Riwayat Hidup P.A. Tri Budi Laksono

SEKILAS PERJALANAN  P.A. TRI BUDI LAKSONO

Tri Budi Laksono lahir di Solo, Kamis Pahing, 12 Februari 1959. Ayah bernama R.A.S Wignjohardjono, dan Ibu bernama Cypriana Sudjinem Wignjohardjono akrab disapa ibu Wig. Nama baptisnya adalah Petrus Alexius (P.A.). Ayahnya berpulang Sabtu Pon, 4 Oktober 1980 saat ia mulai menginjak bangku perguruan tinggi, sedangkan ibunya berpulang 8 April 2003 saat ia dan istrinya tengah menumbuhkembangkan dua anak. Dia bungsu dari sembilan bersaudara. Dua kakaknya juga telah mendahuluinya. (no. 3 pada 19 Mei 2004 dan no. 7 pada 23 Desember 2005). Panggilan akrabnya di rumah adalah “Son”.

Semua pendidikannya ditempuh di Solo, mulai SD Kanisius II Solo, lulus Desember 1971; SMP Kanisius II Solo, lulus Desember 1974; SMA Xaverius Solo, lulus April 1980; Sarjana Bhs. dan Sastra Ind., UNS Solo, lulus Juni 1986 (beasiswa TID). Berikut ini adalah foto-foto perkembangannya.

Saat dia gembira melangkahkan kaki dan mengecap bangku perkuliahan, saat itu pula dia menjadi yatim karena ayahnya berpulang. Gurat kesedihan tertoreh di hatinya. Kesedihan hatinya sedikit terobati karena di bangku perkuliahan dia menorehkan namanya dengan tinta cinta kasih di hati teman kuliahnya, Kisyani.

Masa pacaran diisi dengan kenangan manis dan debar jiwa muda. Ketika hubungan semakin serius, disusunlah buku harian berdua yang diisi secara bergantian setiap seminggu. Desain buku itu dikerjakan oleh Tri Budi dan diserahkan kepada Kisyani bersamaan dengan penyerahan puisi-pusinya, termasuk puisi khusus untuk Kisyani yang ditulis 21 Maret 1981. Setelah itu digelar acara pinangan yang dihadiri oleh sahabat baik mereka sebagai saksi, Hanindawan, pada tanggal 13 April 1981. Acara pinangan diisi dengan pembacaan puisi dan torehan tanda tangan tiga orang  (Tri Budi, Kisyani, dan Hanindawan) di atas lembar puisi.

Tanggal 10 Desember 1985 (Selasa Legi), dia menikah dan mengikat janji setia dengan Kisyani. Menurutnya, hal itu merupakan kemenangan dan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya. Sejak itu mereka pun tinggal di Surabaya dan mengontrak sebuah rumah di Jalan Ketintang Barat V No. 53.

Anak pertama mereka, Raras Tyasnurita, lahir di PKU Muhammadiyah Solo, Selasa Wage, 23 Januari 1987. Raras sangat mirip dengan ayahnya, bahkan sejak lahir dia mempunyai sedikit lekukan di betis kanannya. Ayahnya mempunyai lekukan yang sama biarpun tempatnya di paha. Bahkan susunan gigi Raras juga meniru susunan gigi bapaknya (gingsul di bagian kiri, tetapi sekarang gigi Raras sudah rapi), cara berjalan, beberapa gerakan dilakukan persis seperti bapaknya.

Anak kedua lahir pada Minggu Kliwon, 17 April 1988 di RKZ Surabaya. Ia diberi nama Arya Anuraga. Kelahiran Arya tentu menambah penghuni baru di rumah kontrakan yang lama-kelamaan terasa semakin sempit. Pada 10 Agustus 1988, mereka pindah ke Karah, Gang V No. 62. Masa balita anak-anak banyak dihabiskan di Karah. Pada Rabu Pahing, 18 Juli 1990, mereka pindah ke Jalan Merpati 14, Rewwin, Waru, Sidoarjo. Rumah yang ditempati sampai berpulangnya.

Kepandaian memasak Tri Budi  tidak ada yang mewarisi. Memang, dia  lebih jago memasak daripada istrinya, masakannya sering dipuji oleh istri dan anaknya. Dalam lingkup keluarga, setiap masakannya pasti dihabiskan oleh seluruh keluarga. Seperti halnya anak-anaknya, istrinya juga memanggilnya ”Bapak” (khususnya jika di depan anak-anak). Di luar itu, panggilan ”Mas Tri” selalu menyertai sejak masa pacaran sampai kepulangannya.

Kariernya dalam pekerjaan dimulai dengan menjadi Dosen Luar Biasa di Universitas Dr. Soetomo Surabaya dan Dosen Luar Biasa di IKIP PGRI Surabaya tahun 1986—1987. Setelah itu dia diangkat menjadi Dosen YPLP PT  PGRI Surabaya. tahun 1987—1991. Sejak tahun 1991 dia menjadi Dosen  Kopertis Wil. VII  Dpk. di  FPBS, IKIP PGRI Surabaya dengan menyandang NIP 131955911. Berbagai jabatan pernah disandangnya, di antaranya: Ketua Redaksi  Jurnal “Wahana”, tahun 1988; Sekjur Pend. Bhs. dan Sastra Ind., FPBS, IKIP PGRI Surabaya, tahun 1988—1990; Kabid  Kemahasiswaan IKIP PGRI Surabaya, tahun 1989; Kajur Pend. Bhs. dan Sastra Ind, FPBS, IKIP PGRI Surabaya, tahun 1990; Pjs. Dekan FPBS IKIP PGRI Surabaya, tahun 1990—1991; Dekan FPBS IKIP PGRI Surabaya, tahun 1991—1996 (2 periode);  Anggota Senat IKIP PGRI Surabaya, tahun 1991—1997; Pjs. Kasubag Kepegawaian Unipa Surabaya, tahun 1999; Anggota Senat FKIP Unipa Surabaya, tahun 2002—2006. Berbagai penelitian dan tulisannya ikut mewarnai perjalan kariernya.

Tahun 1996, dokter memvonisnya dengan penyakit jantung koroner sehingga dia harus menjalani kateterisasi dan peniupan pembuluh koroner di dua tempat. Dalam perawatan dr. R. Moh. Yogiarto, Sp.JP(K)–saat ini sudah menyandang gelar Professor– kateterisasi pertama dijalaninya pada Februari 1996 di RKZ oleh dr. Jeffrey D. Adipranoto, Sp.JP(K). Kateterisasi kedua dijalaninya pada Maret 1996 di RKZ lagi oleh dr. R. Moh. Yogiarto, Sp.JP(K). Setelah itu, dia berobat jalan. Berbagai pengobatan alternatif juga dicobanya setelah itu, walaupun secara medis, tidak pernah satu hari pun terlewati tanpa minum obat.

Saat kebahagiaan memeluknya, kakak perempuan (satu-satunya perempuan di keluarganya) sakit. Kakaknya (Sri Harjani) sangat dekat dengan dirinya. Gurat kesedihan sangat jelas tergambar dalam setiap pembicaraannya dengan istrinya. Hampir setiap malam ia menyalakan lilin dan membaca doa untuk kakaknya. Hal yang sama juga dilakukannya jika ia tahu ada saudara/kerabat/temannya yang sakit. Saat kakaknya dinyatakan sehat kembali, tampak sekali kebahagiaan terpancar dari wajahnya.

Setelah itu ada tiga peristiwa yang menggoncangkan jiwanya. Kesedihan dan goncangan jiwa yang pertama ialah ketika ia menerima berita bahwa ibundanya jatuh sakit dan berpulang pada Selasa Wage, 8 April 2003. Kesedihan amat jelas tampak pada gurat wajahnya. Ia kemudian memelihara rambut dan jenggot serta bertekad tidak akan memotong rambut dan mencukur jenggot sebelum 1000 hari peringatan berpulang ibundanya.

Peristiwa kedua yang menggoncangkan jiwanya ialah kakaknya yang nomor tiga–Haryanto–berpulang pada Jumat Kliwon, 19 Maret 2004. Goncangan batin ketiga, ketika kakaknya yang nomor tujuh–Hary Setyana–berpulang mendadak karena serangan jantung pada Jumat Wage, 23 Desember 2005. Setelah 1000 hari peringatan berpulang ibundanya, dia memotong rambut dan jenggotnya. Tapi setelah itu, Januari 2006, kakak sulungnya (Soeprapto) sakit dan masuk RKZ. Kegundahan  kembali menyapanya.

Kesedihannya sedikit terobati karena dia mempunyai banyak sandaran hati: istri, anak, keluarga, dan teman-temannya. Kehidupan rumah tangganya sungguh membahagiakannya. Hal itu sering ia bisikkan kepada istrinya sebelum tidur. Waktu sebelum tidur merupakan waktu yang selalu dimanfaatkannya untuk saling berbagi cerita. Bahkan perjuangannya melawan penyakit jantung koroner yang membuatnya sering berhati-hati memilih makanan kadang-kadang juga mengisi pembicaraan.

Hanya saja, Tuhan berkehendak lain. Pada Selasa pahing,  21 Maret 2006, dalam perjalanan pulang dari kantor, dia mengalami serangan jantung sehingga masuk ke RKZ (saat itu dia ditemani oleh Bpk. Sunu Catur Budiyono yang semobil dengannya, istrinya sedang bertugas di Jogja, anak pertama: Raras di Surabaya, dan anak ke-2: Arya di Malang karena tugas sekolah dari SMA Muhammadiyah II). Jumat Kliwon, 24 Maret 2006, ia pindah rawat inap di GRIU Dr. Soetomo karena akan menjalani kateterisasi dengan pemasangan cincin pada pembuluh koronernya di RS Dr. Soetomo. Tanggal 26 Maret malam dr. R. Moh. Yogiarto, Sp.JP(K). menjenguknya untuk memastikan kesiapan kondisinya (dinyatakan siap). Senin Pon, 27 Maret 2006,  dengan ditunggui istri, anak, saudara, dan teman dilakukanlah operasi itu. Operasi yang dilakukan oleh dr. Jeffrey D. Adipranoto, Sp.JP(K). berhasil, tetapi sungguh sayang, setelah itu kondisinya terus menurun sehingga dia koma. Setelah itu dia masuk ICCU, dan berpulang pk 4.30, Rabu Kliwon,  29 Maret 2006 dalam usia 47 tahun 1 bulan 17 hari. Jasadnya dimakamkan pukul 15.15 pada hari itu juga di pemakaman umum Rewwin, Waru, Sidoarjo, tapi jiwa dan semangatnya tetap hidup di hati keluarga, teman, dan anak didiknya.

2 Comments

  1. tommy prasetyo said,

    February 1, 2009 at 3:19 pm

    sugguh indah telah diberikan kesempatan mengenal om son
    semasa kecil saya banyak bercengkerama berdua
    mulai dari menanyakan arti tato bunga didadanya (yg tak pernah terjawab),
    sampai terpengaruhinya musik beatles bagi saya & mas dodi

    sungguh indah.

  2. mulyono dulrahman said,

    October 25, 2010 at 6:22 am

    Prof, tulisan di atas sangat menyentuh kalbu saya. Betapa jalan kehidupan almarhum seperti puisi. Ada awalnya ada pula akhirnya, ada sedihnya dan ada pula indahnya. Betapa Maha Kuasa Tuhan dalam menentukan kehidupan makhluk-Nya. sebagai seorang muslim saya ucapkan : Subhanallah……saya yakin Prof akan mengarungi sisa kehidupan dunia yang wallahu alam berapa lamanya dengan segala kebaikan dan manfaat bagi sesama.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: