Mahasiswa Bersaksi dalam 113 Puisi

DOSENKU

Langitku terlihat mendung
ketika pagi datang
seiring kepedihan hati
ketika ditinggal pergi
untuk selamanya

Dosenku . . .
seorang yang tak pernah lelah
berbagi semasa hidupnya

Ucapkan terima kasih
dari dalam jiwa ini
tidak pernah terhenti
oleh raga dan jiwa

Tuhan …
berikan ketenangan
untuknya …
Amin.

Rahmawati Aziz

TENTANGMU

Ketika aku mulai mengenalmu
aku berharap kelak akan menjadi seperti engkau
dengan sabar dan tulus ikhlas
Tanpa mengenal lelah
tanpa memperhitungkan balasan dari kami
kau senantiasa menuntun dan mendampingi kami
tapi entah mengapa tiba–tiba
Semua ini terjadi begitu cepat
berita yang sangat mengejutkan
berita yang tak pernah kami harapkan
Ternyata engkau meninggalkan kami semua
egkau pergi untuk selamnya
mungkin ini adalah jalan yang terbaik
Derita yang selama ini membebanimu
kini hanya ada kenangan indah tentangmu
kini di kampus biru tercinta ini
tiada lagi sosok seorang Bapak sepertimu
Sosok seorang Bapak yang berwibawa
sosok seorang yang berkumis
dan sosok seorang yang berkuncir
tapi pengorbananmu akan kami kenang
Dan akan selalu kami ukir dalam hati
dan sepanjang hayat kami
semoga engkau pergi dengan tenang
dan diterima disisi-Nya ( Amien )

Lilik Nuryahati

KEPERGIANMU

Hening …
semua membisu
iringi pergimu, hanya guratan
senyum tanpa makna
membias di bibirmu

Kuingat …
pengabdianmu
dedikasimu
untuk memberi ilmu
pada anak didikmu

Kini …
dirimu
hanya diam
tanpa suara
karena saatnya
engkau menghadap pada-Nya

Harapku …
jasamu
bisa jadi inspirasi
bisa jadi motivasi
bagi anak bangsa.

Anny Imami

KARENAMU . . . ( Pak Tri )

Aku ingin mempersembahkan sekeranjang
bunga tercantik untukmu
sebagai ungkapan aku mengasihimu
karena perhatianmu yang tercurah
hanya untuk mahasiswa

Aku ingin membeli sekotak coklat
coklat termanis untukmu
sebagai bahasa aku mencintaimu
karena senyum yang kau berikan
hanya untuk anak didikmu

Aku ingin selalu melihat
dan mendengar nasihatmu
tapi semua ini telah berlalu
karena kau telah berpaling dari kami
untuk pergi menghadap-Nya
Selamat tinggal Pak Tri … ???

Sunaryati

SAAT KAU PERGI

Kehidupan telah ia tinggalkan
lewat ilmu ia wasiatkan
ciptakan karya seni yang indah
menuntun aku untuk berkarya
dan mengerti arti sastra

Semangatnya . . .
Candanya . . .
Tatapannya . . .

Kini apa yang pernah engkau titipkan
akan aku ikuti . . .
Kekosongan jiwaku akan aku buktikann
engkau tetap bersama kami
meski enkau ada disisi-Nya

Tersenyumlah Bapakku
seperti ajaranmu
yang selalu tersenyum

Arina Khusnayani

DI MANA KAU ?

Aku berjalan setapak demi setapak
menempuh berbagai macam jalan
ada jalan yang lurus ada jalan yang bundar
dan kutemui jalan yang sunyi

Kurenungkan kembali
di manakah kau ?
sosok jiwa yang cuex dan nyentrik
tanpa harus berpura–pura dalam kemunafikan

Di manakah kau?
bagai sebuah mimpi, kini ku bangun
kau . . . tidak bersama kami lagi
kenyataan pahit yang tak bisa kupungkiri

Musyarofah

ORGANKU BERKATA

Engkau denyut nadiku . . .
Engkau jantung hidupku . . .
Engkau paru–paru pemompa jalanku . . .

Menatap tinta goresanmu
Meraba jejak langkahmu
Mencium puisimu, melihat sastramu
Mendengar alunan suaramu

Kenang . . .
Tatap . . .
Dengan mata
Dengan telinga
Dengan hidung
Semua alat indramu

Beliau tersenyum
Beliau tertawa

Kenang . . .
Tatap . . .
Sosok abadi
Pemberi harapan
Penerang ilmu
Anak–anak Sastramu

Husnul Khotimah

KEMBALI PADA LANGIT-NYA

Pijak langkahmu . . .
Kini telah terhenti
Dalam barisan zad-Nya
Bersama sangkakala kehidupan
Yang bertiup ke arahmu . . .

Mengais ilmu yang kau berikan . . .
Menyelami setiap kata yang kau ajarkan . . .
Memahatnya dalam ribuan hari
Karna sepenggal nyata
Tlah renggut dirimu
Kembali . . . satu . . . pada langit-Nya

“Bapak Tri Budi Laksono . . . ”
di antara seutas tali
yang hubunganku denganmu . . .
ku ucapkan “Selamat jalan . . . ”
jiwa murni . . . berhujankan kamboja . . .

semoga kau temukan keteduhan
dalam genggam kuasa-Nya . . .
seperti mata air . . .
membasuh kegersangan jiwa kami
yang kau sejukkan dengan keikhlasan

Farah Indah Fajriyah

OBOR ESTAFET

“Ke mana arah kita, Tuan
mengapa jalan ini tidak saya kenal
jam berapa sekarang?”

Kau dan aku
Ya . . . hanya kau dan aku
meninggalkan tapak kepastian
di lorong gelap ini
terus . . . terus berjalan, mencari terang
tanpa mengenal waktu

Kau di depan
membawa obor keabadian
Aku di belakang, tertatih
mengagumi segala yang tlah terlewatkan

Sesekali kita beristirahat
harus nafasmu merebak dalam
Akal dan hatiku
melemparkan angan yang tak menentu
menciptakan kepastian dan keteguhan
di setiap waktu

“Jangan dulu berjalan, Tuan
jantung ini masih berdetak kencang
darah ini sudah sampai ke sumsum tulang
rasanya saya ingin tidur
saya mengantuk, Tuan
biarkan saya tidur barang sebentar saja “

Kau tak peduli teriakanku
matamu berbinar dan kau pun tersenyum

Hei, tunggu Tuan !
Anda berjalan di luar rel !

kau melambai padaku
langkahku bimbang tak mengerti
apakah ini jalanmu dan jalanku

Kaupun mengangguk, tersenyum
aku mencari binar mata itu
namun tak kutemu

Dalam temaram kau gapai tanganku
kau sematkan obor keabadian di dada–dadaku

“Kau yang muda
teruslah berjalan dengan akal dan hatimu
tetaplah siaga pada musuhmu”

Tapi,
Di mana ujung jalan ini, Tuan
Jam berapa sekarang
dan . . .

Chichid Cahyu Nofida

DOSENKU SAYANG DOSENKU TERCINTA
(Alm. Bapak Tri Budi Laksono)

Pak Tri …
Kau hadir saat dibutuhkan
Kau datang ketika diinginkan
Kehadiranmu mengubah wajah
Keceriaanmu mengganti suasana

Sosok yang begitu menarik
Membuat orang tak bosan menatapnya
Belum lama kukenal
Tapi begitu banyak senyum yang tercipta

Kini …
Kau pergi saat matahari menyinari hati
Kau lari kala embun pagi menyegarkan diri
Kau tinggalkan segala-galanya yang ada

Mungkinkah semua kembali lagi
Akankah semua seperti dulu lagi
Saat kau hadir di tengah-tengah kami
Ketika kau menemani hari-hari kami

TERIMA KASIH
(PAK TRI BUDI LAKSONO)

Puisi yang saat ini kutulis
Tanpa kias tanpa irama
Sebagai pelepas rinduku
Di manakah beliau kini ?

Pak Tri …
Begitu cepatkah engkau tinggalkan kami
Belum sempat lama kukenal
Hanya sosokmu yang selalu terbayang
Dengan sejuta kenangan

Terima kasih …
Hanya kata-kata itu yang patut kami ucapkan
Engkau bukan hanya seorang dosen, tapi juga orang tua bagi kami
Engkau memberi kami ilmu
Engku juga memberi kami sebuah pengalaman
Jasamu takkan pernah kami lupakan

Tetes air mata membasahi semua keluarga dan orang-orang terdekat
Sebagai ungkapan rasa kesedihan atas kepergianmu
Kini …
Hanya kenangan senyummu yang selalu menghiasi hati mereka
Dengan segala kerelaan hati
Melepas kepergianmu menuju yang Ilahi

Reny Indrayati

DO’A DAN KENANGAN

Baru kemarin rasanya
kami mengenal kepribadianmu
Bapakku, Tri Budi Laksono, tercinta
sosok seorang yang,
rendah hati
penyayang
dan selalu tepati janji

Rasanya haus kami belum kau penuhi
tetapi Tuhan telah menjemputmu
pulang kepangkuan-Nya yang abadi

Ilmu yang kau berikan bermanfaat
terpatri namamu sampai akhir hayat
doa pasti kami panjatkan
Semoga Bapak tenang dan bahagia di sana

Muslimatun

GORESAN PENA

Pak …………….
Kau berikan seberkas sinar
Kau torehkan secercah harapan
Kau lukiskan segala ketulusan
Kau tuliskan seluruh kebaikan

Pak …………….
Ku tak bisa membalas seberkas sinarmu
Ku tak bisa membalas segala ketulusanmu
Ku tak bisa membalas kebaikanmu
Ku tak bisa membalas semua itu

Pak …………….
Hanya goresan pena yang menari
Hanya tinta yang menjadi saksi
Hanya hitam dan putih
Hanya sebuah puisi
Yang dapat ku persembahkan tuk Bapak di sana

Maufirotul Hasanah

TUHAN …

Tiada terpikirkan
tetesan air mata
yang berlinangan di pipi ini

Oh … Sang Ksatria
ikut dan jagalah
gedung yang telah bertahta emas ini
dengan kesetiaan dan keabadianmu

Aku akan selalu mengabadikan namamu
dan jasa-jasamu di dalam sanubariku
Kini tinggallah harum wangimu
yang akan selalu tersaji indah di batinku

... – 2005 –

. . .

Pak Tri …
Kami kehilanganmu, kami menangis untukmu
Do’a kami mengiringi perjalananmu

Pak Tri …
Tenanglah kau di sana
Damailah kau di samping-Nya

Rini Wirayanti

PUSARA PUTIH

Tenagamu kian menipis
bak plastik menerawang

Sayap yang kuat
kini terkulai terbaring
Bibir pucat pasi
piluh keluh menahan sakit

Asa menggapai hidup seribu tahun
tapi hakim tak beri izin
Asa hati bahasakan rangkaian kata
tuk anak, kerabat, atau cenderamata
tapi hakim tak beri izin

Sayap yang kuat
kini patah tak berisyarat

Kau laksana merak menutup mata
tatkala tak bisa mengepakkan sayap
Kini kau tinggalkan kami
tanggalkan segala asa dan cinta
pergi ke sebrang jalan yang tak kami ketahui
tempat yang jauh dari bising duniawi
tuk mu kami berdoa dan bermadah

Semoga kau bahagia
di tempat abadi pusara putih

Eny Khulaiva

HARIMAU BERHATI LEMBUT

Selama langit masih biru
Selama sungai masih tempat mengalirnya air
Selama wanita masih dipanggil ibu
Selama otak masih alat berfikir

Kami mahasiswa dan mahasiswi
Akan mengenangmu selalu
Banyak yang takut kepadamu
Engkau terlihat sabar dan lembut
Namun dalam kediaman dan kesabaran itu
Menyerupai harimau yang sedang tidur
Bila ada yang mengusik, akan menerkam siapapun

Kedisplinan, tanggung jawab, konsekuensi, peraturan
Adalah isi dari prinsipmu
Kami mahasiswa didikanmu
Harus memakai prinsip itu
Untuk mendapat predikat baik darimu

Sanksi, bahkan X akan kau berikan
Untuk si pelanggar peraturan
Untuk si pelupa akan tugas yang diberikan
Namun
Sekarang engkau di surga-Nya
Apakah prinsip itu akan tetap terpaku
Atau menjadi momok di dalam kalbu
Itu….itu akan terlihat
Selama namamu tetap diingat

Barokah

ANGIN, AIR, DAN API

Engkau bagaikan angin
yang menyejukkan jiwa kami
dengan tutur dan petuahmu
kau taburkan kasih sayangmu

Engkau bagaikan air
yang membasahi hati kami
tekat dan semangatmu
iringi kami menuntut ilmu

Engkau bagaikan api
yang membakar semangat kami
untuk selalu berjuang
demi dapatkan jati diri

Engkau bapak kami
Engkau teladan kami
Engkau selalu di hati
Hingga akhir hayat nanti

Ita Wahyuningsih

INILAH AKHIRNYA

Di antara tumpuan air mata
kami dapatkan hanya nyanyian luka
yang melemah tanpa jawaban
sebagai bukti kehilangan
ketika harus kami relakan engkau
berpulang kepada Yang Esa

Mungkin saja semua telah menjadi abu
Mungkin dunia telah berakhir untukmu
Namun dalam seribu masa bagi kami
akan terus ada rindu
yang mencatat tentangmu
dalam lukisan kenangan

Semoga bahagia mengkristal
kelilingi jiwamu
di atas pena takdir milik-Nya
seperti rahasia jingga
dalam balutan ilmu darimu
yang jatuh . . . tetes . . . demi tetes . . .
menyatu . . . di sana slamanya . . .
Di benakku . . . mengenangmu . . .
“Bapak Tri Budi Laksono . . . ”

Sulaisih

1000 KUNCIR

Siapakah engkau gerangan
oh, ternyata sosok . . .
tinggi, besar, berkuncir
petuah bijak selalu
engkau tuangkan dalam
kata demi kata
Kini hanya
dalam kenangan samudra
batinku . . .
tapi seribu kuncir
sebagai lambang nazar
tetap abadi
menyelimuti dalam kalbuku

Anonim

KHARISMAMU

Di sana ku melihat sosok tubuh tampanmu
yang terbujur kaku
dengan tertimbun tanah dan bunga
kau meninggalkan segalanya

Tiada langkah kakimu di kampus ini
Kau sangat sabar, dalam mendidik kami
Aku . . . ku selalu mengenangmu
baik dalam hati maupun jiwaku

Kau tumbuhkan semangat baru bagiku
sampai hayat kukekang selalu

Istianah

MATA INI JADI CERMIN

Di sela–sela taman bunga yang disemai
Kau tumbuh bak rumput liar
engkau menari–nari di tengah padang ilalang merentang selendang
dan memukau jiwa yang memandang

Engkau mencoba bertahan
menunggu sabda sang majikan
Namun
tiba –tiba waktu terkoyak
dan angin membawamu pergi dari pusat samudra

“Wahai Pak Tri Budi Laksono yang kucinta
mataku jadi cermin dari intan–intan kenangan yang kau berikan
budi pekertimu, tingkah lakumu, dan santun bahasamu
telah terpatri dalam sanubariku

Tak ada yang rela melepaskanmu
namun tangan Sang Ghaib
mengubah jarum jamnya
berputar kembali ke awal ( O )

Booj3’s

LANGKAHMU PANJANG

Engkau berbudi santun
penuh kasih sayang
dalam memberikan ilmu–ilmumu
semua kagum atas dirimu

Kini kau telah pergi
bersama kenangan kami semua
yang takkan pernah kami lupakan
dalam jiwa–jiwa kami
sungguh jasa–jasamu sangat besar
dalam mendidik kami semua
sebagai penerus generasi bangsa
Kami sangat menghargaimu
sebagai dosen teladan kami
yang selalu kuingat sepanjang masa

Widi. W.

???

Seribu hari kau janjikan
kepada Sang Hawa ibu tercinta
yang telah bosan dengan kemunafikan dunia

Kini hari itu telah tiba
seribu janji yang kau janjikan telah meminta
kau susul ibunda tercinta ke gerbang surga
menemani beliau dalam alam keabadian
Semoga kau terbaring tenang di dalam pusara
bersama ibunda tercinta

C.Ronaldo
BAPAK ILMUKU

Hanya satu yang engkau tinggalkan
dan tetap abadi dari zaman ke zaman
Wahai….engkau bapak ilmuku
adakah engkau hadir dalam alamku
mengiringi alunan kehidupan yang baru

Setetes air yang keluar dari mata ini
tidaklah guna untukmu bapak ilmuku
Kebijaksanaan, kenangan, dan kesabaran
selalu ada dalam keseharian

Selamat tinggal bapak ilmuku
semoga engkau dapat tersenyum
berada dalam sorga kehidupanmu
melihat ke sini tempat anakmu
yang selalu hadir menuntut illmu

Ginseng


KEPERGIANMU!!!

Senyum redup tersungging di bibirmu
menghiasi ketampanan wajahmu
Sorot matamu yang tajam, membuat kami terkesima
semuanya mengisyaratkan . . . pribadimu yang penuh kasih
kasih sayang pada tiap anak didikmu

Engkau sosok seorang Tri Budi Laksono berkuncir jaran
yang selalu mengantarkan kami kepada keberhasilan
Kau perjuangkan kami untuk sukses
Kau korbankan seluruh jiwa ragamu untuk kami
Perjuanganmu yang sangat besar
selalu menghampar dalam benak kami

Kami mahasiswa, yang saat terlena dengan kehidupan
membuat ingatan sepintas tentang dirimu
Namun kini penyesalan yang menyelimuti
setelah engkau pergi tinggalkan kami
Begitu sangat merasa kehilangan

Ya…..mengawasi UAS kami 2004
Detik itu ternyata kami terakhir melihatmu
Terpetik suatu kabar, engkau terbaring tiada berdaya
Engkau berperang melawan penyakitmu
Namun sayang engkau kalah . . .
Tiada terduga secepat itu engkau pergi
meninggalkan anak-anak didik, kawan, dan kerabatmu
untuk memenuhi panggilan Sang Pencipta

Novi Farma


SEMANGATMU

Semangat dan pengetahuan yang maju
seakan tak rentan melawan waktu
Kebijaksanaanmu yang selalu kami tiru

Kau hadir di tengah kami
berbagi ilmu dan pengalaman pribadi
meski telah menghadap Sang Ilahi
bagi kami itu sangat berarti

Waktu semakin menjauh
kenanganmu kuingat selalu
membawa pesan ilmumu
yang kau ajarkan pada kami selalu

Hastanti


KEPERGIANMU

Hening
semua membisu
iringi pergimu, hanya guratan
Senyum tanpa makna
membias di bibirmu

Kuingat
pengabdianmu

SAAT KAU PERGI

Kehidupan telah ia tinggalkan
lewat ilmu ia wasiatkan
Ciptakan karya seni yang indah
menuntun aku untuk berkarya
dan mengerti arti satra

Semangatnya
Candanya
Tatapannya

Kini apa yang pernah engkau titipkan
akan aku ikuti
Kekosongan jiwaku akan aku buktikan
Engkau tetap bersama kami
Meski engkau ada disisi-Nya

Tersenyumlah Bapakku
seperti ajaranmu
yang selalu tersenyum

Arina Kusnayani


100 HARI KESUNYIAN
UNTUK SAHABAT

Dengan waktu yang sangat singkat
aku mengenal dirimu
Engkau sungguh berwibawa di mataku
Meskipun sebentar aku mengenalmu
aku tetap kagum akan perjuanganmu
Engkau berikan kami ilmu
Aku takkan melupakan jasamu

MM
PERPISAHAN

Dalam kehidupan ini
takkan pernah abadi
seperti matahari
yang tak selalu menerangi bumi

Meski aku hanya sekali
berjumpa
kan kuingat selalu di hati
di jiwa

Oh…Dosenku
Oh…Bapakku
Sastra Indonesia
tetap jaya selamanya

Kami sebagai generasi baru
akan melanjutkan perjuanganmu
di sini bersama
semoga beliau tenang di alam sana

Mufirotul H.
. . .

Pak, 47 tahun sudah perjalanan hidup yang
kau tempuh, banyak sekali kenangan yang
tertanam dalam kalbu, dalam hati kami
raga dan nyawa yang
masih bisa berceloteh

Pak, tenanglah dalam keabadianmu
Seandainya rohmu melihat raga dan nyawa
Ini pasti bibirmu saja yang tersenyum tipis
melihat tingkah kami

Pak, raga dan nyawa ini takkan
menghapus sosokmu,
Kenyentrikan gaya hidup yang menggambarkan
sosok pengobral sastra
yang sesungguhnya

Pak …
Pak …
Pak …
Tenanglah dalam keabadaian
tidur panjangmu

Sri Warni


TAKKAN KEMBALI

Seiring waktu yang berlalu
kuning jingga menyembul di arah barat

Uban yang memutih
denyut mengalirkan darah yang memerah
rasa tak akan ada
pijak tak akan terasa
melayang bebas ke jauh sana
atau tertusuk duri neraka
atau pula menari dengan bidadari surga

Dia adalah sukma dua istana
menghilang tak berasa
rasa tak bernyawa
ingin kuulang hari bersamanya
mengenakan pena darinya lagi
Tapi mengapa menghilang
menghilang, menghilang, menghilang
Ku takkan kau anggap
sejak ini dan sampai nanti aku . . .

J. Prabu


PENYESALAN

Kejam …
Pertemuan yang sangat tragis
membuat jantungku berdetak kencang
dengan wajah yang hambar
Kubertanya ada apa ini?
suara bising keluar begitu saja
hingga terkejut mendengarnya

Mati … sungguhkan!
suara hening …
kaulah panutan bagi kita
Janganlah kita ragu akan kasih dan
sayang beliau
Beliau begitu pendiam
tanpa kita ketahui
Pertemuan ini adalah awal dan terakhir
engkaulah yang terkasih
bagi kita semua …

V-da


SEHARI BERSAMAMOE

Tinggi besar berambut putih
Sosok guru besar berwibawa
Pancaran aura wajah yang menghias
Meluluhkan jiwa untuk mengenalnya

Berbekal ilmu yang dimiliki
Mengajarkan anak tersayang
Pengetahuan yang luas tentang sastra
Meski kau dalam keadaan menderita
Tapi kau tetap berdiri tegak
Berdiri di depan sebagai pemimpin

Kini, aku hanya bisa mengenangmu
Hanya doa yang bisa kuberikan
Karna aku tak punya apa-apa
Sebagai rasa terima kasih untuk ilmu
Ilmu yang hanya sehari kudapatkan
Semoga kau tenang disisi-Nya
Dalam dekapan kasih sayang-Nya.

Desi


JASA SEORANG PAHLAWAN

Kau adalah pahlawan bagi kami
Jejak ajal menjemputmu
Memisahkan jiwa dan raga
Jiwaku seakan beku kehilanganmu

Semangat dan asa yang kau rajut
Tak akan pernah terlupa
Meski segala telah terpisah jauh
Namun kenang dan citamu tetap ada

Dosenku tercinta kuucap selamat jalan padamu
Tak akan padam segala citamu
Karena di sini ku akan berjanji
Berjuang terus seperti kau yang tak kenal lelah.

Sri Wahyuni


IN MEMORY

Wahai publik figur kami
Dengan waktu yang sesingkat itu
Pertemuan kita seperti kereta api yang lewat

Tuhan
Mengapa kau beri waktu sesingkat itu
Yang aku belum tahu banyak hal
Aku masih bertanya-tanya
Bagaimana publik figur kami

Tuhan
Tapi mengapa …
Saat ini hanyalah kenangan
Yang takkan pernah kembali ke dunia ini
Selamat jalan publik figurku

Nisa


BENING

Bening hatimu, hatimu bening
Bening karenamu, karenamu hatiku bening
Antara kebeningan hatimu, hatiku jadi bening
Bening … bening … bening…
Hatimu sebening embun pagi

Boojes


PAHLAWANKU

Oh guruku
Belum banyak yang kutahu
Kau cerita di hadapanku
Tapi aku tak menghiraukanmu

Kini kau telah tiada
Hanya penyesalan yang ada
Hanya bayangan yang kubawa
Sampai aku menjadi sepertimu

Waktu itu, hari itu, tempat itu
Akan menjadi kenangan selalu
Di mana pertama dan yang
Terakhir kalinya kau menatapku

Mungkin jati dirimu kuketahui
Namum hanya lewat cerita-cerita
Aku percaya kau adalah pahlawan
Dalam angan-anganku

Aznia


KEMULYAANMU

Engkau panutan kami
Cermin jiwa kamu
Yang telah mengajariku
Tentang segala kehidupan

Begitu arifnya …
Begitu ibanya …
Segala ilmu yang kau berikan
Dan segala budi baik yang kau torehkan

Engkau begitu mulia
Engkau begitu kaya
Biru jiwamu …
Bagaikan lautan samudra

Engkau begitu berarti dalam hidup kami
Kami akan selalu ingat dengan budi baikmu
Meski kini engkau telah tiada
Namun aku akan selalu mengenangmu

Wahai guruku …
Engkau tak pernah lelah
Engkau tak pernah jenuh
Untuk mendapatkan segala ilmumu

Siti Hamidah


SOSOK BAYANGAN

Sosok
Bayangan yang telah rapuh
Keteduhan jiwa
Pelipur sang pujangga

Sosok
Tinggi, tenang
Menyimpan berjuta misteri
Yang rapuh … rapuhlah
Yang sirna … sirnalah
Bersama kepingan
Repihan hati …,
Ikhlas … ikhlas … ikhlas …
Bayangan… bayangan …bayangan …

Anonim


Hari itu
Aku bertemu sosok dosen
Tinggi menggambarkan kewibawaan
Tenang melukiskan keseriusan
Di balik itu tersimpan banyak harapan

Eli Rahmawati
UNTUKMU PAK TRI YANG TERSAYANG!?

Saat pertama kau injakkan kaki memasuki
Ruangan kelasku, betapa terkejutnya aku?
Sesosok tubuh yang tegap besar
Dan berambut gondrong memulai percakapan
”Selamat siang semuanya?!”, ”Siang pak …”.
Hari-hari pun telah terlewati
Dengan pelajaran-pelajaran yang menurutku
Cukup membosankan!? Singkat cerita,
Akhir semester pun tiba, apa yang aku dapat,
Ternyata aku tak lulus dalam pelajarannya.
Aku kesal;, benci dan marah.
Hanya sumpah serapah yang terlontar dari mulutku.
Tapi semua itu tak berguna, karena
apa yang kudapat selama ini
Tambahan ilmu ataupun pengalaman-pengalaman
Yang selama ini tak kutemukan.
Sekarang engkau telah tenang di alam sana

Seraut wajah seram
Berambut gondrong, berjenggot panjang
Tatapan matanya yang tajam
Membuat sendi-sendiku bergetar

GURUKU

Aku teringat tentang kau
Sosok yang disiplin, bijaksana
Ajaranmu melambangkan kedamaian
Hidupmu adalah pengorbanan
Yang kau berikan kepada siswamu

Aku coba meilihat sosok fisik darimu
Kumis, jenggot, rambut yang agak panjang
Membuat aku teringat akan kau
Hatiku terasa senang saat kau
mengajar tentang cerita-cerita rakyat
Kau adalah guru idamanku.
Faisal Hamsah


DOSENKU SAYANG DOSENKU TERCINTA

Terlalu sayang, terlalu manis tuk dikenang
Meski hanya sepintas asa
Karna waktu dan ruang
Memisah jiwa dan raga

Kau laksana lentera malam
Yang kan slalu terangi kebodohan
Kenang, cita, dan harapanmu
Kan selalu berpijar terang meski sosokmu rapuh

Dosenku sayang dosenku tercinta
Selamat jalan kuucapkan padamu
Smoga terang jalanmu di sana
Seperti lentera cita dan harapanmu

Rini Wirayanti

Sehari
Sosok berwibawa itu kupandang
Sekejab kukenal
Namun kan kukenang

Terkenang …
Setiap tuturannya
Indah dan bernilai
Setitik namun berharga
Bagai mutiara
Akan selalu kujaga

Berharap …
Pertemuan ada dan berulang
Namun hari itupun datang wajahmoe
Tak bisa kupandangi lagi
Untaian nasihatmoe
Tak bisa kureguk lagi

Namum …
Percayalah kami kan selalu berjuang
Mencapai tujuan
Pasti

Madura


UNTUKMU YANG TELAH TIADA

Di saat keheningan mulai menghampiri dirimu
Di saat kebisuan merenggut nyawamu
Engkau tetap tegar dan
Selalu tersenyum menyapa
Semua rintangan hidupmu

Guruku …
Kepergianmu begitu cepat
Bak petir menyambar reranting di siang bolong
Engkau pergi di saat aku
Mengingingkan kebersamaan bersamamu

Namum, apa yang terjadi
Keinginanku hanya tinggal keinginan
Dan kini engkau telah pergi untuk selamanya
Aku hanya bisa mengucapkan
Selamat tingal; dan selamat jalan guruku
Semoga engkau bahagia di alam sana

”2003”


TERIMA KASIH

Seperti bintang …
Kau datang membawa kesan
Dan pergi meninggalkan kenangan
Indah …

Cahaya yang kau berikan
Telah membawa kepada pengertianku tentang ilmu
Meski harus kuterima balas tak sepadan
Tapi tetap kaulah teladan

Waktu dunia memang tak sama
Seperti halnya diriku … dirimu
Yang telah terpisah

Bapak terima kasih

Pangeran Bulan


KAMU

Kamu
Perawakanmu begitu tenang
Suaramu lirih dan halus
Bagai dedaunan yang semilir
Dedaunan yang tertiup angin

Kamu
Pertama aku melihatmu
Aku begitu merinding
Perawakan yang kekar
Penampilan yang sangar dan menakutkan

Kamu
Di balik semyua penampilanmu
Di balik ketakutanku dengan penampilanmu
Tersimpan sebuah kekagumanku
Kamu begitu berwibawa dan memberiku sesuatu
Yang berarti
Yaitu ilmu dan pengetahuan

Rahmawati


KEPADA BAPAKKU YANG TERSAYANG

Aku sangat senang, melihat wajah
Yang sangat bersinar cerah
Dan dengan berambut panjang
Dan senang berjenggot panjang
Badannya yang gagah seperti pahlawan
Kudengar suara yang sangat keras dan indah
Pada saat kepergianmu aku sangat kecewa
Dan terpukul … sedih
Oh Bapak … terlalu cepat kepergianmu
Sekian lama aku menantimu

Namun, apa yang kualami
Hanyalah sebuah kehampaan
Kini engkau telah tiada
Engkau pergi bersama
Hembusan bulan purnama

”2003”


SERIBU BAIT KENANGAN
CIPTA RASA DARI PRIGEN

Daftar nama yang terdepak
Dari tubuh tempatnya berpijak
Mendiang yang kupanggil. Pak
Randu tegap berkayu lapuk
Dari pelepah sampai daunya nampak semrawut
Jantungnya kisut-kisut mengekrut
Sampai Tuhan Allahmu menjemput

Jangan hilang lepas ingatan
Sejam renungan heningkan cipta
Subuh dingin di Leduk Prigen
Sosoknya kabur dalam penglihatan
Tapi aura ungu mengkorokkan bulu
Kelenjar membasah ubun-ubun,
Kau lain dari yang lain
Meski yang lain juga punya kelainan

Lanjut bersambut …
Di jalan penuh lubang
Menurun tajam banyak menyelintung
Lamun mendalam deg-deg penasaran
Arwahnya gentayang menerkam pikiran
Satu pun belum terluaskan
Dari dua perjara yang kuselipkan
Pada lebar jawaban ujian
Hendak kurilis seratus bait kekaguman
Apa daya, jerit terluang jurang keterbatasan
menembus kuburmu dari alamku

Seribu bait kenangan, hanya …
Untukmu yang sementara tenang-didamaikan
Persembahan dari kami bekas-bekas didikanmu
Wassalam Pak Tri…
Kau telah mati …

Yatimlah aku tuk kedua kali
Dua pesan kutafsirkan
Saat kau hidup:
”saya tidak mendidik yang telah mengerti,
Hanya yang pada belum benarlah kutulari”
Saat petimu sejenak mandap
”Lanjutkan kuliahmu
Meski aku menelantarkanmu”

Ah, begitu cepatnya
Siapa sih yang kejam …
Tangan pun belum bersalaman
Apalagi bibir sempat berkecupan
Saling lontar-pentalkan cakapan
Beri papar jernihkan pandangan
Maut … kau yang kejam …
Israil hanya jalankan mandat atasan
Zo’e Sai’ku

24 April 2006
Mendalam
Dari puncak sampai kedamaian


TO: DOSEN YANG TELAH TIADA

Pak Tri dosenku
Waktu kau mengajar di 2004
Kau adalah sosok dosen yang bijaksana
Dengan rambut panjangmu
jenggot panjangmu
yang sudah mulai memutih

Pak Tri dosenku
Kau membuat materi kuliah
Dengan sebuh kertas kecil
Yang sudah kau rangkum

Aku mahasiswamu
Yang melihatmu sebagai dosen
Dosen yang beda di antara dosen-dosen yang lain
Aku melihatmu seorang sasatrawan
Sastrawan di kelas 2004

Banyak kenangan indah
Bersama mahasiswa-mahasiswamu
Meski aku hanya mengucapkan
Selamat pagi seperti halnya
Guru dengan muridnya

Pak Tri dosenku
Tempat dunia barumu
Dan selamat tinggal

KEBISUAN ANAK-ANAKMU

Perhatian dan kasih sayangmu
Membuat anak-anakmu membisu
Dalam kesenyapan kalbu
Hati anak-anakmu memanggil namamu

Saat kau ada bersama kami
Keceriaanmu tak hilang dimakan waktu
Di sini kami rasakan kehadiranmu
Namun tiba-tiba kau menghilang tanpa kami tahu

Apa kau melihat dan mendengar kami
Tangis akan kehilangan dirimu yang kami sayangi
Teriakan-teriakan kami yang memilukan hati
Akan terus menggema meskipun waktu berhenti

Kau orang yang kami rindukan selalu
Meskipun selama ini kami membisu
Bila tangis tak cukup melepas kepergianmu
Kami harap dengan kenangan itu kau selalu di hati
Anak-anakmu

”2003”


KENANGAN TERINDAH

Ada sesuatu
Yang tak bisa kulupakan
Selain saat itu
Sesuatu yang indah
Tapi membuat gundah
Gundah tapi indah
Rabu Maret lalu
Membuatku merasa tak enak hati
Hari terakhirmu
Ku tak bisa berimu sesuatu
Namun dari lubuk hatiku
Semoga kehidupan
Yang kau lalui dulu
Memberi makna kasih
Yang terindah untukmu
Dan semoga Tuhan
Menerima amal baikmu
Amin

Seny Khulaiva


. . .

Engkau yang telah pergi
Tinggalkan semua kenangan
Yang tak bisa hilang
Dan kau pergi tinggalkan
Anak dan istri yang kau sayangi
Entah kenapa hatiku terus gelisah
Bila ku teringat semua kenangan
Saat engkau beri nasihat
Detik-detik terakhir
Engkau tinggalkan kenangan
Yang indah saat bersama
Anak dan istri
Terakhir aku melihatmu
Wajah yang kau pancarkan
Penuh ketenangan
Dan kedamaian di hati

”2003”


KERINDUANKU

Guru …
Sejak awal ku melihatmu
Kurasakan betapa diamnya dirimu
Aku mulai bertanya padaku
Betapa bermanfaatnya dirimu
Sedikit demi sedikit kuperoleh ilmu
Aku sangat mengagumimu
Tiada kata yang kuucap
Kecuali terima kasih padamu
Baik budimu kan kukenang
Sampai akhir hayatku
Luluk CH
UNTUK KEKASIH

Oh Pak Tri …
Mengapa dalam kesunyianmu
Kau begitu dengan kemisteriusan
Sejumlah tanda tanya masih tertampung
Dalam pikiranku

Oh Pak Tri …
Walaupun ku tak mengenalmu
Tapi ku tahu kata mereka
Kau adalah seorang yang menjadi panutan

Oh pak Tri …
Tersimpan sejuta harapan
Dari kami yang belum sempat
Mengenal lebih dekat denganmu

Umu Mar’atus


KEIHKLASAN SOSOK SEORANG DOSEN

Bapak Tri Budi
Engkau sosok dosen yang tak pernah mengenal
Lelah
Ketabahan dan kerendahan hatimu
Dalam mengajar kami

Bapak Tri Budi
Walaupun engkau sudah pergi ke pangkuan Pencipta
Kami tetap akan mengenal jasa-jamau
Walau sampai hayat kami

Novi Handayani


SAAT BERSAMAMU

Saat pagi menyapa hari
Saat ku belajar menggapai bintang
Saat itu juga aku mendengar nyanyian yang merdu
Saat suara petir pun menggema di telingaku

Tapi mengapa …
Saat aku akan mendapat bintang
Kau malah merenung menyendiri
Tak terasa kau pun telah pergi

Kini …
Aku pun tiba-tiba mengenangmu
Tak terasa hanya sekejab lilin yang hidup
Dan ku pun menyanjungmu dengan rasa hampa
Tanpa ada sepatah kata yang terucap darimu!!!

Y.B.

Matahariku di saat kau datang selalu memberi
Kehangatan dan menyinariku
Matahari begitu dekat kau menyapa dan menyambut
Setiap hari kau tidak lelah memberi kehangatan
Lewat senyum dan tawamu
Matahariku di saat kau sekarang tenggelam
Hatiku begitu sedih karena tidak bisa memberikan
Kau kehangatan dan kedamainan
Dalam setiap kehangatan yang kau berikan
Matahariku selamat tinggal …
Kehangatanmu akan selalu kukenang selamanya dan
Selamanya … selamanya.

2003”


PAK TRI

Sejak pertama kali aku melihatmu
Ada kewibawaan dan ketenangan
Yang ada dalam dirimu
Namun engkau kini telah tida

Yang bisa kuberikan hanyalah doa
Semoga engkau tenang di alam sana

Sendi Silvia D.


UNTUKMU YANG TAK PERNAH KUKENAL

Sebenarnya aku tak begitu mengenal dirimu
Tapi aku sering dengar cerita tentangmu
Mereka bilang bahwa engkau sosok pendidik yang baik
Dan bukan hanya seorang pengajar
Ada yang bilang tampangnya serem
Karena rambutnya gondrong dan style yang tenang
Menambah kesan kewibawaan seorang lelaki sejati.

Layaknya pepatah
”padi semakin tua makin merunduk”

Hanyalah itu yang aku tahu
Tentang sosok Bapak Tri Budi Laksono
Tapi aku yakin di balik sosok beliau
Tersirat akan sebuah aura
Yang setiap orang melihat sorot matanya akan tertunduk,
Mungkin itu yang membuat dosen saya
Yang satu ini lain dari yang lain.

Selamat jalan Bapak Tri Budi Laksono
Semoga jiwamu dapat diterima di sisi-Nya
Dan setiap amalmu diterima oleh Yang Mahakuasa
Kami yang tak pernah merasa kehilangan dirimu
Meski telah kau tinggalkan kami
Untuk pulang ke rahmat-Nya.

Alul


JASA SEORANG GURU

Ku ingin … ucapkan
Terima kasih untukmu
Engkau sosok seorang pendidik
Yang tak pernah mengenal lelah

Di tiap saat ke saat
Engkau selalu ada di sana
Bersabar menghadapi anak didikmu
Bersedia mendengar segala keluhan mereka

Sepahit apa pun kenyataan
Yang akan kau hadapi
Engkau tak pernah mengeluh
Sampai pada saat kau menemukan
Ajalmu

Selamat jalan Pak Tri
Jasamu akan selalu kukekang
Walau sampai akhir hayatku

Nastri


CERITA PAGI

Sehari …
Ku menyapamu
ku mengenalmu
Ku memandangmu

Mengapa …
Saat ku mulai menyelami ilmumu
Kau pergi menemui bidadari
Padahal aku masih butuh tetes keringatmu
Yang mungkin bisa jadi pelitaku

Kini …
Ku mengenangmu
Ku menyanjungmu
Dan …
Ku mendoakanmu
Amin.
Kakalouski
. . .

Pak Tri …
Sejak pertama kali aku melihatmu
Aku rasakan betapa sedihnya dirimu
Aku mula-mula bertanya dirimu
Betapa sedihnya dirimu
Sedikit demi sedikit aku mendapatkan ilmu

Aku sangat kangen padamu Pak Tri
Tiada kata aku tak terlupakan
Aku terima kasih kepadamu
Baik budimu tak kulupakan
Sampai akhir aku ga melupakan Pak Tri

Wati


SANG

Sang murni mengagumkan
Pancarkan berjuta keraguan
Berjubah teladan mulia
Yang lama makin terpancar

Aku yang polos
Aku yang kosong
Aku yang haus
Ingin mereguk teladanmu
Mengupas habis sarimu
Hingga aku terpuaskan

Sang yang agung
Dingin kaku membisu
Sang roh melesat cepat
Tinggal serpihan-serpihan kenangan

Tapi aku tetap polos
Aku tetap kosong
Aku tetap haus
Hingga aku temui sang yang lain.

Aan Slendro


PAK TRI

Sejak pertama kali aku mengenalmu
Kulihat sosok kewibawaan di balik kekerenanmu
Di balik kekerenan tubuhmu tersimpan sosok yang tenang
Sorot matamu yang tajam

Tapi … sungguh tak kusangka
Di balik kekerenanmu tersimpan kelemahan
Dan secara tiba-tiba engkau pergi
Engkau pergi ke singasanan yang abadi

Cholifatul Y.

PAK TRI

Beliau sosok yang gagah dan pemberani
Dilihat dari wajah dan tubuhnya
Padahal ku belum mengenal sosok kepribadiannya
Kenapa ….
Dia diambil dulu
Sungguh kejam
Dengan pertemuan yang singkat dan tragis ini

Apakah ini dinamakan takdir?

NN


2 JAM BERSAMA PAK TRI

Terpaku ku di tempat
Saat ku dengar kepergiannya
Tiada badai tiada topan
Beliau begitu cepat meninggalkan kami

Belum sempat kami mengenalnya
Belum sempat beliau titipkan ilmu kepada kami
Mungkin siang itu adalah
Pertemuan pertama dan terakhir kami
Ataukah dia datang untuk berpamitan pada kami?

Ibarat kertas putih
Beliau tuliskan satu huruf bagi kami
Pak Tri …
Terlalu pagi kau tinggalkan kami
Di saat kami belum membuka mata kami

Selamat jalan Pak tri …
Kini engkau di nirwana tersenyum melihat kami
Meneruskan perjuangan kami tuk meraih cita-cita

MR


PAK TRI

Pak Tri …
Sosoknya tinggi, tegap, dan berwibawa
Pak Tri ….
Meskipun pertemuan kita begitu singkat
Namun menorehkan kenangan terindah dalam hati
Pak Tri ….
Engkau adalah seorang yang kuat
Dalam keadaan sepi ini
Bayanganmu selalu menghantui jiwa dan
Seluruh pikiranku
Akankah semua ini berubah begitu saja ….?
Sosokmu akan selalu kukenang untuk
Selama-lamanya
Susiati


IDOLAKU

Pagi petang engkau kusapa
Kau awali pengabdianmu dengan
Penuh teguh
Lalu kau siramkan kepadamu

Pembawaanmu melambangkan sastra
Engkau tak mau tua dengan ulahmu
Engkau menolak gejolak jiwa
Demi keutuhan sastramu

Engkau pemateri yang tangguh
Dan engkau idolaku
For now-4-ever
Why you dead my idol

Fransilvan
JASAMU

Karnamu aku mengerti
karnamu aku bisa
Dan karnamu aku dapat meraih cita

Namun mengapa begitu cepat
Kau pergi tinggalkan kami
Sebelum sempat kuucap
Terima kasih dosenku
Karna jasamu ku bisa merangkai
Cita-citaku kembali

Selamat jalan dosenku
Semoga citamu hidup
Dan kudoakan kau pergi dengan tenang di sana

Muslimatul


. . .

Seorang yang sangat bijaksana
Kau datang menghadapku
Kau berikan ilmu
Sungguh mulia hatimu

Ketika suatu datang tak terduga
Melihat sebuah kenyataan
kenyataan yang harus diterima
Kembali kepada-Nya

Mengapa …???

Ulfa


DEMI WAKTU

Demi waktu …
Terus bergulir dan berlalu
Tak terasa telah lama kita ditinggalkan
Sesosok orang yang dikagumi
Seorang yang disayangi

Demi waktu
Meskipun waktu terus berlalu
Sosok itu tidak pernah terlupakan
Sosok itu tidak akan tergantikan

Demi waktu ….
Walaupun waktu berjalan
Jasa belaiu akan terus terkenang
Ilmu yang berguna telah beliau limpahkan
Untuk menjadi bekal kita nanti

Demi waktu …
Waktu yang tidak pernah berhenti
Berikanlah kepada kami, Tuhan
Kekuatan setelah beliau tinggalkan
Dan ampunilah khilaf beliau
Selama beliau hadir di antara kami

Ida Nur’aini


SELAMAT JALAN PAK TRI

Pak Tri …
Jasa Anda teramat banyak bagi kami
Anda kenalkan kami tentang keindahan
Anda ajarkan kami tentang sastra

Pak Tri …
Penampilan Anda yang sederhana
Rambut panjang yang terikat,
Serta jenggot panjang yang mulai memutih
Ciri khas Anda yang tidak dapat kami lupakan

Pak Tri ….
Kini Anda berada jauh dari kami
Di sini kami hanya dapat berdoa
Semoga Anda damai di alam sana sekarang

Maya Roekmanasari


TRI BUDI LAKSONO

Pak Tri ….
Sungguh besar jasamu bagi kami
Engkau mengajkarkan dengan penuh kasih sayang
Dan membimbing dengan penuh kesabaran

Pak Tri ….
Penampilanmu sederhana denga rambut yang terikat rapi
Dan jkenggot panjang yang selalu dikepang
Itu menjadi ciri khasmu saat mengajar

Pak Tri …
Namun takdir berkata lain
Engkau telah pergi untuk selamanya
Meninggalkan kami semua

Oh Pak Tri …
Semoga engkau hidup tenang di alam baka
Doa kami selalu menyertaimu
Amin…

Tita Raynasari


KUUSAP DADA TANDA LEGA

Kuusap dada tanda lega
Kupejam mata memusat hati
Memanjakan rasa syukur Ilahi
Beban berat tertanggung jua
Selesai rampung tugas ini

Terasa berat kutinggal keluarga
Apalah daya hendak dikata
Takdir telah memisahkan aku dan keluarga

Hidupku resa ringan
Bertahun-tahun aku berjuang hidup
Dengan bantuan dokter
Hanya tuk nmenyambung nyawa

Kuusap dada tanda lega
Tugas yang tertanggung
Kini telah usai
Kupanjatkan rasa syukur pada-Nya

Aku pergi di sisi-Nya
Dan meninggalkan orang yang aku kasihi
Aku titipkan mereka pada-Nya.

Luluk Maslukinah


TERASA BERAT

Terasa berat beban
Yang ada di pundakku
Kini telah usai

Aku tinggal keluarga
Teman, sahabat
Aku pergi jauh di sisinya

Beban berat tertanggung jua
Aku pergi tanpa beban
Aku pergi tak kembali

Kutinggalkan mereka
Yang kukasih
Kutitipkan keluargaku pada-Nya
Dengan beban berat di pundaknya

Anik Sulistyorini


LENTERA SASTRA

Tubuh tegap kalem melangkah
Rambut panjang
Kadang jenggot pun dikepang
Melangkah menuju ruang
Tak banyak kata pembuka
Hanya sedikit kata sapa ”Selamat siang ….”

Tumpukan secarik kertas
Tersusun berurutan ….
Sebagai bekal untuk diuraikan
Sistem penyampain cukup gamblang
Mengupas sastra yang banyak memiliki aliran

Tapi mengapa tatkala bertemu
Kajian puisi dan sastra
Kami merasa awam
Teori yang pernah kau berikan
Tidak pernah tersinggungkan

Apa yang kami peroleh ….
Ketika bersamamu
Masih adakah yang harus kami terima
Atau kami yang tak pernah belajar memahaminya

Kami tak akan menuntutmu
Walau sedikit ilmu
Terima kasih
Guruku ….

Choiro Ummah


INGIN KUTULIS UNTUKMU

Ingin kutulis sajak ini untukmu mungkin ucap
Rindu, tapi pahlawanku tak kutemukan kamu
Kucari ia dalam semua arah, tak juga ketemu
Kusedih dan gelisah, kulempar semuaku
Beri aku jawaban!

Tak ada yang memberi tahu aku tak ada
Yang memberi tahu di mana kamu
Aku menjadi marah.

Sosok wajahmu yang kurindu
Buat ku slalu ingin melihatmu
Tapi, hanya bayangan semu yang kutemui
Tak bisa kulupakan saat ia
Memberikan segudang ilmu tentang sastra

Dan kini kutemukan ia terbujur kaku dan membisu
Di sebuah singgasana yang tenang
Jauh dari keramaian dunia

Slalu kukenang smua tentang dirinya
Semoga yang kuasa menerima budi baiknya
Slamat jalan pahlawanku
Yang tak bisa kulupakan …. Bapakku!

Riska Fitriyah


DOSENKU

Betapa sedih tuk dikenang
Betapa indah tuk dilupakan
Kini kau pergi jauh
Dan tak mungkin kau kembali lagi

OOOh dosenku …
Mengapa secapat itu kau pergi
Meninggalkan kita semua yang ada di sini
Begitu banyak kenangan indah darimu
Begitu banyak pesan dan kesan yang kau
Berikan kepada kami …

Tapi semua itu hanya tinggal kenangan
Wahai dosenku ….
Namun kita semua di sini
Akan tetap selalu mengenang jasa-jasamu
Wahai dosenku
Kaulah pahlawan tanpa tanda jasa.

Ari Rochajati


ENGKAU BERPULANG

Langit tampak cerah
Hari pun jadi ceria
Di mana aku menginjakkan langkah
Ke kampus yang tercinta

Seseorang pengajar
Tak kenal lelah tak kenal waktu
Membimbing kami menuntut ilmu
Mengapai cita-cita yang besar

Tetapi di saat kami sedang
Berjalan menimba ilmu
Engkau cepat sekali berpulang
Menghadap di sisi-Mu

Sungguh besar jasamu
Akan aku kenang selalu
Sampai akhir hayatku
Mengamalkan semua ilmu

Ika Mardiyanti


SALAMKU BUATMU

Jikalah fajar telah datang
Kau berangkat bekerja
Tak peduli hujan atau panas
Kau tetap bekerja keras

Hiruk pikuk, kebisingan asap beracun
Membantu satu
Kucuran keringat
Seiring kakimu melangkah

Hanya untuk melaksanakan tugas
Untuk membimbing dan mengajar kami
Agar kami berguna bagi nusa dan bangsa
Kini kau telah meninggalkan kami
Semua berkat kerja kerasmu
Terima kasih Pak Budi

Krisna Ari


HIJAU TAMPAKNYA BUKIT BARISAN

Hijau tampaknya Bukit Barisan
Berpuncak Tenggamus dengan
Singkalang
Putuslah nyawa hilanglah badan
Namun hati terkenang pulang

Gunung tinggi diliputi awan
Berteduh langit malam dan siang
Terdengarlah kampong memanggil
Taulan
Rasakan hancur tulang belulang

Habislah tahun berganti zaman
Badan merantau sakit dan senang
Membawakan diri untung dan malang

Di tengah malam terjaga badan
Terkenang Bapak sudah pulang
Diteduhi selasih, kamboja sebatang

Ni’matul A. Zania


PAK TRI
SEBUAH KENANGAN

Sosok tegar menawan
Rambut panjang brengosan
Kadang berkepang
Santai seolah tanpa beban

Kita tak pernah tau
Kita tak tau
Apa yang tersimpan
Apa yang ada pada Bapak

Jalani hidup dengan penuh makna
Jangan hitung dapat apa
Pengabdian yang sudah
Puas rasanya

Pak Tri …
Terima kasih atas ilmu
Saran, dan kata Bapak
Tak ada yang mampu bayar itu

Tuhan Allah dengan kasih-Mu
Pak Tri ada di sisi-Mu
Dalam dekapan-Mu
Semoga Engkau menyayanginya
Amin.

Endang Triwikanti


SELAMAT TINGGAL

Roda menggelinding di atas landasan
Rumah-rumah berpindah jejak
Tangan melambai
Teriak bersatu dalam deru mesin dan ciut angin
Sebentar berkisar putar

Mesin mengeluh
Melepas nafas berat menindih
Dan lepas-lepaslah bumi
Lepas jatuh ke bawah
Mega melambai

Langit tersenyum membuka diri
Hati ikut mendegup
Terbelah
Di tanah setengah murni berjejak

Ani Ikhtafiya


MATAHARIKU

Engkau selalu bersinar
Tak kenal lelah
Muncul di waktu fajar
Sembunyi di waktu senja

Oh … matahariku
Yang selalu tebarkan pesona
Tuk sejukan jiwa kami
Dengan gigih tanpa pamrih

Dengan ilmumu
Kau terangi kami
Dengan sastramu
Kau berika kami keindahan

Matahariku kini telah redup
Tenggelam tuk selamanya
Kini tinggal sebuah kenangan
Yang takkan terlupakan

Asmaul Husnah


BAKTIKU PADA PAK TRI YANG TERCINTA

Jika kau pergi meninggalkan kenangan
Jika kau pergi meninggalkan jasamu
Dalam tubuh kau berkuasa
Dalam dada kau merenduh

Oh Pak Tri Budi betapa jasamu padaku
Tak kulupakan ilmu yang kau berikan
Tidak kulupakan ilmu yang kudapat
Besar benar jasamu

OH Pak Tri Budi yang tercinta
Kan ku kenang sendau guraumu
Kan kunang canda tawamu
Kan kukenang namamu

Oh pak Tri Budi
Semoga kau dilindungi-Nya
Semoga kau di sisi-Nya
Baktimu kan kunang selamanya

Lilik Sa’adah


CAHAYA
Puisi ’tuk seorang cahayaku Pak Tri Budi

Engkau pelita cahaya
Tebar pesona melalui sastra
Di kalangan mahasiswa
Tak kenal lelah dan pantang menyerah

Dengan taburan ilmu
Terlihat seni pada kalbumu
Supaya kita bisa sepertimu
Namun cahayamu kini telah redup

Kini engkau sudah tiada
Meninggalkan cahayamu semua
Dengan kenangan yang tak terhingga
Semoga engkau diterima di sisi-Nya.

(Doa kami selalu menyertai. Amin)

Siti Aisah


PERJALANAN AKHIR PAHLAWAN

Seiring menghilangnya senja
Teriring pula lenyapnya kenangan manis
Seorang pahlawan pergi dengan tenang
Menuju kehidupan yang kekal dan abadi

Teringat kenangan manis saat bersama
Saat-saat indah bersama sang pahlawan
Membimbing dan menuntun sang siswa
Untuk selalu maju menggapai impian

Tak banyak yang dapat aku lakukan
Untuk membalas segala jasa yang telah kau berikan
Hanya doa yang bisa aku haturkan guna menemani engkau berjalan

Jasamu akan selalu menuntun kami
tapi doa kami tak sebanding dengan jasamu
Ya Tuhan, terimalah belaiau di sisi-Mu
Tempatkanlah beliau di tempat yang terpuji.

Syarofah Fajri


KENANGAN UNTUK PAK TRI

Senyum ramah telah kurasa
Kebaikan juga telah kurasa
Nilai baik juga telah kudapat
Semua telah kuterima

Engkau telah membimbingku
Sehingga aku bisa belajar mengajar
Itulah kenangan terakhir
Setelah bimbingan PPL

Engkau mengajariku
Bahwa semua tugas
Jangan menjadi beban
Buatlah semua jadi mudah

Semua pesan, kenangan, nilai
Aku terima semua
Tenpa kukira
Itulah pertemuan terakhir.

Siti Arrokhaya Fatmawati


JASAMU

Aku tak percaya begitu cepat kau pergi
Tapi kebaikanmu selalu dikenang
Sepanjang hidup …
Biarlah aku rela …

Bila mengenang wajahmu
Selalu teringat tatapan mata
Begitu sejuk dan syahdu
Semuanya tinggal nama

Akankah kenangan itu kembali?
Oh … tak mungkin
Begitu cepat kau memanggilnya
Tapi apa daya

Aku pun menyadari
Hidup hanya sementara
Semoga kebaikanmu selalu hidup
Bersama ilmu yang kau berikan.

Aminah Mewar


ESTAFET

Betapa terkejut mendengar
Berita tentang dirimu
Aku tak percaya
Tapi semua tlah terjadi

Oh tuhanku …
Begitu cepat memanggilnya
Kami masih butuh dirinya
Ilmunya …

Namun apa daya
Kami makhluk lemah
Yang masih ingin belajar
Untuk masa depan

Tapi biarlah kami akan
Menggantikanmu
Anak didikmu yang akan
Meneruskan estafetmu

Nanik Koestiyo Rahayu


KEKAL

Aku heran tak percaya …
Begitu cepatnya kau berlalu
Masih banyak yang harus kucari
Ilmu yang kau berikan …

Tapi semuanya tak mungkin
Karena kau telah pergi
Ke tempat yang kekal abadi
Menghadap Tuhan yang Esa

Namun jasamu kan kukekang
Ilmumu akan kuingat
Wajahmu selalu tersenyum
Dalam mimpi

Semua hanya kenangan
Yang tak mungkin kembali
Biarlah aku di sini
Menunggu fajar pagi.

Suprihatin


YANG KUKENANG

100 hari jarak memisahkan kita
namun kerinduan ini tak akan sirna
namamu kan kukekang sepanjang masa
kapankah kau akan datang menjelma

pancaran cahayamu
curahan kasihmu
keluhuran budimu
melekat dalam hatiku

hanya satu senyum indah terakhir darimu
saat itu pula
sebuah petir seakan menyambar
kau meninggalkan berjuta ilmu

tetesan embun malam
membasuh jiwa yang kering ini
doa kulantunkan mengiringi
kepergianmu selamanya
Tuhan … terimalah dia di sisi-Mu.

Novita Trisnawati


SAMUDERA KEHIDUPAN

Mata enggan terpejam
nyeri di ulu hati menghujam
daun bergururan, pohon meranggas
mengiringi bergantinya musim

hawa dingin dan panas bergantian
menyusup daging hingga ke tulang
angin berhembus kering dan bisu

bunga tiada mekar
ketika langit hingga cakrawala bersih
burung tiada hinggap di daun
kumbang pun tiada hinggap di bunga

Angin semilir
hampa, dingin, dan kering
sepi tiada bergejolak
samudra kehidupan.

Sunu Madyaningsih


KENANGAN TERINDAH
Untuk: Pak Tri Budi Laksono

Gurat halus hiasi wajah
seulas senyum merekah
menggugah jiwa yang lelah

Duduk tegak menghadapmu
menelaah tiap ucapan
mengerti maksudmu

Petir menghantam kesadaran
meninggalkan berjuta kenangan

Kini kau telah pergi
kenangan indah terpatri di hati …
akan semangat dan kesedrhanaan pada diri

Nanik Asprini P.


100 HARI KEPERGIANMU

Di mana diriku ini
di saat kau sedang berjuang melawan maut
Di mana diriku ini
di saat sang malaikat menyapamu

Duka hati ini
sedih tangis perih yang kami rasa
hari itu …Dia telah memanggilmu
kau pergi tanpa satu pesan

Hanya senyum indah terakhir darimu
Saat itu pula
sebuah petir seakan menyambar
kau meninggalkan berjuta ilmu

Tapi apalah daya
hanya doa tulus ikhlas kami beri untukmu
maafkan kami ini …
pasti’kan kurekatkan kembali

Segala yang dilakukan
dan bekas-bekas yang ditingalkan
takkan terhapus duania akhirat
Tuhan … terimalah dia di sisi-Mu.

Ainun Nikmawati dan Wahyu Budinoto


MATI RASA
(Seratus ”a” untuk seratus hari Bapak terkasih Tri Budi Laksono)

Raga Bapak tak terlalu renta
elihatannya
Wajah Bapak tak terlalu tua
karena usia

Siang itu Bapak ada
ranpa rikma lama
aku terpesona
aku berkata
Bapak lebih muda dari biasanya

Malam itu Bapak ada
tak berkata bercerita
Aku pun diam saja
karena kukira Bapak baik-baik saja

Hari itu, ketika jeda tiba
temanku bawa berita
Bapak telah tiada
aku tak mengira

Ternyata malam itu Bapak ada
mengantar berita duka
tapi aku tak peka.

Hanik Mardiyah


SESUDAHMU
(untuk Bapak terkasih Tri Budi Laksono)

Kulipat
undangan
kulipat
kulipat
kulipat
pat
pat
pat
Kutata
rapi
di atas
lemari
Kulipat
sarung
kulipat
kerudung
kulipat
kemeja
Kulipat
celana
kulipat
kulipat
kulipat
pat
pat
pat
Kutata
rapi
masuk
lemari
Kulipat
wajahmu
kulipat
senyummu
kulipat
candamu
Kulipat
kulipat
kulipat
pat
pat
pat
Kulipat
semua
tentangmu
biru
di pojok
kalbu

Hanik Mardiyah


BUNGA DI ATAS PUSARA
Untuk mengenang alm. P.A. Tri Budi Laksono

Senyum yang kau tinggal
masih membekas dalam ingatan
masih terasa segar di jiwa
Tetesan air yang kau percikkan
pada setiap insan yang dahaga

Tak kuduga
kau pergi begitu cepat
menorehkan duka
meninggalkan sejuta kenangan

Akan kuingat
setiap kata yang kauucap
Akan kuamalkan
setiap ilmu yang kau tanam

Dan kini
kutebar bunga
di atas pusara
Semoga budi baikmu
diterima Tuhan Yang Esa.

Indah Winarni


AKU SELALU MENGENANGMU
Kupersembahkan untuk Bapak Tri Budi Laksono

Sosok tua berjiwa seni
langkah tegap berkilau suci
Senyum yang penuh lambang abadi
tampakkan sebuah rasa mencintai

Namun waktu tak lagi memihakku
hingga sosok tegap itu tiada bersamaku
hanya terbujur kaku
terdiam lemah dan membisu

Kematian telah merenggut semuanya
pendidik anak bangsa telah tiada
kerinduan akan jiwa mulia
yang kan kukenang sepanjang masa

Wahai jiwa mulia …
begitu tegar kau mengajari kami
walau ada rasa sakit di sekujur tubuhmu
kau tetap berikan kami ilmu

Selamat jalan …
tenanglah kau dalam pembaringan
semoga Tuhan selalu memberikan
segala yang penuh keabadaian

Di sini …
aku hanya bisa mengenangmu
segala kebaikanmu
sampai akhir hidupku.

Suyanik


SEBUAH PUISI UNTUK MENGENANG 100 HARI
PAK TRI BUDI LAKSONO

Angin merengkuh
saat kilatan malaikat mendatangi jiwa ini
Entah apa yang kurasakan
saat ini …
terasa hampa … ataukah lelah …
Setelah jiwa ini mengukir tulisan dalam kehidupan …
masih kubaca tangisan mereka mengelilingiku
tapi sejujurnya …
aku ingin mereka tersenyum
melantunkan doa untuk jiwa tua ini
Tak pernah diriku selemah ini
meski kehidupan terkadang melelahkan
jiwa tua ini tak sanggup mencerna
setiap kalimat mereka
Tapi aku mendengar lebih dengar
namun mereka tak mengerti
setiap desahan nafasku
saat jiwa dalam tubuh tua ini
ingin mengeluarkan sepatah kata
Kini …
mereka tak menangis lagi
setelah jiwa ini berkelana jauh
dari tubuh tuaku …
Hanya doa yang kuminta
tuk menemaniku dalam
fatamorgana ini.

Nur Lailatul Fitriah
BERONTAK

Bila muak kian berat
tinggal darah bergejolak
siap hantam benteng-benteng besi

Keganasan …
akan datang bagai badai
leburkan kesombongan mahligai

Tumpahkan …
kekejian yang kini tergelar
porandakan isi tahta berukar
racun adalah maut
bisa adalah mati
menghadang kerjaan sanubari

Pilih …
dalam dua dilema
datang hantam pecahkan nyawa
tajam kugores keangkuhan pola

Minggirlah
akan lewat anjing jalanan
menerkam daging-daging menjijikkan
binasakan tulang buangan

Siap …
Kejar hitungan aksi
Lari hampiri sensasi
Cari lingkaran berapi
Dobrak pagar-pagar tinggi berbesi.

Rohanna Quddus


MENDUNG DI KAMPUSKU

Dengan raga dan kesehatan yang rapuh
mengulum senyum tak menyapa kami
tapi dengan semangat dan jiwa tegar
kau tetap berkorban demi anak bangsa

Tapi kini kau telah pergi untuk selamanya
tinggalkan keluarga, saudara, dan handai tolan
sudah 3 bulan kau pergi tinggalkan dunia ini
kini hanya nama dan jasa-jasamu dikenang orang.

Mengukir dalam jiwa
pada setiap manusia muda
tuk melangkah mencari hari cerah
mengikuti jejak ilmu dalam dirimu

Meski setetes air mengucur dalam tubuh
engkau tetap menatap ke depan
demi lahirnya manusia yang mulia

Kini kau berada dalam kehidupan yang sebenarnya
kehidupan yang kekal abadi
selamat jalan … namamu akan terkenang selalu.

Ria Kurniawan


KENANGAN

Aku bertanya pada rerumputan dan ilalang
setengah hari yang lalu, kau di sini
angin yang redup temaram
akankah kau bisa kembali memerintahnya
sedang, kau kini telah tiada dan membisu
Di atas bumi kau berpijak
dan di atas gelas kau becermin
… aku menangis …
… aku terlena …
… aku terkenang …
Bersimpuh bersama batu-batu
aku tanyakan lagi pada daun
pagi hari yang lalu, kau masih di sini
kau bagaikan kristal embun yang berharga
suaramu masih terdengar lirih
lunglai kalimat yang kau ajarkan pada kami
dan penuh hati-hati
… kau tak seharusnya …
… seandainya kau …
Budi pekertimu meredupkan hati nuraniku
untuk menuntut ilmu dan memegang ajaranmu
kenanganmu melumpuhkan pikiranku
berbalik mungkinkah kau akan kembali hidup
Aku sedih oleh sejuta tanyaku
hingga aku sendiri tak bisa melupakan jasamu
berdiri dengan hati nurani yang suci
kini kau telah pergi untuk selama-lamanya
untuk menghadap dan kembali ke sisi-Nya.

Fety Rochmawati


BERITA MATAHARI
Untuk P Tri Budi Laksana (Alm.)

Detik-detik bening memutih di tengah mega
ketika lembar-lembar putih mulai terbuka
terlepas dari ikatan gelap gulita
seakan menambah indah rasa

Temaram malam mulai luruh
berganti seberkas sinar mewarnai kaki langit
yang berdiri kokoh menyangga dengan kuat
seakan menantang musuh yang mendekat

Dan esoknya terbukalah gapuranya
pagi tumbuh dalam kabut itu juga
menyibak bentang karpet yang menghijau
tersenyum indah yang sunyi

Langkah akan bergegas antara pepohonan
bersama banyang-banyang bersama awan
sementara harus hari
menyusup mata ini

Adakah yang lebih tak pasti
selain indah karuniamu Tuhan

Yustin Apriliani


DI PEMAKAMAN

Tiada yang lebih nyeri selain gerimis
menenggelamkan matahari
di akhir bulan ini
ketika keranda berangkat meninggalkan kelam
mengakhiri sebuah perjuangan

Grimis semakin mengiris bumi
menuntun hening ke pemakaman
kamboja diam beku menunggu
seperti merasa siapa yang datang
menjatuhkan daun

Kelopak bumi mengatup seperti pintu gerbang menutup
memberangkatkan perjalanan ke terminal diam
sebentar rel bergantung catatan buku harian
yang sehuruf pun tak terliput tercatat

Gerimis akhirnya meninggalkan makam
tak ada lambaian tak ada salam
sama sama pulang ke pintu takdir

Endang Tri Sulaswati


KENANGAN SEORANG GURU
Untuk: P Tri Budi Laksono

Senyum yang melintas di bibirmu
tersimpan dalam memori jiwaku
teramat dalam
sehingga aku tak sanggup melupakan
keteduhan hatimu
akan ilmu yang kau tebarkan
pada persemaian generasimu
tentang bahasa
tentang budaya
tentang kehidupan bersahaja

Aku kagum akan sosokmu
yang sedikit nyentrik
namun terkesan sederhana
sedikit unik
mungkin itu pilihan gaya
bagi seorang guru mengajar siswa dewasa

Aku berharap dengan sangat
Bapakku yang terhormat
rambut yang pernah kau pelihara itu
mampu mengangkat derajadmu
menuju kehidupan surga milik-Nya.

Mojokerto, 060606
Bonirah


PESAN TERAKHIR DOSENKU

Seluruh mahasiswa UNIPA tertunduk sayu
wajah sedih dan haru
tatkala mendengar berita duka tentang dosenku

Tawa dan senyummu
rambut dan jenggot panjangmu
tak mudah aku melupakan kenangan itu

Pesan beliau kepada kami
akan hormat pada manusia walalupun ia telah tiada
pesan terakhir dari orang tua yang telah tiada
agar kita semua tetap berkirim doa

Namun kini dosenku telah tiada
tinggalkan ilmu nan berguna
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
dan tanah air kita Indonesia

Seratus hari Pak Tri tinggalkan dunia
untuk menghadap pada Tuhan Yang Maha Esa
jasamu kan kukenang sepanjang masa.

Abdul Latief Nur Muklison


SELAMAT TINGGAL PAHLAWAN

Wajahmu yang telah sirna
bukan karena temaram senja
duka lara membara
penuhi jiwa

Apa yang pernah ada
di antara terik dan senja
di antara buta akan aksara
kau, aku, dan semua bersama

Kini kau telah pergi
kenangan terindah terpatri di hati
akan semangat dan kesedrhanaan diri
selamat tinggal … selamat jalan
wahai pahlawan kami.

Nuraidah


KEMBALI PADAMU
Untuk P. Tri Budi laksono

Diriku seperti lelah …
tanpa menahan lelahnya kehidupan
yang kuarungi saat manapak
setiap jalan
Ingin diriku terus mencari
apa yang tersibak di dunia ini
meski tubuhku makin tua
Hujan mengawali turun …
mendahului turunnya diri
yang masih ingin
mencari sesuap ilmu …
Tapi manusia tak sekuat
dahan yang selalu menyangga
Kini diriku telah menggapai
impian dan angin …
memberikan sesuap ilmu tuk anak-anakku
memberikan senyum demi
kebahagiaan mereka …
Aku ingin mereka
memberi senyum tanpa tangis
tuk mengantar keberangkatan
diri ini
menuju fana yang terlalu jauh dari tatapan mereka
hingga doa menemaniku …

Tri Nuke Mayasari


PAHLAWAN TANPA TANDA JASA
*Puisi ini kupersembahkan untuk mengenang jasa
Bapak Tri Budi Laksono
Semoga arwah beliau diterima di sisi Allah SWT. Amin.”

Oh … pahlawanku
kan kukenang selalu jasamu
seluruh mata terbuka akan perjuanganmu

Dengan kegigihanmu
kau tindas kebodohanku
kau rela berkorban jiwa raga
demi anak didikmu
jasamu kan abadi
bersemayam di relung hati penerusmu
Berkat pengorbananmu
anak didikmu semakin maju
kokoh kuat bersatu
melanjutkan cita-cita sucimu
terima kasih, oh … pahlawanku
Berkat jasamu kami mendapat kemudahan
kau tawari setiap orang
kebutuhan ilmu kau sediakan

Jumik Astutik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: