Untuk Bapak

Bapak, senyummu melingkupiku seperti kabut pagi,
menghangatkanku seperti mentari siang,

dan menyelimutiku seperti bintang malam

.Aku bersyukur pada Tuhan
untuk setiap kasih dan kebahagiaan,

dan terkunci dalam kotak harta hatiku
kenangan akan Bapak.

Kami (Raras dan Arya) tidak tahu bagaimana seorang anak berterima kasih kepada Bapaknya atas cinta, kesabaran, dan kerja keras. Aku tidak tahu ya Tuhan, kecuali meminta-Mu untuk menyayanginya seperti ia menyayangiku dan membantuku agar dapat hidup mengikuti teladan yang diberikanny.


Tidak ada dalam kamusku (Raras) merasa kesepian karena tidak punya pacar karena Bapak adalah teman kencan yang terbaik. Aku selalu bertanya setiap Bapak akan pergi. ”Mau kemana, Pak?”, dan kau menjawab ”Main”, lalu sontak aku menyeru ”Ikut!”. Pergi nonton film di bioskop, wisata kuliner, lihat pameran … aku selalu mengikutimu kemana pun kau pergi. Di jalan aku bercerita tentang pengalamanku di sekolah, curhat tentang cowok, walau tanggapanmu datar dan kita berdebat tapi aku tetap menceritakannya dengan berapi-api. Aku ingat dulu setiap kita pergi berempat naik motor, aku dan Arya selalu berebut ingin memboncengmu. Alasannya, motor Bapak lebih bagus dan lebih baru. Lalu Ibu pasti jengkel, dan aku sering mengalah dengan membonceng Ibu. Sebenarnya ada satu alasan lagi, Bapak lebih enak dipeluk karena perutnya besar dan empuk. Lucunya masa itu.

Aku (Raras) senang dimanjakannya. Saat aku belum berani naik motor, Bapak selalu mengantarkanku, ke kampus, ke dokter gigi, sampai aku juga pernah kena marahnya karena sering tidak tepat waktu. Tetapi Bapak tidak pernah mutung ’marah’. Aku ini tanpa sadar suka seenaknya sendiri, tanpa tahu kalau Bapak tetap menjemput dan menungguku walau badannya sedang kurang sehat. Aku menangis setiap mengingatnya.

Bapak, yang aku (Arya) kagumi darinya adalah kemampuannya untuk bersifat otodidak dalam mempelajari sesuatu hal baru. Bapak selalu mengikuti perkembangan teknologi, bila ada gadget baru, dia langsung mencari info di internet, pameran, toko. Bila sreg, maka akan mengumpulkan uang dan membelinya. Dia pelajari sendiri bagaimana menggunakannya dan menyimpannya dengan hati-hati. Bapak akan marah bila dia tahu kita meminjamkannya ke teman tanpa memberitahunya. Bukan berarti pelit, tapi dia selalu menjaga barang elektroniknya dengan hati-hati.

Memancing adalah hobi yang Bapak wariskan padaku (Arya),. Pada awalnya Bapak membuatkan alat pancing sendiri untukku. Sungguh terlihat sederhana, namun sangat istimewa. Aku gunakan untuk memancing di belakang rumah, dan untuk pertama kali aku dapat satu ikan di sana. Akhirnya Bapak membeli alat pancing yang bagus, dan tak lupa Bapak pun membelikannya untukku juga. Hampir setiap minggu kami mancing bersama.

Selain itu, Bapak punya tangan yang terampil. Dia suka menciptakan karya sendiri baik itu hiasan atau perabot rumah seperti lemari buku dan papan pesan. Yang paling indah adalah karyanya di waktu natal dan 17 Agustusan. Kami senang membantunya merangkai pohon natal, rumah-rumahan kecil, bahkan papan peringatan hari kemerdekaan berupa ayam jantan di depan rumah dengan lampu kelap-kelipnya. Bapak punya banyak hobi yang berubah-ubah mengikuti masa, mulai dari memancing, memelihara burung, memelihara ikan, balap tamiya, dan lain-lain. Setiap ia menjalankan hobinya, pasti membutuhkan budget yang tidak sedikit. Waktu tamiya sedang nge-trend, kita berempat punya tamiya sendiri-sendiri dan Bapak membuatkan arena balapnya dari kayu. Wah, itu keren juga lho. Ketika senang dengan ikan, kita punya satu akuarium besar dan kolam besarnya juga. Sekarang sudah tidak ada lagi, tetapi aku ingat setiap hobinya selalu memberi kegembiraan buat kami.

Keahlian lainnya dari Bapak yang aku pun (Raras) juga kalah darinya adalah memasak. Bapak tahu aku suka setup makaroni dan hanya bisa aku nikmati ketika di Solo saja. Oleh karena itu,  Bapak membuatnya di rumah., aku sangat senang. Sampai sekarang aku belum bisa membuatnya sendiri. Setiap aku praktik memasak, Bapak yang sering jadi pengincip pertama. Sayangnya, hasil masakanku pasti jelek. Parahnya aku ini.

Mungkin benar kalau orang tua adalah figur pertama yang dilihat oleh seorang anak. Begitu pula dengan kebiasaan orang tua yang tanpa disadari sang anak sengaja atau tanpa sengaja menirukannya. Begitu pula dengan kebiasaanku (Raras) yang suka menggaruk pinggang. Cara menggaruknya sama persis dengan yang dilakukan Bapak. Padahal aku tidak menirunya lho. Aku sadar waktu ibu nyeletuk bilang hal itu.

Saat Bapak berpulang, aku (Arya) sedang menempuh ujian kelas 3 SMA. Sebelumnya aku pernah menyampaikan keinginan kepada Bapak dan Ibu untuk melanjutkan studi ke program studi Sistem Informasi di ITB. Akan tetapi, Bapak bilang: ”Mengapa jauh-jauh ke Bandung? Di ITS juga ada. Jika prodi itu tidak ada di ITS, ya tidak apa-apa di ITB. Tapi prodi itu ada kan di ITS, ambil saja di ITS!”. Memang prodi itu ada di ITS, tetapi Mbak Raras juga menuntut ilmu di prodi itu. Setelah Bapak berpulang, kubulatkan tekadku untuk masuk di ITS. Untuk itu pun aku harus berjuang keras, dan alhamdulillah aku berhasil masuk lewat jalur SPMB, sama seperti Mbak Raras. Kuharap Bapak tersenyum dan tentram di sana.

Kepulanganmu Bapak, tidak akan pernah menghapus semua kenangan tentangmu. Kami adalah bukti rahasia umur panjangmu karena kami tahu ada bagian darimu yang hidup dalam diri kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: