Kartu Telepon Selular di UK

Setahun tidak ke UK ada yang berubah dalam hal kartu telepon selular. Tahun lalu (2015) kartu telepon selular yang dikirimkan lewat pos (karena permintaan) yang tidak cocok dengan HP (karena ukuran kartu lebih besar) ternyata tidak dapat dipotong. Sudah beberapa toko kudatangi untuk memotong kartu, tidak ada yang bisa dan tidak ada yang mau. Para pedagang tersebut menyarankan untuk pesan kartu lagi dengan ukuran yang sesuai. Saat itu aku hanya berpikir, “Wah, lebih canggih di Indonesia, sangat mudah melakukan pemotongan kartu”.

Akan tetapi, September 2016 ini, kartu telepon ternyata sudah 3in1. Satu kartu sudah disediakan dalam ukuran yang dapat disesuaikan dengan HP. Satu kartu tersebut dapat dilepas sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan. Hm hm hm, sekarang tidak perlu lagi mencari pemotong kartu. Indahnya teknologi. Semoga kami semua selalu di jalan-Nya.

USIA PERAKKU

USIA PERAKKU

4 September 1984 pukul 10.00 aku lahir di Binagraha Jakarta
Tepuk tangan bergemuruh membahana
Semoga semua itu merupakan doa …
supaya aku tumbuh sehat sejahtera
serta dapat membanggakan bangsa dan negara.

Akta kelahiranku berwujud SK Presiden Republik Indonesia
Namaku tercantum di situ dengan degup dada yang membuat siapapun bangga membacanya: “UNIVERSITAS TERBUKA”
Kau tahu?
aku anak ke-45 yang berciri khusus “jarak jauh dan terbuka”

Tumbuh kembangku
telah menorehkan berbagai prestasi yang membanggakan hati
Walaupun kau tahu, banyak pula onak duri yang merintangi
Tahun 2005 aku meraih akreditasi internasional dari ICDE
sehingga aku termasuk dalam jajaran universitas berkelas dunia
2007 E-learning-ku juara
2008 Mendiknas menganugerahkan penghargaan Anindyaguna
Sampai 2009 ini, puluhan ISO 9001:2000 kuraih dalam gelora derap kerja.

Saat ini
Jumlah mahasiswaku yang mencapai 596.922
kuanggap bukan suatu prestasi
jika tidak diimbangi dengan layanan prima yang membanggakan hati
Jumlah alumni 764.478 juga bukan kuanggap prestasi
jika pemberdayaan alumni masih belum tertata rapi.

Dalam konteks peradaban bangsa,
usia 25 atau lustrum ke-5 tampak masih belia
Namun, bagiku
usia perak ini mencerminkan rentang perjalanan komitmenku,
semangat pengabdian akademik dan profesionalku
yang akan kucatat dengan penuh syukur guna menggapai visi dan misiku.

Aku sadar, aku harus selalu berbenah merefleksi diri
Tanpa meninggalkan jati diri.
Oleh sebab itu,
Pada hari ini, 2 Oktober 2009
Kami gelar seminar bertema “Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh sebagai Wahana Pembangunan Jatidiri Bangsa”.
Kami tandai refleksi diri dalam pewarisan budaya pendidikan mandiri
dengan penanaman time capsule UT di sini
ikon berwujud kapsul cantik berseri
yang mencerminkan proses dan capaian UT sampai saat ini

Kita tahu
Pewarisan budaya pendidikan ini
harus dilakukan dengan sadar dan mawas diri
agar terbangun alur peradaban yang mengusung nilai dan moral kolektif diri
yang diteruskan dan dikembangkan dari generasi ke generasi.

Kita sadar
bahwa kehidupan kita pada hari ini
tidak lepas dari aroma kehidupan masa lalu yang berbagi
dan kehidupan hari ini
merupakan tonggak tuk meretas kehidupan mendatang yang lebih baik lagi.

Kini, dalam usia perakku
Kumohon doa tulus dan dukunganmu
tuk teruskan pengabdian terhadap bangsa dan negaraku
tuk semakin mengukuhmantapkan komitmen teguhku
mencerdaskan kehidupan bangsa,
serta menebarharumkan nama negara
Semoga visiku menjadi PTJJ Unggulan di dunia tahun 2020 terwujud nyata
dan semoga pengabdian ikhlasku kepada bangsa dan negara Indonesia mampu mencemerlangkan nama Indonesia dan dunia pendidikannya.
amin.

September–Oktober 2009

Ibu Mah

Ibu Mah atau Ibu Muhtaromah adalah guru yang pertama kali terlintas dalam ingatan dan hati saat kumencoba menelusuri jejak para guru dalam ingatan dan hatiku. Ibu Mah merupakan sosok yang cantik, tinggi besar, tidak banyak bicara, sabar, sejuk tutur katanya, dan penyayang. Penampilannya sederhana dengan kain jarik bersetagen, berkebaya kuthu baru, dan berkerudung panjang. Aku lupa apakah saat itu Ibu Mah bersandal atau bersepatu. Yang kuingat, kami tidak boleh bersandal jepit ke sekolah, lebih baik *nyeker* daripada bersandal jepit.

Kesabaran beliau sangat kurasakan saat aku sulit membaca. Selain huruf Latin, di sekolahku, SD Muhammadiyah XI Solo, huruf Hijaiyah sudah diperkenalkan sejak kelas 1. Waktu itu beliau sering mendekatiku dan menunjukkan huruf yang ada dengan tatap mata yang mengharapkan aku dapat membunyikan huruf-huruf Arab yang tertera, tanpa paksaan dan tanpa tekanan perintah yang meninggi, hanya kata-kata dalam bahasa Jawa, “Coba diwaca maneh (sambil tersenyum)”. Beliau akan melafalkan huruf itu dan tatap matanya berharap aku mengulangnya. Biasanya aku tidak berani menatapnya langsung, kuambil lidi kecil dan kuarahkan ke huruf yang kubaca sambil sesekali terdiam, terbata, dan menunduk. Seingatku di kelas awal, kami menggunakan bahasa pengantar Bahasa Jawa. Ibu Mah juga tidak pernah sekali pun menghardik kami atau memukulkan penggaris ke jari kami yang berkuku panjang. Hardikan dan pukulan pada jari tersebut kurasakan saat kelas 3 atau 4 oleh guru laki-laki. Tapi, kurasa ada baiknya juga, setelah peristiwa itu aku sangat berhati-hati dengan kukuku, tidak pernah sekalipun kubiarkan panjang agar tidak menjadi sarang telur cacing (seperti kata guruku saat itu dan sangat kupercaya). Bahkan saat kecil teman-teman juga menakut-nakutiku saat aku makan duku dan bijinya tertelan, dikatakan bahwa akan tumbuh pohon duku di kepalaku…aku sangat takut membayangkan hal itu. Setiap hal itu terjadi, Ibu Mah sering menenangkanku dan membelai rambutku.

Ibu Mah juga mengenalkan sejarah dan cerita para Nabi. Aku paling suka jika beliau bercerita Nabi Yusuf atau Nabi Sulaiman. Ceritanya membuatku sering bermimpi untuk menjadi orang terdekat para nabi🙂. Beberapa ceritanya juga membuatku semakin mengagumi Allah Subhanahuwataala dan ciptaan-Nya (saat itu belum terlintas “takwa” dalam benakku).

Setelah Bapak Ishom (suami Ibu Mah berpulang pada 1998), Ibu Mah berpulang pada tahun 2003, semoga beliau husnul khatimah. Berita itu kudapatkan dari Prof.Dr.M. Baiquni–guru besar di Fakultas Geografi UGM–salah satu putra Ibu Mah dan adik kelasku di SD Muhammadiyah XI Solo. Selain Ibu Mah, sosok guru lain di SD Muhammadiyah XI yg kuingat karena keramahannya adalah Ibu Sri, Bapak Asrori, dan Bapak Mujahit. Semoga Allah Subhanahu Wa Taala menganugerahi mereka dengan pahala yang tak berkeputusan, Amin.

19 Juli 2016

Mempelai 24 Juli 2016: Taqin dan Yasmin

Taqin terlahir dengan nama Zultinur Muttaqin, 2 Juli 1987 di Bogor. Dia anak kedua dari empat bersaudara. Ibunya adalah kakak kandungku, Mbak Watik (Kiswati). Di buku catatan Bapak kutemukan bahwa Taqin merupakan cucu keenam dan di bagian bawah Bapak menuliskan “pergi ke RS sendiri”. Ini berarti saat Mbak Watik melahirkan Taqin. dia ke rumah sakit sendiri.

Dalam catatan Bapak, Mbak Watik wisuda pada 27 Juli 1984 di GOR IPB dilanjutkan ke Fakultas Kehutanan IPB. Saat itu Bapak dengan bangga dan bahagia berangkat bersama ibu untuk menghadiri wisudanya. Dari Jakarta, Bapak diantarkan Om Djon (adik bapak) ke Bogor. Kembali dari Bogor mampir ke Keong Emas bersama calon menantu (Nurheni Wijayanto). Dalam catatan Bapak disebutkan bahwa mereka akhirnya menikah pada 28 Oktober 1984 di Solo. Bapak berpulang 29 Januari lalu (semoga beliau tenang di sana).

Seingatku, saat melahirkan Taqin, Mbak Watik masih bekerja di PT Kayu Lapis Indonesia atau KLI di Jakarta. Dari Bogor dia pergi-pulang bekerja dengan menggunakan kereta api. Aku pernah bersamanya saat ke Jakarta dan ikut dalam perjalanan pulangnya. Dia juga dengan beberapa temannya di Bogor pernah menggunakan jasa antarjemput Bogor-Jakarta-Bogor.

Saat Taqin kecil beberapa kali aku berjumpa dengannya di rumah Penumping Solo. Keluarga Mbak Watik tidak selalu pulang ke Solo saat lebaran sehingga saat dia bersama keluarga datang ke Solo saat lebaran menjadi hal yang sangat spesial bagi kami. Taqin satu angkatan dengan anak sulungku, Raras, yang lahir di tahun yang sama (23 januari 1987), tapi dia lebih sering bermain bersama Arya, bungsuku yang lahir 17 April 1988. Pada saat lebaran, anak-anak terbiasa menerima angpao. Biasanya setelah acara sungkem dan menerima angpao mereka akan saling menghitung isinya. Jika ada yang kurang dari yang lain, mereka akan mencoba menelusur mengapa dan bagaimana caranya supaya sama. Setelah itu mereka akan membeli mainan atau makanan dengan uang tersebut, tidak meminta kepada orang tua. Saat kecil, banyak permainan yang dilakukan anak-anak di Solo, mulai dari perang-perangan, berkejaran di halaman dengan pistol air, bergaya seperti pahlawan satria baja hitam, menonton film bersama, dll. Taqin kuingat mula-mula diam dan tidak mau bermain, tapi lama-kelamaan dia ikut bermain juga. Kuingat juga pada saat aku bertandang ke Bogor, semua anak Mbak Wati (4 orang) tidak ada di rumah, tapi sedang di restoran all you can eat (aku lupa nama restorannya) bersama beberapa temannya, anak-anak di situ seharian, bermain, dan makan sepuasnya (kubayangkan pasti pemilik dan pelayan restoran geleng-geleng kepala karena memang tidak ada batasan waktu… cerdik juga anak-anak).

Taqin tumbuh dalam baluran kasih sayang keluarga intinya dan keluarga besarnya. Wajahnya cakap dan posturnya tinggi. Alhamdulillah dia telah menyelesaikan S-1 nya di Kedokteran Hewan IPB dan melanjutkan S-2 di IPB. Taqin hadir saat lamaran dan pernikahan anakku. Yasmin S-1 di Universitas Syiah Kuala Aceh dan mengambil S-2 di IPB. Allah Subhanahuwataala mempertemukan mereka dan menautkan hati mereka dengan manis di Bogor.

Aku mengenal Yasmin saat dia berkunjung ke Surabaya bersama Taqin. Yasmin sungguh cantik, tutur katanya lembut, dan sangat sayang pada Ara. Tas mungil Ara dari Yasmin digunakan Ara untuk menyimpan buku mengajinya. Kami pun cepat akrab dan kami berempat ke Banyuwangi mengunjungi Akrom dan Veby naik kereta (Akrom merupakan kakak kandung Taqin). Perjalanan kami mengesankan, apalagi Akrom mengajak kami berjalan-jalan dan singgah di Pantai Merah Banyuwangi.
Alhamdulillah, Taqin dan Yasmin akhirnya menikah, mengikat perjanjian suci yang agung pada Sabtu, 14 Mei di Masid Agung Al Makmur, Lamprieri, Banda Aceh. Saat itu aku sempat hadir menyaksikan pernikahannya yang hikmat dan lancar. Setelah acara pernikahan kami semua ke kantor ayahanda Yasmin, kantor travel umrah dan haji Iskandaria di Jalan Teungku Imum Luengbata guna beramah tamah sambil makan dan beberapa acara adat. Kantornya megah, tiga lantai. Ayah Yasmin adalah pengusaha sukses dalam perjalanan haji dan umrah di Aceh. Saat itu aku berjumpa dengan beberapa saudara Yasmin, termasuk perempuan yang sudah berumur tapi tampak masih cantik dan bersemangat (jadi ingat Cut Nyak Dien). Malamnya kami diajak makan malam dengan sajian hidangan laut sambil berbincang-bincang. Saat itu baru aku tahu bahwa Ais (anak ketiga Mbak Watik) juga tidak makan hidangan laut seperti aku, kami memesan dadar. Adik bungsu Yasmin yang manis juga ikut. Celotehnya membuatku nyaman dan bahagia (semoga suatu saat dia dapat bersua dengan Ara dan bermain bersama).

Saat ini, kubaca lagi undangan resepsi pernikahan, kubaca dengan buncah suka dan bangga. pernikahan Cut Yasmin, S.Si,; M.Si (putri pertama bp Tgk. H. YahyaM. Ali Arsyad dan Ibu Hj Cut Sabarilla) dengan Drh. Zultinur Muttaqin, M.si (putra Prof. Dr. H. Nurheni Wijayanto, M.S. dan Ir. Hj. Kiswati) pada Minggu 24 Juli pukul 10—selesai di Jalan Medan, Banda Aceh Teupin Raya, Gp Kayee Jatoe; Lr Pendidikan Glumpang Tiga, Pidie, Aceh. Aku dan beberapa keluarga dari Mbak Watik tidak dapat hadir (termasuk ibuku), tapi kuyakin kami semua bangga dan bahagia dalam doa tulus untuk pernikahan mereka.

Foto pernikahan mereka yang dikirimkan oleh Mbak Watik dapat menjadi penghibur kami karena tidak dapat hadir. Baju kebesaran pengantin Aceh berwarna biru toska (mahkota Taqin dan baju bawah pengantin) yang dikombinasikan dengan warna hitam untk jas Taqin dan warna blewah untuk celana dan atasan Yasmin sungguh cantik. Mahkota Taqin berhias melati bersusun, mahkota Yasmin anggun mengembang seperti merak yang melebarkan sayap, bersemat mawar dan berhiaskan manik-manik yang bersinar. Wajah cakap dan cantik mereka berpadu dengan senyum dan tawa bahagia dalam baluran cinta-kasih Selamat untuk Taqin dan Yasmin. Kami hanya dapat mengirimkan doa tulus “Ya Allah anugerahkanlah berkah kepada Taqin dan Yasmin dan berkah untuk pernikahan mereka. Satukanlah mereka dalam kebaikan dan semoga mereka dapat menapak dalan jalan dan rida-Mu membentuk keluarga samara, amin.”

Sidoarjo. 24 Juli 2016

DAUD DHIYA ROZAAN: Semoga Segera Sembuh

Daud Dhiya Rozaan atau sering kupanggil Daud adalah anak ketiga adikku, Kistini dan Nyudi Hermanto. Daud lahir di Solo, 31 Agustus 2003. Usianya sekarang hampir tiga belas tahun. Anaknya tinggi dengan muka cakap dan tatapan mata sayu. Daud adalah seorang hafiz (penghapal Al Quran). Aku (dan tentunya Ibu Bapaknya, nenek kakeknya, kami sekeluarga) sungguh bangga padanya. Berkat kemampuannya sebagai seorang anak yang hafiz Al Quran, Daud diterima di sekolah Kafila dua tahun lalu. Berdasarkan sumber yang kubaca di internet, nama lengkap sekolah Kafila adalah Kafila International Islamic School (KIIS), yakni sebuah lembaga pendidikan yang berbasis pesantren putera. KIIS berlokasi di Jakarta Timur, tepatnya di Jalan Raya Bogor KM. 22 No. 22, Rambutan, Ciracas, DKI Jakarta. Program pendidikannya memadukan antara akhlak (asrama), sains (sekolah) dan menghafal Quran (tahfidz). KIIS menyelenggarakan program pendidikan paket enam tahun untuk jenjang MTs (Madrasah Tsanawiyah, setara SMP) dan MA (Madrasah Aliyah, setara SMA). Selama enam tahun mengikuti program pendidikan di KIIS, para santri diberikan beasiswa penuh yang meliputi beasiswa pendidikan, kegiatan akademik, fasilitas asrama lengkap dengan konsumsi, air, dan listrik.

Dalam rasa banggaku kepada Daud, terselip juga ketidaktegaan karena mulai masa SMP dia harus berpisah dengan keluarganya dan bersekolah di tempat yang lumayan jauh karena Ibu, Bapak, dan saudaranya di Solo. Alhamdulillah ada juga sepupu yang tinggal tidak jauh dari KIIS (satu kali naik angkutan kota). Saat libur Daud dapat bertandang ke rumahnya dengan dijemput atau datang sendiri. Selain itu, Daud pada akhirnya juga dapat bertandang ke Bogor (tempat tinggal kakakku, Kiswati). Beberapa kali Mbak Watik (Kiswati) menceritakan kabar Daud dan Alhamdulillah tampaknya seiring dengan perjalanan waktu, Daud mulai kuat dan tegar (semoga sekuat dan setegar Nabi Daud Alaihisalam). Daud juga cukup dekat dengan cucuku, Ara. Sepulang Ara dari Solo saat Idul Fitri, awal Juli 2016, Ara sering bercerita tentang Om Daud, bagaimana dia nyaman berbaring dan tidur dalam pangkuannya (saat sekeluarga pergi dengan bus Solo-Yogya-Solo) dan bagaimana dia senang bermain bersama Daud.

Dini hari tadi, aku mendapat kabar bahwa Daud hari ini menjalani operasi hidung. Sebenarnya agak menyejutkan. Daud berada di Solo dalam rangka libur Idul Fitri, selepas Idul Fitri dia punya keluhan di hidung dan diperiksakan ke dokter. Jika tidak salah, berdasarkan informasi yang kuterima dari Ibu dan Nisa (keponakan yang ada di Solo), ada semacam nanah di hidungnya dan diberi obat. Pada pemeriksaan selanjutnya diajukan dua alternatif oleh dokter yang merawatnya: (1) dioperasi atau (2) obat jalan, tapi memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh. Akhirnya, dipilihlah alternatif pertama supaya Daud dapat segera bersekolah lagi. Operasi ini tentu akan menunda kembalinya Daud ke Jakarta. Tapi, tentu lebih baik Daud ke Jakarta saat dalam keadaan sehat dan bugar lahir batin. Pagi tadi aku hanya dapat berdoa, “Ya Allah, kubebat erat doaku pagi ini untuk keponakanku Daud Dhiya Rozaan, ampunilah dosa kami, hilangkanlah kesusahan Daud dan anugerahilah Daud kesembuhan setelah operasi hidungnya, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggallkan penyakit lain, amin.” Semoga operasi Daud lancar dan berhasil sehingga Daud dapat bermain ceria, meneruskan hafiznya, dan selalu berada di jalan-Nya dalam kesuksesannya, amin.

Prof. Dr. dr. Tjandrakirana, M.S., Sp.And.: Wanita Berpengaruh di Unesa

Dalam lubuk hati dan pikiranku, Prof. Dr. dr. Tjandrakirana, M.S., Sp.And. atau sering kusapa dengan Ibu Nana merupakan Ibu cantik yang baik hati. Aku sungguh beruntung saat dapat bersama dalam acara pengukuhan guru besar bertiga (bersama Bapak Budi Jatmiko) pada Kamis, 26 Februari 2009 di GEMA Unesa. Saat itu Ibu Nana menjabat Dekan FMIPA, Bapak Budi Jatmiko merupakan mantan Dekan FMIPA yang menjabat sebagai PR1 Unesa, dan aku saat itu ditugasi oleh Rektor Unesa (Bapak Haris Supratno) sebagai Kepala UPBJJ-UT Surabaya. Pidato pengukuhan Ibu Nana berjudul “Pendidikan Seksual Dini Secara Terintegratif dan Peranan Guru”. Kami bertiga merencanakan acara pengukuhan itu setelah mendapatkan jadwal. Kami pun mulai menyusun siapa saja yang akan kami undang dan menyiapkan segala sesuatunya. Pilihan Ibu Nana pada cita rasa hidangan sungguh berkelas. Pilihannya pada warna tas orange kecil yang menampung tiga buku pengukuhan kami pun sangat pas. Tas cantik, foto kami bertiga, dan map orange sampai sekarang masih kusimpan dengan rapi. Aku sungguh ingat, saat kami memilih hidangan, Ibu Nana berpesan untuk menyajikan yang terbaik bagi para tamu. Saat pengukuhan itu kakak dan ibuku berkomentar bahwa aku dengan Ibu Nana merupakan pasangan yang pas karena aku lahir tahun 1962 dan berusia 47 tahun, Ibu Nana lahir 1947 dan berusia 62 tahun (serba kebetulan yang mencengangkan, Alhamdulillah). Seingatku, tidak pernah sekali pun Ibu Nana menghardikku. Senyum dan tawa bunganya kuingat selalu menyapaku, pelukan sayang dan sedikit tepukan di pundakku juga terasa hangat penuh kasih. Aku sungguh merasa terayomi berada di dekatnya.

Selain waktu pengukuhan, aku juga teringat waktu kami ke Singapura bersama, menunggu ferry bersama dan berjalan bersama. Di mata batinku, dalam kata-katanya yang ceplas-ceplos, sifatnya selalu melindungi. Sampai sekarang aku masih merasa terkesima setiap kali bertemu dengannya: nuansa keakraban yang melingkupinya, pilihan katanya, kilatan bola mata indahnya, dan untaian kalimatnya… hm hm hm. Andai April tahun depan ada penghargaan untuk wanita berpengaruh/Kartini Unesa, kuimpikan Ibu Nana menerima penghargaan itu pada 23 April 2017 bersamaan dengan peringatan tanggal dan bulan kelahirannya. Semoga terwujud, amin.

KEDISIPLINAN DALAM KEBERSAMAAN

Saat aku SMP, ibuku pengajar di SMPN 9 Solo (kemudian pindah ke SMPN 10 Solo). Bapak adalah pegawai kesehatan di DKR Solo. Mereka berjalan kaki ke kantor karena cukup dekat. Bapak dan Ibu mendidik kami (delapan bersaudara) dengan kedisiplinan dalam kebersamaan. Kami semua punya tugas masing-masing. Setiap pagi Bapak mengeluarkan sepeda dan dibariskan rapi (kami mulai bersepeda sejak SMP, saat SD kami bersekolah dengan berjalan kaki). Kami bertugas membersihkan sepeda masing-masing. Aku melanjutkan dengan menyapu rumah, setelah itu bergantian mandi. Setelah mandi, biasanya aku tidak sarapan dulu, tapi dikuncir atau diklabang dulu oleh ibu karena rambutku paling panjang. Ibu sering memberi minyak cem-ceman pada rambutku biarpun aku tidak begitu suka.

Tugasku saat siang hari sekitar pukul 14.00 adalah memberi makan ayam (bergantian dengan kakakku). Kadang aku terhanyut saat membaca Kho Ping Hoo atau SH Mintardja dan terlena sehingga terlambat memberi makan ayam. Ibu biasanya mengingatkanku dan jawabanku biasanya sama “Ya, sebentar, Bu”, sebentar yang akhirnya lama karena aku sering penasaran dengan jalan ceritanya. Sekarang aku sadar bahwa yang kulakukan itu adalah “membaca tidak pada tempatnya”, mohon maaf, Ibu. Malam hari, Bapak biasanya menyalakan petromaks di ruang tengah dan di ruang tamu. Ibu duduk di meja makan besar yang sudah berubah menjadi meja belajar sambil mengerjakan sesuatu (belakangan aku tahu bahwa selain mengerjakan pekerjaan kantor, ibu selalu meluangkan waktu untuk menulis setiap hari dalam buku catatan hariannya dan hal itu terus berlangsung sampai sekarang). Kami biasanya belajar setelah Magrib sampai pukul 21.00 di meja besar. Jika ada pelajaran yang tidak kami mengerti atau PR yang sulit, kakak atau Ibu akan membantu. Kebersamaan kami dalam berbagai hal yang diterapkan oleh Ibu dan Bapak, khususnya mulai SD sampai SMA membuat kami delapan bersaudara merasa dekat dan saling menjaga. Begitu masuk ke perguruan tinggi, pola belajar kami mulai berubah karena semua kakak berada di luar Solo (tiga di UGM dan satu di IPB). Sebagai anak kelima, aku adalah yang pertama berkuliah di Solo (di UNS) dan tetap tinggal dengan Bapak dan ibu. Ibu sampai sekarang masih mencontohkan kedisiplinan itu. Beliau selalu bergegas wudu saat azan dan salat di awal waktu serta menulis setiap hari di buku hariannya. Bapak telah berpulang pada 26 Januari 2016 dalam usia 88 tahun (setelah mengarungi 62 tahun, 5 bulan, 17 hari usia pernikahan bersama Ibu). Semoga Bapak tenang dan bahagia di sana.

Permainan Surakarta dan Permainan Masa Kecilku

PERMAINAN SURAKARTA DAN PERMAINAN MASA KECILKU

Tahun 2013 saat aku berjalan-jalan di Schlossplatz, Stuttgart, Jerman, langkahku terhenti di salah satu toko mainan kecil yang ada di sepanjang jalan. Di toko itu dijual bermacam-macam permainan, termasuk yang berasal dari Asia. Mataku mulai menjelajahi kelompok Asia dan mencari yang berasal dari Indonesia. Akhirnya, penjelajahan mata terhenti pada kotak cantik yang bertuliskan Surakarta. Aku bertanya-tanya, permainan apa ini? Pelan kubuka kotak tersebut dan kulihat ada 24 pion dalam dua warna seperti pion otelo (berbentuk bundar dan berwarna hitam semuanya 12 buah dan putih semuanya 12 buah) dalam pastik, dua buku petunjuk berbahasa Jerman, dan satu papan permainan yang dilipat empat. Saat kubuka papan tersebut tampak arena permainan berbentuk seperti semanggi berdaun empat dengan lingkaran-lingkaran pada setiap ujungnya. Dengan bekal pemahaman gambar dan pemaknaan global kulihat bahwa permainan ini mirip catur karena memerlukan dua pemain. Jalan pemain sama seperti jalan raja dalam catur, maju satu langkah, bisa lurus dan bisa ke samping, tapi bisa juga satu langkah itu menembus batas dan melingkar jika akan membunuh (memakan musuh). Menurut penjualnya, permainan itu cukup laris dan saat itu memang tinggal satu. Tanpa ragu, kubeli permainan itu dengan harga yang cukup mahal untuk ukuran Indonesia, seingatku dengan uang Euro sekitar 20—25 Euro. Malamnya kuminta keponakanku, Isti Hidayati, yang mengambil S-2 di Stuttgart University untuk melihat-lihat isi permainan itu, kuhubungi beberapa teman dan Saudara untuk menanyakan permainan itu dengan mengirimkan gambar, tapi belum ada satu pun yang mengenalnya. Ironis memang, permainan tradisional kita laku keras di Jerman, tapi kurang dikenal di tempat asalnya. Permaian ini melatih strategi, kehati-hatian, dan kesabaran dalam bertindak. Menurut sumber yang kubaca, permainan ini sejenis permainan Mul-mulan, Dham-dhaman, atau Macanan. Di Jogja disebut juga “Bas-basan Sepur”. Permainan ini bahkan telah diunggah di you tube dengan menampilkan dua pria asing yang memainkannya di https://youtu.be/Q7p5faImfqI . Permainan mulai awal sampai akhir bisa dilihat juga di https://youtu.be/0HcJ3XSh03k (permainan ini masuk dalam buku permainan klasik). Aku hanya berpikir, alangkah baiknya jika beberapa tugas akhir atau PKM mahasiswa dapat mengemas permainan tradisional menjadi bentuk yang layak jual, layak diproduksi masal, dan layak dimainkan. Selain itu, alangkah indahnya jika Unesa dapat menyusun agenda tahunan untuk permainan tradisional atau hal-hal yang terkait dengan folklore dalam bentuk seminar, konferensi dan lomba permainan tradisional. Mungkin ada pusat studi yang mengurusi hal ini.

Permainan tradisional Surakarta sebenarnya tidak jauh dengan permainan kegemaranku saat SD dan SMP, yakni halma yang melibatkan tiga pemain. Halma mungkin bukan termasuk permainan tradisional Indonesia karena tampaknya beberapa negara juga mengenalnya. Selain halma, saat masih kecil, aku paling suka bermain Andul dengan Ibu. Waktu bermain, ibu mengatur dudukku dengan bersila di kasur, tangan bersedekap. Kemudian ibu dari depan akan menggoyang-goyangkan badanku ke depan dan ke belakang sambil bernyanyi Andul, andul, susune Mbok Roro Kidul, kebluwek jenange katul… otek, otek, unine, unine…horog-horog-horog, horog-horog-hotor (yang terakhir dengan menggoyangkan badanku semakin keras dan kemudian menghentakkanku ke belakang sampai aku terlentang dan tertawa-tawa riuh dengan kakak-kakakku yang juga mengantri untuk bermain Andul). Permainan Andul dan cerita Gondhil dari Ibu kuteruskan ke anak cucu. Ara sangat suka dengan permaian Andul, tawanya berderai dan matanya berkejap-kejap jika kulantunkan lagu Andul untuknya. Aku tidak pernah tahu makna lagu itu dan tidak ingin tahu, tapi rima dari lagu itu, gerakan-gerakan, dan sensasi jatuh di kasur atau bantal empuk itu kukira yang membuat anak kecil suka. Selain Andul dan Halma, ada juga permainan Jari (ibu menyanyi sambil memainkan jari), Jelungan, Cublak-cublak Suweng, Soyang, Njuk Tali Njuk Emping, Gobak Sodor, Kasti, Ganjilan, Bekelan, Nekeren, Umbul, Dakon, Uding, Lompat Tali, Cekcu, Remi, Otelo, Jamuran, Pasaran, Wayang-wayangan (Menari dan berlagak seperti Gatotkaca yang melintasi asap. Asap ada saat Bapak membakar sampah), Dokter-dokteran (tidak ada guru-guruan, ya?), dll. Alhamdulillah, indahnya masa kecil. Ada baiknya permainan tradisional dapat dikembangkan sehingga menginspirasi berbagai hal secara akademis.

SUDUT PANDANG: Dari Surel Sampai WhatsApp

Dimuat dalam buku “Seuntai Asa untuk Unesa”, 2016.

Malam itu saya membuka surel (surat elektronik) seperti yang biasa saya lakukan setiap hari. Beberapa surel harus segera dijawab dan saya jumpai ada juga beberapa surel dari mahasiswa yang mengirimkan tugas. Surel yang pertama dari mahasiswa hanya berisi alamat yang tidak jelas, kemudian dalam subjek tertulis “tugas linguistik”, dengan attachment atau lampiran. Surel yang kedua dan ketiga juga sama. Surel yang keempat lumayan ada kata-kata “Assalamualaikum, saya kirimkan tugas lingusitik”, tapi nama lengkap si pengirim tidak ada, alamatnya juga kombinasi huruf dan angka. Tugas linguistik yang saya terima ini memang baru tugas pertama mereka.

Sejenak saya menghela nafas. Untuk mengetahui siapa pengirimnya, saya harus membuka lampiran itu terlebih dahulu. Setelah membuka lampiran dan mengetahui pengirimnya, saya membalas surel itu satu per satu. Saya tuliskan “Assalamualaikum, Saudara …. surat elektronik (surel) pada dasarnya merupakan sebuah surat. Oleh sebab itu, kali lain, minimal tulislah berita tentang apa yang Saudara lampirkan (isi attachment). Selain itu, tulislah nama lengkap Saudara pada bagian akhir. Hal itu akan menjadi penanda karakter Saudara. Semoga sehat selalu, wassalam.” Bahkan saya pernah juga menerima revisi disertasi mahasiswa dari salah satu universitas terkemuka yang hanya berisi kata-kata “Dengan hormat saya kirimkan revisi disertasi saya.”. Alamak, saya sempat tercenung sesaat sebelum mengetukkan jari membalas surel itu dengan kata-kata “Terima kasih, disertasi telah saya terima. Akan tetapi, lebih baik jika Saudara menuliskan daftar yang berisi bagian mana saja yang sudah Saudara revisi dan di halaman berapa. Saya akan mencocokkan dengan catatan saya. Semoga sehat selalu, wassalam.” Jika saya membaca lagi disertasi tersebut secara keseluruhan (sebelumnya sudah saya baca sebelum ujian tertutup), di samping memakan banyak tenaga dan waktu, ada kemungkinan saya akan menemukan lagi hal-hal yang dulu tidak pernah saya permasalahkan. Apakah mahasiswa tidak berpikir sejauh itu, ya?

Dalam komponen literasi dikenal istilah literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Dalam literasi teknologi (termasuk komunikasi lewat surel) diperlukan etika dan etiket dalam mengakses, memahami, dan memanfaatkan teknologi. Seseorang yang sudah dapat mengakses belum tentu memahami dan dapat menggunakan teknologi dengan baik. Yang sudah dapat mengakses dan memahami, belum tentu dapat menggunakan dan memanfaatkan teknologi dengan baik. Yang paling bagus tentulah yang dapat mengakses, memahami, serta menggunakan dan memanfaatkan teknologi dengan baik. Saya jadi teringat beberapa pesan yang saya terima melalui media sosial lain: facebook (terus terang tidak terlalu aktif di sini), instagram, WhatsApp (WA), dll. Sebagai catatan, WA sering kita baca “we a”, bukan “wa”. Padahal WA termasuk akronim yang layak dibaca “wa” biarpun dengan nilai rasa geli karena belum terbiasa🙂.

Saat ini beberapa media sosial tersebut marak dengan berbagai grup. Kita pantas berterima kasih kepada pembuat aplikasinya karena media itu dapat menyatukan teman lama (alumni), menyatukan keluarga, bahkan berguna juga dalam urusan pekerjaan. Model meneruskan pesan (forward) atau berbagi (share) pesan marak dalam media sosial tersebut. Dalam media email dan facebook, misalnya, meneruskan pesan atau berbagi pesan dapat dilacak asalnya. Akan tetapi dalam media WA, hal tersebut tidak tampak sehingga seolah-olah pesan tersebut ditulis langsung oleh yang mengirimkan pesan tersebut. Gambar, foto, atau video dari seseorang bahkan dapat dimuat (di-upload) seolah-olah gambar tersebut dibuat oleh yang memuat, biarpun sebenarnya kita dapat juga menyebutkan sumbernya, yakni “anonim”, “dari teman”, atau “dari grup lain”.

Dari sekian banyak media sosial, saya merasa paling akrab dengan WA karena cepat (akses ringan), biarpun agak rawan dalam hal penyimpanan. Dalam hal ini, WA dapat menjadi sarana dakwah, doa, diskusi, dan silaturahmi di dunia maya. Informasi mengenai produk tertentu, obat tertentu, nasihat, cerita mengharu biru, cerita menginspirasi, cerita lucu dst. hampir selalu menghiasai WA setiap hari. Hal itu sering dimuat dalam bentuk salin-tempel (satem) atau copy-paste (copas) tanpa penyebutan sumber. Tanggapan bahkan bisa juga dengan model satem dari penanggap lain, biarpun ada juga yang jujur menyampaikan “…nyontek si A” atau “… copas dari si B”. Saya sering geli membaca satem yang berjamaah, khususnya pada pagi hari saat seorang teman memuat doa, tanggapan pun menjadi satem berjamaah, mulai dari tanggapan paling singkat “aamiin” sampai pada tanggapan terpanjang. Hampir ragu apakah doa yang sangat panjang itu sempat dibaca semuanya dengan khusuk atau tidak.

Memang pada dasarnya ada orang yang merasa puas dan bangga jika dianggap sebagai penyampai awal, banyak yang senang jika pesan ditanggapi, ada juga yang patah semangat karena diolok atau pesan tidak ditanggapi. Sebenarnya, mengirimkan pesan yang bukan hasil dari tulisan sendiri selayaknya menyebutkan sumber (mirip dengan karya ilmiah yang menyebutkan sumber dalam catatan pustaka). Hanya saja, dalam WA atau pesan sejenis, sumber tidak perlu terlalu formal disebutkan, cukup dengan “Berita dari grup lain” atau “Informasi dari teman”, dll. Paling tidak penyebutan sumber tersebut merupakan bentuk tanggung jawab penulisan dalam media sosial. Penerusan (forward) informasi atau berita dengan cara satem selayaknya juga diakui dan dituliskan secara eksplisit, misalnya “Satem dari grup …” atau “Copas dari teman”. Pesan yang diteruskan sebaiknya juga pesan yang sudah teruji, bahkan jika ada tautan dalam pesan tersebut, tautan sudah dibuka dan dipelajari. Sering saya baca ada seseorang yang mengirimkan tautan tanpa sumber, kemudian ada yang berkomentar “Tautan kok tidak dapat dibuka,ya”. Tahu jawaban pengirim pesan? Jawabannya hanya “Maaf, itu tadi meneruskan dari grup lain.” Loh… wk wk wk, saya garuk kepala-saya yang tidak gatal. Seseorang yang meneruskan pesan selayaknya bertanggung jawab terhadap pesan tersebut, Apakah isinya benar? Apakah tautan dapat dibuka?, dst.

Pikiran saya mulai menerawang teringat saat ujian skripsi. Ada dosen yang khusus menanyakan istilah tertentu yang saya ambil dari sebuah referensi. Beliau meminta saya menceritakan isi satu bab tersebut secara utuh, padahal yang saya ambil hanya satu istilah saja. Saya baru dapat memahami hal tersebut setelah menjadi dosen. Saya menemukan buku yang dalam beberapa halaman menjelaskan metode tertentu secara panjang lebar, akan tetapi pada akhir sajian disebutkan satu kalimat dalam alinea penutup “Penamaan metode tersebut umum dilakukan biarpun pada dasarnya ada kesalahan konsep. Oleh sebab itu, dalam buku ini penamaan metode tersebut tidak akan digunakan.” Nah, jika pembaca melewatkan alinea terakhir dalam bab tersebut, bisa saja dia mengutip nama metode tersebut dengan catatan-pustaka berisi nama penulisnya (Menurut saya ini hal yang aneh karena mengutip nama-metode dari orang yang tidak menyetujui nama-metode tersebut).

Kembali pada masalah penerusan pesan, selayaknya lah penerus pesan “setuju” dengan pesan yang diteruskan atau minimal pernah mencoba (jika isi pesan itu memang perlu untuk dicoba). Masih segar dalam ingatan saya saat ada bencana asap, bertebaran pesan di media sosial supaya kita meletakkan ember atau baskom di halaman rumah dan seterusnya. Tampaknya, yang meneruskan pesan belum tentu telah melaksanakan/mencoba hal itu. Bahkan pesan tersebut kemudian dibantah oleh badan yang berwenang mengatasi masalah tersebut. Pesan-pesan sampah (hoax) yang mendiskreditkan orang/benda juga sering muncul. Oleh sebab itu, kita perlu membaca pesan secara kritis, kreatif, dan mencoba untuk dapat memecahkan persoalan dari apa yang kita baca tersebut. Jika kita secara sadar meneruskan pesan tersebut tanpa sikap kritis, sebenarnya kita juga telah menanam benih penyebaran pesan-sampah yang mungkin dapat berakibat kurang baik pada para pembaca. Meneruskan pesan-pesan tersebut sama saja dengan menciderai sesuatu atau menciderai orang lain. Sebenarnya jika kita masih ragu terhadap kebenaran sebuah berita, padahal kita ingin menyampaikan hal tersebut kepada seseorang karena hal itu kita anggap penting, dapat saja dituliskan “Mohon informasi apakah berita ini benar, ya?”. Langkah lain adalah tidak meneruskan pesan-pesan tersebut, sebesar apa pun godaannya.

Selanjutnya, WA yang saya angap sebagai generasi penerus BBM hanya punya satu “kamar” sehingga penulisan bersambung terus. Hal ini berbeda dengan BBM yang punya keunggulan dengan tersedianya banyak “ruang” yang dapat dibuat sendiri sehingga setiap “ruang” dapat diisi dengan topik tertentu. Penulisan dalam WA yang bersambung terus ini pada dasarnya sama dengan saat kita berdiskusi secara lisan. Jika akan pindah topik atau akan menyisipan topik biasanya kita dapat menyampaikan secara eksplisit dengan kata-kata. Dalam penulisan WA, seseorang yang tiba-tiba masuk dengan topik baru di tengah topik yang masih hangat dibicarakan akan terkesan mengganggu. Yang paling ekstrem dan pernah saya alami adalah pada saat topik ucapan duka sedang mengalir, tiba-tiba ada foto selfi ceria salah satu anggota di suatu tempat wisata. Tentu saja foto itu tidak ada yang menanggapi dan terasa ada yang salah dengan pemuatan foto itu. Seyogyanya seseorang yang akan memuat foto selfi ceria di suatu grup dapat membaca/mengecek dulu situasi dan kondisi saat itu. Jika situasi dan kondisi tidak tepat, sebaiknya keinginan untuk memuat foto itu ditunda dulu dan menanti waktu yang tepat. Saat penulisan topik ringan atau saat banyak canda, pemuatan foto-foto selfi dapat dilakukan. Foto-foto pemandangan cantik di tempat lain juga akan sangat berguna, menghibur, dan membawa suasana akrab ceria. Apalagi jika ada permintaan anggota untuk unggah foto, rasanya menjadi wajib untuk memuat foto yang ada. Adapun berita penting di tengah tulisan yang sedang membahas topik hangat dapat disisipkan dengan kata-kata “Mohon maaf menyela, ada informasi penting yang perlu diketahui…” atau dengan kata-kata lain.

Dengan grup WA lebih dari 20 (sebagian besar aktif, bahkan sangat aktif), lima email, instagram, dan messenger membuat saya akrab dengan peranti elektonik (gadget). Akan tetapi, saya sadar bahwa saya belum mampu memberdayakan semua peranti elektronik tersebut secara maksimal. Saya hanya menggunakan sesuai keperluan saja, berupaya memberdayakan dengan prioritas takwa, keluarga, dan kerja. Alhamdulillah anak-anak sudah berkeluarga sehingga rasa bersalah jika terlalu lama mengunakan peranti elektronik sedikit terkurangi. Biarpun demikian, jika sudah bertemu cucu atau keluarga, peranti elektronik menjadi prioritas yang ke sekian. Dalam tulisan ini, saya yakin bahwa apa yang saya yakini benar mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat orang lain yang menurut saya salah mungkin mengandung kebenaran. Bagaimana pendapat Anda?

E-Filling SPT, Safari, dan Firefox

Saya mulai menggunakan E-Filling. untuk pengisian pajak tahun ini (2016).
Pada awalnya semua lancar-lancar saja.
Masalah muncul pada saat sampai pada langkah ke-4, setelah dinyatakan nihil dan mencentang persetujuan, kemudian saya klik “langkah berikutnya”…tetapi selalu lemot (hanya berputar-putar saja tanpa solusi).
Hal itu saya alami 28 Maret, 30 Maret, dan beberapa kali pada bulan April. Saat mencoba mengirim 30 Maret, saya mengira karena banyak yang akses. Hal itu diperkuat dengan jawaban dari staf fakultas dan surat perpanjangan pengisian e-filling.

Akan tetapi, beberapa kali mencoba mengirim dan tidak pernah berhasil pada tahap akhir membuat saya datang ke kantor pajak di Wonokromo hanya sekadar untuk menanayakan apakah ada yang salah? Saya diterima oleh petugas yang ramah dan membantu. Akan tetapi, ternyata saat itu laman DJPonline juga sedang bermasalah. Petugas kemudian minta saya menggunakan situs djponline2….. wah ternyata setelah di klik ada tulisan under maintenance…wk wk wk. Saya juga sempat menanyakan mengapa menu “simpan” nya tidak berfungsi? Maksud saya, setelah sampai pada langkah terakhir dan tidak berhasil mengirimkan, ternyata nanti saya harus mulai dari awal lagi. Mungkin saya masih kurang salehah sehingga tidak mendapatkan rejeki menuntaskan pengiriman e-filling, saya pun pulang dengan tanda tanya yang masih timbul tenggelam.

Beberapa malam (tengah malam) mencoba juga masih gagal. Saya juga berkirim email ke “pengaduan@pajak.go.id”. Saya yakinkan lagi dengan membaca bantuan (faq) yang ada dua butir dan salah satu butirnya berbunyi “Browser apakah yang dapat digunakan secara optimal oleh aplikasi e-filling pada situs DJP? Browser yang direkomendasikan adalah Mozilla Firefox, Chrome dan Safari”. Saya pun merasa telah melakukan itu karena selama ini saya menggunakan Safari. Akan tetapi, saya kemudian ingat beberapa tahun lalu agak sulit mengisi suatu aplikasi karena browser yang saya gunakan Safari… jangan-jangan.

Akhirnya saya buka Mozilla Firefox, saya coba lagi mulai awal (wah, repot banget ya…mengapa menu simpan tidak berfungsi optimal?)… dan eng-ing-eng… begitu saya klik bagian akhir muncullah butir penerimaan yang saya tunggu, dan tinggal mengklik kode verifikasi yang saya pilih dikirimkan via email. Alhamdulillah, saya berbisik lirih, tampaknya bagian “Bantuan (faq)” yang ada di laman DJPonline perlu direalisasikan sehingga Safari betul-betul direkomendasikan (tidak sekadar ada dalam tulisan saja).

Mengisi berkali-kali DJPponline lewat Safari saya yakin ada hikmahnya, dan itu tidak akan mengubah kecintaan dan pilihan saya selama ini pada browser Safari. Memang tidak mudah berpindah ke lain hati🙂🙂.

« Older entries