Terima Kasih dengan Tulus

UNGKAPAN TERIMA KASIH
Ide penulisan buku kecil ini tebersit ketika kami (saya dan anak-anak) mengadiri undangan mengenang 100 hari berpulangnya suami (P.A. Tri Budi Laksono) dari himpunan mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia, FBS, Universitas PGRI Adibuana Surabaya (Unipa)–tempat almarhum suami bekerja–pada Sabtu, 8 Juli 2006, pukul 19.00—selesai di halaman Kampus Unipa, Ngagel Dadi, Surabaya .Saat menerima undangan itu yang terlintas dalam pikiran kami adalah pertemuan formal dengan beberapa pidato untuk mengenangnya.

Saat itu sebenarnya sudah lebih dari 100 hari (100 hari tepatnya berdasarkan hitungan kalender Jawa jatuh pada Rabu Pon, 5 Juli 2006). Selama 100 hari sejak kepulangan suami, saya memang tidak dapat memenuhi jadwal ke luar kota. Tetapi, setelah melewati 100 hari, barulah saya ke luar kota, dan ke luar kota yang pertama adalah ke Jakarta tanggal 7 Juli dan saya jadwalkan pulang tanggal 8 Juli 2006 untuk menghadiri undangan itu. Anak-anak ,  sayaminta menjemput di bandara Juanda dan dari Juanda kami langsung ke Unipa. Saat itu menjelang magrib, lampu-lampu sudah mulai dinyalakan.

Saat kami akan memasuki gerbang Unipa, kami terpana  karena Unipa malam itu dipenuhi dengan cahaya lentera dan lilin yang berjejer rapi pada semua pagar yang melingkari kampus itu. Tak terhitung jumlah lentera dan lilin yang menyala. Hal yang sama ternyata juga kami jumpai di halaman kampus. Halaman yang biasanya digunakan untuk parkir mobil, saat itu digelari karpet dan diterangi dengan beberapa lentera dan lilin besar di atasnya. Beberapa obor juga menghiasi bagian sudut-sudutnya. Pintu ke ruang kantor tidak terlihat karena tertutup oleh layar hitam dengan panggung hitam dan sedikit temaram lampu kecil di tengahnya. Hati kami tercekat, kami bertanya dalam hati, “Acara apa yang akan digelar nanti?”

Kami diterima dan berbincang dengan Dekan FKIP (Drs. I Wayan Arsana, M.Pd.),  Kaprodi (Drs. Agung Pramujiono, M.Pd.), dan beberapa dosen yang hadir. Saat itu kami tahu bahwa  penggagas acara ini adalah para mahasiswa yang dengan suka rela meluangkan waktu, tenaga, dan biaya. Mereka menggalang pengumpulan  puisi untuk mengenang almarhum suami/bapak. Puisi yang mereka kumpulkan mereka dapatkan dari mereka sendiri, dari sesama mahasiswa,  dari dosen, pejabat, bahkan rektor dan ketua yayasan pun  ikut pula menyumbangkan torehan puisi. Saat rencana acara  peringatan 100 hari ini disampaikan kepada dekan, mereka menyatakan siap untuk swadana (sungguh perhatian yang luar biasa). Akan tetapi, jajaran pimpinan Unipa cukup bijak dengan berbagai bantuan. Oleh sebab itu, kami sampaikan terima kasih tak terhingga kepada para mahasiswa Unipa, pimpinan Unipa, para pegawai (dosen dan karyawan) yang sudah mewujudkan acara itu dan/atau menyumbangkan puisi-puisinya .

Menjelang acara, kami ke halaman. Semua yang hadir masing-masing mendapatkan sekotak kue, air, dan dua stiker yang masing-masing berwarna merah dan hitam. Dalam stiker berukuran 7 x 10 cm itu ada gambar dua lilin menyala di atas hamparan cahaya. Di situ tertulis

“Sesuatu yang jarang sekali dilakukan itu indah”

MENGENANG 100 HARI WAFATNYA
Dosen, Rekan, Sahabat, Saudara kita tercinta

TRI BUDI LAKSONO

HIMA BAHASA & SASTRA INDONESIA
FKIP UNIPA SURABAYA
08 Juli 06

Di halaman, kami duduk di atas karpet, acara dimulai, Dekan FKIP–Drs. I Wayan Arsana, M.Pd.–memberikan sambutan  yang dilanjutkan dengan pemberian tanaman melati untuk saya. Sungguh hadiah yang tak terduga. Rumpun melati itu sampai saat ini masih hidup dan sering berbunga di pagar rumah kami, seolah ikut menjaga dan menyalurkan kasih sayang–dari orang-orang yang mencintai suami saya—kepada kami sekeluarga. Setelah itu saya ikut memberikan sambutan. Sesak nafas ini menyaksikan halaman yang bermandikan lautan cahaya lentera serta ratusan dosen-dan-mahasiswa yang  meluangkan waktu menghadiri acara itu. Suatu kejutan yang mengharukan, kejutan yang semakin menguatkan hati kami, kejutan yang membuka mata hati kami bahwa Mas Tri adalah sosok yang dicintai di lingkungan kerjanya. Ucapan terima kasih kami mungkin tidak cukup untuk menggantikan semua itu.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi. Pembacaan puisi dilakukan di tengah lingkaran yang dibentuk dengan lilin-lilin besar dengan alas kertas kotak-kotak. Suasana malam itu sungguh khidmat dan syahdu. Pembacaan puisi dimulai oleh Ketua Yayasan PGRI, para pejabat, dosen, dan para mahasiswa. Rektor dan pembantu rektor pun ikut menyumbangkan torehen puisi mereka.  Tampilan puisi mereka sungguh tak terduga, mengharukan, menguras air mata, tetapi menimbulkan kekuatan jiwa. Ada yang membaca penuh syahdu, ada ballada cinta tentang masa silam, ada yang membaca dengan iringan isakan tangis, suara doa terbata-bata. Kami tidak mampu menahan sejuta rasa yang menggelayut di hati. Setiap tarikan napas, menghadirkan  rasa cinta kasih yang mendalam, memasuki relung hati, penuh keharuan yang menerpa. Beberapa dosen tak kuasa untuk menyelesaikan pembacaan puisinya. Beberapa mahasiswa ikut  berdeklamasi dan larut dalam duka. Ya Allah, mereka ternyata amat mencintai Mas Tri. Doa mereka dan doa kami menyatu; “Ya Allah, lapangkanlah jalan Mas Tri, ampunilah dosanya, terimalah amal ibadahnya, tempatkanlah dia di surga.”

Bagi kami, malam  itu merupakan malam yang sangat membekas pada jiwa. Air mata ini rasanya tumpah begitu saja. Setiap kali air mata tumpah saat mengenangnya, kami (saya dan anak-anak) selalu melantunkan doa untuknya. Doa yang kami harap dapat dikabulkan oleh-Nya, doa yang membuat hati kami ikhlas, dan keihklasan itu  ternyata dapat menguatkan hati kami sekeluarga. Doa itu saya pasang di kamar dan di kamar anak-anak. Doa yang kami resapi terus, dan akan kami lantunkan terus sampai saat kami tiba, ”Ya Allah, lapangkan jalan Mas Tri/Bapak, ampunilah dosanya, terimalah amal ibadahnya, tempatkanlah dia di surga. Amin”.

Dalam buku ini, puisi dari rekan kerja/dosen dan para mahasiswa ditulis apa adanya, seperti aslinya. Kami meyakini bahwa ekpresi hati tidak perlu diukur dan ditimbang dengan konsep kualitas estetika. Ekspresi hati itu bermuara pada kesucian jiwa, ketulusan hati, kejujuran dalam tindakan, dan akhirnya kebaikan demi sesama tanpa pamrih sanjungan, tanpa minta balasan. Di sini, di buku ini, himpunan puisi itu ditulis kembali. Pemuatan puisi ini pun tanpa seizin mereka. Tetapi, kami yakin mereka juga tanpa pamrih menyerahkannya kepada kami.

Selain itu, buku ini juga memuat puisi-puisi Mas Tri tempo doeloe. Dari puisi-puisinya tergambar gerak hidupnya, perjalanan cintanya, kenakalannya, persahabatannya, kelembutan hatinya, kebahagiaannya, dan ketabahannya dalam hidup. Pemuatan puisinya memang tanpa izin resmi dari yang bersangkutan. Tetapi,  saya yang mewarisi kumpulan puisinya yakin bahwa anggukan dan senyumnya akan menyertai jika ia tahu hal ini (kumpulan puisinya merupakan mas kawin yang diberikan bersamaan dengan penyerahan buku mingguan berdua ).

Sekali lagi, kami sampaikan terima kasih untuk semua penggagas acara itu. Terima kasih juga kami sampaikan kepada semua yang telah membantu perawatan dan pemakaman almarhum suami/Bapak. Kepada keluarga besar Wignyohardjono; keluarga besar Sukisman, Siswosudarmo, dan Daryodipuro;  para dokter dan perawat di RKZ dan dr Soetomo; para Romo; para pejabat dan teman dari Unipa, Unesa, UPBJJ-UT Surabaya, Universitas Terbuka (UT) Jakarta, UPBJJ-UT di Indonesia, Unair, ITS, Dikti, Ditjora, Balai Bahasa Surabaya dan Pusat Bahasa, PLP (sekarang PSMP), Dinas Pendidikan,  teman kuliah,  para tetangga, teman dari Kring Paulus-Waru, teman menuntut ilmu, penyedia jasa Ario, dan penjaga makam kami sampaikan terima kasih. Surat dan ucapan ikut berduka cita,  puisi ucapan duka cita dari teman-teman UT dan UPBJJ lain, foto dan video peristiwa, serta foto karangan bunga sampai saat ini tersimpan rapi. Membuka kembali barang-barang itu semakin menguatkan dan menyadarkan hati kami bahwa kami tidak sendiri.

Secara khusus terima kasih juga kami sampaikan kepada beberapa teman yang rela meninggalkan keluarganya pada malam hari  untuk ikut menunggu berjaga malam di rumah sakit saat Bapak sakit, di antaranya: Bapak Setyo, Eko, Puji, Muji, Gito, Marjono dan temannya.

Selang tujuh hari setelah Bapak berpulang, Bapak Sugianto dan Soeharmadji mengurus berbagai berkas untuk keperluan pengurusan pensiun, taspen, bapetarum, dan sebagainya. Rasanya saat itu, kami tidak dapat mengurusnya sendiri karena mengurus hal itu seperti membuka luka kami yang belum sembuh. Beberapa pertanyaan tentang mas Tri/Bapak membuat kami selalu meneteskan air mata. SK pensiun dapat keluar dalam waktu yang relatif singkat: sekitar satu bulan (akhir April 2006). Itu semua berkat bantuan Bapak Sugiarto dari Unesa dan pegawai BKN yang cekatan. Beberapa surat keterangan penyerta diurus oleh Sdr. Sugito.  Untuk itu, kami sampaikan terima kasih dengan tulus kepada semuanya.

Menjelang 40 hari sejak berpulangnya Bapak, kami membuat skenario video tentang pemakaman yang diawali dengan riwayat hidup. Video itu terwujud berkat bantuan Sdr. Dwianto Asmoro. Oleh sebab itu, kami sampaikan terima kasih dengan tulus atas bantuannya. Selain itu, ucapan terima kasih juga kami sampaikan untuk kiriman video dari Eka Dedy, dan Tomy; foto dari Has (Rahadi Mahasa Bantas) dan beberapa teman lain. Saat acara 7 hari, 40 hari, 100 hari, Pendhak I dan II; klg. Mbak Nie dan Mas Pri, klg. Mas Prap, Mbah Endah dan Mas Didik, Mbak Thres, para tetangga, dan teman-teman dari Kring Paulus  semuanya tulus mengirimkan doa. Oleh sebab itu, kami sampaikan terima kasih. Kepada para Romo yang berkenan meluangkan waktu untuk ibadah sabda di rumah; Ibu Totok dan Ibu Hadi yang selalu membantu merangkaikan bunga; Ketua Kring Paulus, klg. Ibu Silalahi, serta klg. Ibu Catur yang ikut sibuk menata acara; klg. Ibu Leo yang ikut membantu mengurus konsumsi; Ibu Bambang yang ikut membantu mengurus penjemputan Romo di Surabaya; Para Romo di Gereja Salib Suci yang selalu mengabulkan intensi misa untuk Mas Tri, kami sampaikan terima kasih tak terhingga.

Selain itu, buku ini juga tidak akan terwujud tanpa bantuan dari berbagai pihak. Kepada Prof. Dr. Henricus Supriyanto yang telah berkenan mengoreksi naskah dan melengkapi berbagai data kalender Jawa, kami sampaikan terima kasih. Kepada Rahadi Saptata Abra dengan Basonta-nya yang telah membantu pencetakan buku ini, kami sampaikan terima kasih. Terima kasih juga kami sampaikan kepada keluarga besar Sukisman (Ayah-Ibu; klg. Kisrini, Kismami, Kiswanto, Kiswati, Kisyana, Kistini, Kistina),  keluarga besar Wignyoharjono (Klg. Soeprapto, Hariadi, Harianto alm., Sri Hardjani, Hari Respatyo, Hari Prabowo, Hari Setyana alm., Wahyudi Nugraha); klg Siswosudarmo (klg. Hartati, Soeroyo, Siti Partini Suardiman, Sri Ngudarti, Rismini);  klg Daryodipuro (klg Soekimah alm.: Maryati Siswoyo; Soekiman alm., Soemarjono alm., Sardjono);  keluarga Ibu Yuni Poerwanti;  para tetangga;  keluarga besar Unipa, Unesa, UPBJJ-UT Surabaya, Ibu Endang; Bapak Adi; teman-teman Dikti, khususnya dari tim PTK dan PPKP   yang dengan tulus selalu berusaha melipur kami. Terima kasih kami sampaikan atas semua doa tulus untuk Mas Tri/Bapak.  Semua kebaikan mereka tertoreh dalam tinta bunga di hati kami sekeluarga. Semoga Allah SWT  berkenan membalas semua budi baik itu. Amin. Kami mohon maaf karena tidak dapat menyebut nama satu-persatu (mungkin ada yang terlewati), semoga hal itu dapat dimaklumi.

2 Comments

  1. Nur Irma Fakhriyani said,

    April 23, 2009 at 7:47 am

    assalamu’alaikum. salam kenal dari mahasiswi ibu. saya Irma, dari PR 2007 Unesa. sengaja saya meluangkan waktu karena ingin tahu lebih dekat tentang ibu Kis. saya suka sekali dengan cara ibu mengajar. semoga saya bisa menirunya. itu saja awal perkenalan saya. have nice day! wassalamu’alaikum

  2. Umi Haniah said,

    May 22, 2009 at 9:09 pm

    Turut berduka cita atas berpulangnya Pak Tri,
    Maksud hati ingin bernostalgia dan mengucapkan terima kasih yang belum sempat tersampaikan dengan mencari informasi mengenai Pak Tri,yang menjadi PA sy thn 1986 di IKIP PGRI,ternyata sy menemukan berita ini. Saya percaya orang sebaik Pak Tri akan mendapat tempat yang layak di sisi-Nya. Terima kasih atas semua jasanya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: