Meretas …

MEMPELAI YANG DIARAK TADI MALAM  TELAH KEMBALI PULANG
(Surat kawin buat  Dik Yani)

Hari ini kami telah dikawinkan
dengan mata tertutup.

Kami adalah bayang-bayang
lahir dari sejarah nenek moyang
berdiri tegak antara Roma–Mekah
menatap langit.

Angin kemarau membawa asap
tersebarnya bau tanah kering
dan sesambat pecah dada
Bau kematian dari dua kutub
kami dengar.
Tidak !

Kami tegak menatap langit
mengharap hujan
atau kemukjizatan apa saja.
Sebab, kasih itu Allah
yang utuh dan manusiawi.

Hari ini kami telah dikawinkan
di tengah hutan dengan sayap terikat.
Lebatnya daun
Kuatnya simpul
Menyerahkan kami pada maut
pelan-pelan
Tapi kami tak boleh melawan.

Kami adalah kasih
lahir dalam jiwa
bersama langit dan bumi.
Sebagai tradisi illahi
Maka kami dikawinkan.
Adalah wujud pengembaraan
Seperti dulu para ruh
mengawini hidup matinya.

Hari ini kami telah dikawinkan
di tengah laut dengan perahu siap digulingkan.
Perbenturan badai dua samudra
Tajamnya karang
Kuatnya arus
Merobek ubun-ubun sampai ke kaki
darah meleleh
Tapi kami tak boleh bicara.

Berdasarkan kebiasaan di bumi
kekerdilan telah diciptakan
Dogma-dogma rohani dipuja setinggi langit
mengangkang atas tubuh kami.
Kekuasaan bagai pedang baja
siap diayunkan
Bagi kemurnian kesucian katanya
Hingga manusia harus dibedakan
agama harus lebih dimuliakan
Tapi lupa Tuhan itu empu-Nya.

Hari ini kami telah dikawinkan
berdiri tegak menatap langit
Mengharap
dan mengharap kemukjizatan apa saja.

Surakarta, 21 Maret 1981
T.B. Laksana, P.A.

PINANGAN

(buat Dik Yani)

Sudah enam bulan lebih aku telanjangi keragu-raguan, bergelut dengan angin, dengan ”ya” atau ”tidak” untuk mencoba memutuskan dan mencoba lagi menggenggam bayanganku. Akhirnya hari ini dengan segenap kehormatanku, aku memutuskan.

Aku tahu cinta kasih telah menelanku, ini tak bisa diingkari, terlalu besar untuk kekuatan manusia. Dan yang jelas cinta kasih itu sendiri bukan milik manusia. Ia datang begitu saja, entah kapan. Aku hanya tahu bahwa ia sudah ada dan tak ’kan pernah bisa ditolak. Maka secara manusiawi dan dengan segenap hati aku yang berdiri di sini berkata, ”Ini adalah karunia-Nya, sebab ia adalah sumber dari segala cinta kasih. Hanya dari Dia manusia mendapatkan, itupun tidak semua orang menggenggam. Di sini perlu sikap rendah hati manusia untuk mau menerima rahmat cinta kasih-Nya, sehingga terjadi titik temu. Dalam titik temu itulah terdapat cinta kasih yang bersifat manusiawi sekaligus bersifat illahi. Itulah cinta kasih yang kuyakini ada di dada ini.”

Meski telah berulang kali mencoba memberontak dengan seluruh kekuatan langit dan bumi, aku tidak pernah mampu menghitam-putihkan cinta kasih ini. Ia hadir menurut wujudnya sendiri. ”Dunia boleh hancur, langit boleh runtuh, tapi ia tetap pada cakrawalanya bagai sedia kala.”

Aku yang selalu menusuk punggung-Nya dari belakang telah ia beri, mesti darah masih mengalir dari tajamnya pisau dosa. Tidak ada putih seputih syukurku, tidak ada biru sebiru kebahagianku, hingga aku beku di tengahnya. ”Tuhan aku tidak berdaya dalam pelukan-Mu”. Aku berdiri di atas gemerlapnya bianglala, langit terbuka dengan seluruh hidup dan mati ”Jeng Yani, aku mencintaimu!”

Malam ini di atas derap kuda aku pinang dikau, aku lamar kau wahai kasmaranku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: