Sastra dan Perubahan Sosial, 1998

SASTRA DAN PERUBAHAN SOSIAL

Oleh: Kisyani-Laksono (Karyasiswa S-3 Linguistik, UGM)

Simposium Internasional Ilmu-Ilmu Humaniora V, 1998

ABSTRACT

Literature represents ‘life’, and ‘life’ is, in large measure, a social reality. Besides, literature has also a social function, or ‘use’, which cannot be purely individual. In a competitive society, the norms of the upper elites, quickly imitated, are in constant need of replacement. Certainly the present rapid changes of image seem to reflect the rapid social changes of the last decades, for instance: demonstration of people power. These people power were reflected in W.S. Rendra’s and Taufiq Ismail’s poems. Rendra’s and Taufiq Ismail’s poems reflected mindful satire, irony, and ridicule between two power. These poems is assumed as pictures of social reality and social changes in Indonesia at this time (Nor can it be doubted that some kind of social picture can be abstracted from literature). Besides, monetery crisis has been predicted Sapardi’s poem in “Mata Pisau”. In this moment, literature can indirectly by connected with concrete economical, political, and social situation changes. Another example is a short story “Pembunuh” by Suhariyanto Sutijoso. Clearly, a social literaure is only kind of literature. And literature has own justification and aim (Wellek and Warren, 1962).

A. PENDAHULUAN

Sastra menyajikan ‘kehidupan’, dan ‘kehidupan’ sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial. Di samping itu, sastra mempunyai fungsi sosial atau manfaat yang tidak sepenuhnya bersifat pribadi. Dalam masyarakat modern yang penuh persaingan, norma-norma elit atas cepat ditiru dan cepat pula diganti dengan yang baru (cf. Wellek dan Warren, 1978). Perubahan selera yang sangat cepat akhir-akhir ini menunjukkan perubahan sosial yang cepat pula. Hal itu dapat dicontohkan dengan maraknya demonstasi yang menunjukkan kekuatan rakyat akhir-akhir ini. Selanjutnya, suatu karya sastra merupakan ekspresi dari obsesi pengarang. Sastra yang baik akan mampu memberikan renungan bagi kita, atau paling tidak dapat memberi kita sesuatu atau mengingatkan kita pada sesuatu. Salah satu wujud dari sesuatu itu adalah perubahan sosial. Perubahan-perubahan itu dapat diterima dan dapat juga ditolak bergantung pada persepsi penerimaan masyarakatnya. Secara evolutif, perubahan itu sedikit demi sedikit dapat mengubah pola budaya masyarakat. Akan tetapi, kadang-kadang perubahan itu terjadi dengan drastis saat masyarakat belum siap sehingga akan muncul hentakan dan kekagetan sosial . Dalam hal ini, sastra sebagai salah satu respon khas pribadi seseorang dalam menyikapi kehidupannya diharapkan dapat ikut berperan dalam perubahan sosial itu.

Dalam kehidupan, manusia tidak akan luput dari perubahan (termasuk perubahan sosial) . Selain itu, kehidupan pada hakikatnya merupakan proses menuju ke suatu bentuk. Alam dan manusia secara bersama-sama berproses menuju bentuknya. Dalam berproses, masa lampau, sekarang, dan masa yang akan datang selalu bergerak. Masa lampau menjadi lebih lampau, sekarang menjadi masa lampau, masa yang akan datang menjadi sekarang, dan masa yang belum datang menjadi masa yang akan datang tanpa mampu untuk ditolak. Menurut Adler, dari segi psikologis hidup manusia diarahkan secara finalistis dan setiap manusia mempunyai rencana hidupnya sendiri yang tidak disadarinya. Semacam kekuatan abstrak telah menuntun manusia di dalam prosesnya. Sejalan dengan pendapat Adler, Freud juga menyatakan bahwa jiwa tak sadar itu merupakan pengemudi hidup manusia tanpa manusia itu sendiri merasakan dan mengetahuinya (Hall, 1959). Dalam kondisi yang demikian manusia tidak dapat didefinisikan karena ia belum berbentuk, selalu bergerak, dan berkembang. Begitu manusia sadar akan eksistensinya, ia sudah berada di dalam proses yang tidak diketahui alfa dan omeganya. Selanjutnya, pada saat manusia berada di dunia ini, saat itu pulalah manusia mulai berhadapan dengan pertanyan tentang sesuatu, baik yang menyangkut diri sendiri maupun lingkungan. Tetapi anehnya, selalu hadir jawaban yang tak pasti,. Ada sesuatu yang diam-diam tetap tersembunyi dalam misterinya. Selama sesuatu itu belum terjawab, manusia akan selalu dalam kegelisahan karena kehidupan bagi manusia tak lain adalah suatu misteri, sebuah proses dialektika yang gelap. Petualangan mencari jawaban terhadap sesuatu itu rasanya begitu melelahkan. Berbagai tantangan dasar kehidupan manusia seperti: maut, cinta, harapan, tragedi, loyalitas, kekuasaan, arti dan tujuan hidup, serta kedudukan hal-hal yang transendental dalam eksisitensi manusia akan selalu hadir dalam kehidupannya (Sujatmoko, 1983). Dalam hal ini, manusia sebagai makhluk yang terlibat dan berlibat akan memberikan respon yang diharapkan mampu berperan sebagai alternatif untuk mencapai keseimbangan mentalnya. Apabila yang memberikan respon khas pribadi itu seorang pengarang, maka respon khas pribadi yang bersifat idiosinkretik itu paling tidak akan terasa dalam karya-karyanya. Dalam kondisi yang semacam itu muncul suatu pertanyan: Apakah karya sastra sebagai salah satu respon khas pribadi seseorang dalam menyikapi kehidupannya akan ikut berperan dalam perubahan sosial?

B. SASTRA DAN PERUBAHAN SOSIAL

Kehadiran sastra (dalam hal ini: susastra, yaitu sastra yang baik) merupakan salah satu sisi yang menarik untuk lebih mendalami sesuatu karena susastra merupakan salah satu wujud dari pengalaman hidup seseorang. Susastra menampilkan peristiwa kehidupan manusia, harapan-harapannya, keputusasaannya, pamrihnya, siasatnya, serta absurditas-absurditasnya sebagai suatu dimensi peristiwa kehidupan yang lebih menyeluruh tentang manusia yang meliputi dimensi ontologis dan dimensi metafisis (Cf. Sutardja, 1982).

Pengarang termasuk dalam golongan marginal man, yaitu manusia yang berada dalam batas dua kebudayan atau lebih yang berbeda dan saling bersentuhan. Masalah integrasi budaya yang mengandung banyak konflik justru merupakan sumber kreativitas yang tidak pernah kering. Seorang pengarang yang baik akan senantiasa merespon dan berdialog dengan masyarakat lingkungannya. Berikut ini disajikan contoh susastra yang relatif singkat, yaitu puisi dan cerpen. Dalam puisi, W.S. Rendra mengemukakan keberpihakannya pada rakyat jelata dan “kemarahannya” pada pihak penguasa atau pemerintah. Selain itu, puisi Taufiq Ismail menyuguhkan masalah rantai kehidupan, sedangkan Sapardi Djoko Damono menyuguhkan masalah integrasi budaya. Selanjutnya, dalam cerpen, Suhariyanto Soetijoso mencoba mengurai esensi seorang ‘pembunuh’ . Berikut ini pembicaraan masing-masing.

a. Puisi W.S. Rendra

Pernyataan dari Rakyat: Menghadapi Kekuasaan yang Tidak Adil

Karena kami makan akar, dan terigu menumpuk di gudangmu

Karena kami hidup berhimpitan, dan ruanganmu berlebihan.

Maka, kita bukan sekutu.

Karena kami kucel, dan kamu gemerlapan.

Karena kami sumpek, dan kamu mengunci pintu

Maka kami mencuri kamu.

Karena kami terlantar di jalan, dan kamu memiliki semua keteduhan.

Karena kami kebanjiran, dan kamu berpesta di kapal pesiar.

Maka kami tidak menyukaimu.

Karena kami dibungkam, dan kamu nerocos bicara.

Karena kami diancam, dan kamu memaksakan kekuasaan.

Maka kami bilang, tidak…! Kepadamu.

Karena kami tidak boleh memilih, dan kamu boleh berencana.

Karena kami cuma bersandal, dan kamu bebas memakai senapan.

Karena kami harus sopan dan kamu punya penjara. Maka, tidak….! dan tidak…! Kepadamu.

Karena kami arus kali, dan kamu batu tanpa hati, Maka air akan mengikis batu.

 

Dalam puisi ini, Rendra semakin meneguhkan kedudukannya sebagai penyair yang peduli dengan rakyat kecil. Puisi-puisinya mencerminkan keberpihakannya pada rakyat jelata. Puisinya juga selalu sarat dengan kritik sosial yang biasanya ditujukan pada pemerintah. Perubahan soial yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini juga direkam dan dikemukakan lagi dengan jeli dalam bentuk puisi. Dalam puisi “Pernyataan dari Rakyat” ini, Rendra mengungkapkan dengan gamblang adanya “people power” (arus kali) yang berhasil mengikis pihak penguasa atau pemerintah (batu kali tanpa hati). Di sini terdapat unsur mengejek dan ironi antara dua kekuatan, yaitu rakyat dan penguasa. Rakyat jelata digambarkan sebagai orang yang papa dan sarat dengan derita kekurangan. Hal ini digambarkan dengan: makan akar, hidup berihimpitan, kucel, sumpek, terlantar di jalan, kebanjiran, dibungkam, diancam, tidak boleh memilih, cuma bersandal, dan harus sopan. Sedangkan di sisi lain kehidupan penguasa yang otoriter digambarkan penuh dengan gelimang kemewahan dan kekuasan yang dikemukakan dengan kata-kata: terigu menumpuk di gudang, ruangan berlebihan, gemerlapan, mengunci pintu, memiliki semua keteduhan, berpesta di kapal pesiar, nerocos bicara, memaksakan kekuasaan, bebas berencana, bebas memakai senapan, punya penjara. Perbedaan yang sangat tajam antara dua kelompok ini membuahkan sikap keras pula pada rakyat jelata. Hal itu digambarkan dengan: kita bukan sekutu, kami mencuri harta kamu, kami tidak menyukaimu, kami bilang tidak…! Kepadamu, tidak…! dan tidak…! Kepadamu. Puisi ini merupakan potret kenyataan perubahan sosial masyarakat Indonesia pada tahun ini (memang ada semacam potret sosial yang dapat ditarik dari karya sastra) . Puncak peristiwa ini terjadi pada bulan Mei saat presiden ke-2 RI lengser dari jabatannya. Lengser-nya presiden ini dapat disamakan dengan lengser-nya pemerintah karena presiden merupakan simbol penguasa pemerintahan. Saat inilah yang digambarkan dengan …air akan mengikis batu.

a. Puisi Taufiq Ismail

Dalam salah satu puisi terbarunya, Taufiq Ismail menulis:

Mahasiswa takut pada dosen

Dosen takut pada rektor

Rektor takut pada menteri

Menteri takut pada presiden

Dan presiden takut pada mahasiswa

 

Dalam puisi ini, ada “students power” yang tercermin. Seperti halnya puisi Rendra, di sini juga terdapat unsur mengejek dan ironi antara dua kekuatan (mahasiswa-dosen, dosen-rektor, rektor-menteri, menteri-presiden, presiden-mahasiswa). Puisi ini juga merupakan potret kenyataan perubahan sosial masyarakat Indonesia pada tahun ini yang terjadi pada saat presiden ke-2 RI lengser dari jabatannya. Lengser-nya presiden ke-2 ini secara tidak langsung berkaitan dengan anggapan mengenai “ketidakmampuannya” menangani perkembangan terakhir yang makin memanas di Indonesia. Dasar dari anggapan ini dimotori dan dikumandangkan oleh para mahasiswa. Pada saat itu, mahasiswa telah menduduki gedung MPR dengan tuntutan supaya presiden mundur. Hal itu digambarkan oleh Taufiq sebagai ke‘takut’an seorang presiden pada mahasiswa. Taufiq menangkap hal ini dengan jeli sekali dan menuangkannya dalam bentuk rantai yang tidak terputus. Segala sesuatu akan kembali secara alamiah. Selanjutnya, rantai juga merupakan salah satu simbol dalam Pancasila, yaitu simbol dari ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’. Jadi, mata rantai yang tersimpan dalam puisi di atas menunjukkan bahwa kejadian atau hal itu merupakan hal yang adil karena pada akhirnya rantai itu tersambung dan kembali ke bawah. Puisi itu juga mengingatkan manusia pada kehidupan yang diibaratkan seperti roda yang berputar. Ada saatnya manusia itu berada di atas dan ada saatnya berada di bawah. Ada saatnya mahasiswa takut pada dosennya dan ada saatnya kekuasaan tinggi dalam hal ini presiden ‘takut’ pada para mahasiswa. Dengan kata lain, dalam puisi ini Taufiq Ismail memberi tawaran relativitas nilai yang merupakan buah dari wawasan relational objectivity (segala sesuatu itu saling berkaitan dan selalu berproses). Perubahan sosial yang tampak dalam puisi ini adalah pada baris akhir, yaitu: … presiden takut pada mahasiswa. Hal semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya (di Indonesia). Students power ini merupakan hal baru yang membawa angin segar dalam kancah perubahan sosial di masyarakat. Nilai-nilai lama banyak yang gugur dan nilai-nilai baru mulai bermunculan.

b. Puisi Sapardi Djoko Damono

Mata Pisau mata pisau itu tak berkejap menatapmu;

kau yang baru saja mengasahnya berfikir,

ia tajam untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja sehabis makan malam;

ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.

 

Salah satu jalan yang dapat digunakan untuk mengungkap puisi di atas adalah dengan pendekatan struktur dalam rangka semiotik (cf. Wellek dan Warren, 1989; Teeuw, 1983; Pradopo, 1987). Mata pisau menungkapkan adanya kegiatan yang masih hangat dalam mendayagunakan dan mengefektifkan sarana untuk mencapai suatu target tertentu (kau yang baru saja mengasahnya/berfikir, ia tajam untuk mengiris apel). Wujud target tersebut ialah kenikmatan. Apel merupakan lambang pikatan kenikmatan. Sedangkan kebiasaan makan malam yang diakhiri dengan buah apel sebagai pencuci mulut pada awalnya ada dalam budaya barat. Ditampilkannya budaya barat dimaksudkan untuk mendukung nilai rasa bahwa yang berasal dari barat (asing) adalah super (…ia tajam untuk mengiris apel/yang tersedia di atas meja/sehabis makan malam). Penajaman perbuatan mendapatkan kenikmatan dari produk asing merupakan suatu langkah yang tidak terlepas dari konsep keseimbangan menguntungkan-merugikan. Keuntungannya terletak pada nilai kontan kenikmatan yang diberikan, sedangkan kerugiannya terletak pada terancamnya eksistensi. Kerugian itu kemudian diungkapkan sebagai suatu kondisi yang telah mencapai titik mengerikan: mata pisau itu tak berkejap menatapmu;/…/ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu. Kenikmatan nilai kontan yang diberikan hasil produk asing selama ini telah meninabobokkan bangsa Indonesia dan membuat kondisi ketergantungan yang semakin besar pada jalan pintas. Kebijakan menempuh jalan pintas berkembang seperti deret ukur, sedangkan kemandirian bangsa berkembang seperti deret hitung yang makin kabur. Akibatnya, kondisi ini dianggap Sapardi sudah sampai pada titik yang mengerikan (ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu). Di sini Sapardi seolah-olah sudah mempunyai prediksi bahwa hal semacam ini dapat mencapai titik serius. Jadi, gejala krisis moneter yang sekarang ini menimpa Indonesia telah diprediksikan lama sebelumnya oleh Sapardi lewat puisi ‘Mata Pisau” (tahun 1982). Dalam hal ini, puisi Sapardi berkaitan secara tidak langsung dengan situasi ekonomi, politik, dan sosial yang kongkret. Hal itu terbukti sekarang dengan adanya krisis moneter yang betul-betul terjadi dan berkepanjangan akhir-akhir ini karena ketergantungan pada produk asing yang sangat besar. Bahkan untuk urusan makanan pokok pun ternyata Indonesia belum mampu mandiri, misalnya: beras, kedelai, dan gandum yang masih perlu impor. Bahkan untuk membuat plastik, sabun, dll. ternyata Indonesia juga belum mandiri. Krisis moneter saat ini dan ketergantungan yang sangat besar pada produk asing dapat mengancam eksistensi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Lihat saja bagaimana sekarang IMF mulai “mendikte” kebijakan perekonomian Indonesia. Jadi, pada dasarnya puisi “Mata Pisau” merupakan tanggapan Sapardi terhadap kebijakan penempuhan jalan pintas yang dijalankan dengan sembrono. Penempuhan jalan pintas ini memang sangat tepat dan menguntungkan karena dapat secara langsung dirasakan nilai kontan kenikmatannya. Tetapi hendaknya selalu diingat bagaimanapun baiknya suatu sarana ia tidak akan luput dari mitos keseimbangan yaitu menguntungkan –merugikan. Oleh karena itu, di samping menempuh jalan pintas, juga harus senantiasa dipupuk kemandirian, jangan sampai jalan panjang itu digilas oleh jalan pintas. Ngono yo ngono ning ojo ngono. Itulah tema pokok yang terkandung dalam “Mata Pisau”. Keseimbangan antara keduaanya merupakan satu-satunya jalan menyelamatkan kehancuran eksistensi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar. Berangkat dari mitos keseimbangan, Sapardi mengingatkan bahwa segala sesuatu itu dikuasai oleh konsep keseimbangan. Kekaburan eksistensi bangsa Indonesia seperti yang diungkapkan dalam “Mata Pisau” itu adalah bukti akibat salah langkah yang tidak memperhatikan konsep keseimbangan. Melalui bentuk parodi dalam senjata dapat makan tuan, ia menjelmakan secara tepat mitos keseimbangan sebagai acuan tematis. Gambaran tersebut memberi amanat hendaknya manusia selalu eling lan waspodo dalam memaknai segala sesuatu, memanfaatkan yang baik dan menguntungkan serta bersikap waspada terhadap keburukan dan kerugiannya (cf. Kisyani-Laksono, 1990).

c. Cerpen Suhariyanto Soetiyoso

Dalam cerpen Suhariyanto Soetijoso, manusia dihadapkan pada relativitas nilai kebenaran terhadap free will bunuh diri seorang lelaki (suami) dan free will tokoh Tinah (istri) yang mengakhiri penderitaan orang yang paling dikasihinya dengan membunuh”… Tinah sudah saatnya aku harus pergi. Aku tak tahan melihatmu lelah menjagaku terus-terusan, bisiknya lemah. Aku tak ingin merepotkanmu lebih lama, karena itu aku menusukkan pisau itu ke dadaku. Aku mau cepat mati, tapi tenagaku begitu lemahnya hingga pisau itu tak sampai menembus jantungku. Akhiri penderitaanku, benamkan pisau itu supaya rasa sakitku hilang, pintanya. Tolonglah Tinah, ini permintaanku yang terakhir, kembali ia menyeringai kesakitan. Aku tak tahan melihatnya. Tanpa pikir panjang aku memegang gagang pisau itu dan kutekankan ke dadanya kuat-kuat. Dia mati, tapi di bibirnya tersungging senyuman.”

Bunuh diri dan membunuh jelas mempunyai nilai tidak benar, sedangkan menolong orang yang paling dikasihi dari penderitaan tidak dapat dikatakan tidak benar. Lalu apakah free will mereka itu benar atau tidak, jawabannya ditentukan oleh relasinya dengan apa. Tentu saja bagi Tinah pribadi free willnya merupakan kebenaran, dengan pembelaan: “Aku yakin apa yang kulakukan adalah benar. Aku bahagia bisa memenuhi permintaan terakhir orang yang kukasihi meski untuk itu semua orang menudingku pembunuh”. Tetapi, apakah memang demikian? Penjara bagi Tinah mempunyai nilai yang lain dengan orang kebanyakan. Dalam penjara Tinah justru merasa aman karena dia tidak perlu ketakutan terhadap lelaki ganas yang selalu mengelilinginya. Dalam tahanan Tinah juga merasa mendapatkan jatah makanan yang cukup dan latihan-latihan kewanitaan yang menurutnya menyenangkan karena belum pernah dia dapatkan sebelumnya. Jadi, semua yang ada dan dilakukan di penjara dianggap Tinah menyenangkan.

Simak saja penggalan berikut. “Penjara ini tak menyiksaku. Bahkan sebaliknya. Di sini aku tak perlu ketakutan terhadap lelaki-lelaki ganas yang dulu selalu mengelilingiku. Di sini aku mendapat makanan yang cukup, juga mendapat latihan-latihan kewanitaan yang sebelumnya tak pernah aku dapat.” Apakah itu tak menyenangkan? Demikian juga masalah kebebasan yang bagi Tinah justru akan membuatnya sedih. Dia takut jika keluar dari tahanan maka dia akan menghadapi para lelaki buas lagi di pinggir rel tanpa seorang pelindung (karena suaminya telah mati). “Jangan kamu bertanya berapa tahun lagi aku akan keluar dari penjara, itu akan membuatku sedih. Aku takut menghadapi saat itu, takut untuk kembali ke pinggir rel itu. Di sana banyak lelaki buas, aku tentu tak kuat menghadapi mereka sendiri.” Dalam hal ini, Suhariyanto memberi tawaran relativitas nilai yang merupakan buah dari wawasan relational objectivity (segala sesuatu itu saling berkaitan dan selalu berproses). Selama masih ada dalam proses tidak ada nilai absolut, segala sesuatu masih relatif nilainya sebelum ia berhenti berproses dan menunjukkan bentuk dari hasil prosesnya. Berdasarkan keempat contoh inilah terlihat bahwa pengarang yang baik memiliki kepekaan intiutif dan daya batin yang tinggi dalam memberikan tafsiran kehidupan lingkungannya. Dia tidak hanya mengikuti jalannya kebudayaan melainkan juga melihat dimensi-dimensi absurditasnya serta dampak-dampak negatif yang dapat timbul. Kreativitas mereka dapat merupakan suatu tawaran, dapat pula merupakan sumbangan pemikiran yang besar artinya bagi strategi kebudayaan. Hal semacam ini dapat menjadi suatu indikasi bahwa karya sastra yang baik mempunyai peran yang sangat berarti dalam kehidupan manusia dan kadang-kadang dapat pula mengekspresikan perubahan budaya.

C. PENUTUPAN

Contoh-contoh susastra di atas merupakan suatu bukti bahwa susastra dapat merangsang tumbuhnya dinamika struktural mental bagi pembacaanya. Wellek dan Warren (1978) berpendapat bahwa sifat sosial hanya merupakan salah satu ragam sastra dari banyak ragam lainnya Walaupun sebagai salah satu ragam, peran susastra dalam kehidupan manusia untuk menghadapi perubahan budaya menjadi sangat berarti dan tidak dapat diabaikan. Memang, secara umum, sastra mempunyai tujuan dan alasan keberadaannya sendiri. Sebagai penutup, apa yang dikemukakan Ayip Rosidi (1975: 7) ini patut direnungkan: “Apa yang disampaikan penyair (pengarang)… sebenarnya tak kalah penting dengan yang diucapkan oleh seorang tokoh politik atau pemimpin masyarakat lainnya. Bahkan kadangkala lebih penting lagi”.

****

KEPUSTAKAAN

Damono, Sapardi Djoko. 1982. Mata Pisau. Jakarta: Balai Pustaka.

Hall, Calvin S. 1959. Suatu Pengantar ke dalam Ilmu Jiwa Sigmund Freud. Terj. S. Tasrif. Jakarta: Pembangunan.

Jawa Pos. 1998. Puisi Reformasi. Agustus 1998. Surabaya.

Kisyani-Laksono. 1990. “Peran Susastra dalam Kehidupan Manusia”. Dalam Pelangi Bahasa dan Sastra Indonesia . Surabaya.

Pradopo, Rakhmad Djoko. 1987G. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Rendra, W.S. 1998. “Pernyataan dari Rakyat: Menghadapi Kekuasaan yang Tidak Adil”. Dalam Oposisi., no. 12 tahun I Minggu IV, Oktober 1998. Surabaya.

Rosidi. Ayip. 1975. Puisi Indonesia I. Bandung: Peladjar.

Soetijoso, Suhariyanto. 1983. “Pembunuh”. Dalam Horison 6 (1983). Jakarta

Soemanto, Bakdi. 1981. “Hamartia dan Konsep Tragedi”. Yogyakarta.

Sujatmoko. 1983. Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Jakarta: LP3ES

Sutarjo. 1982. “Sastra Menyuguhkan Kemungkinan dalam Temu Budaya”. Dalam Majalah Mahasiswa, 31 (1982, VI)

Teeuw. 1. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1978. Theory of Literature. London: Penguin Books

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: