kebhinekatunggalikaan” (cf. Kisyani-Laksono, 2004).
Di Baubau, lagu yang direkam dalam bahasa Ciacia belum ada. Akan tetapi, ada beberapa lagu dalam cerita rakyat yang berbahasa Ciacia. Sayangnya, lagu-lagu tersebut kurang populer bagi anak-anak. Saat ini memang diakui oleh beberapa nara sumber bahwa pembiasaan berbahasa Ciacia untuk generasi penerus semakin menurun. Biarpun demikian, patut dihargai upaya untuk memasukkan bahasa Ciacia sebagai muatan lokal yang dipelajari anak-anak SD. Dari Sembilan informan yang diminta menuliskan kembali suatu cerita dalam bahasa Ciacia (ditulis dalam aksara Hangul dan aksara Latin), ada enam orang yang menceritakan kembali dalam bahasa Ciacia, yang tiga orang menceritakan kembali dalam bahasa Indonesia. Adapun penulisan kembali itu dituliskan dalam aksara Latin (biarpun diberi tawaran untuk menuliskan kembali dalam aksara Latin/Hangul/Wolio).
Dalam hal pembiasaan penggunaan bahasa Ciacia, walikota Baubau menghendaki supaya upacara adat masih menggunakan bahasa Ciacia. Dalam salah satu upacara adat “Mata’a” bahasa Ciacia masih digunakan biarpun dalam beberapa sisi juga tercampur dengan bahasa Indonesia. Memang seharusnya pembinaan bahasa melalui pendidikan generasi berlapis. Beberapa orang mengaku telah mendapatkan manfaat dari pembiasaan ini, yaitu mereka menjadi lebih mengenal bahasa Ciacia, meskipun masih ada kendala dalam penggunaannya. Pada umumnya kendala yang mereka rasakan adalah tidak terbiasa menggunakan bahasa Ciacia dengan orang lain.

3. Pemberdayaan Penyerapan Kosakata
Untuk melestarikan bahasa Ciacia, pemegang kebijakan (Walikota Baubau) berupaya untuk berkreasi dengan penggunaan aksara Hangul untuk bahasa Ciacia. Sebenarnya, kreativitas dapat juga seiring dengan perkembangan teknologi informasi dengan mengembangkan beberapa laman atau situs berbahasa Ciacia (belum ada). Yang perlu dicatat adalah apakah kreativitas ini sudah pas dan sejalan.
Kreativitas lainnya dapat diwujudkan dengan berbagai lomba berbahasa Ciacia, pertunjukkan berbahasa Ciacia di pusat-pusat keramaian/ perbelanjaan, kolom atau acara untuk menampung kreativitas remaja dalam media berbahasa Ciacia, dan penciptaan istilah baru (belum ada).
Bahasa Ciacia seperti halnya bahasa daerah lain memerlukan beberapa penyerapan kosakata bahasa lain, dalam hal ini bahasa Indonesia. Penyerapan kosakata bahasa lain sebenarnya merupakan salah satu upaya untuk melestarikan/mengembangkan bahasa. Perkembangan ipteks mengharuskan kita untuk menyerap berbagai kosakata bahasa lain. Berkat kreativitas pula, mesin pencari yang populer di internet, yakni Google menyediakan informasi terkait bahasa Ciacia dengan sangat cepat dan beragam. Begitu dituliskan bahasa Ciacia dan diklik dalam pencarian muncullah jumlah 77.900 dalam 0,29 detik (4 September 2014).
Penyerapan kosakata bahasa Indonesia dalam bahasa Ciacia tampak dalam buku pelajaran Bahasa Ciacia untuk anak SD yang beraksara Hangul. Beberapa koskata bahasa Indonesia masuk dalam bacaan berbahasa Ciacia. Kosakata yang dimaksudkan adalah: “janji, bosan, lagi pula, waktu, selama, menurut, pulau, terpencil, minggu, ujung, selatan, kelompok, bahasa,” dst. Masih banyak kosakata bahasa Indonesia yang dapat dijumpai dalam bacaan berbahasa Ciacia tertsebut (biarpun menurut nara sumber kata-kata asli bahasa Ciacia untuk menyebutkan hal itu ada , tapi sudah kurang populer).
Dari berbagai hal tersebut tampak bahwa untuk mengembangkan bahasa daerah, kosakata bahasa Indonesia dan bahasa asing (Contoh: web, format file, domaine) dapat pula diserap (khususnya untuk kata-kata yang tidak tersedia dalam bahasa Ciacia). Oleh sebab itu, cara lain untuk mengembangkan bahasa Ciacia adalah dengan melakukan penyerapan kosakata bahasa Indonesia dan/atau bahasa asing ke dalam bahasa Ciacia. Akan lebih bagus lagi jika menu bahasa Ciacia juga muncul dalam Google translate.
Setiap bahasa pasti mempunyai kosakata yang jumlahnya pun beragam. Jika hal ini dikaitkan dengan pemekaran bahasa, kosakata bahasa Indonesia atau kosakata bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa daerah dapat ikut mengembangkan bahasa daerah. Sebaliknya, dalam rangka pengembangan bahasa nasional (bahasa Indonesia), kosakata dalam bahasa daerah dapat dijadikan sumber pemekaran dan pemerkaya bahasa Indonesia. Bahkan dalam “Pedoman Umum Pembentukan Istilah” disebutkan bahwa sumber dari bahasa daerah seharusnya lebih diutamakan daripada sumber dari bahasa asing.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia atau (KUBI) dapat dicermati besarnya sumbangan kosakata bahasa daerah dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, KUBI hanya melacak dan memuat lima bahasa daerah saja, yakni bahasa Jakarta, Jawa, Minangkabau, Palembang, dan Sunda. Dalam hal kuantitas (berdasarkan penghitungan kosakata bahasa daerah dalam KUBI) terlihat bahwa sumbangan kosakata bahasa daerah untuk memperkaya bahasa Indonesia berjumlah 2.827. dari jumlah itu, bahasa Jawa mempunyai andil yang besar dalam memperkaya bahasa Indonesia (1.002 lema). Padahal, bahasa daerah lain—selain bahasa Jawa, Jakarta (785 lema), Minangkabau (956 lema), Palembang (9 lema), Sunda (975 lema)—juga punya potensi yang sama untuk pemekaran dan pemerkaya bahasa Indonesia (Poerwodarminto, 1986). Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelusuran dan penggunaan kosakata bahasa daerah (dalam hal ini bahasa Ciacia) yang bersifat integratif untuk semakin memperkaya dan mencemerlangkan bahasa Indonesia.
Percepatan pengembangan kosakata bahasa Ciacia dapat dilakukan melalui pemberian dorongan dan kemudahan bagi masyarakat yang mempunyai ruang gerak dan potensi mengembangkan kosakata seperti penyiar, peneliti, penulis, penerjemah, wartawan, pendidik, pejabat, rohaniwan, pencipta lagu, penyanyi, pebisnis, pemilik modal, ilmuwan, dan lain-lain. Selanjutnya, perlu dilakukan penelusuran potensi kosakata Ciacia, khususnya yang berkaitan dengan kearifan lokal, untuk memperkaya kosakata bahasa Ciacia sekaligus memperkaya dan mencemerlangkan bahasa Indonesia.
Masalah selanjutnya adalah, apa saja kosakata yang dapat digunakan sebagai pemerkaya bahasa Indonesia? Sebenarnya, ada beberapa kosakata yang dapat digunakan, yakni (Kisyani-Laksono, 2007):
(1) kata atau istilah khusus yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia,
(2) kata atau istilah yang berkaitan dengan budaya/kearifan lokal,
(3) satu kata atau istilah yang dapat menggantikan frasa dalam bahasa Indonesia.
Contoh (urut abjad):
1 augalela ’anjing warna kuning kecoklatan’
2 aupitongko ’anjing yang punya garis putih di leher’
3 gapa ’tidak nafsu makan’
4 gantami ’tarik dengan kencang’

Contoh beberapa kosakata itu dan kosakata lainnya dapat dibiasakan penggunaannya/dipopulerkan oleh masyarakat, pemerintah, dunia pendidikan, dan berbagai unsur yang terkait dalam upaya melakukan pembiasaan (cf. Kridalaksana, 2006; Sugono, 2006).
Dalam hal ini, sumbangan kosakata bahasa Ciacia akan mempunyai dua manfaat, yakni untuk pemekaran dan pemerkaya bahasa Indonesia serta untuk meningkatkan daya hidup/perkembangan bahasa Cicia.

4. Penyusunan Modul
Modul atau buku ajar merupakan sarana yang sangat efektif untuk belajar mandiri termasuk dalam pembelajaran bahasa. Jika kita menginginkan bahasa daerah dipelajari oleh orang banyak secara mandiri dan terbiasa digunakan oleh orang banyak, modul adalah jawabannya.
Dalam hal ini, buku pelajaran bahasa Ciacia telah disusun, akan tetapi dengan aksara Hangul. Hanya tiga SD yang mempelajari aksara Hangul, yakni SD Karya Baru, Bugi I, dan Bugi II. Pembelajaran dengan aksara Hangul menuai masalah baru karena siswa harus belajar aksara lagi sehingga kecepatan membaca dengan aksara Latin lebih unggul daripada dengan aksara Hangul. Sebagai contoh: untuk yang sedang belajar aksara hangul, waktu 30 detik digunakan untuk membaca 16 kata dalam aksara Hangul. Dengan waktu yang sama dia dapat membaca 93 kata dalam aksara Latin. Yang baru selesai belajar aksara Hangul dapat membaca 3 kata dalam aksara Hangul dalam 30 detik. Dengan waktu yang sama dia dapat membaca 37 kata dalam aksara Latin. Akan tetapi, menurut pengakuan mereka belajar aksara Hangul menyenangkan, biarpun saat menceritakan kembali cerita yang mereka baca, mereka (9 responden) lebih memilih menggunakan aksara Latin daripada aksara Hangul (tidak ada satu pun yang menulis dalam aksara Hangul)
Buku Pelajaran bahasa Ciacia yang beraksara Hangul merupakan buah kerja sama Pemkot Baubau dan Korea. Sebenarnya ini merupakan tantangan bagi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (dulu: Pusat Bahasa) sebagai lembaga yang paling erat berhubungan dengan bahasa daerah/bahasa ibu. Para pakar bahasa terdapat di Badan Bahasa yang memiliki jaringan berwujud 30 Balai Bahasa atau Kantor Bahasa di Indonesia. Selain itu ada lagi Universitas Terbuka (UT) sebagai lembaga perguruan tinggi yang handal dalam penyusunan modul. UT memiliki jaringan 37 unit program belajar jarak jauh (UPBJJ) di Indonesia. Selain itu, beberapa LPTK juga meretas para calon guru bahasa daerah. Bahasa Ciacia sebenarnya dapat diajukan sebagai salah satu mata kuliah pilihan dalam kurikulum di prodi Bahasa.
Sebenarnya, kerja sama antara Badan Bahasa, UT, dan LPTK untuk menyediakan modul berbahasa daerah (bahasa Ciacia) sangat dinantikan. Hal itu merupakan wujud upaya pelestarian bahasa daerah secara sungguh-sungguh. Hal ini tentu saja tidak menjanjikan banyak keuntungan secara finansial, tetapi keuntungan nonfinansial untuk komitmen menjaga kekayaan budaya tentu akan membuahkan hasil yang manis.

C. Penutup
Dokumentasi penggunaan bahasa Ciacia; pembiasaan dalam berbicara (sekaligus menyimak), pembiasaan dalam menulis (sekaligus membaca); melakukan kreativitas dalam penggunaan bahasa Ciacia dengan penyerapan kosakata bahasa lain: bahasa Indonesia dan/atau bahasa asing ke dalam bahasa Ciacia (khususnya untuk kosakata yang tidak tersedia dalam bahasa Ciacia); menyumbangkan kosakata bahasa Ciacia ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing; penyusunan modul bahasa Ciacia merupakan upaya peretasan jalan bagi bahasa Ciacia untuk bertahan hidup dan/atau berkembang.
Penyerapan kosakata bahasa Indonesia dan/atau bahasa asing ke dalam bahasa Ciacia (khususnya untuk kosakata yang tidak tersedia dalam bahasa Ciacia) dapat ikut menopang kehidupan dan perkembangan bahasa Ciacia. Sebaliknya, sumbangan kosakata bahasa Ciacia ke dalam bahasa Indonesia akan semakin memekarkan dan memperkaya bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelusuran dan penggunaan kosakata bahasa Ciacia yang bersifat integratif, kaya kearifan lokal, dan belum ada atau lebih pendek dari bahasa Indonesia untuk semakin memperkaya dan mencemerlangkan bahasa Indonesia. Sebaliknya, perlu pula dilakukan penyerapan bahasa Indonesia dan bahasa asing ke dalam bahasa Ciacia (khususnya untuk kata-kata yang tidak tersedia dalam bahasa Ciacia) untuk semakin mengembangkan bahasa Ciacia.
Dalam hal ini, peran pemerintah/swasta, dunia pendidikan, serta masyarakat khususnya yang mempunyai ruang gerak dan potensi melestarikan dan/atau mengembangkan bahasa Ciacia akan ikut menentukan masa depan bahasa Ciacia dan akan semakin mengukuhkan keberadaan bahasa Ciacia.
Semoga di waktu mendatang, tidak akan terungkap kalimat ”Dahulu pernah ada bahasa Ciacia,”. Semoga akan terungkap kalimat “Kata ‘gapa’ berasal dari bahasa Ciacia. Kata itu …”.

DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, M. Gunawan. “Menyingkap Rahasia Keunikan Bahasa Ciacia”. Dalam klip21.com/news Sport and Lifestyle. 2009.
Abdullah, Mustafa. 1991. Struktur Bahasa Ciacia. Jakarta: Pusta Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Chun Tai Hyun. 2011. ”Kamus Istilah Pertanian Bahasa Ciacia”. Seoul: Faculty of Interpretation and Translation, Hankuk University of Foreign Studies
Grimes, Barbara dalam Summer Institute of Linguistics (SIL). 2000. “Geographical Linguistics”. http://www.yahoo.com. Diunduh 25 Oktober 2004.
Halim, Amran (Ed.). 1980. Politik Bahasa Nasional I. Jakarta: Balai Pustaka.
Hanan, Sandra Safitri. 2013. Genealogi Bahasa Ciacia. Disertasi, UGM.
http://www.infoplease.com/ipa/A0775272.html. “Most Widely Spoken Languages in the World”. Diunduh 25 Juni 2008.
http://www.wikipwdia.com. “List of Languages by Number of Native Speakers”. Diunduh 25 Juni 2008 dan 4 September 2014.
Kisyani-Laksono. 2007. ”Sumbangan Kosakata Bahasa Daerah”. Dalam Seminar Bahasa-bahasa Daerah di Wilayah Indonesia Timur. Ambon.
Kisyani-Laksono dkk. 2013. Penyusunan Kamus Dan Tata Aksara dalam Rangka Re-Eksistensi Bahasa Ciacia di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Surabaya: Unesa.
Kridalaksana, Harimurti. 2006. ”Penyerapan Kosakata dari Bahasa Daerah dan Masalahnya”. Disajikan dalam Seminar Internasional Leksikografi. Jakarta.
Mahsun. 2005. ”Dinamika Bahasa Indonesia dalam Kebinekaan Bahasa Daerah”. Dalam Seminar Bahasa dan Sastra Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia, 7—8 Maret 2005. Mataram.
Pusat Bahasa. 2008. Bahasa Daerah di Indonesia. Jakarta.
Sugono, Dendy. 2006. ”Politik Bahasa Nasional dan Pengaruh Bahasa Daerah dalam Bahasa Indonesia”. Dalam Seminar Internasional Leksikografi. Jakarta.
Summer Institute of Linguistics. 2006. Languages of Indonesia. Jakarta.
Tamim, Mz. Amirul. 2008. “Dialektika dan Kebijakan Keberaksaraan di Kota Bau-Bau”
Tyu Hae Yeong dkk. 2011. “Teknologi Budi Daya Padi di Kota Baubau”. Seoul: Rural Development Administration, Republic of Korea.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: