PETA BAHASA DI JAWA TIMUR BAGIAN UTARA DAN BLAMBANGAN

BAHASA JAWA DI JAWA TIMUR BAGIAN UTARA DAN BLAMBANGAN:

KAJIAN DIALEKTOLOGIS

Kisyani-Laksono

A. Pendahuluan

Perbedaan dialek atau subdialek yang ada dalam suatu bahasa dapat diketahui dengan jelas apabila dilakukan pengkajian secara dialektologis. Secara dialektologis, tujuan penelitian ini adalah : (1) mengidentifikasikan dialek dan subdialek bahasa Jawa di Jawa Timur bagian utara dan Blam­bangan; (2) mendeskripsikan bentuk-bentuk linguistik bahasa Jawa di Jawa Timur bagian utara dan Blambangan (BJJTB); (3) mendeskripsikan situasi saling pengaruh antarbahasa dan keberadaan daerah relik dan daerah inovatif di Jawa Timur bagian utara dan Blambangan.

B. Metode

Untuk mencapai tujuan itu digunakan metode cakap dan simak. Metode cakap digunakan dengan teknik pancing, cakap semuka, dan teknik rekam; sedangkan metode simak dengan teknik sadap, catat, dan rekam. Data yang diperoleh dengan menggunakan metode ini dianalisis dengan metode padan, teknik hubung banding membedakan dan menyamakan. Data ini diperoleh dari informan yang memenuhi persyaratan tertentu . Mereka berasal dari 35 daerah pengamatan. Di sini digunakan daftar tanyaan yang terdiri atas 829 glos kata/frasa dan 100 kalimat

Berikut ini adalah nama dan kode nomor daerah penelitian (DP).

Tabel 1. Nama dan Nomor Daerah Penelitian

No.

DP

Dusun

Desa/Kelurahan (K.)

Kecamatan

Kabupaten/

Kotamadya

1

Jepang

Margorejo

Margorejo

Bojonegoro

2

Karangrejo

Bancar

Tuban

3

Bareng

Ngasem

Bojonegoro

4

Karangasem

Jenu

Tuban

5

Balongrejo

Sugihwaras

Bojonegoro

6

Bedahan

Babat

Lamongan

7

Lohgung

Brondong

Lamongan

8

Tlogo Sadang

Paciran

Lamongan

9

Kabuh

Kabuh

Jombang

10

Plumbon Gambang

Gudo

Jombang

11

Gambiran

Mojo Agung

Jombang

12

Sumber jati

Jatiroto

Mojokerto

13

Trowulan

Trowulan

Mojokerto

14

Suru

Dawarblandong

Mojokerto

15

Tarik

Tarik

Sidoarjo

16

Mojokembang

Pacet

Mojokerto

17

Manduro

Ngoro

Mojokerto

18

Pangkah Kulon

Ujung Pangkah

Gresik

19

Watu Agung

Bungah

Gresik

20

Rooma

Manyar

Gresik

21

K. Banjarsugihan

Tandes

Surabaya

22

K. Waru Gunung

Karang Pilang

Surabaya

23

Gambuhan dan Galuhan

Bubutan

Bubutan

Surabaya

24

Kejawan

Kejawan Putih Tambak

Sukolilo

Surabaya

25

Tambak Oso

Waru

Sidoarjo

26

Boro

Tanggul Angin

Sidoarjo

27

Kedung rejo

Jabon

Sidoarjo

28

Durensewu

Pandaan

Pasuruan

29

Gerbo

Purwodadi

Pasuruan

30

Keduwung Atas

Keduwung

Puspo

Pasuruan

31

Rowo Gempol

Lekok

Pasuruan

32

Grogol

Glagah

Banyuwangi

33

Kemiren

Giri

Banyuwangi

34

Bulu Agung

Pesanggaran

Banyuwangi

35

Kedung Asri

Tegaldlimo

Banyuwangi

C. Hasil Analisis

1. Penentuan Isolek

a. Penentuan Isolek Secara Leksikal

Penghitungan dialektometri leksikal didasarkan pada 416 perbedaan leksikal yang berada dalam 20 medan makna yang ada (A¾T). Dalam disertasi, pada tahap awal dilakukan penghitungan per medan makna (tidak ditunjukkan di sini). Penghitungan per medan makna ini dimaksudkan untuk mengetahui medan makna yang hasilnya paling mendekati hasil pemetaan dan penghitungan dialektometri leksikal secara keseluruhan. Jadi, penghitungan dialektometri leksikal ini didasrakan pada penjumlahan dialektometri leksikal per medan makna. Dengan berdasarkan penjumlahan itu diperoleh kelompok pembagian sebagai berikut.

(1) DP yang tidak menunjukkan perbedaan atau jarak kosakata dengan persentase 0%¾20% terdapat di antara DP 1–3, 2–3, 2–4, 3–5, 6–7, 6–21, 7–8, 9–10, 10–11, 11–13, 12–13, 13–14, 13–15, 15–26, 16–28, 19–20, 21–22, 21–23, 24–25, 26–27, 28–29, 32–33, 34–35.

(2) DP yang menunjukkan perbedaan wicara dengan persentase 21%¾30% terdapat di antara DP 1–2, 1–5, 1–10, 3–4, 4–5, 4–6, 4–7, 5–6, 5–9, 5–10, 6–14, 6– 19, 6–20, 8–18, 9–11. 9–13. 9–14, 10–12, 11–12, 12–16, 12– 17, 13–17, 14–15, 14–21, 14– 22, 15–17, 15–22, 15–25, 16–17, 16–26, 16–29, 17–26, 18–19, 20–21, 22–23, 22–24, 22–25, 23–24, 25–26, 25–27, 26–28, 27–28.

(3) DP yang menunjukkan perbedaan subdialek dengan persentase 31%¾50% terdapat di antara DP 5–14, 7–18, 7–19, 20–23, 27–31, 28–31, 29–30,

29–31, 30–31, 30–34.

(4) DP yang menunjukkan perbedaan dialek dengan persentase 51%¾80% terdapat di antara DP 30–33, 31–32, 31–33, 32–35, 33–34, 33–35.

5) DP yang menunjukkan perbedaan bahasa dengan persentase 81%¾100% tidak didapatkan.

Berikut ini adalah tabel dialektometri leksikal secara keseluruhan.

Tabel 2. Dialektometri Leksikal

No. DP

%

No. DP

%

No. DP

%

No. DP

%

1–2

22

7–18

32

15–22

21

26–27

20

1–3

18

7–19

31

15–25

23

26–28

24

1–5

23

8–18

27

15–26

20

27–28

24

1–10

24

9–10

20

16–17

23

27–31

37

2–3

20

9–11

24

16–26

25

28–29

19

2–4

19

9–13

21

16–28

20

28–31

43

3–4

22

9–14

26

16–29

27

29–30

31

3–5

19

10–11

19

17–26

23

29–31

34

4–5

25

10–12

22

18–19

23

30–31

42

4–6

23

11–12

21

19–20

17

30–33

62

4–7

27

11–13

18

20–21

25

30–34

46

5–6

29

12–13

18

20–23

34

31–32

61

5–9

26

12–16

22

21–22

16

31–33

61

5–10

26

12–17

27

21–23

20

32–33

15

5–14

33

13–14

20

22–23

24

32–35

56

6–7

15

13–15

20

22–24

22

33–34

59

6–14

25

13–17

25

22–25

21

33–35

56

6–19

29

14–15

26

23–24

24

34–35

10

6–20

29

14–21

26

24–25

19

6–21

19

14–22

25

25–26

22

7–8

18

15–17

22

25–27

21

Saat meneliti bahasa-bahasa di Tangerang, Lauder menjumpai adanya kenyataan di lapangan yang perbedaan tertingginya hanya mencapai 65%¾70%, padahal antarpenutur sudah tidak saling paham. Oleh sebab itu disampaikan saran untuk memodifikasi persentase pemilahan bahasa Guiter dalam tataran leksikal sebagai berikut (Lauder, 1997: 17).

Tabel 3. Perbandingan Pemilahan Bahasa dan Dialek

Deskripsi

Rentang % Menurut Guiter

Rentang % Menurut Lauder

beda bahasa

81% ke atas

70% ke atas

beda dialek

51%¾80%

51%¾69%

beda subdialek

31%¾50%

41%¾50%

beda wicara

21%¾30%

31%¾40%

tak berbeda

di bawah 20%

di bawah 30%

Dengan berdasarkan tabel di atas tampak bahwa perbedaan dialek yang terdapat pada DP 30–33, 33–34, 33–35, 31–32, 31–33 tidak mengalami perubahan karena persentasenya bergerak dari 56% sampai dengan 62%. Dalam hal ini, rumusan Guiterlah yang dipakai untuk memilahkan perbedaan itu.

Dengan berdasarkan rumusan Guiter, hubungan isolek antar-DP secara keseluruhan (untuk semua medan makna A¾T) dapat dipetakan dalam peta segibanyak-dialektometri sebagai berikut.

Dengan berdasarkan tampilan peta di atas tampak bahwa peta segibanyak dialektometri (peta 2) lebih nyata menampilkan perbedaan antar-DP daripada peta segitiga dialektometri (peta 1). Hal ini terjadi karena garis dalam peta segitiga dialektometri merupakan garis yang menghubungkan DP, sedangkan garis dalam segibanyak dialektometri merupakan garis yang saling memisahkan DP. Akan tetapi, pembuatan peta segibanyak dialektometri harus melalui peta segitiga dialektometri. Cara yang digunakan adalah: setiap garis segitiga dalam dialektometri akan mewujudkan satu garis pemisah antar-DP. Oleh sebab itu, jumlah garis segitiga yang menghubungkan satu DP dengan DP lainnya akan menentukan jumlah segi dalam segibanyak itu. Contoh: Garis segitiga yang menghubungkan DP 5 dengan DP lainnya berjumlah 7, berarti segibanyak yang melingkupi DP 5 berwujud segitujuh.

Selanjutnya, penghitungan yang telah dilakukan secara dialektometris per medan makna menunjukkan bahwa ada medan makna yang memperlihatkan batas wilayah pakai dengan persentase perbedaan yang tinggi. Medan makna itu adalah medan makna E. TUTUR SAPAAN DAN ACUAN, P. ARAH DAN PENUNJUK, dan S. WARNA DAN BAU. Pada ketiga medan makna itu dijumpai adanya perbedaan bahasa dengan persentase antara 81¾100%. Selanjutnya, hampir semua medan makna menunjukkan adanya perbedaan dialek, subdialek, wicara, dan yang tanpa perbedaan. Pada umumnya, hampir semua peta medan makna ini menunjukkan bahwa DP 32 (Desa Grogol) dan 33 (Desa Kemiren) merupakan daerah yang berbeda bahasa, dialek, atau subdialek dengan daerah di sekitarnya. Penghitungan akhir secara leksikal ternyata menunjukkan bahwa kedua daerah ini merupakan daerah yang berbeda dialek dengan daerah-daerah di sekitarnya. Selain itu ada pula medan makna yang menampilkan kesan seolah-olah banyak terdapat perbedaan dialek dan subdialek, misalnya pada medan makna B. UKURAN, F. ISTILAH KEKERABATAN, dan S. WARNA DAN BAU. Banyaknya perbedaan dialek juga muncul dalam medan makna P. ARAH DAN PENUNJUK.

Penghitungan dialektometri leksikal per medan makna yang hasilnya paling mendekati penghitungan pada keseluruhan peta leksikal (memperlihatkan kesejajaran) adalah hasil penghitungan pada medan makna D. BAGIAN TUBUH MANUSIA. Hal ini sejalan dengan hasil temuan Lauder (1993: 213) yang juga menyatakan bahwa hasil penghitungan dialektometri pada semua peta leksikal menunjukkan kesejajaran dengan hasil penghitungan dialektometri medan makna Bagian Tubuh.

Dengan berdasarkan hasil akhir penghitungan dan peta dialektometri leksikal terlihat bahwa bahasa Jawa di daerah Jawa Timur bagian utara dan Blambangan terdiri atas dua dialek, yaitu dialek di bagian barat dan dialek di bagian timur-laut (dialek Osing). Adapun subdialek membatasi daerah Blambangan/Banyuwangi bagian selatan (DP 34,35) dengan daerah di sebelah baratnya, Daerah Keduwung di Tengger (DP 30) dengan daerah di sebelah barat dan sebagian timurnya, Daerah Rowo Gempol di Pasuruan (DP 31) dengan daerah di sebelah baratnya , Daerah Gresik (DP 20) dengan Surabaya (DP 23), Daerah Lamongan (DP 7) dengan Gresik (DP 18, 19), dan daerah Bojonegoro (DP 5) dengan Mojokerto (DP 14). Perbedaan wicara dengan jarak kosakata antara 20¾30% dijumpai menyebar di antara DP 1–2, 1–5, 1–10, 3–4, 4–5, 4–6, 4–7, 5–6, 5–9, 5–10, 6–14, 6–19: 6–20, 8–18, 9–11, 9–13, 9–14, 10–12, 11–12, 12–16, 12–17, 13–17, 14–15, 14–21, 14–22, 15–17, 15–22, 15–25, 16–17, 16–26, 17–26, 18–19, 20–21, 22–23, 22–24, 22–25, 23–24, 25–26, 25–27, 26–28, 27–28. Selain itu, ternyata ada daerah yang tidak mengenal perbedaan karena jarak kosakatanya di bawah 21%, yaitu di antara DP 1–3, 2–3, 2–4, 3–5, 6–7, 19–20, 6–21,21–23, 21–22, 24–25, 9–10, 10–11, 11–13, 12–13, 14–13, 15–13, 15–26, 26–27,16–28, 28–29, 32–33, 34–35.


Hasil penghitungan dialektometri leksikal ini ternyata juga didukung oleh peta berkas isoglos leksikal secara keseluruhan. Berikut ini adalah peta berkas isoglos leksikal yang dimaksudkan.

Peta 3. Berkas Isoglos Leksikal

Peta berkas isoglos leksikal yang dihimpun dari peta berkas isoglos per medan makna ini juga menunjukkan bahwa garis yang sangat banyak memisahkan DP 32 , 33 dengan DP lainnya. Pada sebagian besar peta berkas isoglos per medan makna, banyaknya garis yang memisahkan DP 32, 33 dengan DP lainnya itu juga tampak jelas mendominasi. Yang paling tampak jelas adalah pada peta berkas isoglos medan makna D. BAGIAN TUBUH MANUSIA, Q AKTIVITAS, dan N. ALAT.

Di samping itu, pada peta 3 di atas tampak pula kedudukan DP 30 dan 31 yang juga dikelilingi berkas isoglos yang tebal, walaupun tidak setebal berkas isoglos yang membatasi DP 32, 33 dengan DP lainnya. Dengan berdasarkan penghitungan dialektometri, DP 30 dan DP 31 adalah DP yang merupakan subdialek.

Jika diperhatikan dengan saksama, penghimpunan berkas isoglos per medan makna tidak selalu menunjukkan hasil yang mirip dengan hasil penghitungan dialektometri leksikal per medan makna (misalnya: Medan Makna P. ARAH DAN PENUNJUK). Hal ini dapat dimaklumi karena yang dijadikan dasar pengelompokan berbeda. Selain itu, fokus perbedaan per medan makna juga tidak selalu sama. Akan tetapi, pada tahap penghitungan akhir (secara keseluruhan) ternyata kedua model ini saling mendukung. Artinya, apa yang ditunjukkan oleh perbedaan yang semakin tinggi dalam penghitungan dialektometri leksikal, ternyata juga didukung dengan semakin banyaknya isoglos yang ditorehkan di atas peta (bandingkan peta 3 dan peta 2).

b. Penentuan Isolek Secara Fonologis

Penghitungan perbedaan fonologis didasarkan pada 829 glos. Dari jumlah ini terdapat 278 peta fonologis yang terdiri atas beberapa perbedaan. Berikut ini adalah tabel yang akan memperjelas hal itu.

Tabel 4. Rincian Jumlah Perbedaan Fonologis

No.

Uraian dan Contoh[1]

Jumlah

1

Æ » -h: g\te » g\töh ‘darah’

18

2

i » e : pitöÖ » petöÖ ‘ayam’

16

u » o : gun¬÷ » gon¬÷ ‘gunung’

19

3

¬h »¿h : s\pul¬h » s\pul¿h ‘sepuluh’

3

öh » «h: putöh » put«h ‘putih’

6

4

¿ » -a : m¿t¿ » mata ‘mata’

10

5

Æ »Ö : d¿w¿ » d¿w¿Ö ‘panjang’

33

6

Ö » -k : anaÖ » anak ‘anak’

20

7

w- » Æ : wut¬h » ut¬h ‘utuh’

5

8

4 silabe ~ 3 silabe~ 2 silabe: ala÷ala÷ ~la÷ala÷ ~ lala÷ ‘daun ilalang’

1

4 silabe ~ 2 silabe: p\lataran ~ latar ‘halaman’

1

3 silabe ~2 silabe: l\mbay¬÷ ~ mbay¬÷ ‘daun kacang panjang’

8

2 silabe ~ 1 silabe: r\b¬÷ ~ b¬÷ ‘rebung’

6

9

Epentesis [y] /palatisasi : aba÷ » abya÷ ‘merah’

52

10

Epentesis [a] pada silabe ultima : siji »sijai ‘satu’

27

11

Yang lain : par¬t »par¬d ‘parut’

53

Jumlah

278

Jumlah di atas merupakan jumlah yang dihitung untuk keperluan penghitungan dialektometri. Artinya, jumlah itu dapat berkembang jika melibatkan perbedaan lain yang mengandung hal yang sama, misalnya: jumlah korespondensi –Æ » -h secara keseluruhan ada 30, tetapi jumlah itu dimasukkan dalam perbedaan lain yang menunjukkan korespondensi -uh »¿h atau ih » «h. Jumlah 18 itu menunjukkan berian-berian yang semata-mata menunjukkan korespondensi –Æ » -h. Adapun dalam korespondensi -uh »¿h atau ih » «h, beriannya mengandung adanya korespondensi –Æ » -h.

1) Penghitungan Dialektometri Fonologis

Dialektometri fonologis tidak dapat dihitung per medan makna karena satu perbedaan dapat dijumpai pada beberapa medan makna. Jadi, penghitungan dialektometri fonologis harus dilakukan secara keseluruhan.

Kemudian, penghitungan pada beberapa berian yang menunjukkan perbedaan yang relatif sama dihitung hanya satu perbedaan, misalnya: korespondensi –Æ » -h. yang terdapat pada 18 peta hanya dihitung satu perbedaan saja. Hasil adanya satu perbedaan itu diperoleh lewat cara sbb.: (1) Mula-mula perbedaan antar-DP ditandai, kemudian dijumlahkan (jumlah paling tinggi = 18), (2) Jumlah yang menunjukkan 50% atau lebih (ada 9 perbedaan atau lebih) ditandai sebagai perbedaan, sedangkan jumlah yang kurang dari 50% tidak ditandai sebagai perbedaan. Hasil inilah yang dipakai sebagai dasar penghitungan dialektometri fonologis.

Selanjutnya, Dengan berdasarkan penghitungan dialektometri fonologis diperoleh kelompok pembagian sebagai berikut.

(1) DP yang tidak menunjukkan perbedaan atau jarak kosakata dengan persentase 0%¾3% terdapat di antara DP 1–2, 1–3,, 1–10, 2–3. 2–4, 3–4, 3–5, 5–6,

6–7, 7–8, 9–10, 10–11, 11–12, 11–13, 12–13, 12–16, 13–14, 13–17,

14–15, 14–22, 16–17, 16–28, 19–20, 20–21, 20–23, 21–22, 21–23, 22–23, 22–24, 22–25, 23–24, 24–25, 26–27, 26–28, 27–28, 28–29, 32–33, 34–35.

(2) DP yang menunjukkan perbedaan wicara dengan persentase 4%¾7% terdapat di antara DP 1–5, 4–5, 4–6, 4–7, 5–9, 5–10, 5–14, 6–14, 6–19, 6–20, 6–21, 7–18, 8–18, 9–11, 9–13, 9–14, 10–12, 12–17, 13–15, 14–21, 15–17,

15–22, 15–25, 15–26, 16–26, 16–29, 17–26, 18–19, 25–26, 25–27, 27–31, 28–31, 29–30, 29–31, 30–31, 30–34.

(3) DP yang menunjukkan perbedaan subdialek dengan persentase 8%¾11% terdapat di antara DP 7–19, 30–33.

(4) DP yang menunjukkan perbedaan dialek dengan persentase 12%¾16% terdapat di antara DP 31–32, 31–33, 32–35, 33–34, 33–35.

(5) DP yang menunjukkan perbedaan bahasa dengan persentase 17%¾100% tidak didapatkan.

Berikut ini adalah tabel dialektometri fonologis yang menunjukkan hal itu

Tabel 5. Dialektometri Fonologis

No. DP

%

No. DP

%

No. DP

%

No. DP

%

1–2

3

7–18

6

15–22

4

26–27

2

1–3

1

7–19

9

15–25

5

26–28

3

1–5

4

8–18

4

15–26

4

27–28

2

1–10

3

9–10

2

16–17

3

27–31

5

2–3

2

9–11

4

16–26

4

28–29

3

2–4

0

9–13

4

16–28

3

28–31

5

3–4

2

9–14

4

16–29

4

29–30

4

3–5

3

10–11

3

17–26

4

29–31

5

4–5

4

10–12

4

18–19

5

30–31

5

4–6

4

11–12

1

19–20

3

30–33

10

4–7

4

11–13

2

20–21

3

30–34

6

5–6

3

12–13

1

20–23

3

31–32

12

5–9

4

12–16

3

21–22

3

31–33

13

5–10

5

12–17

4

21–23

2

32–33

2

5–14

6

13–14

2

22–23

3

32–35

12

6–7

3

13–15

4

22–24

3

33–34

12

6–14

4

13–17

3

22–25

3

33–35

12

6–19

6

14–15

3

23–24

1

34–35

2

6–20

6

14–21

5

24–25

3

6–21

5

14–22

3

25–26

4

7–8

3

15–17

4

25–27

4

Berikut ini peta dialektometri fonologisnya (peta 3).


Hasil penghitungan dialektometri secara fonologis (dari 278 peta yang ada) ternyata tidak banyak berbeda dengan hasil penghitungan dialektometri leksikal. Hasil penghitungan secara fonologis menunjukkan bahwa DP 33 dan 34 merupakan dialek tersendiri. Batas subdialek, seperti halnya dialektometri leksikal, juga dijumpai antara daerah Lamongan dan Gresik.

2) Penghitungan Perbedaan Leksikal dan Fonologis

Hasil penghitungan pada perbedaan leksikal dapat dibandingkan dengan hasil penghitungan perbedaan fonologis. Berikut ini adalah tabel perbandingan yang menunjukkan hal itu.

Tabel 6: Perbandingan Hasil Penghitungan Perbedaan Leksikal dan Fonologis

No. DP

PL

PF

No. DP

PL

PF

No. DP

PL

PF

No. DP

PL

PF

1–2

W

T

7–18

S

W

15–22

W

W

26–27

T

T

1–3

T

T

7–19

S

S

15–25

W

W

26–28

W

T

1–5

W

W

8–18

W

W

15–26

T

W

27–28

W

T

1–10

W

T

9–10

T

T

16–17

W

T

27–31

S

W

2–3

T

T

9–11

W

W

16–26

W

W

28–29

T

T

2–4

T

T

9–13

W

W

16–28

T

T

28–31

S

W

3–4

W

T

9–14

W

W

16–29

W

W

29–30

S

W

3–5

T

T

10–11

T

T

17–26

W

W

29–31

S

W

4–5

W

W

10–12

W

W

18–19

W

W

30–31

S

W

4–6

W

W

11–12

W

T

19–20

T

T

30–33

D

S

4–7

W

W

11–13

T

T

20–21

W

T

30–34

S

W

5–6

W

T

12–13

T

T

20–23

S

T

31–32

D

D

5–9

W

W

12–16

W

T

21–22

T

T

31–33

D

D

5–10

W

W

12–17

W

W

21–23

T

T

32–33

T

T

5–14

S

W

13–14

T

T

22–23

W

T

32–35

D

D

6–7

T

T

13–15

T

W

22–24

W

T

33–34

D

D

6–14

W

W

13–17

W

T

22–25

W

T

33–35

D

D

6–19

W

W

14–15

W

T

23–24

W

T

34–35

T

T

6–20

W

W

14–21

W

W

24–25

T

T

6–21

T

W

14–22

W

T

25–26

W

W

7–8

T

T

15–17

W

W

25–27

W

W

KETERANGAN

PL = perbedaan leksikal, PF = perbedaan fonologi, T = tidak ada perbedaan, W = beda wicara

S = beda subdialek, D = beda dialek

Dengan berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa ada beberapa perbedaan antara hasil penghitungan leksikal dan fonologis. Akan tetapi, patut dicermati bahwa perbedaan itu tidak pernah lebih dari satu tingkatan (misalnya: beda dialek dengan beda wicara). Jadi, perbedaan itu merupakan perbedaan satu tingkatan (misalnya: beda wicara dengan beda subdialek), dan jumlah yang berbeda lebih sedikit dari jumlah yang sama (32 dari 91) .

3) Penggabungan Perbedaan Leksikal dan Fonologis

Untuk menyatukan peta leksikal dan fonologis digunakan dasar sebagai berikut: Penentuan perbedaan suatu daerah dengan daerah lain menggunakan dasar perbedaan yang paling tinggi, misalnya: secara leksikal daerah A dan B berbeda dialek, sedangkan secara fonologis berbeda subdialek. Dalam penyatuan peta (secara leksikal dan fonologis) daerah A dan B tergolong berbeda dialek. Hal ini dilakukan karena jika suatu daerah telah dinyatakan pada perbedaan yang lebih tinggi (misalnya dalam contoh ini: berbeda dialek), berarti perbedaan itu meliputi juga pada perbedaan pada tingkatan di bawahnya (dalam contoh ini: subdialek). Dengan kata lain, jika suatu daerah berbeda dialek dengan daerah lain, berarti daerah itu mengandung perbedaan subdialek pula. Sebaliknya, jika perbedaan itu diambilkan pada tingkatan yang lebih rendah, tingkatan itu tidak akan meliputi/mengandung tingkatan perbedaan di atasnya (misalnya: perbedaan subdialek tidak meliputi/mengandung perbedaan dialek).

c. Penentuan Isolek Secara Leksikal dan Fonologis

Penyatuan hasil penghitungan leksikal dan fonologis akan menentukan tingkatan perbedaan antar-DP. Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan hal itu.

Tabel 7: Penyatuan Hasil Penghitungan Leksikal dan Fonologis

No. DP

BEDA

No. DP

BEDA

No. DP

BEDA

No. DP

BEDA

1–2

W

7–18

S

15–22

W

26–27

T

1–3

T

7–19

S

15–25

W

26–28

W

1–5

W

8–18

W

15–26

W

27–28

W

1–10

W

9–10

T

16–17

W

27–31

S

2–3

T

9–11

W

16–26

W

28–29

T

2–4

T

9–13

W

16–28

T

28–31

S

3–4

W

9–14

W

16–29

W

29–30

S

3–5

T

10–11

T

17–26

W

29–31

S

4–5

W

10–12

W

18–19

W

30–31

S

4–6

W

11–12

W

19–20

T

30–33

D

4–7

W

11–13

T

20–21

W

30–34

S

5–6

W

12–13

T

20–23

S

31–32

D

5–9

W

12–16

W

21–22

T

31–33

D

5–10

W

12–17

W

21–23

T

32–33

T

5–14

S

13–14

T

22–23

W

32–35

D

6–7

T

13–15

W

22–24

W

33–34

D

6–14

W

13–17

W

22–25

W

33–35

D

6–19

W

14–15

W

23–24

W

34–35

T

6–20

W

14–21

W

24–25

T

6–21

W

14–22

W

25–26

W

7–8

T

15–17

W

25–27

W

KETERANGAN

T = tidak ada perbedaan S = beda subdialek

W = beda wicara D = beda dialek


Dengan berdasarkan tabel penggabungan hasil penghitungan secara leksikal dan fonologis ini, dibuat peta gabungan leksikal dan fonologis (peta 5) sbb.

Peta 5 ini menunjukkan hasil yang mirip dengan penghitungan dialektometri leksikal. Perbedaannya terletak pada penggolongan “tidak ada perbedaan” pada peta leksikal (peta 2) antara DP 6–21,13–15, 15–26 menjadi “beda wicara” pada peta 5.

Dengan berdasarkan hasil pemetaan gabungan dialektometri leksikal dan fonologis ini (peta 5) dapatlah dikemukakan istilah dialek Osing, subdialek Banyuwangi Selatan, subdialek Bojonegoro, subdialek Gresik, subdialek Lamongan, subdialek Mojokerto, subdialek Pasuruan, subdialek Rowogempol, subdialek Sidoarjo, subdialek Surabaya, dan subdialek Tengger.

Secara geografis, daerah Osing dipisahkan dengan deretan gunung dan pegunungan dengan daerah di sebelah baratnya. Daerah ini juga merupakan daerah yang berbatasan dengan daerah pakai bahasa Madura di sebelah barat dan utara, daerah pakai bahasa Jawa di sebelah selatan, dan daerah pakai bahasa Bali di sebelah Timur. Situasi geografis ini memang memungkinkan daerah Osing menjadi daerah dengan ciri tersendiri. Dalam penelitian ini, ciri tersendiri ini ternyata terwujud dalam “dialek”, yaitu dialek Osing.

Daerah Banyuwangi Selatan (DP 34 dan 35) merupakan daerah yang bernenek moyang masyarakat Jawa Tengah (periksa bab II). Daerah ini juga dipisahkan dengan deretan pegunungan dengan daerah di sebelah baratnya. Dulu (sampai dengan awal abad XX), daerah ini merupakan daerah hutan belantara. Pembukaan jalan kereta api dari Kalisat ke Banyuwangi pada awal abad XX (tahun 1901) oleh Belanda mulai menarik minat masyarakat ke daerah itu. Dengan kata lain, Belandalah yang berinisiatif mendatangkan masyarakat dari Jawa Tengah untuk membuka hutan dan membuat perkebunan di daerah itu. Akhirnya, mereka menetap di daerah itu dan beranak cucu sampai sekarang. Oleh sebab itu, banyak kosakata yang sama dengan kosakata dialek standar. Situasi geografis yang terwujud lewat batas pegunungan dengan daerah di sebelah baratnya dan jumlah mereka yang semakin bertambah ikut membantu mereka membentuk masyarakat tersendiri yang mempertahankan pemakaian isoleknya. Hal ini ternyata mendukung kedudukan isolek mereka sebagai subdialek tersendiri yang disebut dengan subdialek Banyuwangi Selatan. Kedekatan subdialek ini dengan dialek standar akan tecermin dengan kedekatan daerah ini dengan daerah-daerah di Jawa Timur bagian barat pada penghitungan permutasi.

Daerah Bojonegoro (DP 5) dengan daerah Mojokerto (DP 14) merupakan daerah yang secara geografis dibatasi dengan hutan yang panjang. Angkutan umum pun tidak dapat sekali jalan. Hal ini tampaknya ikut mendukung adanya batas subdialek sehingga terwujud subdialek Bojonegoro dan subdialek Mojokerto.

Jika diperhatikan dengan lebih saksama, peta 4 ternyata juga menunjukkan adanya daerah yang “menghubungkan” mata rantai pemahaman antara daerah Tuban dan Bojonegoro dengan daerah Lamongan, Gresik, Surabaya, dan Mojokerto. Daerah yang dimaksudkan adalah DP 6 (Desa Babat, Lamongan). Hal ini tidak jauh meleset dengan situasi geografis yang mendukung karena daerah ini merupakan daerah ramai di jalur utara yang merupakan pelintasan dari dan ke tujuh daerah (Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Surabaya, Mojokerto, Jombang).

Daerah Rowo Gempol (DP 31) merupakan daerah perbatasan antara daerah pakai bahasa Madura di sebelah timurnya dan daerah pakai bahasa Jawa di sebelah baratnya. Hal ini ternyata mewujudkan DP 31 sebagai subdialek tersendiri yang disebut dengan subdialek Rowo Gempol.

Subdialek Pasuruan ternyata menunjukkan beberapa perbedaan dengan subdialek Rowogempol dan Tengger (yang keduanya terletak dalam wilayah Kabupaten Pasuruan). Secara geografis, subdialek Pasuruan (yang dalam hal ini diwakili oleh DP 28 dan 29) merupakan daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Malang dengan kondisi alam yang berbukit sehingga berhawa segar. Hal ini kontras sekali dengan daerah Rowo Gempol yang cenderung kering dan tandus karena berada di pesisir. Kedua DP itu cenderung lebih terbuka terhadap masyarakat luar daripada kondisi DP 30 di Tengger karena sistem transportasi lebih mudah. Hal inilah yang memungkinkan terwujudnya subdialek Pasuruan sebagai subdialek tersendiri.

Daerah Sidoarjo (khususnya DP 27) merupakan daerah pesisir yang cenderung subur dibandingkan dengan daerah Rowo Gempol. Daerah ini terletak di pinggir sungai Porong yang memisahkan Kabupaten Sidoarjo dengan Kabupaten Pasuruan. Banyak masyarakat di DP ini yang bekerja di Surabaya. Dalam hal ini, pengaruh subdialek Surabaya tampak sangat kuat, bahkan tak ada batas beda subdialek antara Surabaya dan Sidoarjo. Dalam hal transportasi, dari DP 27 ini lebih mudah ke Surabaya daripada ke Rowogempol. Kondisi inilah yang memungkinkan terwujudnya subdialek Sidoarjo yang dibedakan dengan subdialek Rowogempol.

Daerah Surabaya (DP 23) secara geografis memang berbatasan dengan daerah Gresik (DP 20). Selain itu, komunikasi dan transportasinya pun tergolong lancar. Akan tetapi, patut diperhatikan pula kedudukan Surabaya sebagai kota besar dengan ciri isolek tersendiri. Secara umum, dengan kedudukan sebagai kota besar yang berpengaruh, isolek Surabaya akan mempengaruhi isolek-isolek di sekitarnya. Dengan berdasarkan hasil pemetaan terlihat bahwa isolek Surabaya dengan isolek di Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto hanya menunjukkan perbedaan wicara atau justru tidak menunjukkan perbedaan. Akan tetapi, ternyata dengan daerah Gresik, isolek Surabaya menunjukkan adanya perbedaan wicara dan subdialek. Dengan berdasarkan hal ini dapatlah dikatakan bahwa Surabaya merupakan subdialek tersendiri yang berbatasan dengan subdialek Gresik. Memang, biarpun sarana transportasi dan komunikasi lancar, lalu lintas (masyarakat) dari Surabaya ke Gresik tidak seramai seperti yang ke Jawa Tengah atau ke Jawa Timur bagian Timur. Hal itu tampak dari ramainya terminal yang ada. Terminal Purabaya yang melayani jalur ke barat (lewat jalur selatan atau utara) dan jalur ke timur lebih ramai daripada terminal Oso Wilangun yang berbatasan dengan Gresik. Dalam hal ini, masyarakat yang ke barat lewat jalur utara hanya melewati pinggir Gresik dan lewat jalan tol Gresik yang ada. Jadi, masyarakat yang ke Gresik (kota) memang hanya bertujuan ke daerah itu. Perjalanan memang dapat dilanjutkan lagi ke jalur utara, tetapi dengan waktu yang lebih lama karena melingkar. Hal ini dimungkinkan juga menjadi salah satu penyebab adanya batas subdialek antara Gresik dan Surabaya.

Selanjutnya, perbatasan Lamongan dan Gresik ternyata juga mewujudkan batas subdialek. Secara sosial, masyarakat Lamongan memang lebih dekat dengan Tuban yang berada di sebelah baratnya daripada dengan Gresik yang berada di sebelah timurnya. Hal ini tampaknya juga didukung oleh masalah tujuan kepergian dan masalah padatnya lalu lintas seperti yang telah dikemukakan di atas.

DP 30 yang merupakan subdialek Tengger, secara geografis memang “agak terpisah” dengan daerah di bawahnya, yaitu di Keduwung Bawah (mereka menyebutnya daerah “cara is¿r”). Transportasi ke Keduwung Atas tidak dapat berjalan jika musim hujan. Satu-satunya cara adalah dengan berjalan kaki. Daerah Keduwung Atas ini hanya merupakan salah satu daerah Tengger yang berada di Kabupaten Pasuruan. Daerah ini masih tergolong “tertutup” bila dibandingkan dengan daerah Tengger lain yang dijadikan objek wisata. Selain itu, Dengan berdasarkan cerita turun temurun dan secara historis, masyarakat Tengger pada awalnya merupakan masyarakat pelarian dari Majapahit. Daerah Tengger merupakan daerah yang agak terpisah dan sulit dijangkau sehingga mereka aman di sana. Keterpisahan lokasi dan kekentalan budaya Tengger dengan agama Hindhunya ikut mengiringi perkembangan isoleknya dengan adanya beberapa bentuk BJK yang masih dipelihara sampai saat ini. Hal ini ikut mendukung kedudukan DP 30 sebagai subdialek tersendiri yang dalam penelitian ini disebut subdialek Tengger.

Selanjutnya, berkas isoglos leksikal pada peta 3 dan gabungan dialektometri leksikal dan fonologis pada peta 5 ini semakin mengukuhkan kedudukan DP 32 dan 33 sebagai salah satu dialek bahasa Jawa. Penggolongan DP 32 dan 33 ke dalam dialek, yaitu “dialek Osing” merupakan penggolongan Dengan berdasarkan berkas isoglos dan secara dialektometris (leksikal dan fonologis). Akan tetapi, penutur Osing menganggap bahwa “bahasa” mereka merupakan “bahasa Osing” [b¿s¿ osö÷]. Penggunaan istilah “bahasa” ini dapat dicermati dari dua sisi. Yang pertama ialah “bahasa” dalam identitas sebagai sesuatu yang mandiri yang berbeda dengan bahasa lain (bukan sekadar dialek). Yang kedua ialah “bahasa” [b¿s¿] dalam identitas sebagai penanda jati diri kelompok atau daerah, seperti halnya istilah [b¿s¿ solo, b¿s¿ baµumas, b¿s¿ t\÷g\r, b¿s¿ sur¿b¿y¿], dst. Yang menarik, ternyata penutur Osing menganggap bahwa “bahasa” mereka itu merupakan “bahasa” tersendiri yang tidak sama dengan bahasa Jawa. Mereka beranggapan bahwa istilah “bahasa Osing” merupakan istilah yang lebih tepat daripada “dialek Osing”. Dalam hal ini patut diperhatikan bahwa penggolongan suatu bahasa atau dialek dapat ditentukan dari sisi linguistik atau dari sisi penuturnya. Oleh sebab itu, dapatlah dikatakan bahwa istilah “bahasa Osing” adalah istilah yang berkenaan dengan pendapat penuturnya, sedangkan istilah “dialek Osing” merupakan istilah yang berkenaan dengan hasil penghitungan linguistis (secara dialektometris).

Istilah [cara t\÷g\r] merupakan istilah yang sama populernya dengan istilah [basa t\÷g\r] bagi masyarakat Tengger di Keduwung Atas. Adapun istilah [dial«Ö t\÷g\r] ternyata juga sudah mulai “agak diterima” mereka. Akan tetapi, hasil penghitungan secara dialektometris ternyata menunjukkan bahwa isolek mereka tergolong dalam subdialek (bukan dialek). Hasil ini ternyata tidak sama dengan beberapa penelitian sebelumnya yang sering menyebut “dialek Tengger”. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama, dengan komunikasi dan transportasi yang semakin maju, terjadi pelunturan batas dialek sehingga menjadi subdialek. Oleh sebab itu, seperti halnya yang berlaku di DP 32 dan 33, istilah “basa Tengger” merupakan istilah yang berkenaan dengan pendapat penuturnya, sedangkan istilah “subdialek Tengger” merupakan istilah yang berkenaan dengan hasil penghitungan linguistis (secara dialektometris).

d. Penghitungan Permutasi

Penghitungan secara permutasi dapat digunakan untuk mengetahui jarak kosakata antara satu DP dengan DP lainnya yang tak bertetangga. Dari penghitungan ini dapat pula diketahui jarak kosakata yang berada di ujung Timur Jawa Timur dengan sebuah DP lain di ujung barat Jawa Timur.

Penghitungan secara permutasi ini dapat juga dipakai untuk meninjau konsep Voegelin dan Harris yang menyatakan bahwa derajat pemahaman searah dengan jarak sehingga akan didapat mata rantai pemahaman. Ada atau tidaknya gradasi pemahaman dari segi kosakata ini akan ditinjau kembali (Lauder, 1993).

Penghitungan ada atau tidaknya gradasi pemahaman timbal balik dilihat Dengan berdasarkan: (a) jarak kosakata dari satu DP di sebelah timur-tengah Jawa Timur dengan DP lainnya sampai ke Jawa Timur bagian barat laut, (b) jarak kosakata dari satu DP di sebelah tenggara Jawa Timur dengan DP lainnya sampai ke Jawa Timur bagian barat-tengah, (c) jarak kosakata dari satu DP di sebelah barat-tengah Jawa Timur dengan DP lainnya sampai ke Jawa Timur bagian tenggara (merupakan kebalikan nomor b), (d) jarak kosakata dari satu DP di sebelah barat laut Jawa Timur dengan DP lainnya sampai ke Jawa Timur bagian timur-tengah (merupakan model kebalikan dari nomor a).

Dalam hal ini, DP (a) sama dengan (d) , sedangkan (b) sama dengan (c). Model ini diharapkan dapat menunjukkan adanya persamaan atau perbedaan yang ada antar-DP dalam hal pembalikan permutasi yang dilakukan. Berikut ini adalah tabel dialektometri leksikal secara keseluruhan untuk keperluan permutasi

Tabel 8: Permutasi

No. Desa

%

No. Desa

%

No. Desa

%

No. Desa

%

33– 31

61

35– 34

10

1– 3

18

2– 4

19

33–27

58

35– 30

46

1– 5

23

2– 6

25

33–23

61

35– 28

34

1– 9

22

2– 7

28

33–20

61

35– 17

35

1– 17

31

2– 18

39

33–18

61

35– 9

27

1– 28

30

2– 20

42

33–7

58

35– 5

25

1– 30

43

2– 23

36

33–6

56

35– 3

27

1– 34

24

2– 27

36

33–4

57

35– 1

22

1– 35

22

2– 31

46

33–2

59

2– 33

59


Dengan berdasarkan tabel di atas, hubungan isolek antar-DP secara permutasi dari timur ke barat (peta a) dan dari barat ke timur (peta b) dapat dipetakan sbb.



Selanjutnya, Dengan berdasarkan keempat peta permutasi ini ternyata penghitungan dialektometri secara permutasi menunjukkan bahwa mata rantai pemahaman tidak selamanya menunjukkan kesejajaran antara jarak kosakata dengan jarak secara nyata, bahkan banyak yang menunjukkan sebaliknya, justru semakin jauh jaraknya semakin rendah persentasenya. Hal ini terlihat pada pangkal DP 35 dan DP 1. Walaupun demikian, pada pangkal DP 35, keadaan itu dapat dijelaskan dengan bantuan latar sejarahnya. Selain itu, pembalikan model permutasi ternyata menghasilkan hasil yang sangat berbeda. Hal ini dapat dimaklumi karena pangkal DP yang digunakan pun juga berbeda.

Walaupun demikian, hasil permutasi ternyata menunjukkan dukungan terhadap penghitungan dialektometri leksikal dan fonologis, serta pemberkasan isoglos karena penunjukan perbedaan dialek, subdialek, dan wicara menunjukkan adanya kesejajaran.

e. Identifikasi Dialek dan Subdialek

Dengan berdasarkan penghitungan dialektometri leksikal, dialektometri fonologis, penghimpunan berkas isoglos, dan penghitungan permutasi, bahasa Jawa di Jawa Timur bagian Utara dan Blambangan terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Osing dan dialek Jawa Timur (selain Osing). Dalam dialek Jawa Timur terdapat sepuluh subdialek, yaitu: subdialek Banyuwangi Selatan, subdialek Bojonegoro, subdialek Gresik, subdialek Lamongan, subdialek Mojokerto, subdialek Pasuruan, subdialek Rowogempol, subdialek Sidoarjo, subdialek Surabaya, dan subdialek Tengger. Dalam hal ini, tidak ada batas subdialek antara subdialek Mojokerto, Pasuruan, Sidoarjo, dan Surabaya.

Kedudukan Osing sebagai dialek dan Tengger sebagai subdialek sebagai hasil penelitian ini merupakan suatu hal yang agak mengejutkan karena selama ini dikenal istilah “bahasa Osing” dan “dialek Tengger”. Di sini jelas telah terjadi pergeseran tingkatan isolek seiring dengan perjalanan waktu. Bahkan, perlu pula dicermati bahwa batas persentase dialektometris untuk dialek Osing dan subdialek Tengger ini cenderung mendekati ambang bawah. Ini berarti, ada kemungkinan terjadinya perataan dialek atau subdialek pada masa-masa yang akan datang.

2. Deskripsi Bentuk-Bentuk Linguistik

Deskripsi bentuk-bentuk linguistik bahasa Jawa di Jawa Timur bagian utara dan Blambangan menunjukkan banyaknya bentuk bahasa Jawa Kuno yang masih dipelihara dan dipertahankan penggunaannnya sampai saat ini, misalnya: bentuk tiga suku: k\tumbar ‘ketumbar’, l\mbay¬÷ ‘daun kacang panjang’; berian: pisanan dan kawitan ‘pertama’, ir¬÷ ‘hidung’ , sira ‘kamu’ , isun ‘saya’, aran ‘nama’, b\sali ‘pandai besi’, w\lula÷ ‘kulit binatang’, wragil ‘anak termuda’, wudun ‘bisul’. Selain itu, wilayah ini ternyata juga merupakan wilayah bagi tumbuh-kembangnya bahasa Madura, Bali, dan bahasa Melayu/Indonesia. Hal itu terbukti dengan beberapa bentuk serapan atau pola serapan dari bahasa-bahasa tersebut yang digunakan di daerah pengamatan, misalnya: t«Ö r«t«Ö ‘ranting’ (Madura), «p«k ‘sabuk’ (Bali), kamar (Melayu). Sampai sejauh ini, sisa bahasa Sunda di wilayah ini nyaris tak berbekas. Kalaupun dulu ada kontak budaya dengan daerah Pasundan (bab II), ternyata hal itu hampir tak berjejak di wilayah ini.

Dari deskripsi ini tampak beberapa kekhasan di Jawa Timur bagian utara dan Blambangan ditandai oleh beberapa hal, yaitu:

a. Adanya perbedaan jumlah fonem vokal dengan rincian: (1) Ada delapan vokal, yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /\/, /«/, /o/, /¿/ dalam subdialek Gresik, subdialek Pasuruan, subdialek Rowogempol, subdialek Sidoarjo, dan subdialek Surabaya, (2) Ada tujuh vokal, yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /\/, /o/, /¿/ dalam dialek Osing, subdialek Bojonegoro, subdialek Lamongan, subdialek Mojokerto, subdialek Banyuwangi Selatan, dan (3) ada enam vokal, yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /\/, /o/ dalam subdialek Tengger.

b. Bunyi [i] atau [u] pada posisi penultima dalam subdialek Bojonegoro, subdialek Lamongan, dan subdialek Banyuwangi Selatan menjadi [e] atau [o] dalam dialek Osing, subdialek Mojokerto, subdialek Gresik, subdialek Pasuruan, subdialek Rowogempol, subdialek Sidoarjo, subdialek Surabaya, dan subdialek Tengger, misalnya: tim¬n > tem¬n ‘ketimun’.

c. Adanya leksikon serapan dari bahasa Madura dan Bali, misalnya: r\ng«Ö ‘nyamuk’), ba(wa÷) tem¬r ‘bawang merah’, t«Ö r«t«Ö ‘ranting’ (dari bahasa Madura); «p«k ‘sabuk’, k¿l¿Ö ‘ bisu’, osöng ‘tidak’ (dari bahasa Bali).

d. Adanya leksikon khusus atau pola yang dikenal sebagai merek dialek atau subdialek, misalnya:

dialek Osing: (o)sö÷ ‘tidak’, abya÷merah’, sijai ‘satu‘, sir¿g¿w¿ ‘kaubawa’

subdialek Bojonegoro: -(n)\m ‘-mu’, -l«h ‘-lah’, put«h ‘putih’, s\pul¿h ‘sepuluh’ .

subdialek Gresik: töÖ ‘di-, di’, p¿Ö ‘-lah’, s¬nanaÖ ‘anak saya’ (pola: pronomina posesif mendahului nominanya) , dipek¬l amb«Ö aku ‘saya pikul’ (pola: O1 terletak sesudah kata kerja pasif).

subdialek Rowogempol: r\÷«Ö ‘nyamuk’, t«Ö rat«Ö ‘ranting’

subdialek Surabaya: caÖ ‘kakak laki-laki’, nö÷ ‘kakak wanita

subdialek Tengger: mata ‘mata’, siragawa ‘kaubawa’, manja ‘menanam’

e. Adanya bentuk krama inggil yang dapat digunakan untuk diri sendiri (O1), misal: Kula badhe dhahar ‘Saya akan makan’. Pada dasarnya semua DP mengenal dan menggunakan berian krama walaupun beberapa DP menggunakannya dengan terbatas sekali (1% dan 2%).

d. Deskripsi berian krama menunjukkan bahwa terdapat 312 berian krama dari 829 glos yang ditanyakan. DP yang paling sedikit mempunyai berian krama terdapat dalam dialek Osing , subdialek Gresik, dan subdialek Rowogempol. Adapun DP yang paling banyak mempunyai berian krama adalah daerah masyarakat Samin yang termasuk dalam subdialek Bojonegoro.

Beberapa berian krama yang “tampaknya menggunakan” leksikon bahasa Indonesia ternyata justru banyak menggunakan leksikon Jawa atau Jawa Kuna, bukan bahasa Indonesia. Perbandingan krama dan ngoko antara DP dan dialek standar menunjukkan bahwa apa yang di DP dianggap ngoko, justru merupakan krama dalam dialek standar, atau sebaliknya.

Selain itu, sebagian besar krama di DP ternyata bentuknya lebih panjang daripada bentuk ngokonya.

3. Pengaruh Antarbahasa serta Daerah Relik dan Daerah Inovatif

Bahasa Jawa di Jawa Timur bagian utara dan Blambangan ternyata bersentuhan dan dipengaruhi oleh bahasa lain, yaitu bahasa Madura, bahasa Bali, bahasa Melayu, dan juga oleh dialek lain, yaitu dialek standar.

Pengaruh bahasa Madura tersebar di Jawa Timur bagian timur laut. Sebagai batas paling barat adalah daerah di kabupaten Lamongan dan Jombang. Pengaruh yang kuat terdapat dalam subdialek Gresik, subdialek Mojokerto, subdialek Pasuruan, subdialek Rowogempol, subdialek Sidoarjo, dan subdialek Surabaya, sedangkan pengaruh yang sedang terdapat pada dialek Osing, subdialek Lamongan (sebagian), subdialek Mojokerto, dan subdialek Tengger.

Pengaruh bahasa Bali tersebar di daerah Jawa Timur bagian ujung timur laut, yaitu di daerah dialek Osing.

Pengaruh Bahasa Melayu/Indonesia ternyata menyebar ke hampir semua daerah pengamatan.

Pengaruh dialek standar menyebar pada subdialek Bojonegoro, subdialek Lamongan (sebagian), dan subdialek Banyuwangi Selatan.

Dengan berdasarkan hal ini, dapatlah dinyatakan bahwa dialek Osing yang merupakan dialek tersendiri ini merupakan dialek bahasa Jawa yang dipengaruhi oleh bahasa Madura dan Bali.

Subdialek Gresik , sudialek Rowogempol, subdialek Pasuruan, subdialek Sidoarjo, dan subdialek Surabaya adalah subdialek yang dipengaruhi oleh bahasa Madura. Selain itu, pengaruh bahasa Madura sedikit banyak juga ada dalam subdialek Lamongan (sebagian), subdialek Mojokerto, dan subdialek Tengger.

Subdialek Banyuwangi Selatan dan subdialek Bojonegoro adalah subdialek di Jawa Timur yang dipengaruhi oleh dialek standar.

Adapun subdialek Lamongan adalah subdialek yang dipengaruhi oleh bahasa Madura dan dialek standar.

Selanjutnya, penetapan daerah relik dan daerah inovatif menggunakan dasar penghitungan leksikal dan fonologis. Adapun yang dijadikan patokan bentuk relik ialah bahasa Jawa Kuno (BJK) yang terdapat dalam kamus Zoetmulder (1982). Dalam penghitungan leksikal, ada 128 glos yang digunakan dengan patokan leksem dalam BJK. Penghitungan fonologis menggunakan sebelas macam model yang terdapat dalam deskripsi fonologis dengan patokan bentuk-bentuk dalam BJK.

Dengan berdasarkan penghitungan secara leksikal ternyata daerah yang paling banyak memelihara leksikon yang sama dengan BJK ialah DP 1 (61 berian). Adapun daerah yang paling sedikit memelihara leksikon BJK ialah DP 31,32,33 (41,31,30 berian). Ini berarti, secara leksikal, daerah relik terdapat pada DP 1 sedangkan daerah inovatif terdapat pada DP 31,32,33.

Penghitungan secara fonologis dengan patokan pada leksem dalam BJK dan didasarkan pada 11 model fonologis yang telah dibahas pada bagian deskripsi fonologis menunjukkan bahwa daerah yang paling banyak memelihara bentuk BJK ialah DP 30 (8 macam). Adapun daerah yang paling sedikit memelihara bentuk BJK ialah DP 27 (4 macam). Ini berarti, secara fonologis, daerah relik ialah DP 30, sedangkan daerah inovatif ialah DP 27[2].

Selanjutnya, penentuan daerah relik dan inovatif secara leksikal dan fonologis menggunakan model penggabungan seperti yang terdapat dalam penentuan batas dialek dan subdialek secara leksikal dan fonologis.

Jadi, Dengan berdasarkan penghitungan leksikal dan fonologis dapatlah dinyatakan bahwa daerah relik ialah DP 1 (subdialek Bojonegoro) dan 30 (subdialek Tengger), yaitu daerah masyarakat Samin dan masayrakat Tengger. Kedua masyarakat/ daerah ini memang mempunyai kekhususan dan keunikan tersendiri seperti yang telah dibahas pada BAB II, baik pada masalah tempat yang “cenderung” terisolasi maupun pada masalah budaya setempat yang “cenderung” unik.

Selanjutnya, Dengan berdasarkan penghitungan leksikal dan fonologis, daerah inovatif ialah DP 27,31,32,33. DP 27 (subdialek Sidoarjo) dan 31 (subdialek Rowogempol) ialah DP yang terletak di pesisir yang kedua-duanya merupakan daerah yang terpengaruh bahasa Madura (pengaruh “kuat”). Bahkan DP 31 ialah DP yang merupakan wilayah perbatasan antara bahasa Jawa di sebelah barat dan bahasa Madura di sebelah timur. Adapun DP 32 dan 33 merupakan wilayah dialek Osing.

5. Sejarah dan Keadaan Kebahasaan

Ternyata, keadaan kebahasaan di Jawa Timur saat ini mencerminkan runtutan sejarah yang melatarinya, misalnya:

a. Wilayah dialek Osing adalah wilayah bekas kerajaan Blambangan (Banyuwangi) pada tahap akhir (pusat pemerintahan dari Pang-Pang sudah dipindahkan ke Desa Banyuwangi).

b. Wilayah Banyuwangi Selatan yang merupakan wilayah yang relatif baru, menunjukkan ciri yang sama dengan dialek standar karena masyaraktnya berasal dari Jawa Tengah.

c. Wilayah Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan bagian timur, Banyuwangi bagian utara merupakan wilayah pakai bahasa Madura.

6. Peta Bahasa

Sebagai bagian akhir, berikut ini adalah peta bahasa yang menunjukkan batas bahasa, dialek, subdialek, serta menunjukkan daerah yang terpengaruh bahasa Madura, Bali, dan dialek standar. Dalam hal ini, pengaruh dialek standar dalam tataran “sedang” yang terwujud lewat jumlah berian krama diabaikan. Hal ini disebabkan semua DP pada dasarnya mengenal dan menggunakan berian krama walaupun beberapa DP menggunakannya dengan terbatas sekali (1% dan 2%). Ini berarti pengaruh dialek standar telah merambah ke semua DP, baik dalam tataran “kuat”, “sedang”, atau “kurang”.

Peta 10. Bahasa Jawa di Jawa Timur Bagian Utara dan Blambangan:


Batas Dialek, Subdialek, dan Pengaruh

= daerah relik

= daerah inovatif

7. Evaluasi

Dari berbagai cara pengidentifikasian dialek (berkas isoglos, permutasi, dialektometri) ternyata hasil pengidentifikasian dengan penghitungan dialektometri yang dianggap paling jelas dan paling tepat. Dalam hal ini, penghitungan dialektometri secara fonologis dan leksikal ternyata bersifat saling mendukung. Walaupun demikian, hasil penghitungan dialektometri fonologis tampaknya lebih kuat menghadapi gejala pergeseran dialek daripada dialektometri leksikal. Hal ini disebabkan dialektometri fonologis banyak berurusan dengan sistem atau pola tertentu yang lebih kuat bertahan karena dari satu pola yang terbatas dapat mewujudkan berian yang dimungkinkan tak terbatas. Adapun dialektometri leksikal tampaknya lebih rentan menghadapi pergeseran dialek karena berdasarkan pada penghitungan perbedaan per leksikon.

8. Saran

a. Perlu dilakukan penelitian lanjutan yang merupakan pengidentifikasian dialek/ subdialek bahasa Jawa secara keseluruhan di Pulau Jawa.

b. Instrumen penelitian untuk bahasa Jawa pada masa mendatang perlu dibenahi lagi karena ada beberapa glos yang sudah tidak dikenal lagi dan ada glos yang menimbulkan multitafsir. Beberapa glos yang dapat dilesapkan di antaranya adalah: BAGIAN, RU, KATI, SEJUK, BELIKAT, ISI PERUT, TINJU, TEMBUNI, KAMI, KITA, KAMU SEKALIAN, MEREKA, CUCU SAUDARA KAKEK, BIRAS, NENEK MOYANG/LELUHUR, UMBUT, BUKIT, PEDUPAAN, BUYUNG, LALANDAK, MENYEDUH, MEMBANTING CUCIAN, JAHAT, BAU CABE DIGORENG, HAMBAR.

Di samping itu, instrumen untuk kajian perbedaan morfologis dan sintaksis juga perlu dibenahi.

c. Data tingkat tutur dalam penelitian ini merupakan data sampingan yang disediakan berdasarkan berian para responden yang rata-rata berpendidikan menengah ke bawah. Oleh sebab itu, hasil penelitian ini yang berkaitan dengan tingkat tutur merupakan cerminan dari kondisi masyarakat seperti itu yang merupakan mayoritas di daerahnya. Akan tetapi, untuk dapat menggali lebih dalam lagi dan untuk membulatcermatkan hasil (untuk penelitian lanjutan), diperlukan responden yang berpendidikan lebih tinggi dan berkedudukan terpandang.


[1] Tanda » merujuk pada korespondensi., yaitu perubahan bunyi yang muncul secara teratur. Adapun tanda ~ merujuk pada variasi, yaitu perubahan bunyi yang muncul secara sporadis.

[2] DP 30 secara leksikal juga menunjukkan hasil penghitungan yang tinggi dalam hal kerelikan, walaupun tidak setinggi DP 1. Adapun DP 27 secara leksikal juga menunjukkan hasil penghitungan yang rendah (daerah inovatif), walaupun tidak serendah DP 31,32, dan 33.

1 Comment

  1. Farisi said,

    January 19, 2009 at 6:44 am

    Assalamu alaikum wr. wb.

    Bu Kis, saya sangat awam dalam kajian kebahasaan, apalagi tentang analisis dialektologi. Karenanya, komentar saya cenderung untuk mengajukan beberapa pertanyaan ringan dan beberapa saran demi kenyamanan dalam memahami buah pikir Ibu.

    Pertanyaan
    1. saya ingin penjelasan Ibu tentang aspek-aspek yang membedakan persentase dalam Pemilahan Bahasa dan Dialek antara Guiter dan Lauder (ada perbedaan keduanya sekitar 10%).
    2. apa rasional Ibu menggunakan rumusan Guiter sebagai dasar pemilahan perbedaan itu.

    Saran
    Dalam tulisan Ibu,
    1) ada banyak dikemukakan tentang Peta Kebahasaan, seperti: peta dialektometri leksikal (setelah tabel 3); dialektometri fonologis (setelah tabel 5); peta gabungan leksikal dan fonologis (setelah tabel 7); isoglos leksikal (peta 3); hubungan isolek antar-DP secara permutasi dari timur ke barat (ada 4 peta); Peta 10. Bahasa Jawa di Jawa Timur Bagian Utara dan Blambangan;

    2) ada juga dikemukakan (periksa bab II)….; (bab II),…; seperti yang telah dibahas pada BAB II…;

    Sebagai orang awam, informasi yang agak terpotong-potong sangat menggangu dan menyulitkan pemahaman saya. tetapi, di lain pihak, menjadikan saya lebih tertarik untuk mendalami lebih jauh. Boleh saya belajar tentang hal itu kepada Ibu…???

    Sukses dan tetap semangat ya Bu.

    Salam
    Farisi
    19 Januari 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: