Ketidaksantunan Berbahasa dan Pembentukan Karakter

KETIDAKSANTUNAN BERBAHASA DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN DAN DAMPAKNYA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER[1]

 

Kisyani-Laksono, Universitas Negeri Surabaya

 

Abstrak

Ketidaksantuan berbahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa yang tidak baik dan tidak sesuai dengan tata krama. Tulisan ini mencoba mengidentifikasi ketidaksantunan berbahasa yang ada dalam dunia pendidikan. Metode yang digunakan adalah wawancara dan observasi, yakni dengan mewawancarai lima pendidik dan lima peserta didik tentang bentuk-bentuk ketidaksantunan berbahasa yang pernah mereka jumpai. Selain itu, dilakukan juga penelusuran dengan observasi dan penelusuran lewat internet.   Hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa wujud ketidaksantunan berbahasa dalam dunia pendidikan dapat dijumpai dalam tulisan dan ujaran dengan berbagai ragamnya. Dalam bentuk tulisan, ketidaksantunan berbahasa terdapat dalam karya ilmiah dan ijazah palsu, materi ajar, poster, dan TIK. Dalam ujaran, ketidaksantunan berbahasa berwujud pada ancaman, tuduhan, sapaan, dan pembiasan. Ketidaksantunan berbahasa ternyata telah mulai dikenal sejak TK. Diharapkan ada peminimalan ketidaksantunan berbahasa mulai dari individu dan diharapkan tumbuhnya anggapan bahwa untuk kosakata yang sama, kosakata dalam bahasa Indonesia lebih baik daripada kosakata dalam bahasa lain. Selain itu, diusulkan adanya rapor karakter termasuk di dalamnya rapor penggunaan bahasa.

 

Kata Kunci: ketidaksantunan berbahasa, pendidikan, karakter.

 

 

 

PENDAHULUAN

Perkembangan suatu bahasa tidak akan lepas dari perkembangan budaya masyarakat pendukungnya. Nilai budaya dalam suatu bangsa dapat saja bergeser sesuai dengan perkembangan zaman dan konvensi dari masyarakat pendukungnya. Nilai budaya erat terkait dengan nilai etika yang diyakini oleh masyarakat pendukungnya. Nilai yang dianggap santun dan tidak santun dapat saja berbeda antarbudaya. Perbedaan itupun merambah pada waktu, ada yang dianggap kurang/tidak santun pada masa lalu menjadi santun pada masa kini, atau sebaliknya yang dianggap santun pada masa lalu dianggap kurang/tidak santun pada masa kini. Selain dalam tingkah laku, hal itu juga berlaku dalam berbahasa.

Saat ini, saat bahasa Indonesia menapak usia 79 tahun, kita dapat menyaksikan fenomena kaum terdidik yang kadang-kadang masih menunjukkan nilai-nilai yang kurang baik, seperti tawuran antarpeserta didik, plagiarisme, demo anarkis, dsb. Bahkan ditengarai juga lunturnya rasa kebanggaan berbangsa, berbahasa, dan bernegara yang mulai merebak di berbagai wilayah, termasuknya berkembangnya benih ketidaksantunan berbahasa dalam beberapa bidang.

Ketidaksantuan berbahasa berkaitan dengan penggunaan bahasa yang tidak baik dan tidak sesuai dengan tata krama (brosur seminar magister pengkajian bahasa, UMS, 2014). Selain itu, ketidaksantunan berbahasa diartikan sebagai perilaku yang tidak memanfaatkan strategi-strategi kesantunan seperti yang diharapkan sehingga ujaran yang dihasilkan dapat diinterpretasikan bersifat konfrontasional secara sengaja atau secara negatif (Lakoff dalam Eelen, 2001:109). Ketidaksantunan juga diartikan sebagai perilaku dalam komunikasi yang menyebabkan petutur kehilangan muka atau petutur merasa kehilangan muka (Pramujiono, 2012). Ketidaksantunan yang menyebabkan kehilangan muka tersebut dapat terjadi karena adanya pertentangan dan konflik kepentingan. Ketika seseorang berusaha mempertahankan nilai-nilai sosial positif yang diyakininya dari ancaman atau tekanan orang lain, hal ini dapat memunculkan reaksi yang menyebabkan orang kehilangan muka (Cullpeper, 2008:36). Kalimat yang menghiasi demonstrasi para mahasiswa yang menyuarakan aspirasi dengan ancaman dan tekanan kerap menggunakan diksi berkonotasi negatif, misalnya ‘ keterlaluan’, ‘penipu’, ‘pembohong’, dan ‘brengsek’ memunyai daya restriksi yang kuat untuk mengancam muka sehingga kalimat yang menyertainya dikategorikan tidak santun.

Biarpun beberapa ahli menyampaikan pendapat tentang perbedaan kesantunan (impoliteness) dan kekasaran (rudeness) terkait dengan sengaja atau tidaknya hal tersebut dilakukan, dalam tulisan ini digunakan istilah ketidaksantunan yang di dalamnya termasuk kekasaran. Jadi, ketidaksantunan berbahasa merupakan perilaku berbahasa (baik disengaja maupun tidak disengaja) yang melanggar norma sosiokultural yang berlaku untuk menyerang muka petutur. Bahkan bagi masyarakat yang berpandangan preskriptif, ketidaksantunan berbahasa juga terwujud dari penggunaan baku atau tidaknya bahasa yang digunakan.

Dalam pandangan Cullpeper (2005), ketidaksantunan dapat terjadi ketika (1) perilaku penutur dalam komunikasi bertujuan menyerang muka, (2) Petutur merasakan perilaku yang dimaksudkan menyerang mukanya, atau (3) kombinasi dari (1) dan (2). Keadaan semacam itu terjadi karena adanya pertentangan dan konflik kepentingan dalam suatu komunikasi (Cullpeper, 2008:36).

Selanjutnya, salah satu lini kuat untuk membentuk karakter bangsa adalah bidang pendidikan. Dalam dunia pendidikan, ketidaksantunan berbahasa dikhawatirkan berdampak pada karakter penuturnya. Dalam hal ini, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2010 telah memaklumatkan Pendidikan Karakter untuk semua jenis dan jenjang bidang pendidikan. Karakter dalam bidang pendidikan dipumpunkan pada empat karakter dasar, yakni jujur, cerdas, tangguh, dan peduli (Tim Pendidikan Karakter Depdiknas, 2010).Upaya membentuk karakter lewat pendidikan di Indonesia telah dimulai pada masa Ki Hajar Dewantara. Saat itu dia menyatakan bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani peserta didik agar memajukan kesempurnaan hidup, yakni hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Tujuan pendidikan menurutnya adalah “penguasaan diri” (Kisyani-Laksono, 2011)

Berdasarkan hal itulah, tulisan ini bertujuan mengidentifikasi ketidaksantunan berbahasa yang ada dalam dunia pendidikan. Metode yang digunakan adalah wawancara dan observasi, yakni dengan mewawancarai lima pendidik dan lima peserta didik tentang bentuk-bentuk ketidaksantunan berbahasa yang pernah mereka jumpai. Selain itu, dilakukan juga penelusuran dengan observasi dan penelusuran lewat internet.

 

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan penelusuran lewat internet ditemukan dua jenis ketidaksantunan berbahasa, yakni ketidaksantunan dalam tulisan dan ketidaksantunan dalam ujaran. Berikut adalah pembahasan hal tersebut.

 

  1. Ketidaksantunan dalam Tulisan

 

a. Karya Ilmiah dan Ijazah: Plagiasi dan Ijazah palsu

Secara teori, ketidaksantunan selalu melibatkan pengancaman muka. Akan tetapi, pada beberapa sisi, dalam kegiatan akademis ada juga beberapa tindakan yang dilakukan dengan sadar dan justru mengancam muka penutur (bukan petutur). Contoh yang paling nyata adalah plagiasi atau autoplagiat dalam tulisan, khususnya karya ilmiah. Plagiasi atau autoplagiat pada dasarnya dapat dideteksi jika seseorang menuliskan sesuatu tanpa mencantumkan sumber, padahal tulisan tersebut sama dengan tulisan sebelumnya (tulisan orang lain atau tulisan sendiri). Plagiasi atau autoplagiat ini dianggap melanggar etika akademik. Akan tetapi, yang mengalami pengancaman muka adalah penutur/penulisnya sendiri yang kadang-kadang belum begitu dipahami oleh yang bersangkutan. Plagiasai atau autoplagiat pada dasarnya adalah wujud dari tindakan tidak jujur.

Kasus ijazah palsu yang mengemuka saat pelaksanaan program Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Jawa Timur tahun lalu dianggap pelanggaran etika akademik tingkat tinggi sehingga peserta dapat didskualifikasi. Seperti halnya plagiasi atau autoplagiat, yang terancam dalam hal ini adalah pelaku/orang yang dipalsukan ijazahnya. Kasus pemalsuan merupakan wujud dari pengingkaran karakter jujur.

 

b. Materi Ajar

Pada tahun 2010 ada pengadaan buku dari dana alokasi khusus (DAK) untuk SD yang memuat kata-kata yang tidak santun untuk siswa SD. Buku tersebut baru keluar tahun 2012. Cerita berjudul “Ada Duka di Wibeng”, misalnya, pada halaman 93 menyebut judul “Asal Mau Sama Mau.” Isi cerita tersebut seputar bagaimana berhubungan seksual tanpa menimbulkan kehamilan. Disebutkan juga bagaimana agar terhindar dari penyakit kelamin. Meski tokoh utama cerita tidak menyetujui hal tersebut, namun istilah-istilah seputar reproduksi disebutkan. (Tribun Jogja, Jumat, 8 Juni 2012 08:44 WIB)

Pada tahun 2012, istilah “istri simpanan” muncul dalam buku ajar untuk siswa kelas II SD. Munculnya istilah ini memicu kontroversi yang berujung pada ditariknya buku tersebut dari peredaran. Dalam kedua buku tersebut terdapat penggunaan diksi yang tabu bagi usia SD sebagai wujud ketidaksopanan yang ada dalam buku ajar tersebut. Dalam hal ini memang pengancaman muka tidak tampak nyata secara eksplisit. Walaupun demikian, setelah media ramai membahas buku-buku tersebut, ada keengganan dari para siswa untuk membacanya secara terang-terangan karena malu.

Selain itu, kata sapaan “kamu” yang muncul dalam buku ajar untuk mahasiswa dianggap kurang santun. Mahasiswa merasa lebih enak jika disapa dengan kata sapan “Anda” atau “Saudara”.

 

c. Poster

Ketidaksantunan dalam wujud tulisan banyak dijumpai dalam poster-poster para pendemo dari kalangan pendidik atau peserta didik. Tulisan “Turunkan X!”, “X pembohong”, “X brengsek” dst. menggunakan pilihan kata yang kasar (tidak santun) sebagai wujud dari karakter tidak peduli. Hal itu merupakan cermin bagaimana pengungkapan ekspresi para insan pendidikan.

 

d. Teknologi Informasi dan Komunikasi

Saat ini short message service (sms) yang meminta balasan, tapi tidak berbalas oleh kalangan pendidikan dianggap tidak santun (tidak memperhatikan/mengabaikan). Bahkan beberapa sms berita yang ditanggapi serampangan bisa memicu perseteruan. Contoh: sms dari seorang dosen kepada para mahasiswa yang mengabarkan berita duka “…As, pagi ini pk….telah berpulang Bp….,mhn doa supaya arwahnya diterima dan klg tegar. Jenazah akan diberangkatkan dari …, trm ksh, was. (…)”. Dari beberapa jawaban, ada satu jawaban yang membuat dosen tersebut marah. Jawaban yang dimaksudkan adalah “Saya sedang di luar kota”. Jawaban itu membuat dosen marah karena selain yang bersangkutan terkesan tidak memperhatikan juga karena jawaban tersebut menunjukkan tidak adanya simpati.

Pengiriman posel (email) dari mahasiswa kepada dosen tanpa kata-kata, hanya menyertakan lampiran saja juga dianggap sebagai hal yang tidak santun.

 

 

 

 

  1. Ketidaksantunan dalam Ujaran

 

a. Ancaman

Ketidaksantunan berbahasa ternyata juga dijumpai pada jenjang pendidikan paling awal, yakni taman kanak-kanak (TK). Dalam kelas TK, seorang guru yang melihat salah seorang muridnya yang bernama Fahmy tidak duduk di kursinya dan mondar-mandir saja di kelas tersebut kemudian berujar “Fahmi, Fahmi … kalau tidak bisa tenang nanti dipaku sama Bu Guru.” Kalimat ini pada dasarnya merupakan ancaman yang menakut-nakuti siswa. Memang saat itu siswa (Fahmy) yang mendengar kata “dipaku” kemudian duduk. Akan tetapi, ujaran ancaman ini secara tidak langsung bisa saja terpateri dalam ingatan siswa dan berdampak dalam tuturan atau tindakannya di kemudian hari karena guru selalu menjadi teladan sempurna untuk peserta didik pada tahap prasekolah bahkan sampai tahap sekolah dasar.

Contoh lain, pada saat ujian tesis, seorang penguji berkomentar “Anda ini bagaimana, wong sudah S-2 kok tidak paham fonem…oramudhengan. Piye yen ora lulus?” Komentar penguji ini pada dasarnya memandang rendah, mencemooh, dan sekaligus mengancam petutur. Saat itu petutur hanya tersenyum kecut dan mukanya memerah.

 

b. Tuduhan

Dalam suatu seminar atau rapat kerja, tidak jarang terjadi adanya saling serobot berbicara. Ada juga selingan penggunaan kata-kata yang tidak santun saat berdiskusi. Dalam suatu pertemuan ilmiah tahun 2013 tentang ujian nasional (UN) di Jakarta ada seorang peserta yang berkomentar setelah sajian Mendikbud dan Jusuf Kalla selesai. Dia menyampaikan “”Kalau UN ini kajiannya akademik, lantas mengapa pembicara kuncinya bukan akademisi? Kok malah politisi? Apa yang dinyatakan Jusuf Kalla menyesatkan”. Setelah itu peserta kemudian meninggalkan ruang sidang sambil membagikan selebaran. Saat masih di ruangan yang bersangkutan diminta oleh Mendikbud untuk mendengarkan jawaban, tapi tidak ditanggapi oleh yang bersangkutan. Bahkan Mendikbud juga menyampaikan pesan etika “”Kalau mau bertanya, sampaikan dengan baik, dengarkan jawabannya”. Dalam hal ini peserta tersebut sudah langsung menuduh bahwa sajian Jusuf Kalla dianggap menyesatkan. Bahkan hal tersebut dilanjutkan dengan aksinya meninggalkan ruangan dengan membagikan selebaran tanpa memedulikan permintaan Mendikbud untuk mendengarkan jawaban dulu.

 

 

c. Sapaan

Perbedaan budaya ternyata juga membawa pengaruh dalam pemilihan kata. Sapaan “kowe ‘Anda’ dalam bahasa Jawa di Solo dan Jogja ternyata dianggap tidak sopan untuk menyapa teman dalam komunikasi antardosen di Surabaya. Perhatikan tuturan berikut.

Y: Bu, kowe wis etuk undangan seminar? ‘Bu, apakah Anda sudah mendapatkan undangan seminar?’

M : Saya ini manusia loh, bukan kowe. Pakai ‘koen’ saja.

Y: Maaf (agak terkejut dan berhenti sejenak), sudah dapat undangan, Bu?

M: Sudah

Pembicaraan kemudian berganti topik.

 

Dalam hal kata sapaan, ada fenomena menarik saat ini, yakni berkembangnya sapaan “Bunda” yang oleh penutur dan petutur dianggap memiliki nilai rasa lebih tinggi (santun) daripada kata sapaan “Bu”[2]

 

Selain itu, penyebutan nama secara langsung oleh teman sebaya yang belum akrab tanpa atribut Bu atau Pak juga dianggap tidak sopan. Contoh: Saat ada pembicaraan mengenai pencurian di kantor, seorang guru, Bapak Budi bertanya-tanya. Kemudian temannya, Bapak W berkomentar: Ancen Budi ki, senengane mblayang wae nganti gak ngerti berita!, ‘Memang Budi ini, suka keluar terus sehingga tidak tahu berita’. Saat Bapak W yang merupakan guru senior ini berkomentar, Bapak Budi hanya dapat tersenyum kecut dan tidak berkomentar. Apa yang dilakukan oleh Bapak W tersebut pada dasarnya merupakan wujud kekurangpedulian terhadap perasaan Bapak Budi.

 

Dalam pergaulan, beberapa panggilan atau julukan sering tidak disukai oleh mahasiswa karena dirasakan seperti mengolok-olok. Contoh: nama “Mas Sirojuddin” yang dipanggil “Siro” oleh dosen ternyata tidak disukai oleh yang bersangkutan. Dia menyatakan keberatan dan minta dipanggil “Udin” saja karena Siro mengingatkannya pada tokoh anjing putih milik Sinchan. Jika setelah itu ada dosen atau temannya yang tetap memanggilnya Siro, itu merupakan bentuk ketidaksantunan berbahasa. Selain itu, julukan negatif untuk mengolok-olok seperti “gendut”, “tembem”, “item”, “killer” juga merupakan julukan yang kurang disukai dan penyebutannya dianggap tidak santun. Yang menjadi catatan di sini adalah ukuran ketidaksantunan yang dimaksudkan ternyata diukur dari rasa suka atau tidaknya yang diberi julukan. Lepas dari hal tersebut, pemberian julukan negatif untuk mengolok-olok ini merupakan salah satu wujud dari tindakan tidak peduli.

 

d. Pembiasaan

Saat ini, lagu anak-anak yang sarat dengan karakter perlahan mulai samar terdengar. Bahkan peserta didik yang belum mengenyam pendidikan dasar, dengan riangnya menyanyikan lagu-lagu remaja dan dewasa yang berisikan nilai-nilai hidup yang belum pantas untuk mereka dapatkan karena mereka dibiasakan untuk mendengar lagu-lagu tersebut. Sedari kecil mereka telah terbiasa mendengarkan lagu-lagu yang belum pantas untuk mereka terima yang tentu akan berdampak pada perkembangan kepribadian mereka (kalimat “Ingin kucumbu dirimu” tentu masih belum pantas diucapkan oleh anak-anak). Selain itu, dalam beberapa lomba lagu untuk peserta anak-anak, beberapa lagu dewasa menjadi lagu wajib. Pembiasaan semacam ini tentu akan mempengaruhi kepribadian mereka.

Pada sisi lain, bagi pendengar dewasa, lagu yang membangkitkan imajinasi berlebihan juga menimbulkan kontroversi. Lagu “Cucak Rawa” bahkan pernah diseminarkan secara khusus dengan peserta para pendidik.

 

Catatan tambahan:

Ukuran kesantunan dan ketidaksantunan berbahasa pada dasarnya dapat ditentukan oleh kelompok melalui konvensi berdasarkan waktu tertentu. Apa yang dulu diidentifikasi tidak santun sekarang dapat dianggap hal yang biasa atau lumrah. Saat ini bahasa Indonesia menghadapi dilema terkait dengan penggunaan istilah asing yang marak penggunaannya, bahkan pada beberapa sisi istilah tersebut dianggap lebih bergengsi (lebih santun) daripada istilah aslinya dalam bahasa Indonesia. Hal ini tentu semakin meninggikan posisi istilah tersebut sehingga kecenderungan masyarakat untuk menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia akan semakin terpinggirkan (cf. Kisyani-Laksono, 2013). Hal itu tampak dalam istilah driver untuk menggantikan ‘sopir’, security untuk menggantikan satpam, omelet untuk menggantikan ‘dadar’, dan masih banyak yang lainnya. Jika anggapan itu dapat dibalik bahwa istilah dalam bahasa Indonesia lah yang minimal dianggap lebih baik, bahkan bisa juga dikumandangkan lebih santun….Insya Allah masyarakat akan kembali berpaling kepada istilah-itilah tersebut sehingga karakter tangguh dapat lebih terpelihara dalam berbahasa.

 

 

 

 

SIMPULAN

Wujud ketidaksantunan berbahasa dalam dunia pendidikan dapat dijumpai dalam tulisan dan ujaran dengan berbagai ragamnya. Dalam bentuk tulisan, ketidaksantunan berbahasa terdapat dalam karya ilmiah dan ijazah palsu, materi ajar, poster, dan TIK. Dalam ujaran, ketidaksantunan berbahasa berwujud pada ancaman, tuduhan, sapaan, dan pembiasan. Yang menarik adalah ketidaksantunan berbahasa ternyata sudah dijumpai sejak jenjang pendidikan TK bahkan sampai perguruan tinggi. Ketidaksantunan berbahasa yang dilakukan oleh pendidik akan menjadi contoh nyata bagi peserta didiknya. Jika contoh tersebut diikuti, kesantunan berbahasa ini tentu berdampak pada karakter masyarakat tuturnya, khususnya karakter jujur, cerdas, tangguh, dan peduli. Bentuk ketidaksantunan berbahasa ini akan semakin berkembang manakala tidak ada upaya untuk meminimalkannya. Oleh sebab itu, sebaiknya peminimalan ketidaksantunan berbahasa dimulai dari setiap individu. Selain itu, diharapkan dapat tumbuh anggapan bahwa untuk kosakata yang sama, kosakata dalam bahasa Indonesia lebih baik (lebih santun) daripada kosakata dalam bahasa lain.

Selain itu, perlu pula digagas rapor karakter yang didalamnya termasuk rapor kesantunan berbahasa untuk para pendidik, peserta didik, dan tenaga kependidikan. Paling tidak rapor tersebut akan menjadi refleksi untuk dapat berbahasa lebih baik/lebih santun. Dalam lingkup pendidikan, rapor berbahasa dapat menjadi pendamping bagi nilai-nilai akademis dan rapor tersebut juga wajib lulus.

Pada sisi lain, karakter bukan hanya ditentukan oleh pendidikan formal. Oleh sebab itu peran keluarga, masyarakat, media massa, ICT, dan para pemimpin diharapkan dapat lebih diberdayakan untuk teladan-teladan kesantunan yang menginspirasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

Cullpeper, J. 2005. “Impoliteness and Entertainment in The Television Quiz Show: The Weaknest Link.” in Journal of Politeness Research Language, Behavior, Culture. Volume 1, Issue 1, pages 35-72. ISSN (Online): 1613-4877 January 2005.

____________. 2008. “Reflection on Impoliteness, Relational Work, and Power” in Impoliteness in Language Studies on its Interplay with Power in Theory and Practice (Derek Bousfield and Miriam A. Locher Ed.). Berlin: Mouton de Gruyter.

Eelen, G. 2001. Kritik Teori Kesantunan (Penerjemah Jumadi dan Slamet Rianto). Surabaya: Airlangga University.

Pramujiono. Agung. 2012. “Kesantunan BerbahasaDalam Wacana Dialog Di Televisi”.Disertasi. Surabaya: Unesa.

Kisyani-Laksono. 2005. Bahasa Jawa di Jawa Timur Bagian Utara dan Blambangan. Jakarta: Pusat Bahasa.

___________. 2011. “Meretas Jalan Menuju Pendidikan Masa Depan”. Dalam Rekonstruksi Pendidikan. Surabaya: Unesa Press.

____________. 2013. “Penguatan Diplomasi Kebahasaan Menuju Seabad bahasa Indonesia Bermartabat”. Dalam Kongres Bahasa Indonesia. Jakarta.

Tim Pendidikan Karakter. 2010. Desain Induk Pendidikan Karakter Bangsa. Jakarta: Depdiknas.

Tribun Jogja. Jumat, 8 Juni 2012. “Safira Kaget Baca Kalimat tak Sopan”. Dalam www. Tribun jogja.com.

UMS. 2014. Brosur Seminar Magister Pengkajian Bahasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Ketidaksantunan Berbahasa dan Dampaknya Dalam Pembentukan Karakter, Magister Pengkajian Bahasa, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 25 Januari 2014.

[2] Bentuk yang lebih panjang biasanya merupakan bentuk yang lebih santun. Dalam bahasa Jawa, istilah krama terbukti sama atau lebih panjang daripada ngoko-nya (Kisyani-Laksono, 2005).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: