Meretas Jalan Menuju Pendidikan Masa Depan

 

Meretas Jalan Menuju Pendidikan Masa Depan

Kisyani-Laksono

 

Sejak zaman dahulu, setelah lahir di dunia ini, manusia ditempa melalui suatu proses agar dapat bertahan hidup (survive).  Proses itulah yang kemudian berkembang dan kita kenal dengan nama “pendidikan” dalam arti luas. Dalam “pendidikan”, manusia dididik untuk mengetahui sesuatu hingga melakukan sesuatu.  Dalam hal ini,  “pendidikan untuk hidup” menjadi hal yang utama.

Seiring dengan berkembanganya peradaban, pendidikan pun mengarah pada upaya  mempersiapkan manusia untuk menjadi seseorang  yang dapat  memenuhi fungsi hidupnya. Hal itu dilakukan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat, bangsa, dan dunia. Untuk itu, manusia juga dipersiapkan agar mampu memikul tanggung jawab atas semua perbuatannya (cf. Soegarda Perbakawatja). “Pendidikan untuk hidup” pun bergeser menjadi “pendidikan untuk kehidupan”.

Gagasan tersebut sejalan dengan empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh Unesco, yaitu: (1) learning to know ‘belajar untuk mengetahui’, (2) learning to do ‘belajar untuk melakukan sesuatu’, dalam hal ini kita dituntut untuk trampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be  ‘belajar untuk menjadi seseorang’, dan (4) learning to live together ‘belajar untuk menjalani kehidupan bersama’.

Berkaca dari hal itu, pendidikan pasti akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Di Indonesia, wajib belajar 9 tahun masih terus dilaksanakan (pertanda masih ada masyarakat yang enggan menyekolahkan anaknya atau anak yang enggan bersekolah); pemerataan tenaga terdidik belum terlaksana dengan baik, bahkan pengangguran terdidik ada di mana-mana, khsususnya di kota-kota besar sementara daerah terpencil dan tertinggal masih kekurangan tenaga. Padahal  pembelajaran seharusnya memiliki asas ketersediaan, keterjangkauan, kesetaraan/keadilan, kualitas, kepastian, dan kontinuitas. Dengan asas ini, seharusnya semua orang punya kesempatan yang sama untuk memaksimalkan setiap potensi yang ada dalam diri mereka.

 

Selain itu, pendidikan tampaknya juga belum membumi sehingga lulusan berbagai jenjang pendidikan belum seperti yang diharapkan. Kaum terdidik kadang-kadang masih menunjukkan nilai-nilai yang kurang baik, seperti tawuran antarpeserta didik, plagiarisme, demo anarkis. Bahkan ditengarai juga lunturnya rasa kebanggaan berbangsa, berbahasa, dan bernegara yang mulai merebak di berbagai wilayah.  Pemerintah pun mulai menggagas beberapa pemikiran terkait solusi untuk berbagai masalah itu, dan Indonesia patut berbesar hati dan menggantungkan harapan pada “Pendidikan Karakter” yang mulai diimplementasikan belakangan ini. Pendidikan karakter yang membumi, yang berorientasi pada kehidupan (kecakapan hidup/ life skill) dan bermuara pada pembangunan karakter bangsa (membelajarkan dan mempraktikkan nilai-nilai unik-baik) diharapkan dapat menjadi solusi.

Di sisi lain, derasnya arus teknologi informasi juga memunculkan transformasi besar yang  terjadi di dunia pendidikan. Ini tentu akan mengubah model pembelajaran yang selama ini dikenal luas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Saat ini dan masa mendatang, guru bukan lagi menjadi sumber pengetahuan, tetapi lebih tepat sebagai  fasilitator yang menyampaikan pembelajaran: mengarahkan peserta didik sesuai kebutuhan mereka, mengidentifikasi bahan yang relevan, memberikan kesempatan belajar secara kolaboratif, serta memberikan wawasan dan dukungan kepada para peserta didik.

Model pembelajaran masa depan akan sangat ideal jika dapat memadukan pembangunan karakter serta  teknologi informasi yang  berujung pada  pemayaan kelas-kelas konvensional yang selama ini ada (ada redefinisi ulang ruang belajar). Berikut ini beberapa gambaran yang tampaknya akan berlibat dan terlibat  dalam pendidikan masa depan.

 

A. Pembangunan Karakter

Upaya membentuk karakter lewat pendidikan di Indonesia telah dimulai pada masa Ki Hajar Dewantara. Saat itu dia menyatakan bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran,  serta  jasmani peserta didik agar memajukan kesempurnaan hidup, yakni hidup dan  menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Tujuan pendidikan menurutnya adalah “penguasaan diri”.

Saat ini, pendidikan  seolah menjadi menu pokok kehidupan. Anak perlu bersekolah dan orang tua  ingin anaknya memperoleh layanan pendidikan yang baik (sekolah yang baik). Beberapa orang tua bahkan menyatakan lebih baik membekali anak-anak mereka dengan ilmu daripada dengan harta. Pada umumnya, para orang tua menyekolahkan anak dengan harapan “supaya anak pintar, dan jika pintar dia akan memperoleh pekerjaan yang baik sehingga masa depannya terjamin”. Jarang yang berpendapat  “supaya anak saya lebih tahu tata krama, lebih sopan, lebih peduli, atau lebih jujur”. Tampaknya, nilai kecerdasan intelektual menempati posisi utama dalam pendidikan. Perihal  tata krama dan nilai-nilai unik-baik kurang mendapat perhatian.

Beberapa kejadian di dunia dan di Indonesia terkait menipisnya tata krama dan nilai-nilai unik-baik  mendudukkan pendidikan pada posisi yang diharapkan dapat memperbaiki hal itu. Tawuran antarpelajar, plagiarisme, pergolakan sosial, menjadi hal-hal yang sangat sering dijumpai akhir-akhir ini.  Dalam hal ini perlu dikembangkan karakter “jujur, cerdas, tangguh, dan peduli” (empat karakter yang dicanangkan oleh Indonesia dalam dua tahun terakhir ini).

Selain itu, di Indonesia, lunturnya rasa kebanggaan berbangsa, berbahasa, dan ber-Pancasila mulai merebak di berbagai wilayah. Saat ini, ada beberapa pihak yang mengalami krisis kepercayaan diri. Hal ini berpengaruh terhadap menurunnya upaya untuk menghargai budaya sendiri.  Produk-produk buatan luar negeri dianggap lebih baik daripada produk dalam negeri. Beberapa pihak tampaknya minder (rendah diri) terhadap hal tersebut sehingga pemerintah  pun perlu menyosialisasikan motto   “Aku cinta buatan Indonesia”.  Selain itu, saat kita masuk ke Plaza Indonesia dan The Plaza di Jakarta, mari kita hitung, berapa banyak kata bahasa Indonesia yang kita jumpai sebagai petunjuk arah, menu makanan, atau nama toko? Dalam denah petunjuk yang ada di Plaza itu hanya kata “Indonesia” dalam “Plaza Indonesia” yang berbahasa Indonesia, selebihnya adalah bahasa Inggris, mulai dari tulisan  “You are here, north lobby, west lobby, thamrin lobby, south lobby. The plaza office, car calls; Alphabetical Shops list Plaza Indonesia extension, luxury brands: home & lifestyle; food and beverage; gitfs, vhocolates, and florist”, dst. Masuk ke tempat itu terasa kita tidak seperti berada di Indonesia.

Jadi, tampaknya, perlu gerakan mencintai dan menghormati bahasa Indonesia di negeri sendiri. Penggunaan bahasa lain dapat saja dilakukan, akan tetapi alangkah baiknya jika itu ditulis dengan bahasa Indonesia terlebih dahulu, baru diikuti bahasa asingnya. Saat ini sudah ada Undang-undang Bahasa sebagai upaya penghormatan dan penghargaan kita terhadap bahasa Indonesia. Tetapi, tampaknya pelanggaran terhadap undang-undang bahasa itu tidak berakibat apa-apa.  Karakter  “cinta tanah air, cinta bahasa, cinta budaya, dan cinta produk Indonesia” perlu terus diteladankan dan ditumbuhkembangkan.

 

Berangkat dari hal-hal itulah pendidikan masa depan selayaknya menempatkan pendidikan karakter sebagai pumpunan (fokus) utama. Pendidikan karakter inilah yang seharusnya mengawal seorang peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan. Pendidikan karakter akan berdampak pada tempat kerja yang menyenangkan dan penuh kasih sayang, tempat belajar yang penuh cinta, dan pergaulan yang menyenangkan dengan orang-orang yang jujur, cerdas, tangguh, peduli, dan cinta tanah air. Dalam hal ini, materi pembelajaran sebaiknya dibuat oleh guru, karena gurulah yang paling tahu karakter peserta didiknya.

 

B. Pembelajaran Berbasis Web

Web merupakan interface (antarmuka) internet yang paling populer. Selain itu, web merupakan salah satu wujud dari teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di samping pos-el (pos elektronik), telepon genggam, dan video conference. Saat ini, TIK telah berkembang dengan pesat karena dikembangkannya satelit komunikasi dan serat kaca (fiber optics).  Pada dasarnya, semua wujud TIK mempunyai masa depan yang menjanjikan sebagai sarana pembelajaran. Akan tetapi, sarana yang paling populer saat ini adalah  web yang bahkan telah dikenalkan pula dalam pembelajaran.

Bill Gates pernah menyatakan “Knowledge at your fingertips… .”  Ini menyiratkan bahwa pengetahuan bisa  kita dapatkan hanya dengan menggunakan jari-jari kita yang menyentuh tombol-tombol (contoh: tombol telepon, telepon genggam, atau keyboard komputer). Jika dulu guru adalah tempat bertanya, maka seiring dengan merebaknya TIK, web dengan beberapa laman-laman tertentu menjadi tempat bertanya menggantikan peran guru, misalnya: google, wikipedia, yahoo, dll.

Saat ini sudah banyak bisnis yang dilakukan lewat internet. Sesorang tak perlu keluar rumah untuk menjalankan bisnisnya. Tampaknya, model pembelajaran pun akan bergeser. TIK berbasis web semakin pasti akan menggeser model-model pembelajaran di masa depan. Pembelajaran elektronik (e-learning) berbasis web akan menjadi  pilihan yang paling memungkinkan di antara sederet model pembelajaran lain. Beberapa modul dapat diinisiasi dalam pembelajaran e-learning, bahkan lama-kelamaan modul-modul tersebut akan dapat diunduh dengan gratis. Saat ini sudah ada modul MIT opencourseware yang dapat diakses dan diunduh  gratis.

Melalui pembelajaran berbasis web, semua orang dapat menjadi peserta didik. Dalam hal ini, slogan “pembelajaran untuk semua” dapat terwujud. Anak-anak yang perlu waktu untuk membantu pekerjaan orang tuanya, yang tidak mampu pergi ke suatu tempat karena ongkos transportasi lebih mahal, mereka semua dapat berkarya tanpa perlu meninggalkan rumah. Mereka dapat mengikuti pembelajaran berbasis web. Tampaknya model pembelajaran tersebut  akan banyak diminati masyarakat. Bahkan lembaga pendidikan yang memberdayakan TIK pun perlu melakukan redefinisi ruang belajar. Saat ini juga, beberapa laman di internet sudah menyediakan ruang-ruang pembelajaran. Lama-kelamaan web pun pasti akan lebih baik daripada kondisinya sekarang.

TIK erat berkait dengan komputer. Dalam hal teknologi komputer, saat ini sudah banyak diketahui adanya  teknologi untuk memindahkan tulisan menjadi suara.  Bahkan teknologi yang mengandalkan menu “speech” (dengan logat bahasa Inggris) sudah disematkan di salah satu merk komputer. Bukan tak mungkin nanti speech dengan pilihan logat bahasa tertentu akan segera ada (aplikasi tulis ke suara). Bahkan  teknologi untuk menyalin suara langsung ke bentuk tulis (tanpa kita mengetiknya)  juga sudah diperkenalkan belasan tahun lalu, saat komputer masih menggunakan floppy disk besar (catatan:  tahun 2000-an sudah ada program “Dragon” yang disediakan untuk itu dengan cara seseorang harus membaca sekian puluh naskah sehingga suaranya dapat dikenali). Saat ini aplikasi suara ke tulis (voice to text converter) sudah semakin berkembang. Dengan aplikasi ini, pada saat seseorang berbicara, di layar langsung keluar tulisan sesuai apa yang diucapkan oleh orang tersebut.  Selanjutnya, diharapkan  hal itu dapat juga langsung tercetak dengan huruf braille.

Jika hal ini sudah menyebar luas, seorang guru dapat saja berbicara di kelas (jika masih menggunakan kelas) dan di layar langsung akan  muncul tulisan-tulisan mengenai apa yang disampaikan itu dan ada juga catatan dalam bentuk cetak (print out) dalam huruf biasa dan braille. Pada saat itulah kelas inklusif akan semakin berkembang,  pembelajar bahasa akan lebih mudah mencerna, dan peserta didik yang absen karena berbagai alasan dapat terbantu. Catatan itu dapat juga langsung masuk ke perpustakaan dunia maya. Di masa depan, perpustakaan dunia maya inilah yang akan mendominasi. Oleh sebab itu, saat ini penyediaan akses internet di perpustakaan sangat diperlukan.

Selain itu, pada saatnya nanti, harga komputer akan semakin terjangkau. Jaringan listrik atau yang sejenisnya juga akan semakin menjangkau daerah-daerah terpencil. Saat itu impian  satu orang/ satu peserta didik satu komputer akan terwujud, dan komputer dengan sambungan internet dapat juga berperan sebagai guru maya  yang akan memenuhi  ruang-ruang pengetahuan peserta didik dengan ilmunya. Dalam hal inilah peran guru/pendidik benar-benar diperlukan untuk menyaring dan menyampaikan  informasi yang disajikan supaya informasi tersebut benar-benar dapat dipertanggungjawabkan isinya.  Jika pendidik menjumpai informasi yang dapat menciderai karkater, dia dapat meneruskan informasi tersebut kepada pemerintah sehingga pemerintah dapat menutup atau membatalkan akses informasi yang menyesatkan.

Dengan bekal satu komputer satu peserta didik, pembelajaran dapat dilakukan di mana saja.  Pada saatnya, pembelajaran di kelas dengan kelompok-kelompok rombongan belajar mungkin akan ditinggalkan. Akan ada pembelajaran bergerak  lewat  kumputansi awan (cloud computing). Pada saat itulah, seorang  peserta didik dapat lebih terlayani secara  maksimal karena kebutuhannya terhadap sesuatu dapat langsung tersediakan sesuai pilihannya (personalized learning). Pembelajaran semacam ini dapat dimulai dengan penyediaan materi kuliah online. Oleh sebab itu, perlu dirintis upaya  memasukkan materi kuliah online  sebagai bagian dari kurikulum dan menjadi syarat kelulusan.

 

C. Perpaduan pembangunan karakter dan Pembelajaran Berbasis Web

 

Berdasarkan pelajaran masa lalu dan masa kini, pendidikan berbasis web tampaknya akan dominan di masa depan. Akan tetapi, pembelajaran berbasis web saja belum dapat menjawab kebutuhan manusia untuk menjadi seseorang  yang memenuhi fungsi hidupnya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk masyarakat, bangsa, dan dunia;  serta mampu memikul tanggung jawab atas semua perbuatannya.

Dalam hal ini perlu perpaduan antara pembelajaran berbasis web (mengadopsi TIK) dengan nilai-nilai karakter. Materi pembelajaran dan beberapa tagihannya seharusnya berkarakter atau menampakkan wujud-wujud keteladanan. Selain itu, pembelajaran berbasis web yang salah satunya diwujudkan dengan pembelajaran online tetap wajib didukung  praktik-praktik yang diperlukan sebagai bentuk keteladanan langsung.  Selain itu, perlu juga ada praktikum-praktikum untuk bidang ilmu yang memerlukannya.  Impian untuk mewujudkan  “Pendidikan untuk kehidupan masa depan melalui pendidikan berkarakter yang berbasis web”  itu perlu terus diwujudkan keterjangkauannya, sehingga semua orang punya kesempatan yang sama untuk memaksimalkan potensi yang ada pada diri mereka. Untuk itu diperlukan guru yang berkualitas (termasuk yang mampu menjadi teladan bagi nilai-nilai karakter), standar pendidikan yang berkualitas, sarana dan prasarana yang memadai, dan peserta didik yang benar-benar  mau belajar.  Semoga peretasan jalan pendidikan masa depan dapat terwujud seperti yang diimpikan sehingga mampu mewujudkan masa depan yang lebih baik.

 


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: