Ikhlas

Ikhlas pikir dan rasa

Ikhlas hati dan jiwa

Ikhlas raga tak kuasa

Ikhlas . . . kunci dunia tuk menatap surga.

5 Comments

  1. raras said,

    January 6, 2009 at 5:48 pm

    seperti lagu

    • kisyani said,

      January 7, 2009 at 12:26 pm

      lagu indah kan?

  2. Farisi said,

    January 8, 2009 at 2:34 am

    Teratai Putih Simbol Keikhlasan

    wahai Teratai Putih ku
    ijinkan kutelusuri lorong-lorong dunia rasamu
    tuk pahami dan tafsiri desiran rasa sukmamu
    temukan makna yang tersebunyi dalam relungmu
    dunia-ragaku, tak kuasa jangkau dalammu
    karena ketakpurnaan diriku
    dan kekuatan ikhlas yang mengitari auramu

    Bu Kis, sebelumnya saya mohon maaf, telusur dunia rasa saya, hanyalah sebatas pada tataran permukaan, dengan segala salah dan khilaf, karena ketaksempuraan diri dan ketakmampuan dunia rasa-ku untuk menjangkau dunia dan samudera rasa-mu yang terhampar luas dan dalam.

    Bu Kis, komentar saya atas ”ikhlas”, atau rasa keberserahan diri Ibu secara purna sebagai seorang makhluk kepada Sang Pencipta, saya pahami dari guratan lima bait mutiara rasa Ibu, yang sesungguhnya pula, merupakan inti dan kekuatan diri Ibu sebagai seorang wanita. Melalui lima bait itu, Ibu secara mumpuni mampu mengeksplorasi keihlasan itu dalam empat dimensi, yaitu pikir, rasa, hati, jiwa, (ikhlas fisik…tak kuasa). Bagi saya, penjelajahan dan pengalaman dunia rasa Ibu tentang hakikat ikhlas, hingga menemukan keempat dimensinya, sungguh mengagumkan, hampir-hampir tak pernah terbetik di dalam dunia-rasa, terbersit dalam dunia-pikir, dan terjejak dalam dunia-fisik saya…….”nyaris sempurna”.

    Bu Kis, saya terpekur dan merenung cukup lama—seperti ketika saya menatap foto Ibu dengan jilbab putih–di kantor, di jalan, dan kontrakan yang sempit….hingga larut malam, menelisik dunia pengalaman dan penghayatan rasa saya, untuk mengungkap keistimewaan Sang Teratai Putih. Saya mencoba menemukan kekuatan apa yang menyebabkan Ibu mampu mencapai pemahaman dan pengalaman dunia rasa yang bagi saya ”nyaris sempurna” tentang ikhlas. Jalan tetap buntu, pikiran tetap tak berbersit, jejak tak bisa tertapak. Hingga akhirnya, secercah sinar terang melintas dan membuka tabir rahasia itu dalam pesona ”simbolik”, setelah saya sholat.

    Ternyata, jawabannya—setidaknya dalam pemahaman dunia rasa saya—ada pada simbol Ibu sendiri, yaitu ”Teratai Putih” (White Lotus). Ini yang kucari, kata hatiku. Alhamdulillah, terima kasih Tuhan atas petunjuk-Mu menemukan enigma besar yang tersembunyi di balik kata ”ikhlas” ini. Alhamdulillah pula, saya punya secercah pengetahuan tentang hakikat Teratai Putih dalam kehidupan keagamaan. Sebagai seorang yang pernah menekuni ilmu sejarah ketika kuliah S1 di Jurusan Pendidikan Sejarah IKIP Surabaya, Teratai Putih ini digunakan sebagai salah satu simbol dalam Agama Buddha. Khususnya, berkaitan dengan kehidupan keberagamaan para Buddhis mencapai ”kepasrahan-diri”, ”kemen-satu-an diri”, atau dalam istilah mereka, mencapai ”mokhsa”. Suatu bentuk kehidupan, yang ditandai oleh keterlepasan rasa-pikir-jiwa-hati-raga dunia kemanusiaan, dan keterikatan secara purna seluruh dimensi rasa-pikir-jiwa-hati-raga dengan dunia keilahian. Dalam dunia Kebatinan-Jawa, disebut ”Manunggaling kawulo lan Gusti”; dalam agama kristen disebut ”Bersatunya Roh Suci”; atau dalam agama Islam—dunia tarikat/tasawwuf–dinamakan ”Ma’rifat” (asal kata ”’arafah” yaitu bertemu, bersatu). Kalau saya khilaf, mohon diluruskan ya Bu…!!.

    Dalam agama Buddha, Teratai Putih (dalam bahasa India disebut Padma)—mudah-mudahan saya tidak khilaf—digunakan sebagai tempat duduk (simbol dari dasar, pijakan segala eksistensi dunia rasa-pikir-jiwa-hati-raga) Sidharta, ketika dia melakukan perjalanan dunia rasa-batin yang panjang, untuk menemukan rahasia dan hakikat keilahian-manusia, untuk mencapai ”mokhsa” (extrance). Menyatunya segenap dimensi rasa-pikir-jiwa-hati-raga dengan Sang Pencipta (Sang Buddha Gautama). Dalam hati saya berbisik, ”hebat, mengagumkan, pilihan Ibu terhadap Teratai Putih yang sedang mekar sebagai simbol”. Tidak setiap orang bisa mencapai kearifan seperti itu lho Bu….ini kekaguman dan keterpesonaan saya pada pribadi dan filosofi hidup Ibu–entah untuk yang keberapa–, sekali lagi, yang ”nyaris sempurna” sebagai seorang wanita. Karena memang, kesempurnaan hanyalah milik Allah (qullu man ’alaihaa faan wa yabqaa wajhu robbika…). Betul ya Bu….!!

    Tentu, saya tak bermaksud mengatakan bahwa Ibu adalah seorang Sidharta Gautama. Tetapi, kemampuan dan kepekaan perenungan Ibu menemukan mutiara kehidupan dunia-rasa, yaitu ”ikhlas”, telah menyejajarkan Ibu (dalam dua tanda petik, dan dalam pandangan saya) dengan Sang Sidharta, Kristus/Isa al-Masih, Muhammad, dan/atau para Orang Suci lainnya. Ini tidak berlebihan Ibu. Ini hasil kontemplasi dunia rasa saya yang tulus dan ikhlas—maaf ya, saya meng-copy Ibu.

    Maksudnya demikian, Teratai Putih atau Padma, sebagai tempat duduk, menyimbolkan ”ikhlas, kepasrahan diri” sebagai inti atau pusat sistem yang menata seluruh gerak-rotasi tatanan sistem dunia rasa-pikir-jiwa-hati-raga Siddharta dan/atau para Buddhis. Simbol ini lah yang memungkinkan semuanya selalu berada dalam keteraturan gerak-rotasi yang sistemik. Ini sama halnya dengan para jamaah haji yang berrotasi (thawaf) mengelilingi Ka’bah atau Baitullah; atau palanet-planet yang berotasi mengitari Matahari; atau juga seperti Sang Sidharta, Kristus/Isa al-Masih, Muhammad, dan/atau para Orang Suci lainnya yang berhalwah atau bertariqah mengitari simbol-simbol keilahian masing-masing; dalam kesatuan sistem gerak-rotasi, dengan segala keteraturan tempo dan dinamikanya.

    Ibu, seperti halnya para jamaah haji, atau matahari, tak akan bisa berotasi, menjelajahi garis edar kehidupan masing-masing, tanpa adanya inti atau pusat sistem yang menata tempo dan dinamika mereka ketika berrotasi dalam keteraturan. Teratai Putih atau Padma, Ka’bah atau Baitullah; atau Matahari itulah ”keikhlasan, kepasrahan diri” dengan keteraturan medan magnetnya. Rotasi, tidak lain adalah perjalanan seluruh dimensi dunia rasa-pikir-jiwa-hati-raga Ibu, Sang Sidharta, Kristus/Isa al-Masih, Muhammad, dan/atau para Orang Suci lainnya, dalam garis edar medan magnet keikhlasan, kepasrahan diri, dalam suatu gerakan melingkar-memusat (sentrifugal, bukan sentripetal) mencapai ”titik pencerahan-diri, mokhsa, ma’rifat, bersatu dalam Roh Kudus, atau manunggaling kawula lan Gusti”.
    Subhanallah…..Maha Suci Engkau ya Allah, yang telah menciptakan seorang Wanita, Kisyani (maaf, saya tidak menambah kata Ibu), menjadi sekuntum bunga Teratai Putih yang sedang mekar menebar harum, dengan aura keikhlasan, kepasrahan diri yang ”nyaris sempurna”. Lindungilah Dia dan keluarganya, dan jadikanlah mereka sosok-sosok yang karena auranya ”mampu menatap Surga”, pusat dari segala inti keikhlasan, kepasrahan diri. Amien, amien, yaa robbal ’alamiin.

    Karenanya, bu Kis, dengan segala maaf, hormat, dan atas perkenan Ibu, ijinkan lah saya yang masih penuh dengan lumpur ketaksempurnaan dan kefanaan insaniyah ini, menyapa Ibu dengan sapaan ”Sang Teratai Putih”…boleh kan…..!!!

    Mengakhiri komentar—yang terlalu panjang ini–atas mutiara dunia-rasa Ibu, ”Sang Teratai Putih”, saya coba guratkan beberapa bait mutiara rasa, yang sebenarnya saya kutip dari Ibu.

    Ikhlaskan pikir dan rasa dalam tafakkur ilallah
    Ikhlaskan hati dan jiwa dengan taqorrub ilallah
    Ikhlaskan raga yang tak kuasa dengan illa billah
    Niscaya surga jadi sunnatullah

    Teruntuk Sang Teratai Putih

    dari
    Farisi
    8 Januari 2009

    • kisyani said,

      January 11, 2009 at 7:03 am

      Terlalu indah untuk saya,
      Saya merasa biasa-biasa saja
      tidak terlalu istimewa.
      mungkin kadang-kadang “nakal” dan “galak” juga he he he.

  3. Farisi said,

    January 12, 2009 at 8:44 am

    memang benar sih,
    mulanya biasa-biasa saja,
    kemudian, menjadi luar biasa,
    dan akhirnya istimewa.

    Hati-hati dengan kata “nakal” dan “galak”,
    karena saya bisa “lebih nakal” dan “lebih galak”
    haaaaa…………….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: