pembelajaran bahasa jawa

MULTI(SUB)DIALEK  JAWA DI JAWA TIMUR DAN PENGARUHNYA TERHADAP

MATA PELAJARAN BAHASA JAWA DI SEKOLAH

naskah belum disunting

Kisyani-Laksono

FBS Unesa

UPBJJ-UT Surabaya

6 Juni 2006

MULTI(SUB)DIALEK  JAWA DI JAWA TIMUR DAN PENGARUHNYA TERHADAP

MATA PELAJARAN BAHASA JAWA DI SEKOLAH

Kisyani-Laksono

FBS Unesa

UPBJJ-UT Surabaya

A. Pendahuluan

Dalam kaitannya dengan kedudukan bahasa Jawa dalam pemetaan bahasa secara internasional, Barbara F. Grimes (Summer Institute of Linguistics, 2000) menunjukkan bahwa dari 6.809 bahasa di dunia, Indonesia menempati urutan kedua dalam hal jumlah bahasa (731 bahasa di Indonesia). Urutan pertama ditempati oleh Papua Nugini (867 bahasa).  Adapun, urutan terbanyak dalam hal penutur  ditempati oleh bahasa Mandarin (Cina ) dengan sekitar 885.000.000 penutur, urutan kedua ditempati oleh bahasa Spanyol dengan 332.000.000 penutur, dan ketiga ditempati oleh bahasa Inggris dengan 322.000.000 penutur. Bahasa Jawa menempati urutan ke-11 dengan 75.500.000 penutur, bahasa Sunda di urutan ke-34 dengan 27.000.000 penutur, bahasa Melayu di urutan ke-54 dengan 17.600.000 penutur, dan BI di urutan ke-56 dengan 17.050.000 penutur. Adapun bahasa Madura menempati urutan ke-69 dengan 13.694.000 penutur. Di antara 731 bahasa di Indonesia, yang tergolong dalam kategori B (diteliti secara memadai dan mendalam, baru sebagian ihwalnya: ada sekitar 600-an bahasa) adalah bahasa Indonesia. Yang sangat mengherankan adalah bahasa Jawa yang dinyatakan dalam kategori C (diteliti kurang mendalam, baru tata bahasa dalam bentuk ’sketsa’: sekitar 1000 bahasa) atau antara katagori C dan B.

Dalam kategori itu dapatlah dinyatakan bahwa penelitian tentang bahasa Jawa perlu terus dilakukan, masih banyak hal yang belum tersingkap dari bahasa Jawa. Salah satu penelitian yang pernah dilakukan adalah penelitian tentang  bahasa Jawa di Jawa Timur. Ditengarai di Jawa Timur, menurut penghitungan dialektometri, ada dua dialek, yaitu dialek Jawa Timur dan dialek Osing. Walaupun demikian, dari sisi penutiur diakui ada bahasa Osing, bahasa Tengger, dan bahasa Suroboyoan. Memang, penamaan bahasa dan dialek dapat dilihat  dari sisi penghitungan secara linguistis, tetapi dapat juga dari sisi penuturnya.

Pada sisi lain, di Jawa Timur, mata pelajaran bahasa Jawa selama ini ditengarai sebagai mata pelajaran sulit  bagi sebagian pelajar. Hal itu disebabkan implementasi mata pelajaran  bahasa Jawa  jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, lebih banyak pada hal-hal yang tidak digunakan secara nyata dalam kehidupan (misalnya: penghafalan nama bunga, nama anak binatang, analisis kalimat, dsb.). Selain itu bahasa Jawa juga tidak menjadi penentu kelulusan sekolah (UNAS),tidak ada tes Bahasa Jawa untuk melamar kerja, tidak ada administrasi/surat resmi berbahasa Jawa dan lahan  pekerjaan  yang  tidak banyak. Oleh sebab itu, dalam pembelajaran bahasa Jawa, aspek keterampilan berbahasa kurang mendapatkan porsi yang berarti

Selain gaya mengajar sebagian guru yang cenderung monoton dan cenderung mendoktrin sesuai adat unggah-ungguh Jawa bisa jadi juga berpengaruh. Pada sisi lain, guru bahasa Jawa tidak termasuk dalam prioritas guru yang sering mengikuti pelatihan mengenai perkembangan pembelajaran terbaru karena mata pelajaran bahasa Jawa tidak termasuk dalam mata pelajaran inti. Oleh sebab itu, teknik-teknik pembelajaran terbaru kurang dikuasai oleh sebagian guru bahasa Jawa. .

B. Kondisi Multi(sub)dialek Jawa di Jawa Timur

Kondisi multi(sub)dialek Jawa di Jawa Timur dapat dilgambarkan dari sisi identifikasi dialek dan subdialek di Jawa Timur, deskripsi bentuk-bentuk linguistik, kekhasan situasi kebahsaan, pengaruh bahasa lain, serta deaerah inovatif dan relik di Jawa Timur. Berikut ini adalah paparan masing-masing (cf. Kisyani-Laksono, 2005).

1. Identifikasi Dialek dan Subdialek

Berdasarkan penghitungan dialektometri leksikal, dialektometri fonologis, penghimpunan berkas isoglos, dan penghitungan permutasi, bahasa Jawa di Jawa Timur erdiri atas dua dialek, yaitu dialek Osing dan dialek Jawa Timur (selain Osing). Dalam dialek Jawa Timur terdapat dua belas  subdialek, yaitu: subdialek Banyuwangi Selatan, subdialek Bojonegoro, subdialek Gresik, subdialek Lamongan, subdialek Mojokerto, subdialek Pasuruan, subdialek Rowogempol, subdialek Sidoarjo, subdialek Surabaya, subdialek Tengger, subdialek Malang, dan subdialek Pacitan. Dalam hal ini, tidak ada batas subdialek antara subdialek Mojokerto, Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya.

2. Deskripsi Bentuk-bentuk Linguistik

Deskripsi bentuk-bentuk linguistik bahasa Jawa di Jawa Timur dan Blambangan menunjukkan banyaknya bentuk bahasa Jawa Kuno yang masih dipelihara dan dipertahankan penggunaannnya sampai saat ini, misalnya: bentuk tiga suku: k\tumbar ‘ketumbar’, l\mbay¬÷ ‘daun kacang panjang’; berian:  pisanan dan kawitan ‘pertama’, ir¬÷ ‘hidung’ , sira ‘kamu’ , isun ‘saya’, aran ‘nama’,  b\sali ‘pandai besi’, w\lula÷ ‘kulit binatang’, wragil ‘anak termuda’, wudun ‘bisul’. Selain itu, wilayah ini ternyata juga merupakan wilayah bagi tumbuh-kembangnya bahasa Madura, Bali, dan bahasa Melayu/Indonesia. Hal itu terbukti dengan beberapa bentuk serapan atau pola serapan dari bahasa-bahasa tersebut yang digunakan di daerah pengamatan, misalnya: t«Ö r«t«Ö ‘ranting’ (Madura), «p«k ‘sabuk’ (Bali), kamar (Melayu). Sampai sejauh ini, sisa bahasa Sunda di wilayah ini nyaris tak berbekas.

3. Kekhasan Situasi kebahasaan

Kekhasan di Jawa Timur bagian utara dan Blambangan ditandai oleh beberapa hal, yaitu:

a. Adanya perbedaan  jumlah fonem vokal  dengan rincian: (1) Ada  delapan vokal, yaitu  /a/, /i/, /u/, /e/, /\/, /«/, /o/, /¿/ dalam subdialek Gresik, subdialek Pasuruan, subdialek Rowogempol, subdialek Sidoarjo, dan subdialek Surabaya, dan  (2) Ada enam vokal, yaitu  /a/, /i/, /u/, /e/, /\/, /o/ dalam  dialek Osing, subdialek Bojonegoro, subdialek Lamongan, subdialek Mojokerto, subdialek Banyuwangi Selatan, dan subdialek Tengger (termasuk juga subdialek Malang dan Pacitan).

b. Bunyi [i] atau [u] pada posisi penultima dalam  subdialek Bojonegoro, subdialek Lamongan,  subdialek Banyuwangi Selatan, dan subdialek Pacitan menjadi [e] atau [o] dalam dialek Osing, subdialek Mojokerto,  subdialek Gresik, subdialek Pasuruan, subdialek Rowogempol, subdialek Sidoarjo, subdialek Surabaya, subdialek Tengger, dan subdialek Malang misalnya: tim¬n > tem¬n ‘ketimun’.

c. Adanya leksikon serapan dari bahasa Madura dan Bali, misalnya: r\ng«Ö ‘nyamuk’), ba(wa÷) tem¬r ‘bawang merah’, t«Ö r«t«Ö ‘ranting’ (dari bahasa Madura);  «p«k ‘sabuk’, k¿l¿Ö ‘ bisu’, osöng ‘tidak’ (dari bahasa Bali).

d. Adanya leksikon khusus atau pola khusus yang  dikenal sebagai  merek dialek atau subdialek, misalnya:

dialek Osing: (o)sö÷ ‘tidak’, abya÷merah’, sijai ‘satu‘, sir¿g¿w¿ ‘kaubawa’

subdialek Bojonegoro:  -(n)\m ‘-mu’, -l«h ‘-lah’, put«h ‘putih’, s\pul¿h ‘sepuluh’ .

subdialek Gresik: töÖ ‘di-, di’, p¿Ö ‘-lah’, s¬nanaÖ ‘anak saya’ (pronomina posesif mendahului nominanya) , dipek¬l amb«Ö aku ‘saya pikul’ (O1 terletak sesudah kata kerja pasif).

subdialek Rowogempol: r\÷«Ö ‘nyamuk’, t«Ö rat«Ö ‘ranting’

subdialek Surabaya:  caÖ ‘kakak laki-laki’, nö÷ ‘kakak wanita

subdialek Tengger: mata ‘mata’, siragawa ‘kaubawa’, manja ‘menanam’

e. Adanya bentuk krama inggil yang dapat digunakan untuk diri sendiri (O1), misal: Kula badhe dhahar ‘Saya akan makan’.  Pada dasarnya semua DP mengenal dan menggunakan berian krama walaupun beberapa DP menggunakannya dengan terbatas sekali (1% dan 2%).  Ini berarti pengaruh dialek standar telah merambah ke semua DP, baik dalam tataran “kuat”, “sedang”, atau “kurang”.

4. Pengaruh

Dialek dan subdialek  Jawa di Jawa Timur ternyata dipengaruhi juga oleh bahasa lain, yaitu bahasa Madura, bahasa Bali, bahasa Melayu, dan juga oleh dialek standar.

Pengaruh bahasa Madura  tersebar di Jawa Timur bagian timur laut. Sebagai batas paling barat adalah daerah di kabupaten Lamongan dan Jombang. Pengaruh yang kuat terdapat dalam subdialek Gresik, subdialek Mojokerto, subdialek Pasuruan, subdialek Rowogempol, subdialek Sidoarjo, dan subdialek Surabaya, sedangkan pengaruh yang sedang terdapat pada  dialek Osing, subdialek Lamongan (sebagian), subdialek Mojokerto, dan subdialek Tengger.

Pengaruh bahasa Bali tersebar di daerah Jawa Timur bagian ujung timur laut, yaitu di daerah dialek Osing.

Pengaruh Bahasa Melayu/Indonesia ternyata menyebar ke hampir semua daerah pengamatan.

Pengaruh dialek standar  menyebar pada subdialek Bojonegoro,  subdialek Lamongan (sebagian), dan subdialek Banyuwangi Selatan.

Dengan berdasarkan hal ini, dapatlah dinyatakan bahwa dialek Osing yang merupakan dialek tersendiri ini merupakan  dialek Jawa yang dipengaruhi oleh bahasa Madura dan Bali.

Subdialek Gresik , sudialek Rowogempol, subdialek Pasuruan, subdialek Sidoarjo, dan  subdialek Surabaya adalah subdialek yang  dipengaruhi oleh bahasa Madura. Selain itu, pengaruh bahasa Madura sedikit banyak juga ada dalam subdialek Lamongan (sebagian), subdialek Mojokerto, subdialek Tengger, dan subdialek Malang.

Subdialek Banyuwangi Selatanan,  subdialek Bojonegoro, dan subdialek Pacitan adalah subdialek di Jawa Timur yang dipengaruhi oleh dialek standar.

Adapun subdialek Lamongan adalah subdialek yang dipengaruhi oleh bahasa Madura dan dialek standar.

5. Daerah Relik dan Daerah Inovatif

Penetapan daerah relik dan daerah inovatif menggunakan dasar penghitungan leksikal dan fonologis.  Dengan berdasarkan penghitungan leksikal dan fonologis dapatlah dinyatakan bahwa daerah relik ialah subdialek Bojonegoro dan subdialek Tengger, yaitu daerah masyarakat Samin dan masayrakat Tengger. Kedua masyarakat/ daerah ini memang mempunyai kekhususan dan keunikan tersendiri, baik pada masalah tempat yang “cenderung” terisolasi  maupun pada masalah budaya setempat yang “cenderung” unik.

Selanjutnya, berdasarkan penghitungan leksikal dan fonologis, daerah inovatif adalah subdialek Sidoarjo dan subdialek Rowogempol di Pasuruan yang merupakan daerah yang terletak di pesisir yang kedua-duanya merupakan daerah yang terpengaruh bahasa Madura (pengaruh “kuat”). Bahkan subdialek Rowogempol ialah  daerah yang merupakan wilayah perbatasan antara bahasa Jawa di sebelah barat dan bahasa Madura di sebelah timur.

C. Bahasa Jawa dalam Kehidupan Bermasyrakat serta Mata Pelajaran Bahasa Jawa dalam Situasi Multi(sub)dialek

Penggunaan bahasa dalam kehidupan bermasyarakat (termasuk dalam kehidupan sehari-hari) pernah dituangkan dalam  Instruksi Menteri Dalam Negeri no. 20, 28 Oktober 1991 (Purwo, 2000: 19) yang berbunyi:

Salah satu wujud kebhinekatunggalikaan itu adalah kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Hal ini diupayakan antara lain melalui pemasyarakatan dan pembudayaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. … Pemasyarakatan bahasa Indonesia adalah segala upaya memasyarakatkan penggunanan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari secara baik dan benar.

Instruksi ini tampak sangat berat sebelah karena pemasyarakatan dan pembudayaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari berarti sama saja dengan meminggirkan atau memenjarakan bahasa daerah (termasuk bahasa Jawa).

Dalam hal pendidikan, ketentuan mengenai bahasa Indonesia  yang digunakan sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan (cf. Halim dalam  Halim, Ed. 1980) pernah dipersoalkan, khsuusnya untuk anak SD kelas 1—3 karena sejak kurikulum 1975, satu-satunya bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Indonesia. Hal itu akhirnya dinetralkan oleh  Sisdiknas tahun 1989 yang berlanjut pada Sisdiknas tahun 2003, pasal 34 ayat (2) yang menyatakan bahwa ”bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu.”. Berdasarkan hal itulah, bahasa Jawa dapat digunakan sebagai pengantar pendidikan, khususnya di daerah Jawa Timur untuk kelas 1—3 SD.

Selanjutnya, berdasarkan PP No 19 PP  tahun 2005 tentang SNP, BAB V Standar Kompetensi Lulusan Pasal 25 ayat (3)  Kompetensi lulusan untuk mata pelajaran bahasa menekankan pada kemampuan membaca dan menulis yang sesuai dengan jenjang pendidikan.

Kemampuan membaca dan menulis memang lebih bersifat “tahan lama”. Artinya, jika seseorang karena suatu sebab tidak menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi lisan (dengar dan bicara), dia akan tetap dapat mengasah keterampilannya dalam bidang baca dan tulis. Hal itu masih akan menolong untuk mengasah keterampilan dengar dan bicaranya.

Selain itu, kompetensi guru pengajar bahasa Jawa haruslah meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial (UU Guru Tahun 2005). Selain itu, materi pembelajaran bahasa (termasuk bahasa Jawa) pada dasarnya terdiri atas empat keterampilan berbahasa, yakni: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Keempat aspek keterampilan berbahasa ini diharapkan dapat ikut berperan mengubah pembelajaran yang teoretis ke praktis. Sayangnya, mata pelajaran bahasa Jawa bukan termasuk mata pelajaran utama yang gurunya sering dilatih dengan pendekatan atau metode terbaru, termasuk model pengembangan kurikulum dan asesmennya.

Lepas dari itu semua, dari sisi materi, pembelajaran bahasa di daerah-daerah yang multidialek atau multisubdialek  seharusnya juga memperhatikan kemulti(sub)dialekan itu.. Pengenalan terhadap multidialek atau multisubdialek tetap perlu dilakukan di samping  pembelajaran dialek standar. Dalam hal ini dapat dilakukan porsi 30% untuk dialek/subdialek dan 70% untuk bahasa baku. Akan tetapi, perlu pula  diperhatikan bahwa  pada saat pengenalan (sub)dialek, perlu dilakukan pula pengenalan dialek standarnya. Misalnya:

Bidang

Dialek/Subdialek Jawa Timur

Dialek Standar

Kosakata cak Mas
ning Mbak
fonologis tekus Tikus
gete Getih
morfologis bukunem Bukumu
bapakem Bapakmu
sintaksis Wit gedhang dipekul ambek aku Wit gedhang tak pekul
Sunoma  gak kena banjir Omahku ora kena banjir

Masalah penulisan perlu juga diperhatikan. Dalam situasi multidialek atau multisubdialek di Jawa Timur, jumlah fonem ternyata dapat berbeda. Selain itu, ada juga bunyi-bunyi tertentu yang memang merupakan bunyi murni (tidak merupakan bunyi yang lebih rendah atau lebih tinggi), misalnya: bunyi [e] dalam [tekUs} memang betul-betul [e], bukan [I] atau i rendah. Oleh sebab itu, transkripsi  fonemisnya tetap /tekus/,  bukan /tikus/ (cf. Kisyani-Laksono, 2004).

Pada sisi lain, pembelajaran bahasa Jawa juga harus ditingkatkan. Guru dapat saja mempraktikkan kemampuannya nembang ambek nabuh gamelan, ndalang, maca guritan, cerita pengalama, lsp. Bisa juga hal itu dilakukan dengan pemodelan dengan mengundang siswa kelas/ atau sekolah lain atau mengundang tamu untuk melakukannya. Selain itu, siswa dapat juga langsung diajak untuk praktik berbicara  dengan orang yang diundang khusus untuk hal itu, siswa dapat juga diajak  menulis dengan mengamati taman/kebun di sekolah, dll. Dalam hal ini, guru dapat saja menerapkan pembelajaran kontekstual: konstruktivisme,  inkuiri (menemukan), bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik (cf. Nurhadi, 2003).

D. Penutup

Pembelajaran bahasa Jawa perlu memperhatikan situasi dialek/subdialek yang melatarinya. Jika hal itu tidak dilakukan, dikhawatirkan dialek/subdialek Jawa akan terasa asing dan tercerabut dari lingkungan pembentuknya.

Keddudukan mata pelajaran bahasa Jawa yang tidak termasuk dalam mata pelajaran inti membuat para gurunya sering merasa terpinggirkan karena jarang tersentuh oleh pelatihan-pelatihan untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Oleh sebab itu, pemerintah daerah (dalam hal ini dinas pendidikan Jawa Timur) hendaknya memperhatikan ini dan mengalokasikan dana khusus untuk mereka karena hanya diknas provinsi atau kota/kabupaten yang secara langsung seharusnya peduli kepada mereka.  Pelatihan untuk guru-guru mata pelajaran lainnya  pada umumnya dipersiapkan oleh pusat dan daerah. Oleh sebab itu, sudah selayaknya jika dianggarkan  dana pelatihan untuk mereka secara khusus. Jika bukan diknas provinsi/kota/kabupaten yang peduli, siapa lagi yang peduli?

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2005. PP No 19 PP  tahun 2005 tentang SNP.

Grimes, Barbara F. (Summer Institute of Linguistics/SIL). 2000. “Geographical Linguistics”. http://www.yahoo.com

Halim, Amran  (Ed.).  1980. Politik Bahasa Nasional  I.  Jakarta: Balai Pustaka.

———-.  1980.  Politik  Bahasa Nasional  2.  Jakarta:  Balai Pustaka.

Kisyani-Laksono. 2004. “Pojok Kampung:  Siaran Berita Berbahasa Jawa yang Naik Daun”.  Surabaya.

__________. 2005. Bahasa Jawa di Jawa Timur Bagian Utara dan Blambangan: Kajian Dialektologis. Jakarta: Pusat Bahasa.

Nurhadi dan Agus Gerrad Senduk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: UM.

Pemerintah Ri. 2003. UU Sisdiknas. 2003. Jakarta.

Pemerintah RI. 2005. UU Guru dan Dosen.

Peraturan pemerintah RI No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. 2005.  Jakarta

Purwo, Bambang Kaswanti. 2000. Bangkitnya Kebhinekaan Dunia Linguistik dan Pendidikan. Jakarta.

1 Comment

  1. Atien said,

    July 5, 2010 at 12:21 pm

    ibu saya tertarik dengan makalah ibu ini. dimana saya bisa mendapatkan naskah lengkapnya?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: