Surat dari Istri

Mas Tri, saat hari-hari kujalani tanpa kehadiran wujudmu, aku masih merasa bahwa kau selalu ada di dekatku. Aku selalu merasa bahwa aku masih dapat berkomunikasi denganmu walaupun komunikasi kita hanya searah. Beberapa jawaban dan senyummu kadang-kadang kutemukan dalam mimpi dan surat-surat kecilmu.

tri371

Pikiranku sering melayang mencoba mengikuti alunan langkah hidupmu. Aku akan selalu menempatkanmu dalam tempat terindah di hatiku. Aku bahagia dan bersyukur karena telah dapat mendampingimu sampai saat terakhirmu. Aku mengenalmu saat awal menyandang sebutan mahasiswa. Teman-teman sekelas/seangkatan kita sungguh kompak, bersahabat, dan menyenangkan. Di kampuslah kita bertemu, mengepang cinta, bercanda, bertengkar, dan berlomba ilmu. Aku dan kamu selalu berlomba untuk menjadi yang terbaik dalam prestasi akademis. Kelas kita sungguh menyenangkan dan kita merasa menjadi pasangan yang penuh dukungan teman-teman. Persahabatan dengan teman-teman itu terbawa sampai kini.

Saat berumah tangga, kita tidak pernah bertengkar secara serius, Setiap ada waktu dan kesempatan tanganmu selalu membelaiku dengan lembut. Sikap dan peri lakumu selalu menyanjungku, tidak pernah menyakitiku. Tutur kata dan bahasa tubuhmu selalu mendukungku. Tidak pernah sekali pun kau melarang aku melakukan sesuatu, kadang-kadang justru aku yang sering menyatakan tidak setuju. Aku ingat kau sering berkata bahwa “cintamu kepadaku tidak dapat bertambah karena memang semua cinta sudah kau curahkan padaku sampai puncaknya (nganti pol … istilahmu).” Begitu sejuknya kata-katamu setiap aku menangis di dadamu ketika aku mengalami kesulitan dengan berbagai masalahku. Begitu lembutnya dekapanmu setiap aku mencurahkan kekesalanku karena berbagai masalah yang membelitku, dan di situlah aku menemukan kekuatanku. Kau selalu membuatku merasa menjadi wanita yang sangat sempurna di dunia ini.

Rona kebahagiaan selalu terpancar dari wajahmu saat kita bercengkerama. Kita hampir tidak pernah membahas masalah kerja di kamar kita. Anak-anak dan kehidupan masa depan mereka selalu menjadi tema utama. Beberapa kali saja kulihat dan kurasa kesedihan menjelma, saat anak-anak sakit atau saat kakak-kakakmu sakit. Kesedihan terbesar kutampak saat Mbak Nie (Harjani: kakakmu) sakit dan saat Ibu (ibumu) berpulang. Bahkan kesedihan ditinggal ibu kau bawa dalam nadar bahwa rambut dan jenggot tak akan dipotong sebelum 1000 harinya. Mungkin kau ingat mula-mula aku agak risih juga, tapi lama-kelaman aku mulai menyukainya, mengepang rambut atau jengotmu seperti Jhonny Deep di “Pirates of Caribian” atau sekadar menyisir dan menguncirnya.

Kita sekeluarga sering pula nonton film bersama, di gedung bioskop atau di rumah dengan perlengkapanmu. Kecintaanmu pada dunia audio video mewariskan barang-barang yang belum kutahu manfaatnya, maafkan aku. Beberapa bajumu sudah kubagikan kepada saudara dan handai taulan untuk kenang-kenangan karena sampai sekarang aku masih belum sanggup menata almarimu. Setiap kubuka almari itu untuk menyusun dan menatanya, setiap kali pula aku selalu terduduk lemas dan menangis. Entah aku tidak tahu kapan aku dapat membongkar semua tentangmu.

Mas Tri, biarpun kita beda, rumah tangga kita aman-aman saja. Tak pernah sekali pun kita bertengkar soal perbedaan itu. Anak-anak pun tidak pernah mempermasalahkannya. Herannya, orang lain yang justru sering bertanya, apakah kita baik-baik saja. Kita sering tertawa berdua jika mendengar pertanyaan yang sama, pertanyaan yang jawabannya selalu sama. Kemudian aku akan memelukmu dengan erat, tak akan kulepaskan pengantinku untuk alasan apapun jua. Kita kemudian berbicara tentang hal lain karena kita menganggap hal itu bukan sesuatu yang istimewa, yah, hanya berjalan seperti adanya.

Melihatmu terbaring sakit adalah penderitaan terberat dalam hidupku. Saat dokter memvonismu dengan penyakit jantung koroner tahun 1996, kau selalu berusaha menata ketabahanku untuk setiap saat bisa menerima kenyataan. Dua kali operasi kecil (kateterisasi) untuk memasukkan balon di pembuluh koronermu merupakan latihan ketabahan yang diujikan Tuhan untukmu dan untukku. Enam bulan setelah itu kau menyemangatiku untuk tetap berangkat ke Frankfurt menuntut ilmu (menulis proposal disertasi) karena persetujuan hal itu telah ada sebelum sakitmu. Kau selalu menyemangatiku dengan mengatakan bahwa apa yang akan kucapai merupakan bagian dari pencapaianmu. Masa-masa setelah itu adalah masa penuh syukur kebahagiaan. Ujian itu berulang setelah sepuluh tahun berlalu.

Selang masa sepuluh tahun itu kau selalu melantunkan doa yang seolah selalu berbisik di telingaku. Kau selalu berdoa supaya kepulanganmu tidak tiba-tiba karena kau memikirkan penderitaan berat yang akan kami alami. Kau juga berdoa semoga kepulanganmu tidak didahului dengan sakit yang memerlukan perawatan lama karena itu kau anggap akan menyusahkan kami. Beberapa keinginan duniawi sudah teraih, hanya saja saat berkendara kau sering bertanya seolah tak yakin ”Apa aku isih menangi wisudane Raras karo Arya, ya?” (Apa aku sempat mendampingi Raras dan Arya wisuda, ya?) Apa aku isih iso momong putu,ya?” (Apa aku sempat menikmati masa menimang cucu, ya?). Jika aku mendengar itu, aku akan selalu mengelus tanganmu, menatapmu, dan menyakinkan bahwa insya Allah itu akan terwujud. Beberapa keinginanmu kucoba untuk mewujudkannya karena aku yakin bagian darimu ada dalam diriku. Aku telah mendampingi Raras saat wisuda di ITS tanggal 12 Oktober 2008. Aku menyebut namamu saat sampai di Danau Toba dan Tembok Besar Cina (tempat yang ingin kita kunjungi berdua). SK guru besar Unesa bidang Linguistik sudah kuraih April 2007 (saat itu kau sering meragukannya karena kita beda). Selain itu, salah satu keinginanmu yang kuingat adalah secara tidak sengaja bertemu dengan Romo Mudji Sutrisno saat pertemuan ilmiah, dan aku telah mewujudkannya akhir Oktober 2008. Semua selalu kukabarkan lewat sms ke nomormu[1].

Saat-saat menjelang kepulanganmu sangat lekat dalam ingatanku. Senin pagi itu, 27 Maret 2006 dari ruang di GRIU aku dan Raras mengantarkanmu ke ruang operasi. Arya sedang masa ujian praktik SMA. Di ruang tunggu operasi ada teman yang menemani: Bapak Sugianto dan Bapak Soeharmaji, selain itu ada juga Reza (putra Mas Prap). Saat operasi berjalan kami dapat melihat kondisi pembuluh koroner di jantungmu lewat layar monitor. dr.Jeffrey D. Adipranoto, Sp.JP(K) mengabarkan ada dua saluran yang tersumbat, kemudian menawarkan pemasangan ring yang dengan obat atau tanpa obat. Saat itu kita masih dapat memilih yang dengan obat dan aku tersenyum meninggalkanmu. Menurut dokter, karena ada dua sumbatan, kemungkinan hari itu hanya satu sumbatan yang dapat ditangani (sama seperti sepuluh tahun yang lalu: dua kali kau menjalani hal itu). Aku mengiyakan saja dan menginginkan yang terbaik untukmu. Operasi pembukaan koroner yang tersumbat dan pemasangan ring dimulai. Di layar aku melihat lubang yang tersumbat itu sedikit demi sedikit mulai membuka celah, mengalirkan cairan kontras—yang dapat terdeteksi lewat layar monitor–ke beberapa bagian. Gambar yang semula gelap mulai tampak dialiri dengan cairan itu, beberapa pembuluh halus mulai tampak. Aku bersyukur melihatnya. Tetapi, setelah itu, ada petugas yang menyapaku dan mengajakku masuk ke dalam. Kau tampak lemah dan pucat. Dokter mengatakan bahwa pembukaan satu sumbatan sudah berhasil, tetapi tidak berani melanjutkan karena kondisimu lemah. Aku mendekat dan mencoba menghibur. Melihatku, kau sampaikan bahwa dadamu sesak dan ingin bangun. Tetapi, peralatan yang dipasang di pangkal paha tidak memungkinkan kau bangun. Dokter memberi bantal untuk menopang kepalamu supaya lebih tinggi. Tetapi, bantal itu ternyata tidak membantu. Kau sampaikan lagi ”sesak” dan kuurut dadamu. Tiba-tiba, kau lemas, bunyi monitor menunjukkan jantungmu berhenti berdetak. Ya Allah,… kau pulang persis di depanku (pukulan berat pertama yang kuhadapi hari itu). Dokter-dokter pun sigap dan melaksanakan berbagai upaya untukmu. Aku diminta keluar. Di luar kupeluk Raras erat-erat dan kami menangis berdua, larut dalam doa. Beberapa perawat dan dokter tampak mondar-mandir. Waktu itu terasa lambat sekali berjalan, teman-teman berusaha menghiburku, dan doa tak putus-putusnya dari bibir dan hati kami. Waktu terasa lambat sekali. Setelah itu, dokter memberitahuku bahwa detak jantungmu sudah kembali, tapi kau perlu dibawa ke ruang ICCU. Dengan setengah berlari kami membawamu ke ruang itu. Sayang, aku tak dapat terus mendampingimu karena memang tidak diperbolehkan oleh petugas.

Senin sore aku mendapat panggilan dan aku langsung terpekik serta lemas tidak dapat berdiri karena kulihat ada pasien yang tampak berpulang dan didoakan oleh para dokter dan perawat, kukira itu kamu (pukulan berat kedua yang kuterima hari itu). Dokter memapahku dan menyatakan bahwa itu bukan kamu, tapi aku terlanjur lemas. Akhirnya, dengan bantuan waktu, kukuatkan hati dan kakiku melangkah mendekati tempatmu. Ya Allah, berbagai peralatan menancap di tubuhmu. Aku hanya dapat berbisik pilu di dekat telingamu, mengusap tangan dan kepalamu. Malamnya, aku dapat menengokmu saat mengantarkan berbagai barang kebutuhanmu. Dokter menyampaikan paru-parumu penuh cairan sehingga cairan itu harus dipompa keluar. Teman-teman UPBJJ-UT Surabaya menemaniku dan membantuku mencarikan berbagai resep untukmu. Senin tengah malam aku kembali ke kamar di GRIU, kulewatkan dengan doa-doa yang mengharu biru. Teman-teman dari UT menjagamu di bagian bawah gedung, dan perawat akan mengabarkan lewat telepon di kamar jika memerlukan sesuatu. Malam itu kulewati dengan sujud dan doa.

Selasa pagi, dr. R. Moh. Yogiarto, Sp.JP(K) menyampaikan bahwa paru-parumu sudah mulai bersih, tapi dengan hati-hati dia juga menyampaikan bahwa saat itu jantungmu berhenti cukup lama sehingga kau memerlukan cairan untuk menghidupkan lagi sel-sel otak yang sempat tidak teraliri darah dalam waktu yang relatif lama. Ada kemungkinan otak tidak akan berfungsi dengan baik jika kau sembuh nanti, Ya Allah—hari itu aku berjanji kepada diriku sendiri untuk terus merawatmu apa pun yang terjadi pada dirimu nanti–dengan segera, aku menyetujui penambahan cairan itu. Selain itu, ada juga tim dokter yang akan melakukan tindakan untukmu, yaitu memasukkan selang lagi ke bahu kananmu untuk mengalirkan cairan obat yang lain lagi dengan berbagai kemungkinan dampaknya. Mereka meminta persetujuanku dan aku menyetujui serta mengharapkan mereka melakukan yang terbaik untukmu.

Selasa itu Mbak Nie (Sri Hardjani) dan keluarganya serta Mbak Endah (istri Mas Didik: Wahyudi Nugroho) datang dari Solo. Secara kebetulan kakakku (Kisrini) dan ibuku juga datang. Padahal, Mbak Nie merencanakan akan ke Surabaya hari Kamis karena Rabu adalah 100 harinya Mas Nono (Hari Setyana: kakakmu nomor 7). Kakakku dan Ibu merencanakan ke Surabaya Senin dan akan pulang Selasa, tapi karena Senin masih ada acara, akhirnya diundur Selasa (saat ini kusadari, seolah Tuhan sudah mengatur semua itu). Kehadiran sanak saudara semakin menguatkan hatiku. Saat Mbak Nie keluar dari ruang tempatmu dirawat, dia menyampaikan bahwa kau mengeluarkan air mata. Aku seolah tak percaya, dan langsung saja berhambur masuk setelah mengenakan pakaian khusus. Kudekap tanganmu dan kubisikkan kata-kata pujian dan doa syukur sebagai penguat untukmu. Subhanallah… alhamdulillah… kau bereaksi. Air matamu mengalir dan aku sungguh bahagia, kau dapat mendengarku. Enggan rasanya aku meninggalkanmu, tapi aku memang harus keluar setelah waktu berkunjung habis.

Mas Pri (suami Mbak Nie) kuajak bicara untuk menguruskan ”sakramen perminyakan” untukmu. Aku memintanya untuk menghubungi Bapak Subi atau Ibu Silalahi, tetangga kita untuk meneruskannya ke Romo. Menjelang magrib, Mbak Nie dan keluarganya serta Ibu dan kakakku pulang dan menginap di rumah kita setelah menjenguk Mas Prap. Malam itu aku berusaha masuk lagi untuk menemuimu. Ya Allah… ada kipas angin besar di kanan kirimu (padahal ruangan itu sudah sangat dingin karena ac). Dokter memberitahuku bahwa panas tubuhmu tinggi, sekitar 40% C. Ya Allah, kukuatkan hatiku, kubisikkan kata-kata doa di samping telingamu. Suasana di luar agak ramai karena malam itu merupakan operasi pertama face off Lisa (beritanya kubaca seminggu setelah kepulanganmu).

Tengah malam aku ke kamar dan salat tahajud. Anehnya, selesai salat hatiku berbisik tanpa ragu, ”Besok pagi sekitar pukul 4.00”. Aku tercekat, saat itu sekitar pukul 2.00 dini hari. Aku berusaha memejamkan mata dan berkata kepada diriku sendiri ”Besok aku harus kuat, jadi aku harus tidur malam ini”. Sekitar satu jam aku tidur dan pukul 3.00 dini hari aku bangun. Aku merasa harus bersih saat itu untuk ”mendampingimu”. Oleh sebab itu, aku mandi dan keramas. Selesai itu, semua barang di kamar kukemasi, semua kutaruh dalam tas di almari (aku seolah dituntun untuk melakukan itu).

Menjelang subuh, sekitar pukul 4.20, aku mulai menggelar sajadah dan akan memakai mukena. Saat itu, ada petugas datang dan memintaku ke ruangmu. Jantungku berdegup, sajadah kulipat dan aku berjalan mengitari gedung menuju tempatmu. Saat berjalan hatiku berkata, ”Sudah saatnya, kau harus kuat, kau harus kuat, harus kuat.” Begitu sampai di ruangmu, beberapa dokter dan perawat mengitarimu, mereka menyampaikan bahwa jantungmu berhenti berdenyut pukul 4.00 dan dinyatakan berpulang pukul 4.20. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, hanya itu kata yang terlontar dari bibirku. Kudekap tanganmu dan kuelus dahimu. Mereka minta izin untuk membersihkanmu  dan aku menyetujuinya. Kukabarkan kepulanganmu kepada Mbak Kis dan Mbak Nie di rumah untuk menyampaikan kepada Raras dan Arya (setelah kejadian itu aku semakin sadar bahwa Tuhan sangat menyayangi kita, Raras dan Arya pada saat itu didampingi oleh saudara-saudaranya untuk menyiapkan segala sesuatunya di rumah). Aku meminta mereka untuk menyiapkan pemakaman secara Katolik. Setelah itu, kukabarkan pula kepulanganmu kepada teman-teman. Tidak ada lutut yang goyah saat itu, tidak ada pekik menghentak saat itu, Allah telah menguatkan hatiku dengan berbagai persitiwa sebelumnya. Aku menungguimu sejenak dan meninggalkan KTP untuk membawamu pulang (belakangan aku tahu bahwa ada teman—yang mungkin tidak akan suka bila kusebut namanya–yang menanggung hal itu sehingga semuanya lancar dan mudah dilakukan: terima kasih banyak).

Beberapa teman dan Saudara mulai datang. Setelah ambulans datang, aku, Mbak Thres (istri mas Bowo: Hari Prabowo), dan Bapak Sugianto (UPBJJ-UT Surabaya) membawamu ke kamar jenazah dengan mengendarai ambulans. Di kamar itu, aku ikut memandikanmu, aku laksanakan salah satu keinginanmu untuk keramas karena selama di rumah sakit kau belum keramas. Aku lantunkan doa untukmu setiap kali kuseka kulit dan rambutmu. Wajahmu tampak segar dan wangi setelah itu. Akhirnya, aku membawamu pulang. Di rumah, semua sudah tertata. Tetangga kita sungguh luar biasa baiknya. Bu RT (Ibu Fandi), Ibu Sis, dan Ibu Pur sibuk membuat masakan dan mengantarkannya ke rumah kita. Bapak-bapak sigap menyiapkan segala sesuatunya. Ibu Silalahi, Bapak Budi Nuryanta, dan teman-temannya sigap menyiapkan acara pemakaman secara Katolik untukmu. Banyak teman yang datang, membantu, dan berdoa untukmu tak dapat kusebut satu persatu (terima kasih banyak untuk semuanya). Teman Raras dan Arya serta dosen dan guru mereka juga melawatmu. Semua Saudaramu dan Saudaraku datang. Upacara di rumah dan di pemakaman dipimpin oleh Romo Agus saat itu (beberapa teman dari Kring Paulus membisikiku, jarang dilakukan upacara 2x: di rumah dan di pemakaman, kau termasuk pengecualian). Rabu itu Rabu kelabu untukku. Aku percaya dan yakin bahwa Tuhan mempunyai rencana indah untukku dan untukmu, Mas Tri. Biarpun sedih, tapi saat itu aku mulai dapat bersyukur bahwa kau pulang dengan doa dan keinginan yang sudah terkabulkan, kau pulang saat hati kami sudah dikuatkan. Sedih, syukur, dan ikhlas… hanya itu yang kurasakan.

Setelah itu … saat setelah salat, saat kesedihan atau kebahagiaan hinggap, saat ada kejadian penting dalam kehidupanku dan kehidupan anak-anak kita, selalu kulantunkan namamu dalam doa:

”Ya Allah, lapangkanlah jalan Mas Tri,
ampunilah dosanya,
terimalah amal ibadahnya,
tempatkanlah dia di surga. Amin.”

Sebait doa juga kulantunkan saat kutorehkan tulisan ini:

Jika saatku tiba, Mas Tri,
semoga Tuhan berkenan mengutusmu mendampingi malaikat-Nya
Jika saatku tiba, Mas Tri,
sambutlah aku dengan senyum bunga
dekaplah aku dengan baluran cinta
dan bimbinglah aku untuk menghadap-Nya
Jika saatku tiba, Mas Tri
Kuharap semua melepasku dengan ikhlas dan rela
dan aku akan sangat bahagia
karna dapat bersatu denganmu untuk selamanya.
Semoga Tuhan  selalu menyatukan kita,
tidak hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga  di alam sana.
Amin.


[1] Hand phone Mas Tri hilang saat upacara pemakaman. Akan tetapi, sampai saat ini nomornya masih dapat menerima sms, tetapi tidak dapat menerima panggilan langsung. Saya tidak pernah berusaha mengurusnya, sebaliknya saya merasa gembira karena masih dapat berkomunikasi biar pun searah. Anehnya, setiap sms bernada “baik” atau sms doa selalu masuk, tetapi sms yang bernada “tidak baik” selalu gagal terkirim.

9 Comments

  1. kiswati said,

    January 11, 2009 at 4:52 am

    Seindah apapun kita menyusun kata-kata untuk doa, maka sungguh untaian kata itu tak mampu mengalahkan keindahan doa para Nabi yang diabadikan dalam Alqur’an dan yang dicontohkan dalam As Sunnah (apa yg diamalkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salaam). Namun bukan berarti kita tidak boleh berdoa dgn untaian harapan yang kita panjatkan. Jk mampu dan bisa maka prioritas pertama adalah mencontoh doa para Nabi (lebih utama dengan bahsa aslinya yi bhs Arab) barulah setelah itu bisa kita tambahkan untaian doa kita.
    Contoh doa Nabi Ayyub (stlh semua putra2nya meninggal, hartanya habis dan beliau ditimpa penyakit). S Al ANbiyaa (21) 83 : Ya Rabb sesungguhnya aku disentuh kemudharatan (penyakit) sedang Engkau lah Tuhan yang lebih pengasih dari segala yg pengasih.
    Doa Nabi Yunus (dalam perut ikan) : S AL Anbiyaa (21) 87 Sesunguhnya tdk ada Tuhan kecuali Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku adlh org yng aniaya.
    Doa Nabi Sulaiman atas segala anugerah (S An Naml (27) 19 : Ya Tuhanku, berilah aku ilham utk mensyukuri nikmat yg telah Engkau anugerahkan kpdku dan kpd dua ibu bapakku dan utk mengerjakan amal saleh yg Engkau meridhaiNya dan masukkanlah aku dg rahmatMu ke dlm gol hamba2Mu yg shaleh.
    Dialog dan doa Nabi Ibrahim dg kaummya S Asy Suara (26) ayat 77 – 89 : (Tuhan semesta alam yang menciptakan aku, lalu DIa yg menunjuki aku. Dan Yg memberi makan danminum kpdku, dan apbl aku sakit, maka Dia menyembuhkanku, dan Yg mematikanku, kmd akan menghidupkanku (kembali) dan Yg sangat kuharapkan akan mengampuni kesalahanku pd hr pembalasan. Ibrahim berdoa : Ya Tuhanku berilah aku hikmah dan masukkanlah aku bersama orang2 yg shaleh dan jadikanlah bagiku lidah kebenaran pd org2 yg kemudian. dan jadikanlah aku termasuk org2 yg mewarisi surga yg penuh kenikmatan dan janganlah Engkau menghinakanku pd hari mereka dibangkitkan yi pd hari yg tdk berguna harta dan anak2 kec org yg datang kpd Allah dg hati yg selamat.
    Doa yg diajarkan kpd mns S AL Ahqaf (46) ayat 15 Dan telah kami perinathkan mns utk berbuat baik kpd ibu bpknya. Ibunya telah mengandungnya dg kepayahan dan melahirkannya dg kepayahan pula. Dia mengandungnya sampai masa menyapihnya 30 bl, shg apbl anak itu mencapai dewasa dan MENCAPAI USIA 40 TH, dia berkata : Ya Tuhanku berilah aku petunjuk spy aku mensyukuri nikmatMu yg Engkau anugerhkan kpdku dan kpd ibu bpkku, dan spy aku dpt mengerjakan amal saleh yg Engkau meridhaiNya, dan berilah kebaikan kpdku (jg) pd keturunannku. Sesungguhnya aku taubat kpdMu dan sesungguhnya aku termasuk org2 yg berserah diri.
    TERSEBUT DI ATAS CONTOH2 DOA . DI BAWAH INI ADALAH DOA RUTIN HARIAN YG DICONTOHKAN RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WA SALAAM terdapat dalam hadist2 yg shahih (dapat dilihat pd buku Doa dan Wirid tulisan Ust Yazid bin Abdul Kadir Jawas yg pernah kami berikan).
    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasalaam setiap pagi (setelah shubuh – sblm terbit mthr) dan setiap petang (setelah ashar dan sblm terbenam mthr) memanjatkan doa sbb :
    Diawali dengan membaca ayat kursi (S Al Baqarah (2) 255 dan S Al Ikhlas 3x S Al Falaq 3 x S An Naas 3 x. Kmd doa dipanjatkan (aku tuliskan artinya) :
    1. Kami telah memasuki waktu pagi (sore) dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji hanya milik Allah, Toada Illah yang berhak diibadahi dgn benar kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan bagiNya pujian. Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Rabb, aku mohon kpdMu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. AKu berlindung kpdMu dr kejahatan hr ini dan sesudahnya. Wahai Rabb, aku berlindung kpdMu dr kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Rabb, aku berlindung kpdMu dr siksaan di neraka dan kubur.
    2. Ya Allah dgn rahmat dan pertolongan Mu kami memasuki waktu pagi (sore) dan dg rahmar dan pertolonganMu kami memasuki waktu sore (pagi). Dg rahmat dan kehendakMu kami hdp dan dg rahmat dan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu tempat kembali.
    3. Sayyidul Istighfar = Permohonan ampun yang sangat utama
    Ya Allah Engkau adlh Rabbku tiada Illah yg berhak diibadahi dgn benar kec Engkau. Engkaulah yg menciptakan aku. Aku adlh hambaMu. AKu akan setia pd perjanjianku dg Mu semampuku. Aku berlindung kpdMu dr kejelekan apa yg kuperbuat. AKu mengakui nikmatMu yang kau berikan kpdku., dan aku mengakui dosaku, oleh krn itu ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yg dapat mengampuni dosa melainkan Engkau.
    4. Ya Allah selamatkanlah tubuhku (dr penyakit dan apa2 yg tdk aku inginkan). Ya Allah selamatkanlah pendengaranku (idem). Ya Allah selamatkanlah penglihatanku (idem). Tiada Illah yg berhak diibadahi dg benar melainkan Engkau. Ya ALlah sesungguhnya aku berlindung kpdMu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kpdMu dr siksa kubur. Tiada Illah yg berhak diibadahi dg benar kec Engkau (dibaca3 x)
    5. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, klg dan hartaku. Ya Allah tutupilah auratku (aib dan sesuatu yg tdk layak dilihat org lain) dan tentramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri dan dari atasku. AKu berlindung dg kebesaranMu agar aku tdk disambar dr bawahku.
    sementara itu dulu ya, masih ada lanjutannya sedikit2.

    • kisyani said,

      January 11, 2009 at 6:45 am

      Terima kasih, mungkin ini komentar untuk “Doa Harian” dalam “Mutiara Doa”.

      Sungguh doa yang indah, semoga kami dapat mengamalkannya untuk doa harian. Amin.
      Jika dicermati, sebenarnya doa harian kami sebagain besar mencontoh doa Nabi Musa A.S.: “Qaala rabbisyrah li sadri, wa yassir li amri, wahlul ‘uqdatan mil … (lisaani … saya ganti dengan “hati dan jiwa, dst.) ‘Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, hilangkanlah kekakuan dari … dst.’

      Terima kasih masukannya, semoga doa kita diterima oleh-Nya. Amin.

  2. kiswati said,

    January 13, 2009 at 11:03 am

    I. Memilih doa dari Alqur’an

    Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasalaam diancam oleh Allah, jika sampai merubah bahkan satu huruf pun dari Alqur’an. Dalam S Al Haaqqah (69) ayat 38-46 : Maka Aku bersumpah dgn apa yg kamu lihat dan apa yg kamu tdk lihat. Sesungguhnya Alqur’an adlh wahyu Allah (yg diturunkan) kpd utusan (Rasul) yg mulia, dan tdklah Alqur’an itu perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu yg beriman kpdnya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran drpdnya. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian dari perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang tangan kanannya, kmd kami potong urat jantungnya.

    Contoh perbedaan satu huruf :
    – Rabb adalah Tuhan Pemelihara langit bumi dan seisinya, sedangkan Rab (dengan satu huruf ba) adalah penyejuk (bagaikan hujan yang turun pertama kali di akhir musin kemarau – terasa sejuk dan menyegarkan).
    – Laa berarti tidak sedangkan La (a tdk dipanjangkan) berarti sungguh.

    Oleh sebab itu terlarang bagi kita mengubah bahkan satu hurufpun dan juga merubah maknanya. Pilih doa yg sesuai dengan kontek masalah dan harapan kita.

    Doa Nabi Musa As dalam surat Thahaa (20) ayat 25-27 adalah dalam kontek, ketika diperintah oleh Allah SWT untuk berdakwah kepada Fir’aun. , maka beliau memohon Rabbisy rahlii shadrii dstnya. Kontek doa ini adalah beliau mau berdakwah memberi penjelasan tentang siapa Tuhan yang sebenarnya kepada Fir’aun yg mengaku bahwa dirinya adalah tuhan. Dalam kehidupan kita kontek doa ini untuk ketika kita menghadapi hal yang relative hampir sama yaitu memberi penjelasan (pembicara dalam seminar, memimpin rapat , atau berargumen dalam diskusi, dstnya).
    Catatan : Umar bin Khatab ra sebelum masuk Islam sangat membenci dan ingin membunuh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalaam, namun ketika beliau mendengar adiknya membaca surat Thahaa maka bergetaranlah seluruh jiwanya, karena keindahan kata-kata : Thahaa – Kami tidak menurunkan Alqurran kpdmu spy engkau susah, melainkan menjadi peringatan bagi orang yang takut kepada Allah.. Alquran turun dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi .Yang Maha Pengasih bersemayam di atas arys. Kepunyaannya apa yg ada di langit dan apa yg ada di bumi serta apa yg ada di antara keduanya dan apa yg ada di bawah tanah. Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang lebih tersembunyi. Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia, BagiNya nama-nama yg baik (terpuji). Apakah telah sampai kepadamu berita tentang Musa ? dst nya

    Apabila konteknya ingin MEMOHON KEKUATAN HATI DAN JIWA, maka yang cocok adalah Doa Nabi Ibrahim ketika menghadapi kaumnya (lingkungannya yang jelek) S Asy Syu’araa (26) ayat 83-88) : Rabbi hablii hukmaw wa alhiqnii bish shaalihiin wa ja’al lii lisaana shidqin fiil akhiriin, waj ‘alnii miw waratsati jannatin na’im wa laa tukhzinii yauma yub’atsuun yaumaa la yanfa’u maaluw wa laa banuun. Yaitu memohon hikmah (keluasan kedalaman ilmu dan kekuatan jiwa). Ya Allah , berilah aku hikmah dst.

    Juga bisa menggunakan doa Nabi Yunus ketika dalam situasi tidak berdaya dalam gelapnya perut ikan, hanya Allah lah yang bisa dimintai pertolongan, memohon kekuatan hati dan jiwa sekaligus mohon ampun. (S Al Anbiyaa (21) 87 : Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minazh zhaalimiin “ Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau , Mahasuci Engkau sesungguhnya aku adalah dari orang yang aniaya. Kontek doa ini al, ketika Yani menghadapi situasi gawat dalam sakitnya bapaknya Raras yll, atau situasi lain yang dijumpai.

    2. Lanjutan doa pagi dan petang berdasarkan contoh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalaam.

    Banyak perintah dalam Alqur’an untuk mengamalkan doa pagi dan petang al :
    S Al Ahzab (33) ayat 41-42 : Hai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan ingatan yg banyak dan betasbihlah kpdNya pagi dan petang.
    S Qaaf (50) ayat 39-40 Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matarahari terbit dan sebelum matahari terbenam.

    Dalam doa butir ke-5 yg ditulis kemarin ada permohonan yg diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam untuk pemeliharaan dari depan, belakang, kanan dan kiri dstnya. Maka jika kita baca Alqur’an S Al A’raaf (7) ayat 17 : Iblis memohon kepada Allah “ kmd aku akan mendatangi mereka dr hadapan dan dr belakang mereka, dr kanan dan dr kiri mereka. Dan Engkau tdk akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).

    6. Ya Allah Yang Maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Wahai Rabb pencipta langit dan bumi, Rabb atas segala sesuatu dan Yang Merajainya. Aku bersaksi tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan diriku, syaitan dan sekutunya. Aku berlindung kepadaMu dari berbuat kejelekan atas diriku atau mendorong seorang muslim kepadanya.

    7. Dengan nama Allah yang tidak ada bahaya atas namaNya sesuatu di bumi dan tidak pula di langit. Dialah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui (dibaca 3x)

    8. Aku rela (ridha) Allah sebagai Rabb ku , Islam sebagai agamaku dan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalaam sebagai Nabiku. (dibaca 3x)

    9. Wahai Rabb Yang Maha Hidup, Wahai Rabb Yang Maha Berdiri Sendiri (tiada butuh segala sesuatu) dengan rahmatMu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dariMu).

    10. Di waktu pagi (sore) kami berada di atas fitrah agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kami Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalaam dan agama ayah kami Ibrahim, yang berdiri di atas jalan yang lurus, muslim dan tidak tergolong orang-orang musyrik.

    11. Laa ilaa ha illaallah wahdahu laa syariikalah Lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syaiin qadir : Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan bagiNya segala puji. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (dibaca 1 x atau 10 x – pada dzikir pagi dan petang) dan dibaca 100 x setiap hari (sepanjang hari kapan sempatnya)

    Pada pagi hari membaca :
    12. Subhaanallah wa bihamdihi ‘adada khalqi, wa ridhaa nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimaatihi : Mahasuci Allah aku memujiNya sebanyak bilangan makhlukNya, dan sesuai keridhaanNya dan seberat timbangan ‘Arsy Nya dan sebanyak tinta( yang menulis) kalimatNya. (dibaca 3 x)

    13. Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amalan yang diterima.

    Pada sore hari membaca
    12. A’udzubikalimaatiillaahit tammaati min syarri maa khalaq (dibaca 3x)
    Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan sesuatu yang diciptakanNya.
    (Doa ini juga dianjurkan Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasalaam, jika kita tiba di suatu tempat yang tidak kenal – misal menginap di hotel, atau pun tempat2 lain untuk mohon perlindungan Allah).

    Pada butir 12 ini bisa ditambahkan :
    – A’udzubikalimaatillaahit tammaati min kulli syaithanin wa hammah wa min kulli ’ainin lammah
    Aku berlindung dgn kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap syaitan, binatang berbisa dan dari setiap mata yang jahat.
    – A’udzubikalimaatiillaahi t tammaati min ghadhabih wa ’iqaabih, wa syarri ’ibaadihi wa min hamazaatisy syayaathiin wa an yahdhuruun.
    Aku berlindung dgn kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan dan siksaanNya, dari kejahatan hamba-hambaNya, dari godaan syaitan dan dari kedatangan mereka kepadaku.

    Semoga Allah melimpahkan hikmah kepada Yani sekeluarga, dan bisa mengamalkan doa pagi dan petang, seperti yang dijalani oleh Rasulullah Shalallahu ’alaihi Wasalaam. Amin.

  3. Farisi said,

    January 19, 2009 at 6:07 am

    Alhamdulillah, saya banyak belajar juga dari Bu Kiswati tentang do’a-do’a maqbulin dari para Nabi. Terima kasih banyak ya Bu, semoga ini bisa jadi amal jariyah bagi Ibu. Amiiin. Buat Bu Kisyani, semoga itu bisa dijadikan sebagai balaghah. Amiin tsumma amiin.

    Bu Kiswati, ada beberapa koreksi saya terhadap transliterasi do’anya tertanggal 13 Januari (maaf ya Bu, ini sebagai kewajiban sesama ummat untuk saling mengingatkan, dan semoga saya tidak hilaf). Koreksi di dalam dua tanda kurung.

    1. Transliterasi “shalallahu ‘alaihi wasalaam”, sejauh saya tahu adalah “sha(ll)allaahu ‘alaihi wasa(lla)m”. Do’a itu bermakna “Semoga sholawat/kesejahteraan dan salam/keselamatan/kedamaian tercurahkan kepada Muhammad”. Kalau boleh tahu, dalam konteks doa/bacaan/kalimat apa kata “wasalaam” itu digunakan?
    2. S. Asy-Syu’araa (26) ayat 83-8: “…wa ja’al…fiil akhiriin…jannatin na’im…” seharusnya “…wa(j ’al)…fiil (aa)khiriin…jannatin na(’ii)m…”.
    3. S Al-Anbiyaa (21) 87: ”… inni kuntu…”, seharusnya ” ”… inn(ii) kuntu”
    4. ”…illaallah wahdahu…‘ala kulli syaiin qadir”, seharusnya ” …il(lal)lah wahda(huu)…‘a(laa) kulli syaiin qad(iir)” (no. 11).
    5. ”…wa bihamdihi… nafsihi…, wa zinata ‘arsyihi, …kalimaatihi”, seharusnya ” …wa bihamdi(hii)… nafsi(hii)…, wa (zii)nata ‘arsyi(hii), …kalimaati(hii)” (no. 12).
    6. ”…tammaati…syaithanin…”, seharusnya ” …tamm(a)ti…syai(thaa)nin…” (tambahan no. 12)

    Untuk Bu Kisyani, hati-hati ya Bu, karena salah tulis bisa jauh sekali maknanya seperti kata Bu Kiswati. Koreksinya sbb:
    ”Qaala rabbisyrah li sadri, wa yassir li amri, wahlul ‘uqdatan mil …lisaani”, seharusnya:
    1. “rabbisy”, seharusnya ” rabbis” tanpa ”y”, karena huruf ”sin/sa” bukan ”syin/sya”
    2. “rah li”, seharusnya “rakh lii”, menggunakan (kha bukan ha), dan dua ”ii” (dibaca panjang)
    3. “sadri”, seharusnya “shadrii”, kata itu menggunakan huruf ”shod/sha” bukan ”sin/sa”; dan kata “ri” di belakang seharusnya “rii” karena bertemu dengan “ya’ mati”—ingat koreksi saya terdahulu—harus dibaca panjang.
    4. ”wa yassir li amri”, seharusnya ”wa yassir lii amrii” (kata “lii” dan “rii” keduanya sama-sama bertemu dengan “ya’ mati”.
    5. ”lisaani” juga seharusnya “lisaanii” dengan dua “ii” karena bertemu dengan “ya’ mati”.

    Demikian komentar saya, semoga memberikan manfaat.

    Farisi,
    19 Januari 2009

  4. Wahyu Widodo said,

    October 21, 2010 at 11:06 am

    Terima kasih banyak bu Kisyani. tak kuasa sy menulis ini karena getaran tulisan ibu menyisakan rasa haru yang mendalam. semoga banyak wanita bisa belajar tentang arti cinta kepada ibu.Semoga suatu hari nanti sy bisa berguru langsung kepada Ibu tidak hanya berkaitan dg dunia linguistik, tetapi ilmu hidup yang tidak ada universitasnya. salam takzim dan hormat….wahyu widodo.

    • kisyani said,

      October 27, 2010 at 11:22 pm

      Terima kasih…mohon doa supaya Mas Tri bahagia dalam pelukan-Nya…semoga Bapak sehat selalu.

  5. mulyono dulrahman said,

    November 2, 2010 at 9:42 am

    Membaca tulisan-tulisan di atas, tanpa terasa air mataku menetes……

  6. February 24, 2012 at 7:15 am

    Ibuuuuuuuuuuuu… tak bisa kuungkapkan kata-kata selain tetesan air mata, begitu luar biasa cinta ibu kepadanya, begitu rumit, begitu dramatis hinga kami bertiga (saya, bu yanti dan bu rahayu) menangis bersama-sama.

  7. Guruh sesetya hadi said,

    February 25, 2012 at 12:36 pm

    ALLAH Brfirman,”Brg siapa yg Aku timpakn bncana kpd hambaKU baik pd badannya(penyakit/cacat),hartanya(rugi/hilang),anaknya(sakit/mati) lalu ia mnerima takdirKU mk AKU enggan menimbang dosa2nya & mmbuka buku catatan dosa2nya saat ia dihisab pd hari kiamat”.(Hds Qdsi).”Khabarkn brita gembira bg hamba2 yg sabar ta’kala diuji musibah,mrk brkata,”Inna lillaahi wa inna ilaihi roojiuuun”,mk rahmah ALLAH u mrk…”,(QS 2:156)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: