DOA HARIAN

Ya Allah lapangkanlah jalan Mas Tri
ampunilah dosanya
terima lah amal ibadahnya
tempatkanlah dia di surga

Allaahummaghfir lii
wa liwaalidayya
warhamhumaa
kamaa rabbayaanii shaghiiraa

Ya Allah, lapangkanlah dada kami sekeluarga
mudahkanlah urusan kami
hilangkanlah kekauan dari lidah dan tangan kami
lindungilah kami dari segala marabahaya
supaya kami sekeluarga sehat, selamat, sejahtera, bahagia dunia dan akhirat.

Ya Allah lapangkanlah dada anak-anakku Raras dan Arya
mudahkanlah urusan mereka
hilangkanlah kekakuan dari hati dan jiwa mereka
supaya mereka menjadi anak-anak yang berbakti, berakhlak mulia, sehat, cerdas, rajin, sukses, bahagia dunia akhirat, dan panjang umur.

Ya Allah, lapangkanlah dadaku
mudahkanlah urusanku
hilangkanlah kekakuan dari lidah dan tanganku
lindungilah aku dari segala marabahaya
supaya aku selalu menjadi ibu yang baik  bagi anak-anakku
anak yang baik bagi orang tuaku
pemimpin yang baik bagi anak buahku
guru yang baik bagi muridku
dan orang yang baik dan berguna bagi keluarga, atasan, teman, masyarakat, bangsa, dan seisi alam semesta.

Amin, amin, amin.

4 Comments

  1. raras said,

    January 6, 2009 at 5:52 pm

    raras sayang ibu

    • kisyani said,

      January 7, 2009 at 12:25 pm

      Ibu sayang Raras
      Ibu merasa (yuk kita nyanyi!)

      Kasih anak kepada aku
      tak berbatas sepanjang masa
      sering merajuk
      minta dipeluk
      bagai cahaya merindukan gelapnya.

      he he he

  2. Farisi said,

    January 7, 2009 at 1:44 am

    Saya meyakini, Ibu dan keluarga, selain orang-orang yang sabar, arif, dan dinaungi aura kasih-sayang, tetapi juga adalah pribadi-pribadi yang shaleh dan shalehah. Amien. (ini kekaguman saya yang ke-sekian pada sosok Ibu, Sang Teratai Putih).

    Doa, bagi setiap muslim/muslimah, bukan hanya sebuah permohonan, pengharapan, untuk memperoleh energi ilahiyah dari “sang Supra Power”. Do’a adalah pula sebuah kekuatan terakhir, yang niscaya bagi kita, ketika kita tidak bisa melakukan apapun, atau ketika kita berada pada titik nadzir, titik terlemah sebagai makhluk. Meminjam kata-kata dalam iklan A-Sampoerna, “when we don’t able to do more, when we don’t able to talk more, pray more, more….and more, forever”.

    Komentar ini sebetulnya untuk penulisan doa yang pertama, sebelum Ibu diubah. Tetapi karena saya sudah terlajur membuatnya–saya nglembur lho Bu sampai malam, untuk mengonsep komentarnya–, komentar itu, akan saya upload. Setidak-tidaknya untuk berbagi ilmu dan pengalaman. tidak apa-apa ya Bu.

    Penulisan doa (versi awal):
    Rabbi firli wali wali dayyah
    Warham huma kama robba yani soghiro

    Dalam pemahaman saya atas kaidah nahwu-sharrof, doa di atas (khususnya bait doa pertama) akan memiliki makna sesuai dengan makna kata dan/atau kalimat aslinya, bila ditransliterasikan–saya pisah per kata agar lebih jelas akar katanya–sebagai berikut:

    Robbi (i)gh-firlii wa li wailidayya (jamak = wa liwailidina)
    wa (r)hamhu maa kama robba yaania soghiraa (jamak = robba yaanaa soghiraa)

    kata “Robbi” berasal dari dua kata, yakni “Robb” (Allah, Tuhan), dan “i-” (aku, saya), dan secara keseluruhan bermakna “Wahai Robb/Tuhan/Allah-ku”. Jika kedua kata itu terpisah, tidak bersambung dengan kata selanjutnya (mis: (i)gh-firlii), maka kata itu harus dibaca “agak panjang”, karena “i” itu adalah “ya’ mati”, hukumnya sama dengan “wau mati”, harus dibaca agak panjang (Maaf ya Bu, laptop saya tak dilengkapi software untuk penulisan huruf Arab. Kalau Ibu punya, bisa ya saya pinjam ya…).

    kata “firli” tak memiliki makna/arti, karena kata dasarnya adalah “ghafr”, dan bentukannya bisa “astaghfirulloh” atau ”istighfar”. Penambahan kata “i” di depan kata “-ghfir” mengandung doa/permohonan, yang berarti “ampunilah”; dan kata ”lii” di belakang bermakna ”aku, saya”. Jadi, kata “(i)gh-firlii” secara utuh bermakna “ampunilah aku/saya/hambamu” ya Allah (Robb, bukan Robbi). Jika untuk “kami”, maka kata itu menjadi “-ghfir-lanaa”; untuk “mereka”, menjadi “-ghfir-lahuu” (mereka laki-laki) dan “-ghfir-lahaa” (mereka perempuan); dan untuk “semua” (laki-perempuan), menjadi “-ghfir-lahum”.

    kata “wali” dan “wali”, maknanya “orang yang dimuliakan, dihormati, dikasihi” (seperti para wali songo), tidak cocok dengan makna doanya.
    Sesuai dengan kaidah nahwu-sharrof, seyogianya ditulis: “wa li-waalidayya”. Kata “wa” berarti “dan”; “li” berarti “untuk, buat”; sementara kata “waalidayya” berarti kedua orang tua (untuk orang tua satu keluarga). Jika untuk orang tua kedua/lebih pihak keluarga, menjadi “waalidii-naa” (kata “naa” berarti semua/banyak”).

    Kayaknya, ini lebih sulit dari tatabahasa Indonesia ya Bu. Tapi, sesungguhnya, dalam tatabahasa Indonesia, hal itu sepadan dengan penggunaan “kata ganti”, untuk orang pertama, kedua, ketiga, dan entah yang ke-berapa pula.

    Kalau ditulis lengkap menjadi:
    “Rabbi (i)ghfirlii wa li-waalidayya” (Ya Robb-ku, ampunilah aku dan/juga untuk kedua orang tuaku).
    “wa (ar)hamhu maa kamaa robbayanii soghiraa” (dan kasihilah mereka semua, sebagaimana mereka telah mengasihi aku ketika kecil).

    Waduh, ini kok jadi kayak ustadz. Maafkan ya Bu, saya tak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin berbagi pengetahuan dan kebaikan, dengan orang yang wajib saya kasihi dan sayangi. Kata sebuah hadith, ”al-‘ilmu bilaa amalin, ka (as)syajarati bilaa tsamarin” (ilmu jika tidak diamalkan, laksana pepohonan yang tak berbuah. ”Bukan pohon kali ya Bu”). Dalam khasanah intelektual Barat, hal ini kemudian dikenal sebagai ”filsafat pragmatisme” (betul ya Bu…!!).

    Demikian dulu komentar saya. Jika ada kesalahan, itu karena ketaksempurnaan saya, dan jika ada kebenaran di dalamnya, itu hanyalah karena Allah semata (laa hawla wa laa kuwwata illaa billah).

    Teruntuk Sang Teratai Putih

    dari: Farisi
    Surabaya, 7 Januari 2009

    • kisyani said,

      January 7, 2009 at 11:45 am

      Alhamdulillah, terima kasih, Bapak.
      Semua torehan Bapak terbaca dengan saksama
      Semoga pahala tercurah penuh makna,
      Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: