Taksi online dobel

Taksi Online Dobel, 24 November 2017
Pagi hari dari salah satu hotel di kamar 715 sebelum turun, aku memesan taksi online ke bandara. Alhamdulillah cukup mudah mendapatkan satu taksi yang akan datang dalam 5 menit lagi. Aku bergegas ke bawah menuju lobi. Di lobi, sahabatku sudah menunggu. Sambil mengurus check out hotel kusampaikan kepada sahabatku bahwa aku sudah memesan taksi online. Ternyata beberapa menit lalu dia pun juga sudah memesan taksi online.

Kubaca nama pengemudi yang tertera, nama X pun kusebut dengan jenis mobilnya. Tidak disangka, sahabatku pun menyebut nama yang sama dengan jenis mobil yang sama, Ertiga. Pandangan kami pun menembus kaca lobi ke luar dan melihat mobil jenis itu masuk ke halaman hotel di depan lobi. Kami pun bergegas ke luar menghampiri dan menyampaikan hal itu. Pengemudi dengan sigap menyampaikan bahwa kami tidak perlu membatalkan pesanan.
Sahabatku memesan dengan bayar tunai, aku memesan dengan bayar online (dipotong dari saldo). Saat kami bilang bahwa salah satu dari kami akan menekan tombol batal (cancel), pengemudi buru-buru menyampaikan tidak perlu di- cancel. Menurutnya, sahabatku yang akan membayar tunai tidak perlu membayar. Pembayaran bisa dialihkan ke dompetku saja katanya (Wow, memangnya dia tahu kalau dompetku tipis. Kulirik dompet di saku kanan celanaku yang tidak tampak menyembul, memang uangnya tidak banyak, hanya beberapa lembar. Tapi ck ck ck limit kartunya oke bingitss, ha ha ha). Hm hm hm, kami pun menurut dengan sedikit tanda tanya di hati.

Perjalanan ke bandara kami isi dengan cerita akademik bercampur dengan kisah nostalgia. Jalanan masih sepi. Sawah, ladang, dan pekarangan di kanan dan kiri jalan masih tampak gelap. Mobil melaju dan kami pun larut dalam diskusi. Iseng kutanya sahabatku mengenai aplikasi yang dipakainya saat memesan. Dia menyebut salah satu jasa taksi online. Aku punya juga aplikasinya. Kemudian aku ingat bahwa aku menggunakan aplikasi yang berbeda (ada dua aplikasi taksi online di hp-ku). Akhirnya sedikit tanda tanya di hati tadi mendapatkan jawaban. Aku paham, kami menggunakan dua aplikasi yang berbeda dan pengemudi mempunyai dua aplikasi tersebut dan membuka dua-duanya saat kami memesan dalam waktu yang (hampir) bersamaan. Karena dua aplikasi pengemudi itu terbuka, dalam waktu yang sama, ada dua pesanan masuk. Jika tidak dibatalkan salah satu, secara sistem pengemudi mendapatkan dua pesanan dalam satu kali jalan. Ini lebih menguntungkan daripada pesanan tersebut dibatalkan salah satunya. Tampaknya pengemudi tidak sengaja melakukan hal itu, dan aku pun bersyukur karena mendapatkan pemahaman baru, Alhamdulillah. Bagaimana pendapat Anda?

Advertisements

Menyapa Nottingham

Di Nottingham, suara azan dari masjid tidak pernah terdengar (Ada masjid Umar yang lumayan dekat dengan rumah, sekitar 10 menit berjalan kaki). Oleh sebab itu, aplikasi suara azan di telepon selular mangat membantu. Suara azan dari telepon selular kupasang saat Subuh pukul 5:06. Saat matahari terbit pukul 7:02 kupasang suara bel penanda. Adapun saat Zuhur pukul 12:55 dan Asar pukul 16:03 suara kusetel hening. Kumandang azan Magrib pukul 18:49 dan Isya pukul 20:38 yang terdengar lagi dari telepon selular kurasa terdengar begitu indah.

Entah mengapa, salat di Nottingham saat ini terasa begitu khusyuk. Padahal saat lima hari di London, salat masih terasa kurang khusyuk. Nottingham kota kecil yang tenang dan nyaman. London kota besar yang penuh dengan hiruk pikuk manusia, kendaraan, dan berbagai acara. Alhamdulillah, di Nottingham aku menjadi lebih dapat merasakan nikmatnya beribadah.

Suasana Nottingham September ini lebih hangat dibandingkan saat aku datang September tahun lalu. Saat siang hangat matahari masih menyapa, biarpun malamnya udara dingin mulai menyergap. Pasar Rabu di Hyson Green juga masih ramai. Charger yang ketinggalan di rumah dapat ditemukan dengan mudah di situ dengan harga yang terjangkau. Toko Madina yang menjual daging halal masih dengan pedagang yang sama. Alhamdulillah, kusapa Nottingham dengan menyebut kebesaran-Mu, wahai zat yang Mahaagung. Semoga rida-Mu selalu menyertai langkah kami, semoga rahmat-Mu selalu menaungi, amin.

Kartu Telepon Selular di UK

Setahun tidak ke UK ada yang berubah dalam hal kartu telepon selular. Tahun lalu (2015) kartu telepon selular yang dikirimkan lewat pos (karena permintaan) yang tidak cocok dengan HP (karena ukuran kartu lebih besar) ternyata tidak dapat dipotong. Sudah beberapa toko kudatangi untuk memotong kartu, tidak ada yang bisa dan tidak ada yang mau. Para pedagang tersebut menyarankan untuk pesan kartu lagi dengan ukuran yang sesuai. Saat itu aku hanya berpikir, “Wah, lebih canggih di Indonesia, sangat mudah melakukan pemotongan kartu”.

Akan tetapi, September 2016 ini, kartu telepon ternyata sudah 3in1. Satu kartu sudah disediakan dalam ukuran yang dapat disesuaikan dengan HP. Satu kartu tersebut dapat dilepas sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. Hm hm hm, sekarang tidak perlu lagi mencari pemotong kartu. Indahnya teknologi. Semoga kami semua selalu di jalan-Nya.

USIA PERAKKU

USIA PERAKKU

4 September 1984 pukul 10.00 aku lahir di Binagraha Jakarta
Tepuk tangan bergemuruh membahana
Semoga semua itu merupakan doa …
supaya aku tumbuh sehat sejahtera
serta dapat membanggakan bangsa dan negara.

Akta kelahiranku berwujud SK Presiden Republik Indonesia
Namaku tercantum di situ dengan degup dada yang membuat siapapun bangga membacanya: “UNIVERSITAS TERBUKA”
Kau tahu?
aku anak ke-45 yang berciri khusus “jarak jauh dan terbuka”

Tumbuh kembangku
telah menorehkan berbagai prestasi yang membanggakan hati
Walaupun kau tahu, banyak pula onak duri yang merintangi
Tahun 2005 aku meraih akreditasi internasional dari ICDE
sehingga aku termasuk dalam jajaran universitas berkelas dunia
2007 E-learning-ku juara
2008 Mendiknas menganugerahkan penghargaan Anindyaguna
Sampai 2009 ini, puluhan ISO 9001:2000 kuraih dalam gelora derap kerja.

Saat ini
Jumlah mahasiswaku yang mencapai 596.922
kuanggap bukan suatu prestasi
jika tidak diimbangi dengan layanan prima yang membanggakan hati
Jumlah alumni 764.478 juga bukan kuanggap prestasi
jika pemberdayaan alumni masih belum tertata rapi.

Dalam konteks peradaban bangsa,
usia 25 atau lustrum ke-5 tampak masih belia
Namun, bagiku
usia perak ini mencerminkan rentang perjalanan komitmenku,
semangat pengabdian akademik dan profesionalku
yang akan kucatat dengan penuh syukur guna menggapai visi dan misiku.

Aku sadar, aku harus selalu berbenah merefleksi diri
Tanpa meninggalkan jati diri.
Oleh sebab itu,
Pada hari ini, 2 Oktober 2009
Kami gelar seminar bertema “Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh sebagai Wahana Pembangunan Jatidiri Bangsa”.
Kami tandai refleksi diri dalam pewarisan budaya pendidikan mandiri
dengan penanaman time capsule UT di sini
ikon berwujud kapsul cantik berseri
yang mencerminkan proses dan capaian UT sampai saat ini

Kita tahu
Pewarisan budaya pendidikan ini
harus dilakukan dengan sadar dan mawas diri
agar terbangun alur peradaban yang mengusung nilai dan moral kolektif diri
yang diteruskan dan dikembangkan dari generasi ke generasi.

Kita sadar
bahwa kehidupan kita pada hari ini
tidak lepas dari aroma kehidupan masa lalu yang berbagi
dan kehidupan hari ini
merupakan tonggak tuk meretas kehidupan mendatang yang lebih baik lagi.

Kini, dalam usia perakku
Kumohon doa tulus dan dukunganmu
tuk teruskan pengabdian terhadap bangsa dan negaraku
tuk semakin mengukuhmantapkan komitmen teguhku
mencerdaskan kehidupan bangsa,
serta menebarharumkan nama negara
Semoga visiku menjadi PTJJ Unggulan di dunia tahun 2020 terwujud nyata
dan semoga pengabdian ikhlasku kepada bangsa dan negara Indonesia mampu mencemerlangkan nama Indonesia dan dunia pendidikannya.
amin.

September–Oktober 2009

Ibu Mah

Ibu Mah atau Ibu Muhtaromah adalah guru yang pertama kali terlintas dalam ingatan dan hati saat kumencoba menelusuri jejak para guru dalam ingatan dan hatiku. Ibu Mah merupakan sosok yang cantik, tinggi besar, tidak banyak bicara, sabar, sejuk tutur katanya, dan penyayang. Penampilannya sederhana dengan kain jarik bersetagen, berkebaya kuthu baru, dan berkerudung panjang. Aku lupa apakah saat itu Ibu Mah bersandal atau bersepatu. Yang kuingat, kami tidak boleh bersandal jepit ke sekolah, lebih baik *nyeker* daripada bersandal jepit.

Kesabaran beliau sangat kurasakan saat aku sulit membaca. Selain huruf Latin, di sekolahku, SD Muhammadiyah XI Solo, huruf Hijaiyah sudah diperkenalkan sejak kelas 1. Waktu itu beliau sering mendekatiku dan menunjukkan huruf yang ada dengan tatap mata yang mengharapkan aku dapat membunyikan huruf-huruf Arab yang tertera, tanpa paksaan dan tanpa tekanan perintah yang meninggi, hanya kata-kata dalam bahasa Jawa, “Coba diwaca maneh (sambil tersenyum)”. Beliau akan melafalkan huruf itu dan tatap matanya berharap aku mengulangnya. Biasanya aku tidak berani menatapnya langsung, kuambil lidi kecil dan kuarahkan ke huruf yang kubaca sambil sesekali terdiam, terbata, dan menunduk. Seingatku di kelas awal, kami menggunakan bahasa pengantar Bahasa Jawa. Ibu Mah juga tidak pernah sekali pun menghardik kami atau memukulkan penggaris ke jari kami yang berkuku panjang. Hardikan dan pukulan pada jari tersebut kurasakan saat kelas 3 atau 4 oleh guru laki-laki. Tapi, kurasa ada baiknya juga, setelah peristiwa itu aku sangat berhati-hati dengan kukuku, tidak pernah sekalipun kubiarkan panjang agar tidak menjadi sarang telur cacing (seperti kata guruku saat itu dan sangat kupercaya). Bahkan saat kecil teman-teman juga menakut-nakutiku saat aku makan duku dan bijinya tertelan, dikatakan bahwa akan tumbuh pohon duku di kepalaku…aku sangat takut membayangkan hal itu. Setiap hal itu terjadi, Ibu Mah sering menenangkanku dan membelai rambutku.

Ibu Mah juga mengenalkan sejarah dan cerita para Nabi. Aku paling suka jika beliau bercerita Nabi Yusuf atau Nabi Sulaiman. Ceritanya membuatku sering bermimpi untuk menjadi orang terdekat para nabi :). Beberapa ceritanya juga membuatku semakin mengagumi Allah Subhanahuwataala dan ciptaan-Nya (saat itu belum terlintas “takwa” dalam benakku).

Setelah Bapak Ishom (suami Ibu Mah berpulang pada 1998), Ibu Mah berpulang pada tahun 2003, semoga beliau husnul khatimah. Berita itu kudapatkan dari Prof.Dr.M. Baiquni–guru besar di Fakultas Geografi UGM–salah satu putra Ibu Mah dan adik kelasku di SD Muhammadiyah XI Solo. Selain Ibu Mah, sosok guru lain di SD Muhammadiyah XI yg kuingat karena keramahannya adalah Ibu Sri, Bapak Asrori, dan Bapak Mujahit. Semoga Allah Subhanahu Wa Taala menganugerahi mereka dengan pahala yang tak berkeputusan, Amin.

19 Juli 2016

Mempelai 24 Juli 2016: Taqin dan Yasmin

Taqin terlahir dengan nama Zultinur Muttaqin, 2 Juli 1987 di Bogor. Dia anak kedua dari empat bersaudara. Ibunya adalah kakak kandungku, Mbak Watik (Kiswati). Di buku catatan Bapak kutemukan bahwa Taqin merupakan cucu keenam dan di bagian bawah Bapak menuliskan “pergi ke RS sendiri”. Ini berarti saat Mbak Watik melahirkan Taqin. dia ke rumah sakit sendiri.

Dalam catatan Bapak, Mbak Watik wisuda pada 27 Juli 1984 di GOR IPB dilanjutkan ke Fakultas Kehutanan IPB. Saat itu Bapak dengan bangga dan bahagia berangkat bersama ibu untuk menghadiri wisudanya. Dari Jakarta, Bapak diantarkan Om Djon (adik bapak) ke Bogor. Kembali dari Bogor mampir ke Keong Emas bersama calon menantu (Nurheni Wijayanto). Dalam catatan Bapak disebutkan bahwa mereka akhirnya menikah pada 28 Oktober 1984 di Solo. Bapak berpulang 29 Januari lalu (semoga beliau tenang di sana).

Seingatku, saat melahirkan Taqin, Mbak Watik masih bekerja di PT Kayu Lapis Indonesia atau KLI di Jakarta. Dari Bogor dia pergi-pulang bekerja dengan menggunakan kereta api. Aku pernah bersamanya saat ke Jakarta dan ikut dalam perjalanan pulangnya. Dia juga dengan beberapa temannya di Bogor pernah menggunakan jasa antarjemput Bogor-Jakarta-Bogor.

Saat Taqin kecil beberapa kali aku berjumpa dengannya di rumah Penumping Solo. Keluarga Mbak Watik tidak selalu pulang ke Solo saat lebaran sehingga saat dia bersama keluarga datang ke Solo saat lebaran menjadi hal yang sangat spesial bagi kami. Taqin satu angkatan dengan anak sulungku, Raras, yang lahir di tahun yang sama (23 januari 1987), tapi dia lebih sering bermain bersama Arya, bungsuku yang lahir 17 April 1988. Pada saat lebaran, anak-anak terbiasa menerima angpao. Biasanya setelah acara sungkem dan menerima angpao mereka akan saling menghitung isinya. Jika ada yang kurang dari yang lain, mereka akan mencoba menelusur mengapa dan bagaimana caranya supaya sama. Setelah itu mereka akan membeli mainan atau makanan dengan uang tersebut, tidak meminta kepada orang tua. Saat kecil, banyak permainan yang dilakukan anak-anak di Solo, mulai dari perang-perangan, berkejaran di halaman dengan pistol air, bergaya seperti pahlawan satria baja hitam, menonton film bersama, dll. Taqin kuingat mula-mula diam dan tidak mau bermain, tapi lama-kelamaan dia ikut bermain juga. Kuingat juga pada saat aku bertandang ke Bogor, semua anak Mbak Wati (4 orang) tidak ada di rumah, tapi sedang di restoran all you can eat (aku lupa nama restorannya) bersama beberapa temannya, anak-anak di situ seharian, bermain, dan makan sepuasnya (kubayangkan pasti pemilik dan pelayan restoran geleng-geleng kepala karena memang tidak ada batasan waktu… cerdik juga anak-anak).

Taqin tumbuh dalam baluran kasih sayang keluarga intinya dan keluarga besarnya. Wajahnya cakap dan posturnya tinggi. Alhamdulillah dia telah menyelesaikan S-1 nya di Kedokteran Hewan IPB dan melanjutkan S-2 di IPB. Taqin hadir saat lamaran dan pernikahan anakku. Yasmin S-1 di Universitas Syiah Kuala Aceh dan mengambil S-2 di IPB. Allah Subhanahuwataala mempertemukan mereka dan menautkan hati mereka dengan manis di Bogor.

Aku mengenal Yasmin saat dia berkunjung ke Surabaya bersama Taqin. Yasmin sungguh cantik, tutur katanya lembut, dan sangat sayang pada Ara. Tas mungil Ara dari Yasmin digunakan Ara untuk menyimpan buku mengajinya. Kami pun cepat akrab dan kami berempat ke Banyuwangi mengunjungi Akrom dan Veby naik kereta (Akrom merupakan kakak kandung Taqin). Perjalanan kami mengesankan, apalagi Akrom mengajak kami berjalan-jalan dan singgah di Pantai Merah Banyuwangi.
Alhamdulillah, Taqin dan Yasmin akhirnya menikah, mengikat perjanjian suci yang agung pada Sabtu, 14 Mei di Masid Agung Al Makmur, Lamprieri, Banda Aceh. Saat itu aku sempat hadir menyaksikan pernikahannya yang hikmat dan lancar. Setelah acara pernikahan kami semua ke kantor ayahanda Yasmin, kantor travel umrah dan haji Iskandaria di Jalan Teungku Imum Luengbata guna beramah tamah sambil makan dan beberapa acara adat. Kantornya megah, tiga lantai. Ayah Yasmin adalah pengusaha sukses dalam perjalanan haji dan umrah di Aceh. Saat itu aku berjumpa dengan beberapa saudara Yasmin, termasuk perempuan yang sudah berumur tapi tampak masih cantik dan bersemangat (jadi ingat Cut Nyak Dien). Malamnya kami diajak makan malam dengan sajian hidangan laut sambil berbincang-bincang. Saat itu baru aku tahu bahwa Ais (anak ketiga Mbak Watik) juga tidak makan hidangan laut seperti aku, kami memesan dadar. Adik bungsu Yasmin yang manis juga ikut. Celotehnya membuatku nyaman dan bahagia (semoga suatu saat dia dapat bersua dengan Ara dan bermain bersama).

Saat ini, kubaca lagi undangan resepsi pernikahan, kubaca dengan buncah suka dan bangga. pernikahan Cut Yasmin, S.Si,; M.Si (putri pertama bp Tgk. H. YahyaM. Ali Arsyad dan Ibu Hj Cut Sabarilla) dengan Drh. Zultinur Muttaqin, M.si (putra Prof. Dr. H. Nurheni Wijayanto, M.S. dan Ir. Hj. Kiswati) pada Minggu 24 Juli pukul 10—selesai di Jalan Medan, Banda Aceh Teupin Raya, Gp Kayee Jatoe; Lr Pendidikan Glumpang Tiga, Pidie, Aceh. Aku dan beberapa keluarga dari Mbak Watik tidak dapat hadir (termasuk ibuku), tapi kuyakin kami semua bangga dan bahagia dalam doa tulus untuk pernikahan mereka.

Foto pernikahan mereka yang dikirimkan oleh Mbak Watik dapat menjadi penghibur kami karena tidak dapat hadir. Baju kebesaran pengantin Aceh berwarna biru toska (mahkota Taqin dan baju bawah pengantin) yang dikombinasikan dengan warna hitam untk jas Taqin dan warna blewah untuk celana dan atasan Yasmin sungguh cantik. Mahkota Taqin berhias melati bersusun, mahkota Yasmin anggun mengembang seperti merak yang melebarkan sayap, bersemat mawar dan berhiaskan manik-manik yang bersinar. Wajah cakap dan cantik mereka berpadu dengan senyum dan tawa bahagia dalam baluran cinta-kasih Selamat untuk Taqin dan Yasmin. Kami hanya dapat mengirimkan doa tulus “Ya Allah anugerahkanlah berkah kepada Taqin dan Yasmin dan berkah untuk pernikahan mereka. Satukanlah mereka dalam kebaikan dan semoga mereka dapat menapak dalan jalan dan rida-Mu membentuk keluarga samara, amin.”

Sidoarjo. 24 Juli 2016

DAUD DHIYA ROZAAN: Semoga Segera Sembuh

Daud Dhiya Rozaan atau sering kupanggil Daud adalah anak ketiga adikku, Kistini dan Nyudi Hermanto. Daud lahir di Solo, 31 Agustus 2003. Usianya sekarang hampir tiga belas tahun. Anaknya tinggi dengan muka cakap dan tatapan mata sayu. Daud adalah seorang hafiz (penghapal Al Quran). Aku (dan tentunya Ibu Bapaknya, nenek kakeknya, kami sekeluarga) sungguh bangga padanya. Berkat kemampuannya sebagai seorang anak yang hafiz Al Quran, Daud diterima di sekolah Kafila dua tahun lalu. Berdasarkan sumber yang kubaca di internet, nama lengkap sekolah Kafila adalah Kafila International Islamic School (KIIS), yakni sebuah lembaga pendidikan yang berbasis pesantren putera. KIIS berlokasi di Jakarta Timur, tepatnya di Jalan Raya Bogor KM. 22 No. 22, Rambutan, Ciracas, DKI Jakarta. Program pendidikannya memadukan antara akhlak (asrama), sains (sekolah) dan menghafal Quran (tahfidz). KIIS menyelenggarakan program pendidikan paket enam tahun untuk jenjang MTs (Madrasah Tsanawiyah, setara SMP) dan MA (Madrasah Aliyah, setara SMA). Selama enam tahun mengikuti program pendidikan di KIIS, para santri diberikan beasiswa penuh yang meliputi beasiswa pendidikan, kegiatan akademik, fasilitas asrama lengkap dengan konsumsi, air, dan listrik.

Dalam rasa banggaku kepada Daud, terselip juga ketidaktegaan karena mulai masa SMP dia harus berpisah dengan keluarganya dan bersekolah di tempat yang lumayan jauh karena Ibu, Bapak, dan saudaranya di Solo. Alhamdulillah ada juga sepupu yang tinggal tidak jauh dari KIIS (satu kali naik angkutan kota). Saat libur Daud dapat bertandang ke rumahnya dengan dijemput atau datang sendiri. Selain itu, Daud pada akhirnya juga dapat bertandang ke Bogor (tempat tinggal kakakku, Kiswati). Beberapa kali Mbak Watik (Kiswati) menceritakan kabar Daud dan Alhamdulillah tampaknya seiring dengan perjalanan waktu, Daud mulai kuat dan tegar (semoga sekuat dan setegar Nabi Daud Alaihisalam). Daud juga cukup dekat dengan cucuku, Ara. Sepulang Ara dari Solo saat Idul Fitri, awal Juli 2016, Ara sering bercerita tentang Om Daud, bagaimana dia nyaman berbaring dan tidur dalam pangkuannya (saat sekeluarga pergi dengan bus Solo-Yogya-Solo) dan bagaimana dia senang bermain bersama Daud.

Dini hari tadi, aku mendapat kabar bahwa Daud hari ini menjalani operasi hidung. Sebenarnya agak menyejutkan. Daud berada di Solo dalam rangka libur Idul Fitri, selepas Idul Fitri dia punya keluhan di hidung dan diperiksakan ke dokter. Jika tidak salah, berdasarkan informasi yang kuterima dari Ibu dan Nisa (keponakan yang ada di Solo), ada semacam nanah di hidungnya dan diberi obat. Pada pemeriksaan selanjutnya diajukan dua alternatif oleh dokter yang merawatnya: (1) dioperasi atau (2) obat jalan, tapi memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh. Akhirnya, dipilihlah alternatif pertama supaya Daud dapat segera bersekolah lagi. Operasi ini tentu akan menunda kembalinya Daud ke Jakarta. Tapi, tentu lebih baik Daud ke Jakarta saat dalam keadaan sehat dan bugar lahir batin. Pagi tadi aku hanya dapat berdoa, “Ya Allah, kubebat erat doaku pagi ini untuk keponakanku Daud Dhiya Rozaan, ampunilah dosa kami, hilangkanlah kesusahan Daud dan anugerahilah Daud kesembuhan setelah operasi hidungnya, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggallkan penyakit lain, amin.” Semoga operasi Daud lancar dan berhasil sehingga Daud dapat bermain ceria, meneruskan hafiznya, dan selalu berada di jalan-Nya dalam kesuksesannya, amin.

Prof. Dr. dr. Tjandrakirana, M.S., Sp.And.: Wanita Berpengaruh di Unesa

Dalam lubuk hati dan pikiranku, Prof. Dr. dr. Tjandrakirana, M.S., Sp.And. atau sering kusapa dengan Ibu Nana merupakan Ibu cantik yang baik hati. Aku sungguh beruntung saat dapat bersama dalam acara pengukuhan guru besar bertiga (bersama Bapak Budi Jatmiko) pada Kamis, 26 Februari 2009 di GEMA Unesa. Saat itu Ibu Nana menjabat Dekan FMIPA, Bapak Budi Jatmiko merupakan mantan Dekan FMIPA yang menjabat sebagai PR1 Unesa, dan aku saat itu ditugasi oleh Rektor Unesa (Bapak Haris Supratno) sebagai Kepala UPBJJ-UT Surabaya. Pidato pengukuhan Ibu Nana berjudul “Pendidikan Seksual Dini Secara Terintegratif dan Peranan Guru”. Kami bertiga merencanakan acara pengukuhan itu setelah mendapatkan jadwal. Kami pun mulai menyusun siapa saja yang akan kami undang dan menyiapkan segala sesuatunya. Pilihan Ibu Nana pada cita rasa hidangan sungguh berkelas. Pilihannya pada warna tas orange kecil yang menampung tiga buku pengukuhan kami pun sangat pas. Tas cantik, foto kami bertiga, dan map orange sampai sekarang masih kusimpan dengan rapi. Aku sungguh ingat, saat kami memilih hidangan, Ibu Nana berpesan untuk menyajikan yang terbaik bagi para tamu. Saat pengukuhan itu kakak dan ibuku berkomentar bahwa aku dengan Ibu Nana merupakan pasangan yang pas karena aku lahir tahun 1962 dan berusia 47 tahun, Ibu Nana lahir 1947 dan berusia 62 tahun (serba kebetulan yang mencengangkan, Alhamdulillah). Seingatku, tidak pernah sekali pun Ibu Nana menghardikku. Senyum dan tawa bunganya kuingat selalu menyapaku, pelukan sayang dan sedikit tepukan di pundakku juga terasa hangat penuh kasih. Aku sungguh merasa terayomi berada di dekatnya.

Selain waktu pengukuhan, aku juga teringat waktu kami ke Singapura bersama, menunggu ferry bersama dan berjalan bersama. Di mata batinku, dalam kata-katanya yang ceplas-ceplos, sifatnya selalu melindungi. Sampai sekarang aku masih merasa terkesima setiap kali bertemu dengannya: nuansa keakraban yang melingkupinya, pilihan katanya, kilatan bola mata indahnya, dan untaian kalimatnya… hm hm hm. Andai April tahun depan ada penghargaan untuk wanita berpengaruh/Kartini Unesa, kuimpikan Ibu Nana menerima penghargaan itu pada 23 April 2017 bersamaan dengan peringatan tanggal dan bulan kelahirannya. Semoga terwujud, amin.

KEDISIPLINAN DALAM KEBERSAMAAN

Saat aku SMP, ibuku pengajar di SMPN 9 Solo (kemudian pindah ke SMPN 10 Solo). Bapak adalah pegawai kesehatan di DKR Solo. Mereka berjalan kaki ke kantor karena cukup dekat. Bapak dan Ibu mendidik kami (delapan bersaudara) dengan kedisiplinan dalam kebersamaan. Kami semua punya tugas masing-masing. Setiap pagi Bapak mengeluarkan sepeda dan dibariskan rapi (kami mulai bersepeda sejak SMP, saat SD kami bersekolah dengan berjalan kaki). Kami bertugas membersihkan sepeda masing-masing. Aku melanjutkan dengan menyapu rumah, setelah itu bergantian mandi. Setelah mandi, biasanya aku tidak sarapan dulu, tapi dikuncir atau diklabang dulu oleh ibu karena rambutku paling panjang. Ibu sering memberi minyak cem-ceman pada rambutku biarpun aku tidak begitu suka.

Tugasku saat siang hari sekitar pukul 14.00 adalah memberi makan ayam (bergantian dengan kakakku). Kadang aku terhanyut saat membaca Kho Ping Hoo atau SH Mintardja dan terlena sehingga terlambat memberi makan ayam. Ibu biasanya mengingatkanku dan jawabanku biasanya sama “Ya, sebentar, Bu”, sebentar yang akhirnya lama karena aku sering penasaran dengan jalan ceritanya. Sekarang aku sadar bahwa yang kulakukan itu adalah “membaca tidak pada tempatnya”, mohon maaf, Ibu. Malam hari, Bapak biasanya menyalakan petromaks di ruang tengah dan di ruang tamu. Ibu duduk di meja makan besar yang sudah berubah menjadi meja belajar sambil mengerjakan sesuatu (belakangan aku tahu bahwa selain mengerjakan pekerjaan kantor, ibu selalu meluangkan waktu untuk menulis setiap hari dalam buku catatan hariannya dan hal itu terus berlangsung sampai sekarang). Kami biasanya belajar setelah Magrib sampai pukul 21.00 di meja besar. Jika ada pelajaran yang tidak kami mengerti atau PR yang sulit, kakak atau Ibu akan membantu. Kebersamaan kami dalam berbagai hal yang diterapkan oleh Ibu dan Bapak, khususnya mulai SD sampai SMA membuat kami delapan bersaudara merasa dekat dan saling menjaga. Begitu masuk ke perguruan tinggi, pola belajar kami mulai berubah karena semua kakak berada di luar Solo (tiga di UGM dan satu di IPB). Sebagai anak kelima, aku adalah yang pertama berkuliah di Solo (di UNS) dan tetap tinggal dengan Bapak dan ibu. Ibu sampai sekarang masih mencontohkan kedisiplinan itu. Beliau selalu bergegas wudu saat azan dan salat di awal waktu serta menulis setiap hari di buku hariannya. Bapak telah berpulang pada 26 Januari 2016 dalam usia 88 tahun (setelah mengarungi 62 tahun, 5 bulan, 17 hari usia pernikahan bersama Ibu). Semoga Bapak tenang dan bahagia di sana.

Permainan Surakarta dan Permainan Masa Kecilku

PERMAINAN SURAKARTA DAN PERMAINAN MASA KECILKU

Tahun 2013 saat aku berjalan-jalan di Schlossplatz, Stuttgart, Jerman, langkahku terhenti di salah satu toko mainan kecil yang ada di sepanjang jalan. Di toko itu dijual bermacam-macam permainan, termasuk yang berasal dari Asia. Mataku mulai menjelajahi kelompok Asia dan mencari yang berasal dari Indonesia. Akhirnya, penjelajahan mata terhenti pada kotak cantik yang bertuliskan Surakarta. Aku bertanya-tanya, permainan apa ini? Pelan kubuka kotak tersebut dan kulihat ada 24 pion dalam dua warna seperti pion otelo (berbentuk bundar dan berwarna hitam semuanya 12 buah dan putih semuanya 12 buah) dalam pastik, dua buku petunjuk berbahasa Jerman, dan satu papan permainan yang dilipat empat. Saat kubuka papan tersebut tampak arena permainan berbentuk seperti semanggi berdaun empat dengan lingkaran-lingkaran pada setiap ujungnya. Dengan bekal pemahaman gambar dan pemaknaan global kulihat bahwa permainan ini mirip catur karena memerlukan dua pemain. Jalan pemain sama seperti jalan raja dalam catur, maju satu langkah, bisa lurus dan bisa ke samping, tapi bisa juga satu langkah itu menembus batas dan melingkar jika akan membunuh (memakan musuh). Menurut penjualnya, permainan itu cukup laris dan saat itu memang tinggal satu. Tanpa ragu, kubeli permainan itu dengan harga yang cukup mahal untuk ukuran Indonesia, seingatku dengan uang Euro sekitar 20—25 Euro. Malamnya kuminta keponakanku, Isti Hidayati, yang mengambil S-2 di Stuttgart University untuk melihat-lihat isi permainan itu, kuhubungi beberapa teman dan Saudara untuk menanyakan permainan itu dengan mengirimkan gambar, tapi belum ada satu pun yang mengenalnya. Ironis memang, permainan tradisional kita laku keras di Jerman, tapi kurang dikenal di tempat asalnya. Permaian ini melatih strategi, kehati-hatian, dan kesabaran dalam bertindak. Menurut sumber yang kubaca, permainan ini sejenis permainan Mul-mulan, Dham-dhaman, atau Macanan. Di Jogja disebut juga “Bas-basan Sepur”. Permainan ini bahkan telah diunggah di you tube dengan menampilkan dua pria asing yang memainkannya di https://youtu.be/Q7p5faImfqI . Permainan mulai awal sampai akhir bisa dilihat juga di https://youtu.be/0HcJ3XSh03k (permainan ini masuk dalam buku permainan klasik). Aku hanya berpikir, alangkah baiknya jika beberapa tugas akhir atau PKM mahasiswa dapat mengemas permainan tradisional menjadi bentuk yang layak jual, layak diproduksi masal, dan layak dimainkan. Selain itu, alangkah indahnya jika Unesa dapat menyusun agenda tahunan untuk permainan tradisional atau hal-hal yang terkait dengan folklore dalam bentuk seminar, konferensi dan lomba permainan tradisional. Mungkin ada pusat studi yang mengurusi hal ini.

Permainan tradisional Surakarta sebenarnya tidak jauh dengan permainan kegemaranku saat SD dan SMP, yakni halma yang melibatkan tiga pemain. Halma mungkin bukan termasuk permainan tradisional Indonesia karena tampaknya beberapa negara juga mengenalnya. Selain halma, saat masih kecil, aku paling suka bermain Andul dengan Ibu. Waktu bermain, ibu mengatur dudukku dengan bersila di kasur, tangan bersedekap. Kemudian ibu dari depan akan menggoyang-goyangkan badanku ke depan dan ke belakang sambil bernyanyi Andul, andul, susune Mbok Roro Kidul, kebluwek jenange katul… otek, otek, unine, unine…horog-horog-horog, horog-horog-hotor (yang terakhir dengan menggoyangkan badanku semakin keras dan kemudian menghentakkanku ke belakang sampai aku terlentang dan tertawa-tawa riuh dengan kakak-kakakku yang juga mengantri untuk bermain Andul). Permainan Andul dan cerita Gondhil dari Ibu kuteruskan ke anak cucu. Ara sangat suka dengan permaian Andul, tawanya berderai dan matanya berkejap-kejap jika kulantunkan lagu Andul untuknya. Aku tidak pernah tahu makna lagu itu dan tidak ingin tahu, tapi rima dari lagu itu, gerakan-gerakan, dan sensasi jatuh di kasur atau bantal empuk itu kukira yang membuat anak kecil suka. Selain Andul dan Halma, ada juga permainan Jari (ibu menyanyi sambil memainkan jari), Jelungan, Cublak-cublak Suweng, Soyang, Njuk Tali Njuk Emping, Gobak Sodor, Kasti, Ganjilan, Bekelan, Nekeren, Umbul, Dakon, Uding, Lompat Tali, Cekcu, Remi, Otelo, Jamuran, Pasaran, Wayang-wayangan (Menari dan berlagak seperti Gatotkaca yang melintasi asap. Asap ada saat Bapak membakar sampah), Dokter-dokteran (tidak ada guru-guruan, ya?), dll. Alhamdulillah, indahnya masa kecil. Ada baiknya permainan tradisional dapat dikembangkan sehingga menginspirasi berbagai hal secara akademis.

« Older entries