13 Mutiara Doa dari Rekan Kerja

KESAKSIAN

Duh biyung, mbah wayah apa iki
Rembulan wis ngayom
Ing gegono trang abyor lintange
Titi sonya puspita kasilir
Maaru tangis kengis
Sanrep ganda arumnya


Malaikat penjaga firdaus
Wajahnya teduh dan berseri
Dalam taburan harum melati
Ia kidungkan rekuiem suci
Menyambut arwah Tri Budi

Hari  Selasa Wage
Udara ber-AC
Layaknya musim kembang gudhe
Mengapa meski pakai seragam
Punyaku sudah jadi milik korban
Saya tak suka modelnya
Layaknya sipir penjara

Ini seragam lama
Kapan lagi aku memakai
Kalau tidak hari ini

Hari Selasa wage
Udara ber-AC
Layaknya musim kembang gudhe
Garansiku sudah habis
Lewat sebulan 23 hari
Haruskah operasi lagi
Atau ditiup di dalam nadi?
Itu tidak pasti
Bergantung situasi
Yang penting hati-hati

Malaikat penjaga firdaus
Wajahnya teduh dan berseri
Dalam taburan harum melati
Ia pikul salib abadi
Ia kidungkan rekuiem suci

Pukul satu siang
Angin blingsatan kepanasan
Ketika engkau pulang
Aku tak mau ketinggalan
Dalam kereta hijau muda
Panas bagaikan neraka
Kita bicara tentang Unipa
Program yang tidak asal-asalan
Kebijakan yang tidak melihat ke depan
Jalan adalah kehidupan
Dan kemacetan adalah setan

Malaikat penjaga firdaus
Wajahnya teduh dan berseri
Dalam taburan harum melati
Ia pikul salib abadi
Ia kidungkan rekuiem suci

Dalam kegenitan jalanan yang macet
Engkau minum seteguk aqua
Keringat meleleh dan tatapanmu nanar
Menyaksikan wajah yang tegang
Kepadamu aku bertanya, “Ada apa?”
“Napasku berat”
Udara menari
Di atas panasnya aspal jalanan
Engkau minum sebutir…
Kepadamu aku bertanya, mengapa?
Tanpa jawaban tanpa ucapan
Kereta pelan berjalan, menuju ke tepian
“Makin berat rasanya, makin sesak”
engkau pun tambah sebutir…
aku tahu artinya, engkau meregang nyawa

Malaikat penjaga firdaus
Wajahnya teduh dan berseri
Dalam taburan harum melati
Ia pikul salib abadi
Ia kidungkan rekuiem suci

I Wayan Arsana kepadamu aku berkata,
Kehidupan lebih berharga daripada pekerjaan
Mencintai adalah puncak pendakian
Samudera kebesaran jiwa
atau penuntasan kemerdekaan

Bagai anak panah
engkau pun lepas dari busurnya
Di hitungan ketiga
kepadamu aku bertanya,
Sampai di mana? Pengairan!
Ya, sumber kehidupan
Aku menunggu

Kepadamu aku bertanya
Sampai di mana? Stasiun!
Adalah titik di mana perjalanan dimulai sekaligus diakhiri
Aku menunggu
Kepadamu aku bertanya
Sampai di mana? Lampu jalanan!
Perjalan mesti dituntaskan
Agar manis,  pahit, dan getir kehidupan bisa dirasakan
Aku menunggu.

Kepadamu aku bertanya
Sampai di mana? Pos kereta!
Setiap perhentian adalah permulaan
Menenggelamkan yang lama
Membuka yang baru
Aku menunggu

Malaikah penjaga firdaus
Wajahnya teduh dan berseri
Dalam taburan harum melati
Sambil memikul salib abadi
Ia kidungkan rekuim suci

….
Kami diam tanpa bersapa
Sebab kata-kata adalah siksa
Aku nanar, istrimu di mana?
Yogya!
Kemana kita berusada?
R K Z!
Aku nanar, peluh meleleh.
Dengan terbata kau berkata
“Jika napasku tinggal satu-satu
Jangan tangisi aku.”

Kereta pun lewat
Napasmu lambat, tersekat.
Jam jadi lamban dan jarak jadi panjang
Dalam helaan napas yang meregang.
Kau berikan handphone padaku
Ini istriku!
Ibu, sigarane nyawamu sakit
Sekarang menuju RKZ.
Ini anakku!
Raras, ayahndamu sakit.
Dewa di ngarcapada
Sekarang cari usada
Di RKZ Surabaya
Aku panggil Arya?
Dia di luar kota.

Malaikat penjaga firdaus
Wajahnya teduh dan berseri
Dalam taburan harum melati
Ia kidungkan rekuim suci

Istrimu mau bicara?
Terima saja.
Dia tidak mau bicara
Engkau pesan apa?
Sekarang di bawa ke mana?
RKZ Surabaya.
Bagaimana dia?
Meregang nyawa.
Minumkan obat … padanya
Sudah habis tiga

Tumpahlah air mata, tumpahlah
sebab hujan tak mampu menembus hati.
kegelisahan adalah padang tandus tak bertepi
ketakutan adalah cinta
kesetiaan adalah darah dan air mata

Malaikat penjaga firdaus
Wajahnya teduh dan berseri
Dalam taburan harum melati
Ia kidungkan rekuiem suci

Kupapah kau, kupapah
Menapaki jalan, untuk bertahan
Suster, dia sakit jantung
Perlu pertolongan cepat
Napasnya tinggal satu-satu.
Untuk-Mu

Malaikat penjaga firdaus
Wajahnya teduh dan berseri
Dalam taburan harum melati
Ia kidungkan rekuiem suci
Dengan kain putih dan harum mewangi
Ia bawa salib dan peti mati
Menyambut kedatangan Tri Budi
Di surga Bapa yang abadi

Lamun sira ameguru kaki
Amiliha manungsa sanyoto

Surabaya,  April 2006
Sunu Catur Budiyono

MENGENANG REKAN
TRI BUDI LAKSONO

Bung Tri
aku mengenalmu sebagai sosok yang anggun
selalu tenang berwibawa
jenggot putih hitam di dagumu rapi
sosok penuh daya, pecinta Unipa

Bung Tri
terkadang kau senang bercanda
senang bercengkerama pula
namun terkadang sulit tertawa
membisu serius tak bicara

Bung Tri
kutahu kau memang pekerja
selalu cermat dan teliti
tak mempan dan tidak goyah dari goda
dedikasi dengan disiplin tinggi

Bung Tri
bung sudah tiada kini
meski tak rupa lagi, terasa ada
walau ragamu pergi
jasamu akan abadi selamanya

Prof. H. Soelaiman Joesoef, M.M. (Rektor Unipa)
Juli 2006



SIMPLEX VERY SIGULLUM
KESEDERHANAAN ITULAH YANG BENAR

Memang tidak ada aturan baku siapa yang dulu
Tapi logika yang menyatakan bahwa jika selalu diikuti maka
Kawanku ternyata mengikuti aturan ini
Kendati aturan baku tak dilanggar, ternyata Anda yang dulu.

Kalau ini adalah aturan baku
Silogisme, seluruh manusia pasti ada,
Aku – Djoko Awe, Kawanku – Tri Budi Laksono adalah manusia,
Aku dan Kawanku pasti tiada.

Dan … ini pasti terjadi
Jiwa waktuku akan ketemu
Aku ingin bertemu seperti kesederhanaanmu
Simplex veri sigullum, kesederhanaan itulah yang benar

Drs. H. Djoko Adi Walujo, M.M.

MIMPIKU

Ketika jalan itu akan kau lewati
Sekelebat kulihat ujung matamu
Mamandangku … sambil menyeret kopor di tangan
Sebesar itu pulakah duka yang kau tinggalkan ?
“Mari Bu ikut saya …”
“Lho, kemana ? bukankah Bapak sudah pergi ?”
Jawabmu hanya senyum
Ketika kuterjaga …
Ah, hanya mimpi …

Kesederhanaanmu …
Kesahajaanmu …
Kebebasanmu …
Kasih sayangmu …
Kepasrahanmu …
Selalu melekat di setiap raga
Ragamu … raganya … raga mereka

Semangatmu …
Motivasimu …
Kau kuukir di relung sukmaku
Pak ! selamat jalan ! semoga lapang jalanmu
Seperti yang kulihat di jalan itu !

Luluk Isani Kulup
8 Juli ‘06

WAJAHMU ADALAH SAMUDERA

mengingat wajahmu adalah samudera
tenang, dalam, dan menyimpan
bidukku pernah melintas
tanpa badai atau karang menghalang

mengingat wajahmu adalah samudera
perahumu berwajah samudera
bagaikan indahnya perahu Nuh
perahu penuh warna mempesona

mengingat wajahmu adalah samudera
perahumu berlayar penuh perbawa
menuju pantai indah di sana
terbuai semua menatapnya

mengingat wajahmu adalah samudera
kau telah temukan pantaimu
pantai dengan segala pesona
abadilah kau di sana

Santika R.H.
5 Juli 2006

BILA MENGENANGMU

Bila mengenangmu,

Maka yang terbayang adalah sosok dengan tutur sejuk
Senior dengan sikap bijak
Meski bukan muslim namun hatimu tawaduk
Menjadi tauladan dalam bertindak
Muncul kata: Beliau orang baik

Ya Allah, aku bertanya kepada-Mu
Mengapa orang baik selalu kau panggil lebih dulu
Meninggalkan kami yang masih bersimbah dosa dan debu
Apakah kau beri kami waktu
Untuk menghilangkan hati yang membatu

Kini tinggal kami dalam kenangan sendu
Kehilangan tauladan dan kesedihan yang mengharu biru

Sri Widyastuti Rudiyanto
Dosen Fakultas Teknik, Unipa


PERCAKAPAN KITA PUN ABADI

kita pernah bicara
dalam percakapan kita
tentang warna-warna Skotlandia
merah hitam emas dan biru
lalu ketika aku katakan padamu:
sudah kulewati warna-warna itu
merah hitam emas dan biru
sambil tersenyum kau katakan padaku:
yang dua terakhir saya belum tahu.
aku jadi tertawa sendiri
lantaran sebagai murid
aku telah mengalahkanmu

kita pernah bicara
pada sebuah percakapan kita
tentang tokoh-tokoh yang aneh
dalam lakon kehidupan manusia
mereka yang tidak jelas mau jadi apa
mengenakan banyak topeng
sambil berkhotbah petentang petenteng
seolah mereka sudah tahu
langit iku sap pitu

kita sudah sering bicara
dalam percakapan kita
tentang pakaian yang kita pakai
bajumu putih bajuku hijau
kamu punya belas kasih
aku punya rahman rahim
tapi kita adalah sama
sama-sama orang Jawa
sing kudu isa nglaras rasa
nguripake rasaning rasa

membunyikan gamelan kehidupan
dalam diri kita
yang harmoninya kita bawa
dalam setiap laku hidup kita

lalu sekarang kita tidak lagi bisa bicara
tapi  kata-kata itu terus hidup
dalam percakapan abadi kita
pada petuah leluhur yang bertutur:
nata rasa among rasa
mijil tresna agawe karya

Senin Legi, 03 Juli 2006
Pram


PEZIARAH SEJATI

Peziarah singkat ini telah pergi
Empati pada kehidupan hakiki
Terusung dalam peti tersalip puji
Roda-rodanya terus bergerak dan meniti
Untaikan jejak tanda-tanda rohani
Semasa hidup yang penuh ukiran arti
Adalah jantung hati detaknya sepi
Lantaran dada tersurat misteri
Energi-energi hilang dan lunglai
Xenia perkasa pun turut menepi
Itu adalah kuasanya yang abadi
Untuk tanda bagi yang mengerti
Suratan takdir yang telah pasti
Temanku ini orangnya teguh
Rintangan apapun ia tempuh
Idealismenya tak pernah runtuh
Badannya yang tegap
Ubannya yangmengkilap
Dandanannya yang bersahaja
Iman putihnya tergambar mulya
Lembaran hidupmu kuat terpahat
Antara lahir dan maut yang nikmat
Karibku yang teramat dekat
Sempurnalah ziarahmu yang khidmat
Obsesi-obsesi yang belum sempat
Nanti kan kami cermat
Oh sahabat selamat beristirahat

Surabaya, Juli 2006
Bahauddin Azmy


SAJAK UNTUK SEORANG SAHABAT

Tidakkah kau juga merasakan
Rasa yang senantiasa hidup, dan
Ingin selalu dihidupi dan dihidupkan

Bukankah kau telah menceritakannya padaku
Untuk apa semua ini harus dijalani
Dalam ruang dan waktu yang kian menjepit
Ingin kau ukir sebuah makna bangkit

Lalu apa lagi yang harus kukatakan padamu
Alunan simponi itu kita telah sama-sama tahu
Ketika aku dan kamu semakin sibuk dalam hampa
Semuanya sudah menyatu dalam jiwa
Obrolan kita tanpa kata-kata tanpa suara, lalu
Nampaklah batas yang semakin terlihat jelas
Oh… kawan, semua telah selesai; garansiku sudah usai;
kontrakku yang sepuluh harus berakhir pada titik ini.

Pram
06 Juni 2006
08.00


SOBATKU

aku termangu
putih lakumu
susah lupa semua
banyak sudah kuterima
tentang apa saja

ketika aku tidak berkutik
susahku sudah begitu mencekik
tak ada duga datang menyibak
tercengang hati terbawa
malaikatmu datang lewat tegur sapa
hadirmu yang tiba-tiba
lapangkan semuanya

sobat…
selamat jalan
moga sampai pada tujuan
doaku menyertai perjalanan

Rabu, 05 Juli 2006
Sri Budi Astuti


100 HARI MENGENANG BAPAK TRI BUDI LAKSONO

Bapak Tri Budi Laksono,
100 hari sudah
engkau pergi ke alam baka
menghadap Yang Maha Esa
Lama …selama-lamanya
Semoga diterima
tanpa menghitung dosa dan noda
Pengabdianmu telah setara
bahkan turah melimpah
Utamanya darma baktimu
di Unipa tercinta
Kami semua bersaksi, dengan doa-doa
Semoga lapang jalanmu, menuju surga

Bapak Tri Budi Laksono
100 hari sudah
engkau tiada
Langit di atas kampus
tampak pupus
Mendung menggelantung
Mega-mega duka
Masih terasa menyelimuti hati
setiap warga Unipa
yang setia.

Betapa tidak …
tubuh dan wajahmu simpatik
langkah lakumu yang akrab
sosokmu yang memikat
slalu hadir membayang-bayang
dalam bentuk dan jiwa
Wicara dan tutur katamu
lembut penuh kasih sayang
mengiang-ngiang
menembus hati dan telinga
Semuanya …
memberikan makna
nan berguna
terukir indah pada setiap hati
sahabat, sobat, dan kerabat
dalam jalinan keluarga besar
UNIPA Surabaya

Bapak Tri Budi Laksono
darma bakti, karya,
dan cita-citamu
semua adalah …
persembahan kepada-Nya
pasrah dan sumarahlah
kepada Yang Mahakuasa
yang tinggal biarlah tinggal
dan tinggalkanlah.

Semua kan kujaga
sbagai tanda setia kawan
Selamat jalan …
jangan terpaku dalam ragu
berjalanlah laju
tuk segera bertemu
kepada Yang Mahatahu
Tegakan kami …
yang tinggal di bumi
Kami kan bersaksi
dengan doa-doa
Semoga arwahmu abadi di sisi-Nya.

Kakek Tua
(Drs. Masini Atmadji, ketua yayasalan YPLP PGRI Surabaya)


MEGATRUH

Mugi-mugi
Keng Bapak tinampi luhur
Dening ingkang Maha Suci
Gancar padang tindakipun
Hanampia nugrahaji
Lumebeng swarga kalakon

Surabaya, Juli 2006
Kakek Tua


PENCURI DI WAKTU MALAM

Ketika pagi hari kuterima kabar
Mas Tri pulang ke Allah Bapa
Aku tidak percaya …..
Ini hanya mimpi buruk pagi hari

Siang hari tiba
Dua orang ibu kirim sms yang sama
Barulah aku percaya
Realitas hidup terjadi di antara kita
Berkelebat tahun sembilan dua
Kita sekamar berdua, di hotel Purnama Batu
Waktu itu ada seminar sastra Indonesia
Kuceritakan padamu, pada suatu senja isteriku sewot
Karena kamar kerja pengap, penuh asap rokok
Mas Tri tertawa, lalu berkata:
“Lo … kok sama ya?”
……………………………..
Ketika mas Tri pergi ke Allah Bapa
Aku masih di Denpasar Bali
Sore hari kunyalakan lilin di kamar sewa
Kupasrahkan dalam doaku
“Mas Tri, hidup damai dalam Kasih Kristus”
Kematian itu datang ….
Seperti pencuri pada waktu malam
Ini sekelumit kalimat Injil
Yang kubaca pada senja hari
Mas Tri … semoga hidup damai
dalam Kasih Tuhan di sebelah kanan
Allah Bapa

Denpasar, Rabu Kliwon, 29 Maret 2006
Sabahat satu  iman: Henricus Supriyanto

3 Comments

  1. Abdul Ghofur said,

    January 10, 2009 at 7:21 am

    Usul saja, lebih baik tiap puisi dimasukkan 1 posting, daripada semua puisi dimasukkan dalam 1 posting. Sehingga lebih mudah dibaca, dijelajah dan dikomentari.

    Selamat berwordpress ria🙂

    thx

    • kisyani said,

      January 10, 2009 at 3:47 pm

      Terima kasih. Habis banyak banget puisinya, ada 113, yang dari rekan kerja ada 13, puisi Mas Tri ada 23. Banyak angka tiga berjejer di belakang (???). Saat ada waktu, pasti saya kerjakan. Semoga sehat selalu.

    • kisyani said,

      January 11, 2009 at 6:50 am

      Sudah dikerjakan, satu puisi satu posting.
      Terima kasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: