BAHASA DAERAH DI INDONESIA

MERETAS JALAN UNTUK BERTAHAN HIDUP DAN/ATAU BERKEMBANG

PIDATO PENGUKUHAN

Disampaikan pada Pengukuhan Jabatan Guru Besar

dalam Bidang-Ilmu Linguistik pada

Fakultas Bahasa dan Seni

Universitas Negeri Surabaya

Pada hari Kamis, tanggal 26 Februari 2009

Oleh

Kisyani-Laksono

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2009

Saya wanita,
jadi pakai simbol bunga,
bunganya pun istimewa,
teratai putih yang terbuka.

Teratai bagi saya, simbol kehidupan yang penuh makna,
dapat tumbuh di air jernih bertabur mutiara
atau tempat penuh lumpur yang tak biasa
tapi keberadaannya selalu terjaga
gairah hidupnya sungguh luar biasa
tuk memancarkan semangat kepada sekelilingnya

termasuk kepada Ibu/Bapak/Saudara, para pembaca.

Bismillahiraqhmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yth. Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Yang saya hormati

Dewan Penyantun Unesa

Ketua dan Anggota Senat Unesa

Gubernur Jawa Timur

Rektor Universitas Terbuka (UT)

Para Rektor Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta

Kepala Pusat Bahasa

Kepala Dinas P dan K Provinsi Jawa Timur

Kepala LPMP Jawa Timur

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota di wilayah UPBJJ-UT Surabaya

Kepala Balai Bahasa Jawa Timur

Kepala Kantor Bahasa Mataram

Para pejabat di lingkungan Unesa

Sejawat dari UPBJJ-UT Malang, Jember, dan Solo

Para mantan kepala UPBJJ-UT Surabaya

Para mitra kerja sama UPBJJ-UT Surabaya

Para pegawai, mahasiswa, serta alumni Unesa dan UT

Para undangan

Puja dan puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rida dan rahmat-Nya, kita dapat bertatap muka dalam keadaan sehat walafiat. Hari ini merupakan torehan sejarah dalam kehidupan saya karena pada hari ini saya berupaya memenuhi persyaratan pengukuhan guru besar dalam bidang-kajian Linguistik dengan menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Bahasa Daerah di Indonesia: Meretas Jalan untuk Bertahan Hidup dan/atau Berkembang”.

A. Pendahuluan

Pada tahun 2000, jumlah bahasa di dunia adalah 6.809 dengan persentase pembagian seperti dalam gambar (cf. Grimes, 2000). Jumlah itu dapat saja bertambah karena ada bahasa-bahasa yang belum teridentifikasi atau dapat saja menyusut karena ada bahasa-bahasa yang punah. Saat ini (tahun 2008) jumlah bahasa di dunia bertambah menjadi 6.912. Dari jumlah itu, Indonesia menduduki peringkat kedua terbanyak dalam hal jumlah bahasa (741 bahasa) setelah Papua New Guinea (820 bahasa). Jumlah 741 itu sebagian besar adalah bahasa daerah di Indonesia.

Dalam hal jumlah bahasa di Indonesia, Esser (1951) menyebutkan angka 200 buah bahasa, Salzner (1960) menyatakan ada 96 buah bahasa; Lembaga Bahasa Nasional yang melakukan penginventarisasian bahasa-bahasa di Indonesia mulai 1969 s.d 1971, dalam laporannya (1972) menyebutkan angka 418 buah bahasa; Grimes (2000) menyebutkan ada 672 buah bahasa; Summer Institute of Linguistics/SIL (2006) menyebut angka 741 bahasa; Pusat Bahasa (2008) menyebut angka 442.

Beberapa bahasa tentu saja pernah diteliti. Adapun penelitian bahasa yang telah dilakukan dideskripsikan oleh sebagai berikut (cf. Grimes, 2000).

Peringkat

Jumlah Bhs yang Diteliti

Uraian

Contoh Bahasa

A

40—50

diteliti secara memadai dan mendalam, hampir segala seluk beluknya

Inggris

Jerman

B

600

diteliti secara memadai dan mendalam, baru sebagian ihwalnya

Indonesia

Tagalog

C

1000

diteliti kurang mendalam, baru tata bahasa dalam bentuk ”sketsa”

Jawa

D

2000—3000

diteliti kurang memadai, deskripsi sederhana, dan ada daftar kata (belum sampai kamus)

Dari bagan terlihat bahwa bahasa Jawa masih berada pada peringkat C, dianggap “belum diteliti secara mendalam”. Padahal, bahasa Jawa seharusnya masuk dalam peringkat B. Pada sisi lain, hal itu juga menunjukkan bahwa bahasa yang sudah masuk dalam kategori A lebih berpeluang kecil untuk diteliti kembali, sedangkan bahasa yang masuk dalam kategori B, C, apalagi D sangat berpeluang untuk diteliti dari segala aspeknya. Sebagian besar bahasa daerah di Indonesia termasuk dalam kategori D sehingga peluang untuk melakukan penelitian terhadap bahasa-bahasa daerah di Indonesia masih terbuka lebar.

Adapun peringkat bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di dunia adalah sebagai berikut (cf. http://www.infoplease.com/ipa/A0775272.html; http:// www.krysstal.com/spoken. html; Ethnologue, 13th Edition diunduh 25 Juni 2008).

No

Bahasa

Perkiraan Jumlah Penutur

1

Cina (Mandarin)

1.075.000,000

2

Inggris

514.000,000

3

Hindustani1

496.000,000

4

Spanyol

425.000,000

5

Rusia

275.000,000

6

Arab

256.000,000

7

Bengali

215.000,000

8

Portugis

194.000,000

9

Melayu-Indonesia

176.000,000

10

Perancis

129.000,000

Selanjutnya, peringkat bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia adalah sebagai berikut:

(1) Jawa (peringkat ke-12 dunia: 75,6 juta penutur);

(2) Sunda, ke-39: 27 juta;

(3) Indonesia, ke-50: 17,1 juta (140 juta sebagai bahasa kedua);

(4) Madura, ke-61: 13,7 juta;

(5) Minangkabau, ke-95: 6,5 juta;

(6) Batak, ke-99: 6,2 juta;

(7) Bali, ke-124: 3,8 juta;

(8) Bugis, ke-129 (sebagai bahasa kedua: di bawah 4 juta);

(9) Aceh, ke-147: 3 juta;

(10) Betawi/kreol, ke-156: 2,7 juta;

(11) Sasak, ke-175: 2,1 juta;

(12) Makassar, ke-196 (sebagai bahasa kedua: 2 juta);

(13) Lampung, ke-205 (sebagai bahasa kedua: di bawah 1,5 juta);

(14) Rejang, ke-258: kurang dari 1 juta

(SIL dalam Wikipedia, diunduh 25 Juni 2008).

Pada dasarnya, ada dua batasan tentang bahasa daerah: batasan geografis dan batasan genetis. Dalam batasan geografis, orang Batak yg lahir di Jawa bisa saja fasih berbahasa Jawa. Selain itu, secara geografis, daerah perbatasan antarbahasa biasanya merupakan daerah yang unik dari sisi kebahasaan karena beberapa unsur kebahasaan cenderung bercampur dan saling mempengaruhi.

Di Gresik, Jawa Timur dijumpai bentuk pronomina posesif mendahului nominanya. Contoh:

sunomah ‘rumah saya’

sunoncor ‘obor saya’

sunanak ‘anak saya’

Kata sun digunakan jika penutur berjenis kelamin perempuan. Jika berjenis kelamin laki-laki, urutan yang umum digunakan sama dengan daerah lainnya yang berbahasa Jawa (pronomina posesif mengikuti nominanya). Contoh:

omahku ’rumah saya’

oncorku ’obor saya’

anakku ’anak saya’

Gresik merupakan daerah perbatasan antara bahasa Jawa dan Madura. Susunan pronomina posesif yang mendahului nominanya ternyata merupakan pengaruh dari bahasa Madura yang menggunakan susunan yang sama. Contoh:

tang bengko ‘rumah saya’

Adapun batasan genetis menunjukkan bahwa orang Jawa tentu saja berbahasa Jawa seandainya mereka mewarisi bahasa daerah (bahasa ibu) masing-masing dari orang tuanya, tidak peduli di mana pun mereka tinggal. Akan tetapi, tidak semua orang Jawa pandai berbahasa Jawa. Orang Jawa yang lahir di Pontianak belum tentu bisa berbahasa Jawa. Bahkan pernah pula terjadi orang Madura yang tidak berani berbahasa Madura di Kalimantan Tengah karena dicekam konflik antarsuku yang parah.

Menurut Unesco, ada sepuluh bahasa punah/mati setiap tahun. Oleh sebab itu, sejak tahun 1999, tanggal 21 Februari ditetapkan sebagai international mother language day oleh Unesco. Salah satu sebab kepunahan bahasa adalah ditinggalkan penuturnya (karena terpaksa atau karena bahasa lain diasosiasikan lebih maju/modern). Di Indonesia, bahasa daerah terancam punah karena ditinggalkan penuturnya sebagai akibat dari globalisasi dan perkembangan teknologi (Mendiknas dalam acara pembukaan Kongres Bahasa Jawa IV tahun 2006 di Semarang).

Bahasa daerah memang telah mengalami berbagai perubahan akibat perkembangan teknologi informasi yang mampu menembus batas-batas ruang. Perkembangan tatanan baru kehidupan dunia dan teknologi informasi yang semakin sarat dengan tuntutan dan tantangan globalisasi telah mengondisikan dan menempatkan bahasa asing pada posisi strategis yang memungkinkannya memasuki berbagai sendi kehidupan bangsa sekaligus mempengaruhi perkembangan bahasa daerah dengan mendesaknya dan memudarkannya. Hal itu pada akhirnya juga membawa perubahan perilaku masyarakat dalam bertindak dan berbahasa.

Berbagai kata dan istilah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) biasanya tidak tersedia dalam kosakata bahasa daerah. Hal itu merupakan salah satu sebab adanya anggapan bahwa bahasa asing diasosiasikan lebih maju/modern. Anggapan itu ibarat virus HIV yang menggerogoti kesehatan suatu bahasa. Virus itu mudah berjangkit pada bahasa daerah, apalagi yang jumlah penuturnya sedikit dan cenderung terisolasi. Oleh sebab itu, diperlukan obat anti-virus yang manjur karena bagaimana pun bahasa daerah merupakan aset kebudayaan yang harus dipelihara dan terus ditumbuhkembangkan.

B. Aturan yang Berkaitan dengan Bahasa Daerah

Beberapa aturan yang ada saat ini tampak tidak menunjang tumbuh kembangnya bahasa daerah. Aturan-aturan itu bahkan dapat dianggap sebagai usaha mendesakkan pemakaian bahasa Indonesia yang dapat membawa dampak negatif, yaitu kemunduran bahasa daerah. Diindikasikan, beberapa bahasa daerah di Indonesia hanya mampu bertahan hidup dan sedikit yang lain mampu berkembang.

Suatu kebudayaan (dalam hal ini bahasa) dapat dikatakan bernilai tinggi apabila dia mampu menjawab tantangan yang ada dengan bertanggung jawab (cf. Sujatmoko, 1983). Dalam bahasa daerah, tantangan itu berupa tuntutan zaman yang menginginkan bahasa daerah tidak hanya sekadar sebagai alat komunikasi saja, tidak memperalat apa atau siapapun, tetapi bahasa daerah juga dituntut dapat menjadi suatu wadah bagi ungkapan kreativitas dan emosi batin yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan seluruh nuansa dan kekayaan hidup manusia (cf. Latif dan Ibrahim, 1996). Artinya, dengan bahasa daerah, masyarakat pendukungnya diharapkan dapat bersosialisasi dalam segala aspek kehidupan. Masalahnya adalah: Mampukah bahasa daerah mengemban tugas berat itu sekarang? Marilah kita cermati berbagai aturan yang berkaitan dengan bahasa daerah.

Dalam penjelasan pasal 36 UUD 45 dinyatakan: ”bahasa-bahasa daerah yang masih dipakai sebagai alat perhubungan yang hidup dan dibina oleh masyarakat pemakainya, dihargai dan dipelihara oleh negara oleh karena bahasa-bahasa itu adalah bagian daripada kebudayaan yang hidup.”

Dalam kutipan tersebut digunakan kata ”dihargai dan dipelihara oleh negara”. Ini mengisyaratkan bahwa bahasa daerah tidak setara posisinya dengan bahasa nasional. Dengan kata lain ada perbedaan dalam hal perlakuan terhadap bahasa nasional dan bahasa daerah.

Lebih lanjut, dalam GBHN 1993, butir (f) dinyatakan: ”pembinaan bahasa daerah perlu terus dilanjutkan dalam rangka mengembangkan serta memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia dan khazanah kebudayaan nasional sebagai salah satu unsur jati diri dan kepribadian bangsa.”

Jika dicermati lagi, di sini tampak bahwa pengembangan bahasa daerah dimaksudkan bukan untuk kehidupan bahasa daerah itu sendiri, tetapi hanya sebagai alat untuk memperkaya perbendaharaan bahasa lain (bahasa Indonesia).

Bahkan dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri no. 20, 28 Oktober 1991 disebutkan bahwa ”Salah satu wujud kebhinekatunggalikaan itu adalah kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Hal ini diupayakan antara lain melalui pemasyarakatan dan pembudayaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Pemasyarakatan bahasa Indonesia adalah segala upaya memasyarakatkan penggunanan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari secara baik dan benar.”

Instruksi ini tampak sangat berat sebelah karena pemasyarakatan dan pembudayaan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari berarti sama saja dengan meminggirkan atau memenjarakan bahasa daerah.

Selanjutnya, sesuai dengan Sumpah Pemuda 1928 dan UUD 1945 (Bab XV, pasal 36), bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, salah satu fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan, (cf. Halim dalam Halim, Ed. 1980). Ketentuan bahwa bahasa Indonesialah yang digunakan sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan ini pernah dipersoalkan, khususnya untuk anak SD kelas 1—3 karena sejak kurikulum 1975, satu-satunya bahasa pengantar di sekolah adalah bahasa Indonesia. Hal itu akhirnya dinetralkan oleh Sisdiknas tahun 1989 yang berlanjut pada Sisdiknas tahun 2003, pasal 34 ayat (2) yang menyatakan bahwa ”bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu.”

Paling tidak, itu semua dapat dilihat sebagai usaha mendesakkan pemakaian bahasa Indonesia yang dapat membawa dampak negatif, yaitu kemunduran bahasa daerah.

Secara lebih khusus, pergeseran sikap penutur bahasa daerah terhadap bahasa daerahnya itu juga tampak dari wawancara terbatas dengan mereka. Dari wawancara itu terungkap adanya berbagai anggapan yang melandasi pergeseran sikap itu. Ada yang beranggapan bahwa penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari di rumah akan memudahkan anak-anak mereka dalam mengikuti pendidikan di kelas awal. Selain itu, bahasa daerah dianggap  kurang  mampu mewakili  apa  yang  ingin dituturkannya,  kurang  mampu sebagai penanda pribadi. Hal itu erat kaitannya dengan anggapan bahwa bahasa daerah kurang dapat dipakai sebagai penambah wibawa,  sedangkan  bahasa lain (bahasa Indonesia) dianggap mampu menambah wibawa atau menambah gengsi  pemakai (sikap   tunaharga diri sebagai  salah  satu   sikap  negatif berbahasa). Kebelumpositifan  sikap berbahasa itu dapat juga disebabkan oleh anggapan bahwa bahasa daerah kurang dapat  dipakai  sebagai kerangka  acuan karena  istilah-istilah baru belum diadopsinya. Banyak penutur yang harus bercampur-kode atau bahkan kemudian beralih-kode karena merasa tidak dapat menemukan istilah-istilah yang tepat dalam bahasa daerah. Padahal, bahasa daerah (bahasa Ibu) termasuk dalam ranah kecerdasan spiritual (di samping intuisi dan kekuatan spiritual), sedangkan bahasa Indonesia—di samping perasaan, interaksi sosial, etika/estetika/ seni—masuk dalam ranah kecerdasan emosional (cf. Sugono, 2006).

Memang pada dasarnya, bahasa  akan selalu kembali pada sifat asalnya, yaitu arbitrer.  Ukuran arbitrer  atau semena-mena dapat dilihat pada konsepnya, yaitu tidak ada hubungan yang hakiki antara kata dan makna, tidak ada hubungan langsung antara bentuk (form) dan  arti  (meaning)nya. Untuk menyebut  hal yang sama digunakan kata  yang berbeda-beda pada  masing-masing  bahasa, misalnya:  kata  ‘hidung’  (Indonesia), idong (Melayu Ambon: Takaria dan Pieter. 1998), dan nose (Inggris) untuk menyebutkan konsep yang sama yaitu ’hidung’. Penyebutan yang berbeda  itu ditentukan oleh  tradisi, sedangkan  hubungan antara  bentuk dan arti ditentukan oleh konvensi.  Tetapi,  kata arbitrer  atau semena-mena itu tidak boleh memberi gagasan bahwa penanda bergantung pada pilihan bebas penutur tanpa motif  karena sekali lambang melembaga dalam masyarakat, bukan wewenang indivi­du untuk menggantinya. Semena-mena itu ada dalam kaitannya dengan petanda karena penanda pada umumnya tidak memiliki ikatan dengan petanda dalam kenyataan (cf. Saussure, 1988).

Jika  pada  akhirnya bahasa akan kembali pada  sifat  hakiki bahasa  yaitu arbitrer, masalahnya kembali  lagi  pada  penutur bahasa daerah sebagai penentu. Paling tidak, reaksi penutur bahasa daerah akan mempengaruhi hakikat satuan-satuan bahasanya. Reaksi  penutur bahasa daerah akan menjadi data yang harus dipelajari dalam studi bahasa karena  reaksinya dapat menjadi bagian dari  definisi struktur bahasa. Jadi, jika penutur memegang peran yang menentukan, tentu­nya pengembangan bahasa  juga harus memperhitungkan penutur bahasa daerah sebagai pengguna  bahasa karena penerimaan dan penolakan penutur  sebagai pengguna  bahasa akan merupakan umpan balik yang sangat baik  dan perlu diperhitungkan  serta dipertimbangkan  bagi pengembangan bahasa.   Oleh sebab itu, pemekaran istilah yang berterima dalam bahasa daerah harus terus dilakukan supaya penutur dapat menemukan istilah-istilah yang tepat untuk mengekspresikan suasana atau isi hati dan pikirannya.

Aturan yang sama, yang memandang bahasa daerah hanya sebagai pelengkap pendamping bahasa Indonesia terdapat dalam Peraturan Mendagri No. 40 tahun 2007 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah yang dikeluarkan oleh Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik, Depdagri. Dalam Konsiderans butir (b) peraturan itu disebutkan bahwa “bahasa daerah sebagai pilar utama dan penyumbang terbesar kosakata bahasa negara, serta sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa, perlu dilestarikan dan dikembangkan”. Yang merupakan titik cerah, di situ bahasa daerah diakui sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Selain itu, disebutkan juga dalam BAB I: Ketentuan Umum butir (7) “Bahasa daerah adalah bahasa yang digunakan sebagai sarana komunikasi dan interaksi antaranggota masyarakat dari suku-suku atau kelompok-kelompok etnis di daerah-daerah dalam wilayah negara kesatuan RI”. Walaupun masih dalam rangka penunjang bahasa Indonesia, tetapi ada juga aturan yang membuat nafas para pemerhati dan pejuang bahasa daerah terasa lebih longgar (terdapat dalam Bab II pasal 2), yakni “Kepala daerah bertugas melaksanakan pelestarian dan pengembangan bahasa daerah sebagai unsur kekayaan budaya dan sebagai sumber utama pembentuk kosakata bahasa Indonesia serta sosialisasi penggunaan bahasa daerah dalam kegiatan pelestarian dan pengembangan seni budaya di daerah.”

Selanjutnya, dalam pasal 3 disebutkan bahwa kepala daerah memberikan fasilitas untuk pelestarian dan pengembangan bahasa negara dan bahasa daerah. Dengan salah satu tujuan merumuskan implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Daerah, digelarlah Rapat Koordinasi Pemasyarakatan Bahasa oleh Pusat Bahasa pada tanggal 17 Juli 2008. Rapat melibatkan pemerintah provinsi dari seluruh Indonesia. Rapat itu bertujuan (1) merumuskan langkah-langkah strategis dalam upaya memartabatkan bahasa Indonesia sebagai sarana memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, (2) merumuskan implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri RI Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Daerah, (3) memantapkan program kerja pemasyarakatan bahasa Indonesia tahun 2008, (4) menyusun strategi dan pelaksanaan pengutamaan bahasa Indonesia 2008, (5) menyusun rencana kerja pemasyarakatan bahasa Indonesia tahun anggaran 2009, (6) menyusun rencana kerja pemasyarakatan 2010—2014, (7) melaporkan pelaksanaan kegiatan tahun 2007, dan (8) menambah wawasan peserta dalam bidang kebahasaan dan kesastraan. Dalam rapat ini juga dibentangkan makalah “Strategi Pengutamaan Bahasa Indonesia dan Pelestarian Bahasa Daerah” (http://pusatbahasa. diknas.go.id, diunduh 25 Juli 2008).

C. Bertahan Hidup dan/atau Berkembang

Komposisi jumlah penduduk merupakan hal yang menentukan kelestarian bahasa daerah. Jumlah penutur yang banyak akan membuat bahasa daerah mampu bertahan hidup dan berkembang. Adapun bahasa daerah yang berpenutur sedikit dan cenderung menyusut akan tenggelam dan harus diselamatkan, teristimewa oleh daerahnya dan para putra daerahnya.

Kesepakatan para linguis Jerman tahun 2000 menyebutkan ada beberapa tahap yang dialami bahasa yang mengalami kemunduran dan terancam punah (Mahsun, 2005b), yakni:

a. sangat kritis

penuturnya sedikit sekali, semuanya berumur 70 tahun ke atas

b. sangat terancam

semua penuturnya berumur 40 tahun ke atas

c. terancam

semua penuturnya berusia 20 tahun ke atas

d. mengalami kemunduran

sebagian penutur adalah anak-anak dan kaum tua

e. stabil dan mantap, tetapi terancam punah

semua anak-anak dan orang tua menggunakan, tetapi jumlahnya sedikit

f. aman

tidak terancam punah, bahasa ini dipelajari oleh semua anak dan semua orang dalam etnis itu.

Yang patut dicermati adalah kategori tersebut didasarkan pada penghitungan kuantitatif (dilihat dari jumlah penutur dan kelompok usianya) dan tidak memperhatikan unsur kualitatif. Akan tetapi kategori itu dapat menjadi salah satu identifikasi kondisi kebahasaan yang ada. Bagi penutur suatu bahasa, kategori itu juga dapat menjadi salah satu kaca brenggala ‘kaca untuk melakukan refleksi diri’ untuk melihat kondisi bahasa daerahnya atau bahasa ibunya.

Pada sisi lain, hasil penelitian Handono pada tahun 2004 terhadap penggunaan bahasa Jawa di Semarang adalah sebagai berikut (cf. Mahsun, 2005a).

Ranah

Pilihan Bahasa

Bahasa Jawa

Bahasa Indonesia

Bahasa Campuran

Rumah

26,16

40,72

33,12

Ketetanggaan

21,13

45,43

33,44

Dalam tabel tampak bahwa penggunaan bahasa daerah (dalam hal ini bahasa Jawa) hanya berkisar pada angka 20-an persen, angka yang sangat kecil dibandingkan dengan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa campuran (Jawa-Indonesia). Lalu, bagaimanakah cara mempertahankan keberadaan bahasa-bahasa daerah sekaligus upaya menumbuhkembangannya ke depan?

Memang perkembangan bahasa daerah tampak tidak begitu menggembirakan sehingga perlu dipelihara dengan baik. Pemeliharaan bahasa daerah berarti melindungi bahasa daerah agar tetap memainkan peran dalam kehidupan masyarakat, pada tatanan kehidupan masa kini dan masa mendatang (cf. Kridalaksana, 2006). Pemeliharaan ini berupa pengembangan bahasa daerah agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat pendukungnya, di antaranya meliputi pemekaran kosakata dan kodifikasi berupa penyusunan pedoman ejaan, kamus, dan tata bahasa. Adapun pembinaan meliputi upaya mempertahankan ranah penggunaan bahasa daerah dan penerusan penggunaan bahasa tersebut untuk generasi berikut. Dengan demikian, pembinaan menyangkut upaya pemantapan peran bahasa daerah dalam masyarakat dan pemutakhiran pembelajaran bahasa daerah bagi generasi penerus yang difokuskan pada pengembangan kurikulum, bahan kajian, media belajar, pengajar dan lingkungan belajar yang disesuaikan dengan sistem pendidikan bahasa masa kini sehingga pembelajaran bahasa daerah menjadi lebih membumi. Selanjutnya, perumusan kebijakan bahasa daerah yang mempunyai potensi kebertahanan dan perkembangan dalam kehidupan masa depan meliputi penelitian, kodifikasi, dokumentasi, dan publikasi, serta upaya pelestariannya (Sugono, 2006).

Beberapa cara telah ditempuh termasuk penyelenggaraan kongres bahasa daerah dan upaya menumbuhkan kebanggaan berbahasa daerah. Akan tetapi, apakah ini merupakan obat mujarab? Paling tidak, secara umum ada dua cara untuk menjaga kelestarian bahasa daerah yang hampir punah, yakni dengan melakukan dokumentasi (transkrip ke dalam bentuk tulisan) dan/atau melindungi penggunaannya oleh penutur aslinya. Akan tetapi, cara kedua lebih sulit karena ada ratusan bahasa daerah di Indonesia. Oleh sebab itu, cara pertama diangap lebih praktis dan pelestariannya lebih konkret terwujud. Akan tetapi, bahasa pada hakikatnya adalah apa yang diucapkan, bukan apa yang dituliskan. Jadi, berbicara dalam bahasa daerah itu tetap penting. Ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari bahasa daerah dan wawasan kebahasaan serta etika kita dapat dicerahkan oleh bahasa daerah.

D. Bahasa yang Bertahan Hidup/Sangat Kritis

Salah satu contoh bahasa yang bertahan hidup/sangat kritis adalah bahasa Ibu di Desa Gamlamo dan Desa Gamici, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara. Penutur bahasa itu tinggal delapan orang yang semuanya sudah berusia lanjut: lima orang di Desa Gamlamo (pada tahun 2007 berusia 46, 60, 75, 80, 96) dan tiga orang yang berusia di atas 70 tahun di desa Gamici (Kurniawati, 2007).

Bahasa Ibu termasuk bahasa yang sangat kritis yang ditandai dengan jumlah penuturnya yang sedikit, semuanya/sebagian besar berumur 70 tahun ke atas. Anak cucu para penutur bahasa Ibu menggunakan bahasa Ternate. Hal ini berarti upaya pembinaan berupa mempertahankan ranah penggunaan bahasa daerah dan penerusan penggunaan bahasa Ibu untuk generasi berikut tidak berhasil. Oleh sebab itu, diperlukan pemeliharaan bahasa Ibu agar tetap memainkan peran dalam kehidupan masyarakat.

Pemeliharaan bahasa Ibu dapat diwujudkan dengan pengembangan bahasa tersebut agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat pendukungnya, di antaranya meliputi pemekaran kosakata dan kodifikasi berupa penyusunan pedoman ejaan, kamus, dan tata bahasa. Akan tetapi, pada tingkat yang sulit (karena anak cucu penutur enggan menggunakan bahasa Ibu) pemeliharaan dapat diwujudkan dengan (1) dokumentasi penggunaan bahasa Ibu, (2) penyusunan kamus bahasa Ibu, dan (3) upaya memasukkan dan memopulerkan kata-kata dalam bahasa Ibu ke dalam bahasa Indonesia.

E. Bahasa yang Berkembang

Contoh bahasa daerah yamg berkembang adalah bahasa Jawa (bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia). Bahasa ini merupakan bahasa ibu masyarakat Jawa yang tinggal di Jawa Tengah, DIY (daerah istimewa Yogyakarta), Jawa Timur, Banten, Lampung, Nangro Aceh Darussalam, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Bengkulu, Lampung, Riau-Kepri, Jambi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara dan beberapa tempat di luar negeri (misalnya: Suriname, New Caledonia, dan Pantai Barat Johor).

Dalam hal variasi berdasarkan daerah, bahasa Jawa juga mengenal beberapa dialek (cf. Meillet, 1970; Wardhaugh, 1988), antara lain: dialek Solo-Jogja, Pekalongan, Wonosobo, Banyumas, Tegal, Pantura, Cikoneng, Cirebon, Ciamis, Jawa Timur, Osing (cf. Nothofer, 1980, 1981; Kisyani, 2003). Penggunaan istilah ”bahasa” dapat dicermati dari dua sisi. Yang pertama, ”bahasa” dalam identitas sebagai sesuatu yang mandiri yang berbeda dengan bahasa lain (bukan sekadar dialek). Yang kedua, ”bahasa” /basa/ dalam identitas sebagai penanda jati diri kelompok atau daerah seperti halnya istilah /basa sala, basa banyumas, basa tengger, basa osöng, basa surabaya/. Yang menarik, ternyata penutur Osing menganggap ”bahasa” mereka merupakan ”bahasa” tersendiri yang tidak sama dengan bahasa Jawa. Mereka beranggapan bahwa istilah ”bahasa Osing” merupakan istilah yang lebih tepat daripada ”dialek Osing”. Dalam hal ini patut diperhatikan bahwa penggolongan suatu bahasa atau dialek dapat ditentukan dari sisi linguistik atau dari sisi penuturnya. Oleh sebab itu, dapatlah dikatakan bahwa istilah ”bahasa Osing” adalah istilah yang berkenaan dengan pendapat penuturnya, sedangkan istilah ”dialek Osing” merupakan istilah yang berkenaan dengan hasil penghitungan linguistis.

Jika dilihat dari sisi perkembangannya (tahap kemunduran yang dialami bahasa), bahasa Jawa termasuk bahasa daerah dengan kategori ”aman” karena jumlah penuturnya masih banyak dan dipelajari oleh masyarakat etnis Jawa. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan kategori ini akan berubah menjadi stabil dan mantap, tetapi terancam punah” (semua anak-anak dan orang tua menggunakan, tetapi jumlahnya sedikit). Hal itu dapat saja terjadi karena kecenderungan orang tua sekarang untuk membiasakan penggunaan bahasa Indonesia daripada bahasa daerah/bahasa ibu kepada anak-anaknya. Bahkan di beberapa perumahan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, masyarakat cenderung menggunakan bahasa Indonesia untuk pergaulan. Ada kesan mereka menghindari penggunaan krama karena merasa kurang menguasai krama itu.

Krama merupakan bagian dari tingkat tutur. Poedjosoedarmo dkk. (1979:3) menyatakan bahwa tingkat tutur ialah variasi-variasi bahasa yang perbedaan antara yang satu dan lainnya ditentukan oleh perbedaan sikap santun yang ada pada diri pembicara terhadap mitra bicara. Tingkat tutur dibedakan menjadi: ngoko, madya, dan krama. (Poedjosoedarmo dkk., 1979: 34). Dalam tingkat tutur krama ini terdapat leksikon krama dan krama inggil[1]. Dari segi arti, leksikon krama inggil terdiri atas:

(1) kelompok kata yang langsung meninggikan dan meluhurkan diri orang yang diacu (krama inggil),

(2) kelompok kata yang menghormat orang yang diacu dengan cara merendahkan diri sendiri (krama andhap). Misalnya (Poedjosoedarmo dkk., 1979: 29):

Ngoko

Krama

Krama

Inggil

Glos

Krama Inggil

Krama Andhap

jaluk

nedha

mundhut

nyuwun

MINTA

kandha

criyos

ngendika

matur

BERKATA

dhawuh

takon

taken

paring priksa

nyuwun priksa

BERTANYA

Pemilihan tingkat tutur pada dasarnya ditentukan oleh derajad sikap hormat antara pembicara (penyapa) dan pesapa. Di Surabaya dan sekitarnya, tingkat tutur krama membuat beberapa penutur bahasa Jawa memilih menggunakan bahasa Indonesia dan enggan menggunakan bahasa Jawa kepada lawan bicara karena penutur merasa kurang menguasai tingkat tutur krama. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi karena basa Suroboyoan memang tidak banyak mengenal bentuk krama, bahkan kadang-kadang mencampuradukkan krama inggil dan krama andhap (bahasa Jawa di Jawa Timur memiliki krama yang berbeda dari pemakaian umum di Jawa Tengah).

Di Surabaya dan sekitarnya, pada umumnya, ada persepsi bahwa jika se­seorang menggunakan kosakata krama dalam situasi apa pun dan untuk siapa pun (termasuk krama inggil untuk diri sendiri), hal itu sudah dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap orang yang diajak berbicara (Kisyani-Laksono, 2003). Contoh: Kula kate sare. ‘Saya akan tidur.’ digunakan dengan mak­sud untuk menghormati orang yang diajak berbicara (Kata sare ‘tidur’ dalam dialek Solo-Jogja hanya digunakan untuk orang lain yang dihor­mati dan tabu untuk diri sendiri). Oleh sebab itu, dialek Solo-Jogja menggunakan krama: Kula badhe tilem. ‘Saya akan tidur.’ Penutur di Surabaya dan sekitarnya lebih senang menerapkan krama dan krama inggil dengan alasan bahwa krama inggil dianggap lebih halus daripada krama sehingga penggunaan krama inggil (untuk orang pertama) justru dianggap lebih meninggikan mitra bicara. Dalam contoh yang lain, penutur yang berumur dan berstatus sosial cenderung sama dapat mengatakan Mangke kula paringi bukan Mangke kula caosi ’Nanti saya beri’. Yang pasti, hal ini harus diterima sebagai fenomena yang terjadi di Surabaya dan sekitarnya (Jawa Timur) dan tidak untuk disalahkan.

F. Peretasan-Jalan Bahasa Daerah

Dari berbagai pengalaman dan uji coba yang dilakukan ditemukan beberapa peretasan jalan bagi bahasa daerah untuk bertahan hidup dan/atau berkembang, yakni dengan

1. melakukan pendokumentasian;

2. melakukan pembiasaan dalam berbicara (sekaligus menyimak), pembiasaan dalam menulis (sekaligus membaca);

3. melakukan kreativitas dalam penggunaan bahasa;

4. melakukan (memberdayakan) penyerapan kosakata bahasa lain: bahasa Indonesia dan/atau bahasa asing ke dalam bahasa daerah (khususnya untuk kosakata yang tidak tersedia dalam bahasa daerah);

5. menyumbangkan kosakata bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia;

6. melakukan penyusunan modul bahasa daerah supaya bahasa daerah dapat dipelajari oleh semua orang

Perlu diingat bahwa cara yang paling baik untuk mematikan sebuah bahasa adalah dengan mengajarkan bahasa lain dan membiasakannya. Oleh sebab itu, pemerintah daerah (pemprov/pemda) dan perguruan tinggi perlu mengurus dan mengatur pengembangan bahasa daerah, baik yang terdapat dalam masyarakat umum maupun yang berlaku di sekolah-sekolah.

1. Pendokumentasian

Pendokumentasian merupakan upaya untuk menuliskan kembali bahasa daerah. Hal itu dapat berwujud kosakata, kalimat, alinea, atau wacana utuh. Untuk bahasa daerah yang ”aman”, pendokumentasian mudah dilakukan. Akan tetapi, untuk bahasa daerah yang termasuk dalam kategori ”sangat kritis”, pendokumentasian lebih sulit. Dalam bahasa Ibu, misalnya, pendokumentasian dapat dilakukan melalui inventarisasi kosakata bahasa Ibu lewat daftar kosakata dasar yang telah dikembangkan, misalnya dengan pengembangan kosakata dalam konsep: “bilangan, ukuran, musim dan waktu, bagian tubuh manusia, tutur sapaan dan acuan, istilah kekerabatan, pakaian dan perhiasan, pekerjaan, binatang, bagian tubuh binatang, tumbuhan: bagian-bagian buah dan hasil olahannya, alam, rumah dan bagian-bagiannya, alat, penyakit dan obat, arah dan penunjuk, aktivitas, sifat, warna dan bau, serta rasa”. Daftar ini pada saatnya digunakan untuk menyusun kamus sederhana dan dapat juga digunakan sebagai dasar penghitungan leksikostatistik atau dialektometri. Bahkan pada tingkat yang sangat sulit, dapat juga dilakukan pendokumentasian kosakata dasar berdasarkan data Swadesh (100 atau 200 kosakata dasar).

Beberapa kosakata bahasa Ibu, di antaranya adalah (urut abjad).

Kosakata Bahasa Ibu

GLOS

de

DAN

ipolo

HANTAM

jibobo

SENDOK

kulubati

CACING

mansia

ORANG

mautu

AKAR

tumdidi

DUDUK

uis

ALIR

waco

OMPONG

2. Pembiasaan

Dalam pembiasaan, peran masyarakat dan pemerintah/swasta sangatlah penting. Pemerintah/ swasta dapat memfasilitasi siaran berbahasa daerah atau produksi lagu-lagu berbahasa daerah sehingga media cetak/elektronik serta musik/lagu daerah dapat menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri dan menjadi andalan sehingga budaya daerah tetap terpelihara, tumbuh, berkembang, dan dapat menjadi aset kekayaan bangsa. Bahasa daerah yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari memberi andil cukup besar dalam suksesnya musik dan lagu daerah di pasaran, sesuai segmentasi pemakai bahasa daerah tersebut. Namun demikian, bagi orang yang bukan pemakai bahasa daerah tersebut tidak tertutup kemungkinan dia juga ikut menikmati dan ikut pula menggemarinya. Berbagai siaran berbahasa daerah juga dianggap positif karena dapat (1) memotivasi masyarakat untuk menggunakan bahasa daerah; (2) memopulerkan dan menumbuhkembangkan bahasa daerah; (3) memopulerkan dan menumbuh-kembangkan istilah baru, (4) menunjukkan kesetaraan bahasa daerah dengan bahasa persatuan sehingga membangkitkan semangat kebhinekaan dalam rangka ”kebhinekatunggalikaan” (cf. Kisyani-Laksono, 2004).

Akhir-akhir ini, siaran berita berbahasa daerah mulai banyak dikembangkan. Contoh: di Bali ada Bali TV dengan siaran berbahasa Bali pada sore hari (kembang tumbuhnya bahasa Bali sebagai bahasa daerah yang dipakai dan sangat dihargai di tempatnya sendiri adalah contoh yang baik untuk bahasa daerah lainnya); di Jogja TV ada ”Pawartos Ngayogyakarta” setiap pukul 19.30 dengan bahasa Jawa ragam ngoko; TA TV di Solo menyajikan ”Trang Sandyakala” setiap pukul 17.00 dengan bahasa Jawa ragam krama dan ”Kabar Wengi” setiap pukul 21.00 dengan bahasa Jawa ragam ngoko. Di Surabaya, JTV dengan ”Pojok Kampung”-nya (berita basa Suroboyoan) mampu menyedot pemirsa (Kisyani-laksono, 2004). Bahkan siaran berita Pojok Kampung itu telah mendapatkan penghargaan dari Surabaya Heritage pada Senin, 7 Juli 2008 sebagai salah satu pusaka bangsa (melestarikan basa Suroboyoan).

Dalam hal pembiasaan penggunaan bahasa daerah, Bambang Dwi Hartono (Walikota Surabaya) membuat gebrakan baru, yakni sejak tanggal 15 Januari 2008, Pemkot dan Diknas Surabaya membuat kebijaksanaan “wajib berbahasa Jawa satu hari dalam satu minggu di sekolah (setiap hari Senin)”. Memang seharusnya pembinaan bahasa melalui pendidikan generasi berlapis. Beberapa siswa mengaku telah mendapatkan manfaat dari pembiasaan ini, yaitu mereka menjadi lebih mengenal bahasa Jawa dan dapat menerapkan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, meskipun masih ada kendala dalam penggunaannya. Pada umumnya kendala yang mereka rasakan adalah tidak terbiasa menggunakan bahasa Jawa dengan guru (merasa kikuk) dan adanya anggapan bahasa Jawa itu sulit dan rumit. Sebenarnya, akan lebih bagus lagi jika setiap semester langkah ini dievaluasi. Evaluasi dapat dilakukan oleh guru bahasa di sekolah masing-masing dengan sistematika laporan dan rubrik penilaian yang sama untuk semua sekolah di Surabaya sehingga hasilnya dapat disatukan. Hasil evaluasi dapat digunakan sebagai refleksi untuk perencaanaan berikutnya yang lebih baik.

3. Kreativitas

Kreativitas dalam penggunaan bahasa biasanya dijumpai pada bahasa yang termasuk dalam kategori mantap dan stabil atau aman. Dalam bahasa Jawa, misalnya, seiring dengan perkembangan teknologi informasi, sekarang dapat pula dijumpai beberapa laman atau situs berbahasa Jawa, misalnya: www.jowo.us; kamus boso Jowo, kawruh boso Jowo, blog boso Jowo, dll.

Bahkan dalam http://ketawa.com/humor-lucu/det/4130/terjemahan_lagu_boso_jowo.html ditampilkan padanan judul lagu dalam bahasa Inggris dan bahasa Jawa yang memancing senyum dan tawa karena padanan itu cenderung merupakan inter- pretasi. Contoh: I Don’t Like to Sleep Alone (Paul Anka) = kelonana aku ’peluk aku waktu tidur’; Wild Woman (Michael Learns to Rock)= morotuwo ’mertua’; Black Magic Woman (Santana) = Mak Lampir ’Mak Lampir (nama tokoh wanita/penyihir jahat dalam suatu cerita populer di Jawa)’; Suddenly (Billy Ocean) = mak jegagik/ujug-ujug ’tiba-tiba’; Zombie (Cranberries) gendruwo ’hantu hitam besar laki-laki’; Lady Valentine (David Gates)= putri Solo; I don’t Have the Heart (James Ingram)= rempela thok ’hanya empedal’; In Your Eyes (George Michel)= blobok ’tahi mata’; Words (Bee Gees) = nggedebus ’omong kosong’; More than Words (Extreme) =nggedebus pol ’penuh omong kosong’; Smoke on The Water (Deep Purple) = umob ’mendidih’; Always Somewhere (Scorpion) = mblayang wae ’pergi terus’; Goodbye (Air Supply) = minggat ’pergi’.

Kreativitas penggunaan bahasa Jawa berupa interpretasi yang memancing senyum dan tawa ini biasanya cenderung diingat oleh para penuturnya (cf. Basa Suroboyoan dalam Pojok Kampung JTV). Kreativitas lainnya dapat diwujudkan dengan berbagai lomba berbahasa Jawa, pertunjukkan berbahasa Jawa di pusat-pusat keramaian/ perbelanjaan, kolom atau acara untuk menampung kreativitas remaja dalam media berbahasa Jawa, dan penciptaan istilah baru.

4. Penyerapan Kosakata Bahasa Lain

Perkembangan ipteks mengharuskan kita untuk menyerap berbagai kosakata bahasa lain. Berkat kreativitas pula, mesin pencari yang populer di internet, yakni Google menyediakan Google Boso Jowo dengan tampilan awal semacam ini.

Web Gambar – gambar Paguyuban Kabeh Topik

Meh mlebu


Google Inonesia


Nggolekki sing luwih pepak
Pilihan
Piranti Tumrap Basa

Nggoleki Web Kaca saka Inonesia


Google.co.id ana ing: Indonesia English

Kabeh gambaran saka GoogleGoogle.com in English

©2008 Google

Saat di klik gambar-gambar di pojok kiri atas, akan muncul tulisan Nggoleki gambar ’mencari gambar’ dan Mesin kanggo nggoleki gambar paling lengkap ning web ’ Mesin pencari gambar paling lengkap di web.’.

Petunjuk dalam bahasa Jawa akan muncul juga saat diklik beberapa menu, misalnya kalimat Nganggo tampilan Google sing wis diterjemahke nang boso sampeyan ’Menggunakan tampilan Google yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Anda’, dan seterusnya.

Tampilan untuk menu nggoleki sing luwih pepak ’pencarian yang lebih lengkap’ adalah seperti berikut.

Dari berbagai hal tersebut tampak bahwa untuk mengembangkan bahasa daerah, kosakata bahasa Indonesia (Contoh: tampilan, terjemahan) dan bahasa asing (Contoh: web, format file, domaine) dapat pula diserap (khususnya untuk kata-kata yang tidak tersedia dalam bahasa daerah itu). Oleh sebab itu, cara lain untuk mengembangkan bahasa daerah adalah dengan melakukan penyerapan kosakata bahasa Indonesia dan/atau bahasa asing ke dalam bahasa daerah. Akan lebih bagus lagi jika menu bahasa daerah (misalnya: bahasa Madura) muncul dalam Google translate.

5. Sumbangan Kosakata Bahasa Daerah

Setiap bahasa pasti mempunyai kosakata yang jumlahnya pun beragam. Jika hal ini dikaitkan dengan pemekaran bahasa, kosakata bahasa Indonesia atau kosakata bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa daerah dapat ikut mengembangkan bahasa daerah. Sebaliknya, dalam rangka pengembangan bahasa nasional (bahasa Indonesia), kosakata dalam bahasa daerah dapat dijadikan sumber pemekaran dan pemerkaya bahasa Indonesia. Bahkan dalam “Pedoman Umum Pembentukan Istilah” disebutkan bahwa sumber dari bahasa daerah seharusnya lebih diutamakan daripada sumber dari bahasa asing.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia atau (KUBI) dapat dicermati besarnya sumbangan kosakata bahasa daerah dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, KUBI hanya melacak dan memuat lima bahasa daerah saja, yakni bahasa Jakarta, Jawa, Minangkabau, Palembang, dan Sunda. Dalam hal kuantitas (berdasarkan penghitungan kosakata bahasa daerah dalam KUBI) terlihat bahwa sumbangan kosakata bahasa daerah untuk memperkaya bahasa Indonesia berjumlah 2.827. dari jumlah itu, bahasa Jawa mempunyai andil yang besar dalam memperkaya bahasa Indonesia (1.002 lema). Padahal, bahasa daerah lain—selain bahasa Jawa, Jakarta (785 lema), Minangkabau (956 lema), Palembang (9 lema), Sunda (975 lema)—juga punya potensi yang sama untuk pemekaran dan pemerkaya bahasa Indonesia (Poerwodarminto, 1986). Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelusuran dan penggunaan kosakata bahasa daerah yang bersifat integratif untuk semakin memperkaya dan mencemerlangkan bahasa Indonesia.

Percepatan pengembangan kosakata bahasa daerah dapat dilakukan melalui pemberian dorongan dan kemudahan bagi masyarakat yang mempunyai ruang gerak dan potensi mengembangkan kosakata seperti penyiar, peneliti, penulis, penerjemah, wartawan, pendidik, pejabat, rohaniwan, pencipta lagu, penyanyi, pebisnis, pemilik modal, ilmuwan, dan lain-lain. Selama ini tampak bahwa bahasa daerah telah ikut andil besar dalam memperkaya bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, penelusuran potensi kosakata bahasa daerah, khususnya yang berkaitan dengan kearifan lokal, akan dapat memperkaya kosakata bahasa daerah sekaligus memperkaya dan mencemerlangkan bahasa Indonesia.

Masalah selanjutnya adalah, apa saja kosakata yang dapat digunakan sebagai pemerkaya bahasa Indonesia? Sebenarnya, ada beberapa kosakata yang dapat digunakan, yakni (Kisyani-Laksono, 2007):

(1) kata atau istilah khusus yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia,

(2) kata atau istilah yang berkaitan dengan budaya/kearifan lokal,

(3) satu kata atau istilah yang dapat menggantikan frasa dalam bahasa Indonesia.

Contoh (urut abjad):

1

babulu

(Melayu Ambon)

’berlayar ke pulau-pulau untuk mencari barang dagangan, seperti kelapa, sagu mentah, dan umbi-umbian’

2

paleti

(Melayu Ambon)

’pemberian diungkit-diungkit bila terjadi perselisihan’

3

paleu

(Melayu Ambon)

”mengulang-ulang pembicaraan sehingga pendengar menjadi bosan’

Contoh beberapa kosakata itu dapat dibiasakan penggunaannya/dipopulerkan oleh masyarakat, pemerintah, dunia pendidikan, dan berbagai unsur yang terkait dalam upaya melakukan pembiasaan.

Dalam hal ini, sumbangan kosakata bahasa daerah akan mempunyai dua manfaat, yakni untuk pemekaran dan pemerkaya bahasa Indonesia serta untuk meningkatkan daya hidup/perkembangan bahasa daerah itu sendiri

6. Penyusunan Modul

Modul merupakan sarana yang sangat efektif untuk belajar mandiri termasuk dalam pembelajaran bahasa. Jika kita menginginkan bahasa daerah dipelajari oleh orang banyak secara mandiri dan terbiasa digunakan oleh orang banyak, modul adalah jawabannya.

Pusat Bahasa merupakan lembaga yang paling erat berhubungan dengan bahasa daerah/bahasa ibu. Para pakar bahasa terdapat di Pusat Bahasa yang memiliki jaringan berwujud 22 Balai Bahasa atau Kantor Bahasa di Indonesia (akan bertambah 8 lagi). Adapun Universitas Terbuka (UT) merupakan lembaga perguruan tinggi yang handal dalam penyusunan modul. UT memiliki jaringan 37 unit program belajar jarak jauh (UPBJJ) di Indonesia. Selain itu, beberapa LPTK yang meretas para calon guru bahasa daerah mempunyai beberapa pakar kependidikan dalam bidang bahasa daerah.

Kerja sama antara Pusat Bahasa, UT, dan LPTK untuk menyediakan modul berbahasa daerah sebagai upaya pelestarian bahasa daerah tentu saja tidak menjanjikan banyak keuntungan secara finansial, tetapi keuntungan nonfinansial untuk komitmen menjaga kekayaan budaya tentu akan membuahkan hasil yang manis.

G. Penutup

Dokumentasi penggunaan bahasa; pembiasaan dalam berbicara (sekaligus menyimak), pembiasaan dalam menulis (sekaligus membaca); melakukan kreativitas dalam penggunaan bahasa; melakukan (memberdayakan) penyerapan kosakata bahasa lain: bahasa Indonesia dan/atau bahasa asing ke dalam bahasa daerah (khususnya untuk kosakata yang tidak tersedia dalam bahasa daerah); menyumbangkan kosakata bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesi; penyusunan modul bahasa daerah merupakan upaya peretasan jalan bagi bahasa daerah untuk bertahan hidup dan/atau berkembang.

Penyerapan kosakata bahasa Indonesia dan/atau bahasa asing ke dalam bahasa daerah (khususnya untuk kosakata yang tidak tersedia dalam bahasa daerah) dapat ikut menopang kehidupan dan perkembangan bahasa daerah. Sebaliknya, sumbangan kosakata bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia akan semakin memekarkan dan memperkaya bahasa Indonesia. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelusuran dan penggunaan kosakata bahasa daerah yang bersifat integratif, kaya kearifan lokal, dan belum ada atau lebih pendek dari bahasa Indonesia untuk semakin memperkaya dan mencemerlangkan bahasa Indonesia. Sebaliknya, perlu pula dilakukan penyerapan bahasa Indonesia dan bahasa asing ke dalam bahasa daerah (khususnya untuk kata-kata yang tidak tersedia dalam bahasa daerah) untuk semakin mengembangkan bahasa daerah.

Dalam hal ini, peran pemerintah/swasta, dunia pendidikan, serta masyarakat khususnya yang mempunyai ruang gerak dan potensi melestarikan dan/atau mengembangkan bahasa daerah akan ikut menentukan masa depan bahasa daerah dan akan semakin mengukuhkan keberadaan bahasa daerah.

Semoga di waktu mendatang, tidak akan terungkap kalimat ”Dahulu pernah ada bahasa Ibu, Asilulu, Haruku, Hitu, Laha, Larike-Wakasihu, Tunjung,”. Semoga akan terungkap kalimat “Kata ‘paleu’ berasal dari bahasa Melayu Ambon. Kata itu …”.

DAFTAR PUSTAKA

Crystal, David. 1987. The Cambridge Encyclopedia of Language. Sydney: Cambridge Uni­ver­sity Press.

Grimes, Barbara dalam Summer Institute of Linguistics (SIL). 2000. “Geographical Linguistics”. http://www.yahoo.com. Diunduh 25 Oktober 2004.

Ditjen Kesatuan Bangsa dan Politik. 2007. Peraturan Mendagri No. 40 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah. Jakarta.

Halim, Amran (Ed.). 1980. Politik Bahasa Nasional I. Jakarta: Balai Pustaka.

———-. 1980. Politik Bahasa Nasional 2. Jakarta: Balai Pustaka.

http://www.wikipwdia.com. “List of Languages by Number of Native Speakers”. Diunduh 25 Juni 2008.

http://www.infoplease.com/ipa/A0775272.html. “Most Widely Spoken Languages in the World”. Diunduh 25 Juni 2008.

Kisyani-laksono. 2003. Bahasa Jawa di Jawa Timur Bagian Utara dan Blambangan. Jakarta: Pusat Bahasa.

___________. 2004. “Pojok Kampung: Siaran Berita Berbahasa Jawa yang Naik Daun”. Surabaya. Dalam Simposium Internasional III Bahasa, Sastra, dan Budaya Austronesia, 19–21 Agustus 2004. Denpasar.

———-. 2007. ”Sumbangan Kosakata Bahasa Daerah”. Dalam Seminar Bahasa-bahasa Daerah di Wilayah Indonesia Timur. Ambon.

Kridalaksana, Harimurti. 2006. ”Penyerapan Kosakata dari Bahasa Daerah dan Masalahnya”. Disajikan dalam Seminar Internasional Leksikografi. Jakarta.

Kurniawati, Wati. 2007. ”Bahasa Ibu Menunggu Hari Kepunahan”. Dalam Kongres Linguistik Nasional XII, 3—6 September 2007. Surakarta.

Latif, Yudi dan Idi Subandy Ibrahim (Ed.). 1996. Bahasa dan Kekuasaan. Bandung: Mizan.

Mahsun. 2005a. ”Dinamika Bahasa Indonesia dalam Kebinekaan Bahasa Daerah”. Dalam Seminar Bahasa dan Sastra Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia, 7—8 Maret 2005. Mataram.

———-. 2005b. ”Indigenisasi Bahasa Sumbawa di Lombok: Proses Adaptasi Menuju Pergeseran atau Pemertahaan Bahasa?”. Dalam Persidangan Linguistik Asian Ketiga, 29—30 November 2005. Jakarta: Pusat Bahasa.

Meillet, Antoine. 1970. The Comparative Method in Historical Linguistics. (Trans. Gordon B. Ford). Paris: Libraire Honore Champion.

Nothofer, Bernd. 1980. Dialektgeographische Untersuchungen in West-Java und im Westlichen Zen­tral-Java. Wiesbaden: Otto Horrassowitz.

__________. l981. Dialektatlas von Zentral-Java. Wisbaden: Otto Horrassowitz.

__________1987. “Cita-Cita Penelitian Dialek”. Dalam Dewan Bahasa, Jurnal Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Februari 1987, Jilid 31, Bilangan 2: 128—149.

Poedjosoedarmo, Soepomo; Th. Kundjana; Gloria Soepomo; Alip; Suharso. 1979. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Poerwodarminto, W.J.S. 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Saussure, Ferdinand de. 1988. Pengantar Lingusitik Umum. Terj. Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta: Gadjah mada University Press.

Sugono, Dendy. 2006. ”Politik Bahasa Nasional dan Pengaruh Bahasa Daerah dalam Bahasa Indonesia”. Dalam Seminar Internasional Leksikografi. Jakarta.

Summer Institute of Linguistics. 2006. Languages of Indonesia. Jakarta.

Sujatmoko. 1983. Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Jakarta: LP3ES

Takaria, D. dan C. Pieter. 1998. Kamus Bahasa Melayu Ambon-Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Wardhaugh, Ronald. 1988. “Language, Dialects, and Varieties”. Dalam An Introduction to Sosiolinguistics (hlm. 22—53). New York: Basil Blackwell.

Pada akhir pidato ini saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mengantarkan saya untuk memperoleh jabatan akademik guru besar.

Saya sampaikan terima kasih kepada Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa)—Prof. Dr. H. Haris Supratno–selaku ketua dan anggota komisi guru besar Unesa yang telah mengizinkan pengusulan guru besar ke Mendiknas.

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Senat FBS, dan Komisi Guru Besar Unesa yang telah menyetujui pengusulan guru besar ini; kepada seluruh dosen dan karyawan Unesa, khususnya Dra. Rinda Novianti dan Drs. Lamiran, M.M. serta semua pegawai UPBJJ-UT Surabaya–khususnya Drs. Sugianto, M.Si.; Drs. Soeharmadji; Drs. Abas Asmono; Drs. Adi Suparto, M.Pd.; Dra. Endang Sriningsih, M.Si.; Drs. Sucipto–yang telah mendukung dan membantu pengusulan guru besar.

Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada semua guru saya, antara lain: Prof. Dr. Bernd Nothofer, Dr. Inyo Yos Fernandez, Prof. Drs. Ramlan (alm.), Prof. Dr Edi Subroto, Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo, Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo (alm), Prof. Dr. Kunardi H. yang telah banyak membantu dalam studi lanjut. Para guru yang lain: Bp. Asrori (alm./guru SD); Bp. Sinung Hartadi (guru SMP), Bp. Priyono alm. (guru SMA) saya sampaikan terima kasih dengan tulus karena merekalah yang telah meletakkan dasar-dasar ilmu kebahasaan kepada saya.

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada Drs. Mas Haryadi (alm.); Drs. Totong Tirtawijaya (alm.); Prof. Dr. Leo Idra Ardiana (alm); Prof. Dr. I Nyoman Adhika, M.S.; Prof. Dr. Muchlas Samani; Prof. Dr. Atwi Suparman; Prof. Dr. Abbas A. Badib, Dra. Yuni Poerwanti, M.Pd.; Prof. Dr. Henricus Supriyanto yang telah menyemangati pengajuan pengusulan guru besar ini.

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada ayah dan ibu (Sukisman dan Harini) yang telah menanamkan dan menyiramkan semangat untuk menumbuhkembangkan keberanian dan keinginan untuk maju–ayah dan ibu adalah sosok tegar yang sangat saya kagumi karena beliau berdua bertekat mewariskan pendidikan dan mewujudkannya dengan mengantarkan kedelapan anaknya menjadi sarjana–; kepada kakak dan adik: Dra. Kisrini, Apt., M.Si.; Dra. Kismami, Psy.; Ir. Kiswanto; Ir. Kiswati, Dra. Kisyana; Dra. Ari Kistini, M.Si.; Kistina, S.E.; ayah dan ibu mertua (alm. Wignyoharjono); kakak-kakak ipar, khususnya keluarga Bp. A Supriyono-M.E.Hardjani yang semuanya telah menyiramkan kasih sayang luar biasa sebagai tonggak ketegaran untuk selalu melangkah maju.

Secara khusus ucapan terima kasih juga saya persembahkan kepada suami tercinta Drs. P.A. Tri Budi Laksono (alm. 29 Maret 2006) serta buah kasih kami Raras Tyasnurita dan Arya Anuraga yang telah merelakan ibunya lebih banyak mencurahkan waktu untuk pekerjaan daripada berkumpul dengan mereka. ”Mas Tri, engkau selalu menyemangatiku dengan mengatakan bahwa apa yang akan kucapai merupakan bagian dari pencapaianmu. Jika saat ini Tuhan memperkenankanmu dapat mendengar, dengarlah bahwa pidatoku hari ini merupakan hasil pencapaianmu. Biarpun engkau telah pulang, kami selalu merasa dekat karena bagian darimu hidup dalam diri kami.”

Semoga semua amal dan budi baik Ibu/Bapak/Saudara mendapatkan pahala dari Allah SWT. Amin.

Wassalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

RIWAYAT HIDUP

A.

Nama

: Prof. Dr. Kisyani-Laksono

B.


C.

D.

Jab. Fungsional

: Guru Besar (per 1 April 2007)

E.

Instansi/Fakultas

: Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Unesa

F.

Alamat instansi

: a. Jurusan Bahasa Indonesia, FBS, Unesa

Kampus Lidah Wetan, Surabaya 60213

( 031.7527527; ( + Ê 031.7522876

b. UPBJJ-UT Surabaya, Kampus C Unair, Mulyorejo, Surabaya 60115,

:ut-surabaya.net

( 031.5961861–62, Ê031.5961860

G.

Alamat Rumah

H.


:

Suami

: Drs. P.A. Tri Budi Laksono (alm.)

Anak

: Raras Tyasnurita, S. Kom. (dosen Sistem

Informasi, FTIf, ITS)

Arya Anuraga (mahasiswa Sistem Informasi,

FTIf, ITS)

I. Pendidikan

SD Muhammadiyah XI Surakarta, 1968—1973

SMPN I Surakarta, 1974—1976

SMAN III Surakarta, 1977—1980

Sarjana (S-1 UNS Surakarta), 1980—1985, Bahasa Indonesia

Magister Humaniora (S-2 UGM Yogyakarta: cum laude), 1993—1995, Linguistik.

Pra-S-3 (menulis proposal disertasi), Frankfurt University, Germany, 1996–1997

Doktor (S-3 UGM Yogyakarta: cum laude) 1998—2002, linguistik/ilmu budaya.

J. Pekerjaan

1.

1985–sekarang

: Dosen di Jrs. Bhs. Indonesia, FBS, Unesa

2.

1986–1989

: Dosen di Jrs. Bhs. Indonesia, FKIP, Unitomo

3.

1985–1992

: Dosen di Jrs. Bhs. Indonesia, FBS, Unipa

4.

1996—1997 (semester gasal)

: Pengajar “Bahasa Jawa” di Südostasien wissenschaften, Johann Wolfgang Goethe-Universität, Frankfurt am Main, Germany.

5.

1999—sekarang

: Penyunting “Verba: Jurnal Ilmu Bahasa”

6.

2000—2003

: Penyunting Jurnal “Pendidikan Dasar”

7.

2000—sekarang

: Sekretaris Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) cabang Surabaya.

8.

2001—2003

: Sekretaris Pusat Studi Wanita, Unesa.

9.

2001–2003

: Penyusun soal need assassment, Fasilitator PTBK, Penulis Modul, Dit PLP Jakarta.

10.

2002—2004

: Penyunting Majalah “Ajisai” (be a cross-

culturalis: Indonesia—Jepang)

11.

2002—2005

: Penyunting Jurnal “Pendidikan Bhs Jepang”

12.

2003—2004

: Kepala PSW, Unesa

13.

2003

: Anggota Tim Asasmen dan Tutorial Akademik Mahasiswa (ATAM), Ditjen Dikti

14.

2003—2004

: Ang Tim Studi Perluasan Mandat, Ditjen Dikti

15.

2004

: Ang Tim Pengembang Sistem Asesmen Ber- basis Kompetensi PGSMP/SMA, Ditjen Dikti

16.

2004–2005

: Koordinator dan Fasilitator PTBK dan Pelatihan CTL, Penulis Modul, Dit PLP Jkt.

17.

26 Mei 2004

: Kepala UPBJJ UT Surabaya periode I:

2004–2008

18.

2004

: Koordinator Pelatihan Pengembangan Pembelajaran Berbasis Kompetensi bagi Dosen LPTK, Ditjen Dikti.

19.

2005–2006

: Anggota Tim Pemetaan Keilmuan Pendidikan, Ditjen Dikti

20.

2005–2008

: Konsultan Balai Bahasa Jawa Timur

21.

2006– 2008

: Anggota Tim Pemetaan Bahasa Daerah di Indonesia, Pusat Bahasa, Depdiknas

22.

2006–2007

: Anggota Tim Adhoc Standar Penilaian,

BSNP

23.

2005—2006

: Anggota Tim Sertifikasi Guru, Ditjen Dikti

24.

2005—2007

: Anggota Tim PTK, Ditjen Dikti

25.

2006– sekarang

: Dosen Program Pascasarjana Unesa

26.

2007

: Koordinator Tim Penulis Buku CTL Bahasa Indonesia SMP, Dit PSMP.

27.

2007

: Pembimbing KTI Online, Dit PMPTK,

Depdiknas

28.

1 April 2007

: Guru besar Unesa dalam bidang Linguistik

29.

2008

: Koord. tim PIPS/PTK dan PPKP Ditjen Dikti

30.

2008

: Kepala UPBJJ-UT Surabaya periode II: 2008–2012

K. Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

(sejak tahun 2000)

1. Jarak Kosakata Bahasa Jawa di Jawa Timur Bagian Utara, 2000, Penelitian Dosen Muda, Dikti.

2. Penyusunan Model Perangkat Pembelajaran Kontekstual Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas I SLTP: Lembar Kegiatan Siswa (tim), 2001, DIKS, Unesa.

3. Isolek-Isolek Bahasa Jawa di Pesisir Utara Jawa Timur, 2001, Penelitian Dosen Muda, Dikti.

4. Bahasa Jawa di Jawa Timur Bagian Utara dan Blambangan: Kajian Dialektologis. 2002. Disertasi. Yogyakarta: UGM.

5. Bentuk Krama Bahasa Jawa di Jawa Timur, 2002, Penelitian Dosen Muda, Dikti.

6. Diskriminasi Seks dalam Bahasa Indonesia, 2002, Penelitian Kajian Wanita, Dikti.

7. Uji Coba Perangkat Pembelajaran Kontekstual Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas 1 SLTP Negeri 2 Sidoarjo (tim), 2002, DIKS, Unesa.

8. Peningkatan Ekonomi Rakyat Melalui Pemasyarakatan Drum Berputar dan Sprayer Bertekanan untuk Memproduksi Garam Beryodium (tim), 2002. Iptekda Terpadu/RUK, KMNRT.

9. Studi Potensi Pengembangan Pengelolaan Sekolah Dasar di Kota Surabaya (tim), 2003, Kerjasama Lemlit Unesa dengan Pemkot Surabaya dan Badan Penelitian dan Pengembangan Surabaya.

10. Studi Perencaanaan Pengembangan Mutu dan Relevansi Sekolah Menengah Umum di Prov.Jatim (tim), 2003, Kerjasama Lemlit Unesa dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Prov. Jatim.

11. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Bahasa Indonesia SMP di Jawa Timur (tim), 2003, LPM, Unesa.

12. Profil Wanita Berpotensi Universitas Negeri Surabaya (tim), 2003, DIKS, Unesa.

13. Peningkatan Kualitas Pembelajaran “Geologi Umum” melalui Program Asasmen dan Tutorial Akademik Mahasiswa di Jurusan Geografi FIS Unesa (tim), 2004, PTK Dikti.

14. Makna Tangisan dan Senyuman dalam “Rumah Bambu” Karya Y.B. Mangun Wijaya: Pengembangan Teori “Suasana Hati dan Pikiran” dari Santangelo (tim), 2004, DIKS, Unesa.

15. Tatanan Kelembagan Olahraga: Meretas Jalan Menuju Muara (tim), 2005, Kerjasama PSW Unesa dan Dirjen OR. Jakarta.

16. Makna Kesantunan dalam Interaksi Komunikasi pada Komunitas Pesantren di Madura: Kajian Etnopragmatik (TPM), 2005 dan 2006, Hibah Pekerti Tahun I dan II.

17. Pengkajian Pendidikan Dasar di Surabaya untuk Mengantisipasi Perkembangan Ilmu dan Teknologi dalam Era Globalisasi: Pelatihan dan Ujicoba  Model Pembelajaran Bermateri Iptek (selaku Koordinator wilayah Jawa Timur), 2007, Puslitjaknov, Balitbang, Jakarta.

18. Ketirisan Diglosia pada Fungsi Bahasa Jawa di daerah Center dan Periferal (TPM), 2007 dan 2008, Hibah Pekerti Th. I dan II.

L. Publikasi (sepuluh tahun terakhir)

1. “Vergib“, dalam Lernen und Lehren, 30, Jahrgang, Heft 2/1998, Jakarta.

2. Sastra Indonesia di Madura: Tinjauan Pengarang, Hasil Karya, dan Media (tim), 1998, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, Jakarta.

3. “Anta Wacana Tumplak Punjen“, dalam Jaya Baya, September 1998, Surabaya.

4. “Isolek Bahasa Jawa di Keduwung, Tengger“, dalam Linguistik Indonesia, Juli dan Desember 1998. Jakarta.

5. “Isolek bahasa Jawa di Ujung Pangkah“, dalam Prasasti, Februari 1999, Surabaya.

6. “Isolek Bahasa Jawa di Tuban dan Bojonegoro“, dalam Linguistik Indonesia, Oktober 1999, Jakarta.

7. Bahasa Indonesia MKDU (tim). 2000. Surabaya: Unesa.

8. Huruf Kana dan Hanacaraka“, dalam Verba, Oktober 2000, Surabaya.

9. Menyimak (tim), 2001, Jakarta: Dit PLP, Depdiknas. .

10. “Pengajaran Hanacaraka dan Kana“, dalam Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang di Indonesia”, Agustus, No. 1/Th.2/2002. Surabaya.

11. Kain Kebaya Kartini dan Kimono Umeko Tsuda: Refleksi terhadap Busana-Tradisional Wanita”, dalam Ajisai, April 2002. Surabaya.

12. Kejut Budaya. Dalam Ajisai, April 2002. Surabaya.

13. Makan Ala Jawa atau Jepang:Tradisi yang Perlu Dipelihara?, dalam Ajisai, Agustus 2002. Surabaya.

14. Kejut Budaya“, dalam Ajisai, Agustus 2002. Surabaya.

15. Berbicara II (tim), Modul UT, 2002, Jakarta.

16. Perangkat Pembelajaran (tim), 2002, Jakarta: Dit PLP.

17. Berbicara. 2003. Jakarta: Dit PLP, Depdiknas.

18. Bahasa Jawa di Jawa Timur Bagian Utara dan Blambangan, 2003, Jakarta: Pusat Bahasa.

19. Identifikasi Kosakata Krama dalam Bahasa Jawa Dialek Jawa Timur dan Dialek Osing“, dalam Linguistik Indonesia, Februari 2004, Tahun ke 22, Nomor 1, Jakarta.

20. Penghitungan Permutasi dalam Bahasa Jawa di Jawa Timur Bagian Utara dan Blambangan“, dalam Sukamto, Katharina Endriati (Ed). 2004. Menabur Benih Menuai Kasih: Persembahan Karya Bahasa, Sosial, dan Budaya untuk Anton M. Moeliono pada Ultah ke-75, Jakarta: Yayasan Obor.

21. Penelitian Tindakan Kelas (tim), 2004, Jakarta: Dit PLP, Depdiknas.

22. Pengembangan Asesmen Berbasis Kompetensi dalam Pembelajaran “Menulis”, dalam Buana Pendidikan, Tahun II, No. 02, April 2005, Surabaya: Unipa.

23. Wanita Indonesia dan Budaya yang melingkupinya: Dalam Perspektif Seorang Wanita“, dalam Lentera, Juni 2005, Vol. 1, Nomor 1, Surabaya: PSW Unesa.

24. Berbicara I dan II, 2005, Jakarta: Dit. TK SD, Depdiknas.

25. Pembelajaran Bahasa Jawa di Sekolah“, dalam Verba, Oktober 2006, Surabaya: FBS Unesa.

26. Menulis II (tim), 2006, Modul UT, Jakarta: Karunika.

27. Menyunting (tim), 2007, Modul UT, Jakarta: Karunika.

28. Buku Elektronik ”Pelajaran Bahasa Indonesia (CTL)”, 2008, Jakarta: Dit PSMP, Depdiknas.

29. Penelitian Tindakan Kelas: Teori dan Implementasinya. 2008. Surabaya: Unesa.

M. Makalah Seminar (sepuluh tahun terakhir)

1. Bahasa Indonesia dan Tuntutan Zaman”, dalam Bulan Bahasa 1998, 21 November 1998, IKIP Surabaya.

2. “Huruf Kana dan Hanacaraka: Sistem, Keberadaan, dan Ke-survive-annya”, dalam Seminar Nasional Kajian Jepang di Indonesia Memasuki Abad XXI, 2—4 Desember 1998, kerja sama Japan Foundation dan IKIP Surabaya, Hotel Simpang Surabaya.

3. Sastra dan Perubahan Sosial, dalam Simposium Internasional Ilmu-Ilmu Humaniora ke-5, 8—9 Desember 1998, Yogyakarta: UGM

4. “Bahasa Indonesia: Masalah dan Cara Guru Menyiasatinya”, dalam Seminar Nasional Pengajaran Bahasa dan Sastra, 16—17 April 1999, Padang: Universitas Bung Hatta.

5. “Identifikasi Dialek dan Subdialek di Jawa Timur bagian Utara”, dalam Kongres Bahasa Jawa, 2001, Yogyakarta.

6. “Peran dan Kedudukan Wanita Indonesia dalam Budaya”, dalam Diskusi Panel Nice Center, 2001, Surabaya.

7. “Model Pengajaran Huruf Hancaraka dan Kana”, dalam Seminar Internasional Bahasa Jepang, 2001,Surabaya.

8. “Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa: Fungsi dan Masalahnya”, dalam Seminar Balai Bahasa Jawa Timur, 2001, Sidoarjo.

9. “Identifikasi Kosakata Krama Bahasa Jawa dalam Bahasa Jawa Dialek Jawa Timur dan Dialek Osing”, dalam Kongres Linguistik Nasional 17–20 Juli 2002, Denpasar.

10. “Diskriminasi Seks dalam Bahasa Indonesia”, dalam Workshop International Lexicology, UI, 16–17 Desember 2002, Jakarta.

11. “Dialektologi : Kajian dan Terapan”, Kuliah Perdana Bersama Jur. Bahasa dan Sastra Indonesia, Inggris dan Bahasa Asing, FBS Unesa, Surabaya.

12. “Isolek-Isolek Bahasa Jawa di Pesisir Jawa Timur”, dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Dosen Muda Perguruan Tinggi Tahun 2001, 19–21 Sept 2002 di Bogor.

13. “Ragam Bahasa Ilmiah”, dalam Pelatihan Penulisan Naskah Ilmiah Angk. IV, 4–5 Nov 2002 di Unair, Surabaya.

14. “Kamus Gender: Penyusunan dan Usulannya”, dalam Kegiatan Sanggar Kerja Internasional Leksikologi, 16–17 Des 2002 di Depok.

15. “Identifikasi Dialek dan Sub-Dialek Bahasa Jawa di Jatim Bagian Utara dan Blambangan“, dalam Kongres Linguistik Nasional X, 17–20 Juli 2002 di Denpasar.

16. “Penelitian Tindakan Kelas”, dalam Pelatihan Penyusunan Instrumen Asesmen dan Tutorial Prog. Asesmen dan Tutorial Akademik Mhs (ATAM), 10–13 Juni 2003, Surabaya.

17. “Pembelajaran Ketrampilan Berbahasa: Menulis”, dalam Pelatihan Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran Bhs. Indonesia Berdasarkan KBK bagi Guru SD, SMP, SMA dan SMK Kota Sby, 28–31 Juli 200, Surabaya.

18. “Fungsi Bahasa Daerah dan Dialek dalam Seni Pertunjukkan Rakyat Jatim”, dalam Seminar Nasional Pengarusutamaan Kompetensi pada Kajian Bahasa, Sastra, Seni dan Pembelajarannya di Unesa, 6 Okt. 2003, Surabaya.

19. Contextual Teaching and Learning (CTL)”, dalam Lokakarya Peningkatan Mutu Sekolah Berbasis Masyarakat SD/MI dan SLTP, 15 Desember 2003. Bondowoso.

20. “Penyusunan Kamus Jantina dalam Bahasa Indonesia”, dalam Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya ke-1, 17–18 Februari 2003, Jakarta.

21. “Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia”, dalam Seminar Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Guru SLTP/MTs, SMU/MA, dan SMK, 17 Februari 2004, Surabaya.

22. “Derap Langkah UPBJJ-UT Surabaya”, dalam Seminar PGRI Jawa Timur, Juli 2004, Sarangan, Magetan.

23. “Bias Gender dalam Bahasa Indonesia”, dalam Seminar Perspektif Gender dalam Pendidikan, 4 Oktober 2004, Jakarta.

24. “Wanita Indonesia dan Budaya yang melingkupinya: dalam Perspektif Seorang Wanita”, dalam Seminar Internasional “Menuju Kecermelangan Kebudayaan Jepang dan Asean” 6 – 8 Desember 2004, Surabaya.

25. “Pengarusutamakan Gender Bidang Pendidikan Unesa”, dalam Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (KONASPI) V, 5–9 Oktober 2004, Surabaya.

26. “Pojok Kampung: Berita Berbahasa Jawa yang Naik Daun”, dalam Simposium Internasional III Bahasa, Sastra, dan Budaya Austronesia”, 19–21 Agustus 2004, Denpasar.

27. Basa Suroboyoan dalam Berita Pojok Kampung JTV dalam Dunia Pendidikan”, dalam Seminar Peranan Bahasa Berita Pojok Kampung JTV dalam Dunia Pendidikan, 12 April 2005, Surabaya.

28. ”Bahasa Indonesia Protokoler”, dalam Diklat Keprotokolan Jawa Timur, Tahun 2005, 2006, 2007, 2008, Surabaya/Malang.

29. “Pengembangan KBK di Program Studi”, dalam Seminar Pemutakiran KBK FBS Unesa, 25– 26 Januari 2005, Surabaya.

30. “Bahasa Menunjukkan Kepribadian Bangsa di Era Otonomi Daerah”, dalam Seminar Pembelajaran Bahasa di SD, 26 Mei 2005, Pamekasan.

31. “Implementasi Penelitian Tindakan Kelas”, dalam Pelatihan Metodologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Ditjen Dikti, 8–11 Agustus 2005 di Batam.

32. ”Pengembangan Bhs dan Sastra Jawa dalam Perspektif Kebhinekatunggalikaan”,dalam Sem Kearifan Lokal,2006, Batu.

33. ”Sumbangan Kosakata bahasa Daerah”, dalam Seminar Internasional Bahasa Daerah di Ambon, Agustus 2007. Ambon.

34. “Kompetensi Guru Bahasa Daerah”, dalam Kongres Bahasa Daerah Sulsel, Juli 2007, Makassar.

35. Jaminan Kualitas Layanan Pendidikan Jarak Jauh di UPBJJ-UT Surabaya”, dalam Seminar Nasional UT, Januari 2008, Jakarta.

36. “Penelitian Tindakan Kelas”, dalam Semiloka Untukmu Guruku, Jawa Pos. 2008.

37. “Penerapan dan Pengembangan Manajemen Berbasis Sekolah”, dalam Semiloka Pembelajaran, Februari 2008, Probolinggo.

38. “Peningkatan Daya Saing Lulusan UT Melalui Penyelenggaraan PTJJ yang Berkualitas Internasional”, dalam Seminar Nasional UT, 26 Mei 2008.

39. “Bahasa Daerah di Indonesia”, dalam Seminar Nasional Bahasa dan Sastra, 24-26 Juni 2008. Mataram.

40. “Pendidikan Multikultural: Sepakat untuk Selalu Dekat”, dalam Seminar Nasional Pendidikan Multikultural: Proses menjadi Indonesia, Unipa, Surabaya, 20 Desember 2008.

N. Pelatihan/Kursus

1. Penataran Penyesuaian Kemampuan Pengajaran, 1986, IKIP Surabaya.

2. Penataran Metodik Khusus Pengajaran, 1986, IKIP Surabaya.

3. Pelatihan Dosen MKDU, 1988, IKIP Surabaya.

4. Metode Pengajaran Dosen PGSD, 1990, IKIP Surabaya.

5. TOEFL Intensive Course, 1992, IKIP Surabaya.

6. Applied Approach, 1992, IKIP Surabaya.

7. Penelitian Tingkat Dasar, 1995, IKIP Surabaya.

8. Kursus Bahasa Jepang, 1995, Konjen Jepang di Surabaya.

9. Penelitian Kualitatif, 1996, IKIP Surabaya.

10. Kursus Bahasa Jerman, 1997, Goethe.

11. Pelatihan Peningkatan keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) dan Applied Approach (AA), 2007, Unesa

O. Penghargaan yang Pernah Diperoleh

1. Piagam (prestasi akademis terbaik), UNS: Juni 1981, Desember 1981, 1982, Desember 1983

2. Piagam (juara lomba cerdas cermat kebahasaan), UNS: 14 November 1983

3. Juara lomba esai Jawa Pos, Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa a.n. Jawa Pos, 23 Oktober 1993

4. Saat memimpin UPBJJ-UT Surabaya:

Pemenang Terbaik I dalam Manajemen UPBJJ-UT tahun 2004 (dari 37 UPBJJ di Indonesia)

Pemenang Harapan II Pengelolaan UPBJJ-UT tahun 2005

Pemenang Terbaik II Pengelolaan UPBJJ-UT tahun 2006

Pemenang Terbaik II Pengelolaan UPBJJ-UT tahun 2007

Peringkat Ketiga untuk Jumlah Mahasiswa Terbanyak pada tahun 2007.1

ISO 9001:2000 dari SGS (3 September 2007—2 September 2010) dalam bidang layanan belajar jarak jauh (distance learning services)

Pemenang terbaik I dalam Pengelolaan (Prestasi Kerja) UPBJJ-UT tahun 2008

Peringkat Ketiga untuk Jumlah Mahasiswa Terbanyak pada tahun 2008 (24.234 mahasiswa)

Peringkat Ketiga untuk Jumlah Mahasiswa Pendas Terbanyak pada tahun 2008

5. Salah satu Kartini tangguh Surabaya (dari 16 Kartini) versi Radar Surabaya, 21 April 2008.

P. Beasiswa yang Pernah Diperoleh

1. Tunjangan Ikatan Dinas (TID) di UNS, 1981–1985 (S-1)

2. Tim Manajemen Program Doktor (TMPD) di UGM, 1993–1995 (S-2)

3. Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) di Johann Wolfgang Goethe Universität (Frankfurt University), 1996–1997

4. Beasiswa Program Pascasarjana (BPPS) di UGM, 1997–2001 (S-3)

Surabaya, Desember 2008


[1] Penulisan Krama Inggil (berhuruf italic dengan garis bawah) dimaksudkan untuk membedakannya dengan Krama Inggil (cetak biasa tanpa garis bawah) yang merupakan bagian dari Krama Inggil.

6 Comments

  1. Farisi said,

    March 4, 2009 at 6:39 am

    selamat atas pengukuhan Ibu sebagai Guru Besar dalam bidang Linguistik-Ilmu Budaya.

  2. kisyani said,

    March 5, 2009 at 3:07 pm

    Terima kasih, Bapak. Semoga cepat menyusul.

  3. suyatno said,

    April 1, 2009 at 4:51 am

    Topik pidato yang menarik, apalagi, di Jogjakarta, saat ini, ada kebijakan untuk menuliskan huruf jawa di semua kantor dan KTP. Bagus bu.

  4. Farisi said,

    April 2, 2009 at 8:45 am

    Cepat menyusul di alam impian dan angan-angan kali ya Bu…

  5. chaed said,

    March 12, 2010 at 2:57 pm

    selamat ya bu.. semoga ibu selalu berjaya dan menepakkan sayap di jagad pendidikan.

    • kisyani said,

      March 12, 2010 at 5:40 pm

      amin, terima kasih. Semoga sehat dan sukses selalu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: