POKOK-POKOK PTK

POKOK-POKOK PTK

Pokok-pokok PTK yang dapat  digunakan sebagai pemandu penyusunan proposal PTK (Kisyani, 2007).

(a) Ada masalah apa di kelas? (bukan kajian teoretis, tapi masalah nyata di kelas Anda)

(b) Tunjukkan bukti-bukti yang mendukung adanya masalah itu

(c) Identifikasilah akar penyebab masalah

(d) Identifikasilah beberapa alternatif tindakan/obat yang dianggap dapat mengatasi akar penyebab masalah (lengkap dengan kelebihan dan kekurangan tiap tindakan)

(e) Tentukan salah satu tindakan yang akan dipilih (secara kajian teori, tindakan itu memang dapat mengatasi masalah). Setelah langkah ini, dapat disusun judul PTK yang mengandung UMOS (urutan dapat dibolak-balik), yakni upaya (misalnya “peningkatan”), masalah, obat (tindakan), dan setting (kelas Anda).

(f) Tentukan indikator keberhasilan tindakan (jika indikator keberhasilan sudah dicapai, berarti siklus PTK sudah selesai).

(g) Susunlah rumusan masalah  dalam bentuk rumusan masalah PTK

(h) Tujuan penelitian disesuaikan dengan rumusan masalah

(i) Manfaat penelitian disesuaikan dengan rumusan masalah dan tujuan

(j) Tinjauan pustaka disusun sesuai dengan rumusan masalah. Selain itu dalam tinjauan pustaka dikemukakan juga bahasan terhadap penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan.

(k) Prosedur penelitian mengikuti prosedur PTK

(l) Jadwal penelitian disesuaikan dengan jadwal sekolah.

(m) Daftar Pustaka harus sesuai dengan catatan pustaka yang ada di bagian dalam

(n) RPP dilampirkan (sesuaikan dengan prosedur penelitian). Satu siklus dapat diwujudkan dalam dua kali pertemuan atau lebih.

(o) Lampiran lain yang perlu.

12 Comments

  1. Farisi said,

    January 6, 2009 at 9:52 am

    Pada prinsipnya, “I just Committed to your thinking about Action Research”. tapi, tentang Tinjauan Pustaka, pendapat saya demikian.

    PTK–dalam pandangan saya–kental dengan nuansa penelitian kualitatif, yang menekankan pada “meaning discovery”. Karenanya, status dan peran “kajian teoretik”, “kajian pustaka”—atau apapun istilahnya—di dalam konteks PTK–seperti juga penelitian kualitatif–tidak selalu dibuat sebagai bagian tersendiri, terpisah. Alasan utamanya, karena hingga kini sejauh yang bisa saya cermati, ada dua pandangan mengenai perlu tidaknya sebuah telaah teoretik atau pustaka di dalam tradisi penelitian kualitatif (termasuk PTK). Satu pihak berpandangan, bahwa telaah teoretik atau pustaka tetap diperlukan dengan argumen dasar bahwa seorang peneliti kualitatif tidak berangkat ke lapangan dalam keadaan kosong, tanpa teori sama sekali. Pihak lain berpandangan, bahwa telaah teoretik atau pustaka tidak diperlukan karena tujuan utama peneliti kualitatif adalah untuk menemukan makna-makna yang dibangun berdasarkan pengalaman subyektif subyek partisipan tentang konsep atau fenomena tertentu. Karena itu, dengan adanya kajian teori dikhawatirkan seorang peneliti sudah terlebih dahulu membangun asumsi-asumsi, hipotesis-hipotesis, jauh sebelum dia turun ke lapangan dan mengumpulkan data, dan melahirkan “bias teori”.
    Dalam tradisi penelitian kualitatif, kajian literatur atau teoretik secara terpisah atau dalam sesi tersendiri sesungguhnya bukanlah suatu kelaziman. Apalagi dalam tipe penelitian inkuiri naturalistik, teori-membumi, atau kajian fenomenologi (PTK tidak termasuk dalam tipe ini, karena di dalamnya ada intervensi skala kecil, tetapi deskripsinya memuat hal itu) yang tujuannya menemukan makna-makna dari perspektif partisipan untuk kemudian menemukan teori-teori hipotesis yang membumi dalam konteks kealamiahan latar penelitian (Creswell, 1994). Sungguhpun demikian, oleh karena dalam tradisi penelitian kualitatif–apapun tipe atau model penelitiannya—peneliti tidak berangkat ke lapangan dalam keadaan “pikiran kosong”. Artinya, seorang peneliti bagaimanapun juga tidak mungkin sama sekali meninggalkan teori di dalam melakukan penelitian. Hanya saja, sejauh hal tersebut dilakukan bukan dengan maksud untuk membingkai secara ketat dan terpola realitas dengan segala fenomena yang terdapat di dalamnya (Lincoln & Guba, 1985; 1987; Kuhn, 2001). Pandangan mutakhir juga menyatakan bahwa kajian teoretik atau kepustakaan sesungguhnya include di dalam latar belakang masalah, sebagai “kerangka permasalahan” untuk mengetahui siapa saja yang telah menulis dan mengkaji permasalahan tersebut, serta yang telah melihat signifikansi persoalan tersebut sebagai obyek kajian (Creswell, 1994:21-22).
    Atas dasar itu, kajian literatur atau teoretik dilakukan oleh peneliti sebatas untuk memperoleh fokus penelitian, baik berdasarkan apa yang mungkin dikerjakan maupun apa yang diminati, sehingga lingkup pengumpulan data bisa dibatasi atau difokuskan. Pembatasan atau pemfokusan data seperti itu, dimaksudkan agar data yang dikumpulkan “tidak sembarang data”, data yang tidak fokus, terlalu kabur, serta tidak cocok dengan maksud dan tujuan penelitian. Bila hal ini terjadi, maka hasil penelitian pun bisa “centang perenang” (Bogdan & Biklen, 1990; Glasser & Strauss, 1967; Guba, 1987; Moleong, 1986; Cresswell, 1994; Kuhn, 2001).

    Penggunaan dan kajian literatur atau teoretik dalam PTK, lebih dimaksudkan sebagai “model pemecah teka-teki” yang bersifat kenyal atau terbuka, tanpa ada upaya untuk “mereduksi atau memaksa” fakta-fakta partikular yang dipandang masih berada di wilayah “anomali” atau belum terjelaskan oleh kerangka teori yang ada, dan selanjutnya memodifikasi teori yang ada agar menjadi lebih baik (Kuhn, 2001). Atau dalam terma Schutzian (Ritzer, 1992:323), tinjauan pustaka, kajian teori, dan semacamnya dimaksudkan sebagai “konstruk lapis-dua” yang berfungsi sebagai “konsep pemeka”—istilah dari Herbert Blumer–yang menjadi stok pengetahuan peneliti, tetapi tidak bersifat “definitif”, serta dipandang memuat struktur makna yang relevan, atau berdayaguna untuk menghampiri fokus permasalahan yang dikaji, memecahkan/memperbaiknya dengan tindakan yang kontekstual.

    Bagaimana pendapat Ibu…???

    Farisi
    26 Januari 2009

    • kisyani said,

      January 6, 2009 at 10:55 am

      Terima kasih, Bapak.
      Pertama: masih terlalu dini untuk bertanggal 26 Januari 2009.
      Kedua: argumen yang Bapak sampaikan bagus, tidak ada masalah. Di mana pun tempatnya (sebagai bagian tersendiri atau dalam bagian latar belakang) dan apa pun namanya asalkan esensinya sama, bukan merupakan masakah. Saya hargai pendapat Bapak. Gunakanlah kekuatan Bapak untuk menulis, meneliti, dan menggapai asa yang sudah di depan mata. Selamat bekerja, selalu bersemangat, dan penuh daya cipta! Semoga sehat selalu.

    • kisyani said,

      January 6, 2009 at 11:22 am

      Terima kasih, Bapak. Bagi saya, hal itu tidak masalah. Apakah kajian pustaka akan berada sebagai bagian tersendiri atau sebagai bagian latar belakang, bukan masalah karena esensi keberadaannya diakui. Selain hal itu, saya menghargai pendapat Bapak yang lainnya. Semoga ini dapat menginspirasi tulisan dan penelitian Bapak selanjutnya. Selamat menulis, meneliti, dan berolah rasa dengan semangat ganda. Gapailah asa yang sudah di depan mata! Semoga sehat selalu.

  2. Farisi said,

    January 7, 2009 at 1:11 am

    Ini kelanjutan komentar saya tentang Buah Pikir Ibu, “Sang Teratai Putih” tentang PTK.

    Kerancuan Konseptual & Metodologis tentang PTK (Refleksi dari Lapangan)

    Saya adalah salah satu di antara sekian banyak mahasiswa Pascasarjana (S2) waktu itu yang menerima mata kuliah PTK pertama kali, tahun 1995. Alhamdulillah, saya adalah mahasiswa pertama di IKIP Bandung (kini UPI) yang bisa menyelesaikan tesis PTK dengan nilai tertinggi. Tesis-PTK saya oleh kedua Pembimbing (Kaprodi dan Sekretaris Prodi PIPS-SD) kemudian dijadikan referensi bagi teman-teman, dan informasinya sampai beberapa angkatan setelah itu (ini cerita dari Prof. Rochiati dan Prof. Suwarma, para pembimbing dan dosen saya). Waktu itu, memang contoh laporan PTK bisa dikatakan sangat langka, dalam versi Bahasa Indonesia.
    Selama sekitar 9 tahun, saya putus hubungan dengan yang namanya PTK. Tetapi, Alhamdulillah, saya diberi kesempatan dan kepercayaan oleh Bu Kis ikut Pelatihan Metodologi PTK dan PPKP di Jakarta. Dalam pelatihan itu pula—kiprah pertama saya dengan PTK, sejak lepas dari Pascasarjana—saya memperoleh skor pre-test dan post-test tertinggi. Saya juga terpilih sebagai peserta dengan proposal terbaik, dan menjadi wakil dari kelompok PPKP untuk mempresentasikan di tingkat kelas/paripurna. Tetapi, kiranya Tuhan berkehendak lain. Saya harus menelan pil kekecewaan, karena proposal itu tidak bisa diterima ketika diajukan ke Dikti untuk untuk periode 2007, karena alasan “Administratif”. Terlepas dari itu semua, pemahaman saya pun tentang PTK-PPKP kian bertambah. Trima kasih ya Bu Kis.
    Setelah itu, Bu Kis pernah pula mengajukan saya untuk menjadi anggota Tim Penilai PTK Dikti. Tetapi dengan beberapa pertimbangan, saya pun harus menerima kenyataan bahwa saya tidak jadi berangkat ke Jakarta, walaupun tiket pesawat sudah dipesankan untuk Saya. Waktu itu saya hanya berucap kepada Bu Kis, “tidak apa-apa Bu, mungkin bukan rejeki saya”. Skali lagi, trima kasih ya Bu Kis, Sang Teratai Putih yang harum semerbak, mekar berseri.
    Dalam perjalanan dan pengalaman panjang saya bergelut dengan PTK hingga kini. Saya banyak berdiskusi dengan sejawat dosen, guru, dan mahasiswa yang saya bimbing—anehnya dengan Bu Kis malah tak pernah—saya menangkap adanya beberapa kerancuan konseptual dan metodologis tentang PTK. Mungkin mereka, dan banyak orang yang ber-PTK tidak menyadarinya.

    Kerancuan pertama, berkaitan dengan “action” atau jenis, model tindakan perbaikan yang perlu dan mungkin dilakukan sesuai dengan konteks permasalahan dan situs pelaksanaan tindakan.

    Dalam hal ini, banyak peneliti yang memilih dan menetapkan tindakan perbaikan, justru sebelum persoalan dan konteksnya dieksplorasi, tentu dengan bukti-bukti empirik-kontekstualnya. Mereka jauh-jauh sebelumnya, sudah memiliki jenis, model atau strategi tindakan perbaikan, yang akan diterapkan sebagai obat atau solusi masalah. Dalam kasus ini, muncullah istilah contextual learning, Jigsaw, STAD, dan semacamnya sebagai strategi perbaikannya. Untuk itu, mereka menjelaskannya dalam latar belakang masalah.
    Refleksi profesional saya mengatakan, bahwa yang mereka rumuskan dalam latar belakang bukan “rasional” atau “alasan kontekstual” yang lahir dari refleksi situasional-kontekstual yang benar-benar teralami. Melainkan, lebih sebagai “rasionalisasi”, alasan pembenaran atas adanya masalah, dan memiliki sedikit atau bahkan tidak sama sekali keterkaitan dengan tindakan perbaikan yang diproposisikan. Singkatnya “obat sudah tersedia” dan “masalah tinggal dicari dan dibuat rasionalsisasinya (bukan rasional)”.
    Dalam kasus ini, saya menangkap kesan, bahwa yang mereka lakukan dengan obat atau tindakan perbaikan tersebut, tidak jauh beda dengan “penelitian eksperimen”, hanya dikemas dan dilabel dengan nama “PTK. Bahwa PTK yang dilakukan tidak ubahnya sebagai upaya untuk uji coba sebuah model, strategi–atau apalah namanya—untuk memperbaiki kinerja attau situasi.
    Kondisi ini, sama ketika orang bicara tentang Penelitian Pengembangan (Research and Development / R&D) atau yang kemudian berkembang menjadi Research, Development, and Development (RD&D). Dalam pandangan saya, antara PTK dan R&D memiliki genealogi yang dekat. Tentu saya tidak bisa jelaskan dalam kolom komentar ini, perlu satu—dua semester untuk pemahaman.
    Kerancuan terjadi, ketika mereka dihadapkan pada pertanyaan “apa atau seperti apa pengembangan model yang telah dihasilkan?” Jawabannya, ternyata adalah “model awal idem ditto dengan model akhir. Alias tidak ada pengembangan”. Ketika saya coba kaji dan pelajari beberapa Disertasi yang umumnya adalah R&D—waktu itu memang lagi menggejala penelitian jenis itu–, yang dilakukan sebatas “uji coba model”, bukan “pengembangan model”. Ketika saya diskusikan masalah ini dengan dosen pembina, beliau pun baru menyadari adanya kekhilafan itu.
    Kembali ke persoalan PTK. Adalah benar bahwa PTK secara konseptual merupakan “a small scale intervension”—intervensi skala kecil, tetapi juga sebagai prosedur penelitian berbasis pada “refleksi-diri”. Bahwa PTK adalah kombinasi antara prosedur penelitian dan tindakan substantif (Hopkins, 1985; 1993). Sebagai prosedur penelitian, penelitian tindakan dicirikan oleh suatu kajian reflektif-diri secara inkuiri, partisipasi-diri, dan kolaboratif terhadap latar alamiah dan atau implikasi dari suatu tindakan. Sementara sebagai tindakan substantif, penelitian tindakan dicirikan oleh adanya intervensi skala kecil berupa pengembangan program pembelajaran dengan memfungsikan kealamiahan latar. Sebagai upaya diri melakukan reformasi atau peningkatan kualitas tindakan dan iklim sosial kelas selama pengembangan pembelajaran berlangsung (Cohen & Manion, 1990; Hopkins, 1985; 1993: McNiff, 1992; Madya, 1994).
    Mungkin konsep-kombinatif inilah yang kemudian menjadi rancu dalam penerapannya, tanpa banyak yang menyadarinya. Aspek refleksi-diri atas “situasi-konteks-alamiah” atau lebih keren lagi, ‘ke-membumi-an’ (grounded) tindakan atas realitas, konteks, sebagai salah satu prinsip dasar PTK, menjadi terabaikan. Seperti kasus RD&D, PTK pun akhirnya terjebak dalam “uji coba model, strategi, obat, dan semacamnya”.

    Kerancuan kedua. PTK dan paparan angka, persentase, tabel, dan semacamnya.

    Dalam kasus ini, peneliti lebih mengutamakan paparan angka, persentase, tabel, dan semacamnya, yang kesan saya ”fantastik, hebat”. Tetapi kering, miskin dengan deskripsi situasi-konteks-tindakan yang telah dilakukan, apa kendala, hambatan yang dihadapi pada setiap siklusnya. Tampaknya, bagi peneliti PTK, paparan angka, persentase, tabel, dan semacamnya, sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa ada peningkatan, “dengan sedikit deskripsi”, atau dalam istilah metodologi penelitian sekadar dilakukan “deskripsi dan inferensi di balik angka”, tanpa pemaknaan situasional-kontekstual-alamiah terhadap apa, mengapa, dan bagaimana tindakan perbaikan itu bekerja mengatasi masalah yang dihadapi, apa kendala, dst., siklus per siklus, yang sesungguhnya menjadi esensi laporan PTK.

    Kerancuan ketiga. PTK dan kriteria-target ketercapaian tindakan.

    Dalam kasus ini, banyak ditemukan laporan PTK tak ada/jelas kriteria dan target ketercapaian tindakan yang telah dilakukan, atau apa indikator keberhasilan tindakan. Tampaknya, “yang penting ada peningkatan, PTK berhasil”, berapa besar/tinggi peningkatan terjadi “no problem”. Kalaupun ada dikemukakan, juga tidak jelas apa dasar penentuan kriteria dan target ketercapaian tindakan tersebut.
    Sebagai urun-pikir, setidaknya ada tiga pertimbangan dasar untuk sampai pada keputusan tentang suatu kriteria dan target ketercapaian tindakan.
    (1) kemampuan awal para subyek penelitian untuk melakukan atau mencapai peningkatan menuju kriteria dan target ketercapaian tindakan yang ditetapkan. Ini sama dengan pertanyaan ”seberapa tahan, adaptif, dan mampu si pasien menuju tingkat penyembuhan yang diharapkan dirinya atau Dokter?”.
    (2) daya ubah atau perbaikan model, strategi, teknik yang digunakan sebagai jenis tindakan perbaikan yang digunakan. Ini sama dengan pertanyaan ”seberapa kuat, ampuh, dan hebat obat yang diberikan si Dokter mampu menyembuhkan si pasien, sesuai dengan kondisi awal si pasien?”
    (3) kapabilitas dan keterampilan peneliti, sekaligus sebagai pelaku menggunakan model, strategi, teknik perbaikan. Yang ketiga ini berkaitang dengan kebiasaan, kepakaran sang agent of change. Ini sama dengan pertanyaan ”seberapa profesional atau ahli si Dokter meracik dan menggunakan alat/obat dan menginterpretasi hasilnya”. Antara yang pemula, menengah, dan ahli tentu tidak sama, sehingga dampak yang dihasilnya pun berbeda. Demikian pula kriteria dan target keberhasilannya, tentu beda.

    Ini saja komentar saya—tampaknya ini bukan komentar, tapi urun-pikir—boleh kan Bu Kis? Terima kasih.

    Surabaya, 7 Januari 2009
    Farisi

    • kisyani said,

      January 7, 2009 at 12:18 pm

      Terima kasih, Bapak.
      Senang sekali dapat berdiskusi dengan Bapak. Pada prinsipnya saya setuju dengan apa yang Bapak sampaikan. Saat ini R&D mulai bangkit lagi loh, silakan mengembangkan pemikiran-pemikiran itu. Bahkan tadi saya baru saja membalas comment yang menginginkan hal itu di blog ini, silakan memberi masukan. Selain itu, ada pula beberapa hal yang dapat saya sampaikan.

      Kerancuan pertama tidak perlu terjadi jika masalah digali sampai ke akar masalahnya, tentu dengan bukti-bukti empirik-kontekstualnya (cf. Ada masalah apa di kelas?–bukan kajian teoretis, tapi masalah nyata di kelas Anda–; Tunjukkan bukti-bukti yang mendukung adanya masalah itu!; Identifikasilah akar penyebab masalah!). Adapun tindakan yang bermakna adalah tindakan yang inovatif (tidak harus tindakan yang sudah tersedia yang seolah-olah menjadi semacam balsem: satu obat/tindakan yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit). Tindakan inovatif itu betul-betul merupakan pilihan dari identifikasi beberapa alternatif tindakan yang dianggap dapat mengatasi akar penyebab masalah (lengkap dengan kelebihan dan kekurangan tiap tindakan).

      Kerancuan kedua dapat dijelaskan dengan jabaran bahwa paparan angka, persentase, tabel, dan semacamnya bukan satu-satunya bukti teguh. Bukti dapat pula berupa deskripsi keadaan yang nyata di lapangan (tidak harus berwujud angka). Oleh sebab itu, saya setuju bahwa deskripsi situasi-konteks-tindakan yang telah dilakukan, kendala, hambatan yang dihadapi pada setiap siklusnya perlu diulas khususnya dalam refleksi-awal, perencanaan, dan refleksi. Bahkan tim kami (di Dikti) lebih menghargai adanya bukti dan target keberhasilan yang bukan berwujud angka.

      Kerancuan ketiga tertepiskan jika indikator keberhasilan tindakan jelas dan dapat terukur. Penentuan indikator keberhasilan tindakan juga harus berdasarkan pola pikir ilmiah (bukan sekadar menentukan), sama seperti yang Bapak sampaikan dalam no (1) s.d. (3).

      Terima kasih untuk semua bernas pemikiran yang kita diskusikan. Semoga diskusi ini bermakna untuk memajukan anak bangsa.

      Semoga sehat selalu.

  3. dewi said,

    January 7, 2009 at 1:59 am

    Assalamualaikum wr.wb. Alhamdullilah meski baru dan comment yang tampil baru dari pak farisi, di blog ini saya menemukan pemikiran yang luar biasa. terkait dengan tulisan pak Farisi di atas Bu, dengan adanya perbedaan target keberhasilan PTK di atas, di mana saya menangkap dokter spesialis tentu obatnya lebih manjur dibanding dokter umum, apa yang mejadi dasar batasan target keberhasilan pada tiap-tiap dokter itu Bu? kapan pemberian obat dihentikan? jika dalam batasan waktu tertentu, ternyata obat tidak mampu menyembuhkan, bahkan memperburuk keadaan pasien dengan kata lain terjadi kesalahan diagnosa penyakit apa yang harus kita lakukan? mohon penjelasan Bu Kis, Maklum pemula jadi banyak hal yang berputar-putar dan membuat kepala pusing meski mungkin itu sepele. satu lagi Bu, mohon untuk penelitian pengembangan bisa ditampilkan di blog ini. terimakasih

    • kisyani said,

      January 7, 2009 at 11:38 am

      Wow, terima kasih untuk masukan Ibu.
      Pertama, target keberhasilan harus sesuai dengan masalah yang ada. Indikatornya ditentukan oleh pendidik lewat pengenalannya terhadap karakteristik peserta didiknya dan prediksi pencapaian target itu dalam waktu tertentu. Oleh sebab itu, tindakan dapat saja berbeda untuk masalah yang sama (karena peserta didik punya karakteristik yang berbeda). Peserta didik dengan kemampuan dalam batas “kurang”, misalnya, indikator keberhasilannya tidak harus selalu “baik”. Indikator dapat saja ditetapkan untuk batas “cukup” (sangat bergantung pada situasi dan kondisi yang melingkupinya).
      Selain itu, pada saat pendidik menentukan indikator keberhasilan tindakan, harus ada alasan secara ilmiah mengapa indikatornya seperti itu. Pendidik juga harus dapat menunjukkan keterukuran indikatior keberhasilan tersebut.. Pemberian tindakan dihentikan jika indikator keberhasilan tindakan telah tercapai.
      Jika tindakan tidak mampu mengatasi masalah, berarti pasti ada kesalahan diagnosis. Yang perlu dilakukan adalah pengakuan jjujur bahwa terjadi kesalahan diagnosis sehingga terjadi kesalahan pemberian tindakan.
      Ibu yang baik, tahu tidak? Jika banyak hal yang berputar-putar di kepala dan membuat kepala pusing, itu berarti langkah awal untuk maju menjadi yang lebih baik. Selamat, ya.
      Penelitian pengembangan… Insya Allah akan saya tambahkan.
      Salam manis, semoga sehat dan sukses selalu.

  4. Farisi said,

    January 11, 2009 at 4:58 am

    Alhamdulillah. Trima kasih Bu Dewi telah meramaikan ”bursa buah-pikir” Bu Kis. Ini indikasi lain bahwa Sang Teratai Putih, memang menggoda dan mempesona. (Eiit……jangan narsis dulu ya Bu). Trima kasih pula komentar Bu Dewi atas urun-pikir saya (mudah-mudahan saya tak ikut-ikutan narsis karenanya, hee……). Tentang penelitian pengembangan, tunggu tambahan dari Bu Kis ya…. sebab, kalau saya kasih masukan duluan, entar kualat, haa………. (aturan mainnya kan memang begitu ya Bu Kis???)

    Oh ya Bu Dewi, benar pula kata Bu Kis, ”jika banyak hal yang berputar-putar di kepala dan membuat kepala pusing, itu berarti langkah awal untuk maju menjadi yang lebih baik”. Tetapi, kalau pusing kepalanya tak berhenti-berhenti, jangan tunggu lagi, cepat bawa ke dokter. Itu bukan awal menuju baik, tapi malah bawa petaka…(semoga tidak ya Bu..!).

    Untuk Bu Kis, trima kasih juga, tuk kesempatan berdiskusinya, yang selama ini memang hampir-hampir tak pernah dilakukan. Kenapa ya Bu…..???
    Selain itu, ada beberapa comments buat Ibu, yakni tentang : (1) waktu penghentian tindakan; (2) kesalahan diagnosis. Mudah-mudahan comments saya dapat juga menambah wawasan Bu Dewi tentang PTK (mudah-mudahan Bu Dewi tidak tambah pusing).

    1) Waktu Penghentian Tindakan

    Saya tidak keberatan dengan Ibu, bahwa ”jika indikator keberhasilan tindakan telah tercapai, pemberian tindakan dihentikan”. Namun, ada tiga hal yang perlu saya kemukakan, agar tidak terjadi salah persepsi.

    Pertama, saya sendiri lebih save menggunakan kriteria “jika telah diperoleh/didapat hasil yang terbaik, atau paling mendekati indikator keberhasilan tindakan yang ditetapkan”. Ini untuk menghindari terjadinya ”manipulasi data”, sebagai akibat adanya keharusan/tuntutan dan keinginan menggebu mencapai indikator keberhasilan. Seperti yang sering saya temukan dalam banyak kasus penelitian kuantitatif (maaf, peneliti juga manusia, bisa berbohong, sekalipun kejujuran ilmiah sering diucapkan).

    Kedua, perlu ada batasan waktu minimal/maksimal, berapa kali sebuah siklus tindakan bisa dihentikan. Tanpa adanya batasan ini, saya khawatir akan terjadi kesalahan metodologis, seperti yang sudah saya kemukakan dalam komentar sebelumnya.
    Bisa jadi, dalam satu kali siklus tindakan perbaikan saja sudah berhasil, indikator keberhasilan tercapai. Kalau hanya satu siklus—sekalipun mungkin indikator keberhasilan tercapai–, menurut saya itu bukan PTK, karena tak ada siklus-berkelanjutan. Bukankah, salah satu karakteristik PTK adalah adanya proses “siklus-berkelanjutan (continual cycle)”. Bisa jadi juga, siklus tindakan akan panjang, memakan waktu lama. Bila ini terjadi, tentu akan mengganggu siklus pembelajaran yang sudah dijadwal oleh guru dalam silabus sekolah (masalah ini juga banyak disoal guru dalam berbagai pelatihan yang saya isi).
    Terhadap persoalan ini, memang ”one can give no firm answer to this”, ”one can not legislate for this”. Namun, normalnya, setidak-tidaknya tiga atau empat siklus tindakan, pemberian tindakan bisa dihentikan, sebelum kita mengatakan bahwa indikator keberhasilan tindakan sudah benar-benar tercapai, dan/atau dampak dari tindakan perbaikan benar-benar efektif dan memuaskan. Kecuali, bila peneliti sudah terbiasa/mahir dan/atau bekerjasama dengan pihak luar yang sudah ahli, minimal bisa dua siklus tindakan saja (Elliott, 1993:85; cf. Tim FKIP-UT, 2008:39). (nb. satu siklus lebih dari satu pertemuan tatap muka).
    Yang penting dicatat dalam hal ini, adalah bahwa jumlah siklus tidak bisa/boleh ditentukan sejak awal penelitian. Seperti halnya, dokter juga tidak bisa secara pasti menentukan bahwa pasien akan sembuh setelah sekian kali terapi/pengobatan. Untuk sekadar prediksi, mungkin tidak salah, namun realisasinya gunakan prinsip ”panta rei”, biarkan air mengalir hingga mencapai muara.

    Ketiga, perlu ada ketegasan tentang makna ”keberhasilan” itu sendiri. Dalam pandangan saya, ini sangat esensial dan kritis, karena berkaitan erat dengan persoalan yang selama ini menghantui PTK (tak usah takut, ini bukan hantu beneran loh Bu), yaitu soal ”validitas PTK”. Karena, berbeda metodologinya, beda pula ukuran, dan validitasnya, serta cara memperolehnya. Dalam historiografi PTK, persoalan ini populer sebagai ”Erzberger’s Dilemma” (Dana & Lunetta, 1994).

    Dalam PTK, validitas PTK mencakup dua hal, yaitu validitas proses dan validitas hasil–keberhasilan atau ketercapaian indikator perbaikan. Untuk memperoleh kedua validitas tersebut, dapat dilakukan dengan beberapa cara berikut.

    (a) proses dan hasil harus diperoleh dan dilakukan secara ”within context”. Bukan oleh orang/peneliti luar yang sama sekali tidak tahu konteks tindakan. Ini berkaitan dengan ”face validity” dalam PTK (Lather, dalam Feldman, 1994). Bahwa validitas PTK, hanya diperoleh dari dan oleh mereka yang benar-benar berhadapan, mengalami, dan mengumpulkan data langsung dari situasi-konteks-tindakan. Noffke (1991) mengkonsepsikan hal ini sebagai ”epistemic privilege”, yaitu bahwa pengetahuan hanya memiliki kebenaran dan validitas, jika diperoleh dari pengalaman langsung (experiential knowledge), atau pengetahuan yang diperoleh dari ”being there”, ”You’ve been there. You know”.
    Oleh karena situasi-konteks-tindakan bukan privilege seseorang dan bersifat multi-perspektif, maka face-validity pun tidak bisa dicapai dan/atau hanya ditentukan oleh seseorang, tidak juga oleh otoritas guru sebagai peneliti semata. Face validity harus melibatkan orang lain (siswa dan pengamat). Mereka lah subjek yang benar-benar berhadapan, mengalami, dan mengumpulkan data langsung dari situasi-konteks-tindakan. Keterlibatan ketiga subjek dalam PTK ini, kemudian memunculkan metode ”triangulasi”, yakni amatan langsung atas situasi-konteks-tindakan dari berbagai sudut pandang atau perspektif, untuk saling dibandingkan dan/atau dipertentangkan, hingga dicapai sebuah ”konsensus” tentang apa yang benar-benar terjadi, tentang ada tidaknya perubahan atau tercapai tidaknya indikator keberhasilan dalam ”situasi-konteks-tindakan”.
    Dengan pernyataan ini, saya ingin mengemukakan, bahwa kesahihan PTK, bukan terletak pada instrumentasi, seperti dalam penelitian eksperimen. Apapun instrumen penelitian yang digunakan, asal sesuai dengan situasi-konteks-masalah-tindakan, it’s OK. Tapi yang esensial adalah refleksi, interpretasi, dan pemaknaan oleh para subjek dalam paradigma ”multiple perspective from within context”.

    (b) ketercapaian indikator sebagai ukuran keberhasilan tindakan, harus benar-benar dimaknai sebagai ”learn to do it better and gain a better personal understanding of what it is the do and the situation within which they do”. Indikator bukan sekadar untuk diuji dan dibuktikan sebagai ”hipotesis tindakan” (jangan terjebak dengan jargon-jargon positivistik). Masalah kedua ini, berkaitan dengan ”catalytic validity” dalam PTK (Lather, dalam Feldman, 1994). Bahwa indikator keberhasilan tindakan hakikatnya ”represents the degree to which the research process re-orients, focuces and energizes participants toward knowing reality in order to transform it”. Bukankah PTK berkaitan dengan peningkatan profesionalisme guru, berkaitan dengan kemampuan guru memperoleh pemahaman baru, mengambil keputusan dan bertindak secara inovatif dalam mengatasi persoalan yang dihadapi dan meningkatkan kinerja profesionalnya dalam praktik?
    Dalam makna seperti ini pulalah, maka hasil PTK—seperti juga metode penelitian lain—bisa memberikan kontribusi secara kritis-reflektif pada proses perkembangan ilmu. Mengutip pandangan Hopkins (1985; 1993), melalui PTK, guru sebagai peneliti diharapkan mampu melakukan ”theorizing approaches theory through practice, that developed from classroom, from actual classroom experiences, by engage in reflecting systematically and critically on practice”. Bukankah ini juga menjadi salah satu tujuan dari semua penelitian, ilmu-teoretik dan/atau ilmu-praktik??? Kesadaran peneliti PTK terhadap persoalan ini—sejauh saya bisa cermati—masih jauh, dan belum menjadi horison. Bagaimana komentar/pendapat Ibu??

    (c) kestabilan pencapaian indikator keberhasilan
    Seperti sudah saya kemukakan dalam komentar sebelumnya, PTK sekalipun mengandung intervensi skala kecil, tidak dikenal adanya “pengendalian situasi-konteks”, seperti dalam penelitian eksperimen. Implikasinya adalah, bahwa ketercapaian indikator-indikator keberhasilan sebagai dampak pemberian tindakan, dalam pandangan saya, tidak dengan sendirinya bermakna ”pemberian tindakan bisa dihentikan”, seketika, pada saat itu juga—terserah apa setelah dua, tiaga, atau empat siklus tindakan. Validitas PTK juga mensyaratkan adanya ”stabilitas/normalitas pencapaian indikator keberhasilan”. Sehingga, hasil yang dicapai bukan karena adanya pemberian tindakan, sebagai bentuk intervensi skala kecil atas kealamiahan situasi-konteks-tindakan semata. Melainkan, sungguh terjadi, tercapai secara natural, secara alamiah (natural changes). Dalam kaitan ini lah, PTK menekankan perlunya stabilisasi hasil tindakan, melalui teknik ”saturasi”, guna memperoleh ”data jenuh” (data redundance).
    Melalui teknik saturasi ini, peneliti akan melihat ada tidaknya variansi di dalam frekuensi dan distribusi fenomena hasil tindakan, pada siklus-siklus setelah peneliti mengatakan ”indikator sudah tercapai”?; atau ada tidaknya ”data baru/tambahan yang diperoleh setelah peneliti mengatakan ”indikator sudah tercapai”?. Singkatnya, saturasi adalah detektor untuk memastikan bahwa tak ada lagi perubahan atau data tambahan pasca pencapaian indikator (semakin meningkat dan/atau malah semakin menurun) untuk sampai pada simpulan bahwa ”action has been established”.

    Maksudnya demikian, jika peneliti setelah dua, tiga, atau empat kali siklus tindakan, menemukan bahwa ”indikator telah tercapai” dalam situasi stabil, tidak ada lagi variansi di dalam frekuensi dan distribusi fenomena, atau tidak ditemukan data baru/tambahan lagi yang dipandang signifikan—dalam pengertian tidak semakin meningkat dan/atau tidak semakin menurun—, maka ”pemberian tindakan bisa dihentikan”. Sebaliknya, jika situasi ”jenuh” itu tidak terjadi, maka ketercapaian indikator keberhasilan tindakan masih dalam situasi ”labil”, ”belum stabil”. Jika demikian, maka secara epistemologis dan metodologis, belum bisa disimpulkan secara pasti bahwa”indikator sudah tercapai”, dan karenanya ”pemberian tindakan tidak bisa dihentikan”. Sebab, dikhawatirkan, jangan-jangan hal itu hanya sebagai dampak-kejut dari intervensi skala kecil yang dikenakan dalam kealamiahan situasi-konteks. Bukan perubahan atau peningkatan yang sungguh-sungguh terjadi, tercapai secara natural, secara alamiah (natural changes).
    Singkatnya, penghentian pemberian tindakan baru dilakukan setelah tercapai stabilitas dampak tindakan (tidak menaik dan/atau menurun), sejak peneliti mengatakan ”indikator telah tercapai”. Bagaimana Bu Dewi, semakin pusing ya……..!!!

    2) Kesalahan Diagnosis
    Ketidaktercapaian indikator keberhasilan tindakan atau ketidakmampuan tindakan perbaikan mengatasi masalah, dalam pandangan saya, ”tidak niscaya karena kesalahan diagnosis”. Kesalahan diagnosis bukanlah satu-satunya (bukan pasti) penyebab ketaktercapaian indikator keberhasilan atau ketaktersesaian masalah. Tapi, saya setuju dengan Ibu, kalau pun terjadi salah diagnosis, ”harus ada pengakuan jujur dari peneliti bahwa telah terjadi kesalahan diagnosis sehingga terjadi kesalahan pemberian tindakan”.

    Seperti sudah saya kemukakan dalam komentar pertama, PTK bukan penelitian eksperimen, sekalipun di dalamnya ada intervensi skala kecil. PTK harus dilakukan dalam situasi-konteks kealamiahan latar penelitian, yaitu “pedagogic settings”.
    Dalam konteks kealamiahan situasi-konteks ini, maka di dalam PTK tidak dikenal adanya “pengendalian situasi-konteks”, seperti dalam penelitian eksperimen. Dalam pengertian seperti itu, maka dalam latar pedagogis PTK, perilaku-perilaku kemanusiaan saling-gayut (psikologis, sosial, dll) yang bisa diprediksi, dengan diagnosis dalam berbagai derajat ketepatan atau kepastiannya. Tetapi, tak sedikit pula perilaku dalam latar pedagogis yang kreatif, dinamis, dan tak terprediksikan, sekalipun telah dilakukan diagnosis secara tepat/pasti oleh ahlinya.
    Kita tentu banyak mendengar kasus dalam dunia kedokteran, seorang dokter ahli pun (bahkan tim dokter ahli) sering dibuat terkejut oleh situasi-kondisi pasien yang “seketika/tiba-tiba” menjadi lebih tidak stabil, dengan pemberian obat atau suntikan, atau apalah namanya. Padahal dalam penanganan pasien tidak ditemukan adanya salah prosedur, atau salah diagnosis. Situasi pedagogis, seperti juga tubuh manusia adalah sebuah “sistem kompleks-dinamis”. Di dalamnya, banyak “anomali”, yang tidak bisa terjelaskan secara lengkap dan memuaskan oleh disiplin ilmu yang ada, semapan apapun ilmu tersebut (deskriptif, eksplanatif, prediktif, dan/atau preskriptif).
    Dengan realitas ini, saya hendak mengatakan bahwa, ketakberhasilan tindakan, bukanlah karena salah diagnosis semata—walaupun itu sangat mungkin terjadi. Melainkan, juga karena memang latar pedagogis sebagai situs pemberian tindakan yang sangat kompleks, dinamis, penuh anomali, yang tak seluruhnya bisa diprediksi, dan bisa disusun rencana tindakan perbaikan yang “final/fixed”; dan karenanya pula, kriteria keberhasilan “secara linear” bisa dicapai.
    Dalam teori PTK, bahwa apapun model, teknik, strategi, atau obat penyembuhan (tindakan perbaikan) yang diberikan, bukan lah ”the final/fixed” model, teknik, strategi, atau obat; bukan panacea—obat segala macam penyakit. Ia hanyalah sebatas hasil interpretasi terhadap temuan refleksi-awal tentang kemungkinan tindakan perbaikan “terbaik” yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah. Dalam perjalanan siklus ke siklus, sangat terbuka kemungkinan terjadinya “perbaikan atau revisi” terhadap model, teknik, strategi, atau obat. Sehingga, diperoleh “hasil terbaik” yang mendekati indikator keberhasilan tindakan yang ditetapkan.

    Demikian beberapa pandangan sebagai urun-pikir tentang PTK. Mudah-mudahan komentarnya tidak terlalu banyak.

    Farisi
    11 Januari 2009

    • kisyani said,

      January 11, 2009 at 6:47 am

      Terima kasih, Bapak. Lumayan panjang, bisa digunakan sebagai bahan untuk buku PTK, bagaimana?

      Semoga sehat selalu.

  5. Farisi said,

    January 12, 2009 at 8:09 am

    nah…, sekarang Ibu yang berlebih-lebihan. Apa yang saya kemukakan sebatas ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang PTK. Kalu Ibu mau gunakan itu sebagai bahan untuk buku PTK yang Ibu susun, Alhamdulillah. itu suatu kehormatan bagi saya. Silakan saja Bu, apa yang Ibu anggap baik, saya OK OK saja. Ingat sms saya…khan. “whatever, whenever, I will do the best for you. I promise you, my white lotus.

  6. dewi said,

    January 17, 2009 at 7:48 am

    ass.wr.wb waduh ketinggalan banyak Pak, Bu maklum di daerah, mana server di tempat kerja agak trouble. makasih buat bapak dan ibu, biar tambah pusing alhamdullialh khasanah pengetahuan bertambah Pak tidak sekedar berputar pada pertanyaan apa dan bagaimana tanpa alternatif jawaban yang jelas dari pemikir-pemikir hebat seperti bapak dan ibu yang ada di sini. Bu Kis, kapan penelitian pengembangannya bu? Terimakasih penjelasan yang di kelas kemarin, dunia jadi terang tidak lagi gelap tentang perbedaan penelitian-penelitian di lapang jadi pusingnya berkurang🙂.
    O ya Bu, ada titipan dari rekan-rekan untuk membahas metode penelitian pengembangan lebih jelas dan lebih detil lagi karena dulu pada saat ada pengantar penulisan karya ilmiah di semester 1 kita belum mendapat gambaran yang jelas tentang metode. Satu lagi Bu karena penelitian di Unesa tercinta adalah penelitian pengembangan gado-gado, saya lebih suka menyebut penelitian pengembangan plus mana yang harus kita ikuti bu kembali ke jalan yang benar atau ikut arus? apakah produk penelitian pengembangan itu harus selalu bisa mengatasi penyakit seperti halnya di PTK ? Menurut penjelasan ibu yang kemarin saya menangkap bahwa ketika semua validator sudah OK maka itu bisa jadi produk akhir yang siap dilempar di pasar padahal banyak juga produk yang dilempar ke lapangan itu tidak diterima di masyarakat karena ketahuan kelemahnannya kalau sudah demikian sebenarnya apa yang salah dari pengembangan itu? apakah karena alat penilaian yang kurang valid, validator yang tidak sesuai atau desain produk yang memang jelek? Tolong dijelaskan hari selasa ya bu makasih semoga sehat dan sukses selalu🙂

  7. Farisi said,

    January 19, 2009 at 6:20 am

    Ooo.., jadi Bu Dewi adalah mahasiswa Bu Kis yaa…selamat lah. Belajar yang tekun, sabar, dan yang penting, simak dan renungkan butir-butir pemikiran dari beliau. Nah, itu baru siswa yang baik dan teladan. Jangan meniru saya, kata Ibu Kis, saya ini anak nakal dan…bandel. makanya gak pinter-pinter, haaa…….Bu Dewi saya sangat senang bisa berdiskusi dengan Ibu dan Bu Kis, walaupun tidak banyak yang dapat saya sumbangpikirkan.

    Bu Dewi, kayaknya Bu Kis lagi sibuk amat-sangat-sekali, makanya belum sempat kasih tambahan komentar tentang penelitian pengembangan, atau…Ibu sudah lupa tuh sama Blogwebnya. Sudah agak lama beliau tak buka webnya……dan kasih komentar. Untuk Bu Kis, maafkan saya, anakmu yang nakal ini memberikan komentar mendahului Ibu. Saya tak sampai hati pada Bu Dewi yang sudah dua kali minta penjelasan tentang hal ini. Maaf, ya Bu, jangan marahi saya. Kalau pun marah…harus sambil tersenyum ya…

    Bu Dewi, sebagai bahan awal, saya akan mendiskusikan tentang dua hal, yaitu: “pengertian model” dan “wilayah pengembangannya”.
    Dalam komentar ini, model saya gunakan dalam berbagai pengertian, yaitu: (1) model analisis-konseptual-teoretik; (2) model prosedural-sintaks; dan (3) model spesifikasi-produk.

    Pengertian Model
    1) model analisis-konseptual-teoretik, adalah sebuah kerangka berpikir, paradigma, atau mind-set yang bisa digunakan untuk keperluan menganalisis dan memecahkan berbagai persoalan secara konseptual/teoretik. Contoh model analisis-konseptual-teoretik, di antaranya: (a) analisis dialektika (tesis-antitesis) yang sukses digunakan Pritjof Capra, Thomas P. Huntington, dan Francis Fukuyama, dalam kajian peradaban; Karl Marx dalam kajian ekonomi dan ideologi; Thomas S Kuhn, dalam kajian epistemologi; (b) analisis simbolik oleh Clifford Geertz, dalam kajian budaya; (c) analisis dialektologis dalam kajian bahasa yang juga ditunjukkan oleh Ibu Kis dalam blogwebnya; (d) wacana, framing, dan semiotik dalam kajian teks; (e) analisis taksonomik dari Bloom dan Krathwohl untuk kepentingan perumusan tujuan dan evaluasi pendidikan/pembelajaran; (f) analisis ekologi budaya oleh Julian Steward yang digunakan oleh Clifford Geertz dalam kajian sosiologi pertanian; dll.

    (2) model prosedural-sintaks, adalah sebuah analog konseptual yang menyarankan bagaimana sebuah desain, proses, atau perangkat selayaknya dilakukan/digunakan. Model model prosedural-sintaks juga dapat diartikan sebagai sebuah struktur konseptual tentang desain, proses, atau perangkat yang dapat membantu memberikan bimbingan atau arahan kepada pelaksana di dalam mengelola dan mengembangkan desain, proses, atau perangkat, agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan secara efektif. Contoh model prosedural-sintaks di antaranya: model-model pembelajaran seperti: STAD, Jigsaw I dan II; TGT; dll. Sebuah model prosedural-sintaks, setidak-tidaknya memiliki empat komponen utama yaitu: tujuan umum (common goals), prosedur dasar, aplikasi model, dan dampak langsung dan sampingan (Joyce & Weil, 1986).

    (3) model spesifikasi-produk, adalah hasil, produk, atau wujud nyata dari model prosedural-sintaks. Hasil atau produk bisa dalam bentuk software atau hardware. Advance Organizer dari Davil Ausubel, atau Modul UT untuk bahan ajar, adalah sebagian contoh dari model spesifikasi-produk.

    Ketiga pengertian model ini bisa dikembangkan untuk berbagai kepentingan, seperti untuk: (1) desain (kurikulum, pembelajaran, media, evaluasi, dll); (2) bahan/materi (pembelajaran, evaluasi, dll); (3) model (pembelajaran, kurikulum, evaluasi, media–hardware dan/atau software); perangkat latihan/pelatihan (training kit), dll. Ibu bisa kembangkan spesifikasi-spesifikasi yang lain.

    Wilayah Pengembangan Model
    Bila kita cermati, ketiga jenis model di atas saling berkaitan, dan satu dengan yang lain bersifat berkelanjutan. Maksudnya, model paling awal adalah model analisis-konseptual-teoretik; dikembangkan lagi menjadi model prosedural-sintaks; dan akhirnya menjadi model spesifikasi-produk. Jika digambarkan sebagai berikut:

    model analisis-konseptual-teoretik (model I)—>model prosedural-sintaks (model II)—>model spesifikasi-produk (model III)

    Dengan demikian, dalam pemahaman saya, wilayah pengembangan yang bisa dijadikan substansi dalam penelitian pengembangan, ada pada masing-masing model (model I, II, atau III). Selain itu, wilayah pengembangan lain yang masih bisa dan terbuka untuk dieksplorasi melalui penelitian pengembangan adalah wilayah ”pra model I”. Sejauh yang saya ketahui, wilayah ini belum banyak digarap. Selain memang sulit, juga proses penelitian dan pengembangannya relatif lebih lama dibandingkan pada wilayah model I, II, dan III. Kesulitan terjadi, pada tingkat penguasaan secara utuh dan komprehensif terhadap teori yang akan dikembangkan menjadi model I. Karena, model I pada dasarnya adalah sebuah model yang dikembangkan dari satu atau beberapa model yang berada dalam satu rumpun. Dalam konteks pengembangan teori menjadi model I peran PTK sangat penting.

    Demikian komentar awal dari saya tentang penelitian pengembangan (sekarang telah dikembangkan menjadi Penelitian, Pengembangan, dan Disseminasi (RD & D). Semoga bermanfaat

    Farisi
    19 Januari 2009


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: